
Keseruan pesta ulang tahun Kean dan Calvin berlanjut. Calvin menandai bukunya. Ia baru sepuluh lembar membaca buku dengan banyak ilmu bagaimana mewujudkan mimpi itu.
"Kau sudah membaca intinya?' tanya Kean pada saudara kembarnya.
"Baru juga sepuluh lembar!" sahut Cal kesal. "Mana aku tau intinya apa!"
Kean cemberut, ia mendekati Azizah dan menggoyangkan lengan gadis itu.
"Kak ... belikan aku buku itu lagi!' rengeknya.
Azizah menggaruk kepalanya. Buku itu hanya tinggal satu di toko dan sudah tidak diterbitkan lagi karena penulis bukunya telah meninggal dunia.
"Tapi bukunya hanya satu. Ada sih buku sama, tapi beda penulis, mau?"
Kean menggeleng. Remaja itu sedih karena bukan ia yang mendapat hadiah buku. Tiba-tiba Azizah mengeluarkan buku dari tasnya.
Buku tipis dengan judul "Why Me God?". Penulis noname ini memang begitu viral karena isinya menggugat pada Tuhan yang terjadi pada hidupnya. Kean sedikit ngeri melihat judulnya.
"Jika tak sanggup baca dan takut terpengaruh, ya tidak usah," saran gadis itu.
"Isinya tentang apa sih kak. Aku mikirnya jadi orang yang kufur nikmat gitu deh?"
"Ya begitu, nyaris mirip. Tapi akhirnya dia bertobat ketika ternyata dari semua kejadian yang ia alami menjadikannya sukses dan memiliki kekayaan tak terperi," jawab Azizah.
Kean mengangguk, ia mengambil buku itu dengan bacaan basmalah terlebih dahulu. Ia akan minta didampingi ayah atau ibunya ketika membaca tulisan dengan judul kontroversi itu.
"Kamu dapat buku-buku bagus itu dari mana Zah?" tanya Rion.
Aminah ada dipangkuan pemuda itu. Batita itu sudah mulai mengantuk. Rion meninabobokan Aminah dengan menepuk-nepuk pelan bokong Aminah.
"Saya mendapatkanya di pasar loak Tuan," Rion mengangguk.
Pasar itu memang unik. Jika kita jeli maka akan mendapat harta karun tak ternilai di sana dengan harga murah.
"Balo mamat syian pemuana!" seru Bariana di depan mik dengan keras.
Hal itu mengagetkan Aminah yang sudah hendak tertidur. Bayi itu nyaris rewel jika saja Rion tak memeluknya dan menenangkan bayi itu. Azizah tak enak, ia ingin mengambil alih adiknya.
"Diam, nikmati saja pestanya!" titah Rion.
"Payah atan beulbanyitan ladhu puntut peman-peman pemuana!' seru Bariana.
Bayi cantik itu sudah menggoyangkan tubuhnya padahal musiknya belum ada.
__ADS_1
"Atuh bunya panjin teusyil ... tupeli bana Heli ... pia senan peulmain-bain pambil belali-lali ... beli ... dutdutdut ... temali ... dutdutdut ... bayo lali-lali ... peli ... dutdutdut ... bemali ... tututut ... payo pali-lali!"
Semu bertepuk tangan dan ikut bernyanyi. Aminah akhirnya tak bisa tidur bayi cantik itu kini berada di tangan Terra dengan lemas. Aminah sedikit pusing karena terbangun mendadak tadi.
"Maafin Baby Bal ya, baby," ujar Maria minta maaf.
"Eundat pa'a-pa'a, banya sedidit busin tot mommy," ujar bayi itu memaklumi.
Bariana masih asik bernyanyi lagu "Heli". Lagu selesai semua bertepuk tangan meriah.
"Sekarang giliran Baby Arsyad yang bernyanyi!' seru Nai bertepuk tangan.
Bayi sebelas bulan itu tentu belum bisa bicara. Tapi, ia bersikeras ingin menyumbangkan sebuah lagu. Nai memutar lagu cicak di dinding. Gadis itu membantunya.
Dinar dan Dominic tak berasa jika mereka duduk bersebelahan. Lidya menyenggol lengan suaminya. Demian menoleh.
"Apa sayang?" tanyanya.
Lidya mengkodekan dengan arah mata dan gerakan kepalanya. Demian menoleh. Arsyad bernyanyi entah bagaimana. Bayi tampan itu hanya mengikuti ujung lagunya saja. Sedangkan Demian tersenyum ketika melihat ayahnya duduk seperti bersanding dengan wanita yang ia cintai. Tawa keduanya begitu serasi di mata Demian.
"Sayang, aku mau bibu jadi ibuku!' bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kita berdoa sayang, semoga mereka berjodoh," bisik Lidya juga.
Wanita itu juga berharap memiliki ibu mertua seperti Dinar. Wanita tangguh dan tabah dalam menjalani hidupnya. Seorang gadis yang dibuang oleh keluarganya.
Gio dan Aini memegang perut mereka yang kram akibat menahan tawa. Sedang Ditya dan Radit bertepuk tangan meriah.
"Ma ... nyii!' teriak Aaima tak mau kalah.
Bayi delapan bulan itu merangkak ke atas panggung. Dinar bangkit dari sisi Dominic hingga membuat wajah pria yang tadinya berseri mendadak berubah biasa saja. Ternyata pria itu sadar, gadis yang kini ia sebut dalam doa duduk di sisinya.
Sepasang mata menatap pria beriris biru itu dengan tatapan tajam. Ia mendengkus kesal bukan main. Felix dan Sari juga ada di sana, keduanya bergandengan tangan.
"Ayah kenapa?" tanya istrinya.
"Ck!' pria itu berdecak.
Khasya hanya bengong melihat kelakuan suaminya yang tiba-tiba kesal. Herman mendekati Terra dan berbisik padanya. Wanita itu tampak menatap pamannya itu tak percaya.
Herman mengangguk memastikan apa yang ia lihat barusan.
"Aku baru saja melepaskan Sari! Aku belum mau melepas salah satu dari mereka lagi!" ungkap keberatan pria itu.
__ADS_1
Terra memang begitu posesif terlebih pada Dinar. Masa lalu gadis itu membuat semua orang akan melindungi gadis itu mati-matian. Terra tak mau Dinar disakiti lagi.
Basri dan Shama merayakan ulang tahun cucunya itu. Mereka selalu terkejut dengan semua kejadian yang muncul di keluarga ini.
"Dinar!" panggil Terra.
Gadis itu menoleh. Ia mendekati Terra dengan kening berkerut.
"Ada apa Te?" tanyanya.
Terra memeluknya gemas. Dinar paham dengan apa yang dilakukan saudaranya itu. Ia yakin jika Terra memastikan dirinya tidak apa-apa.
"Aku tidak apa-apa, Te. Sepuluh tahun merantau sendirian di Kairo membuatku lebih kuat," ujarnya menenangkan.
Terra memastikan saudaranya itu. Dinar mengangguk meyakinkan. Tepuk tangan meriah menyadarkan mereka. Dinar kembali ke acara.
Gadis itu tertarik dengan para bayi ajaib yang mestinya belum bicara tapi memaksakan diri untuk bicara.
"Kak Azizah yuk nyanyi!" ajak Nai.
"Kamu pilih yang mana ... perawan atau janda ... perawan memang manis ... janda lebih menarik ..."
Nai menyanyikan lagu dangdut. Gadis itu bergoyang centil. Azizah melongo dibuatnya. Arimbi mengambil mik dan menyanyikan lanjutan lagu itu.
"Ayo kakak goyang!" suruh Adiba pada kakaknya.
Amran, Ajis dan Ahmad berjoget bersama para perusuh Alim minta gendong kakaknya itu ia masih malu-malu.
Azizah ditarik oleh Nai. Menyerahkan mik pada gadis itu.
"Abang pilih yang mana ... perawan atau janda ... janda memang bohai perawan lebih pandai!' Azizah mengganti liriknya.
Suara gadis itu serak dan merdu. Nai pun bergoyang heboh. Alim yang ada digendongan Azizah ikut bergoyang karena kakaknya bergoyang.
"Daddy ... poha ... seelll!" seru Harun menggoyangkan pinggulnya.
Virgou pun turun panggung, ia bergoyang heboh di sana. Demian menarik ayahnya ikut bergoyang. Dominic malu luar biasa. Sedang sepasang mata menatap pria itu penuh makna. Gadis bertubuh tambun itu meraba dadanya yang berdebar dari tadi. Bukan ia tak sadar jika duduk di sebelah pria tampan itu. Gadis itu menggeleng.
"Dia terlalu tinggi untuk terbang merendah bersamaku," gumamnya pelan sekali.
bersambung.
bibu ... daddy ... gayung sudah bersambut...
__ADS_1
othor masih ngenes jomlo ðŸ˜
next?