
"Mas yakin mau menikahi saya?" tanya Ariya dengan mata jernihnya.
"Kenapa tidak?" jawab Rio begitu tegas.
"Saya hanya wanita kotor ...."
"Tidak ada wanita kotor Nona!" tekan Rio lagi meyakinkan gadis di depannya.
"Aku berjanji akan menghapus kenangan buruk itu!" lanjutnya bersungguh-sungguh.
Rio menggenggam tangan Ariya. Hari sudah beranjak sore. Hujan gerimis membasahi bumi. Toko sepi karena memang cuaca tak memadai.
Pegawai dan pengawal tengah duduk di depan ruangan. Mereka menikmati suasana yang seketika dingin.
Rio berada di ruang tengah bersama Ariya. Pria itu bersimpuh di depan sang gadis memberanikan diri mengecup pucuk jemari Ariya.
Sungguh tubuh Rio bergetar ketika melakukannya. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal tersebut. Ariya pun tak kalah gemetar. Bayang-bayang masa lalu ketika pemaksaan itu kembali melintas.
Gadis itu sedikit terkejut ketika jemarinya dikecup. Tetapi, tatapan Rio yang lembut, membuat ia nyaman. Ariya menitikkan air matanya.
"Mas ...."
"Dek ... mau kan kau jadi istriku?" pinta Rio lagi.
Ariya mengangguk cepat. Gadis itu tak mau membuang kesempatan yang ada. Ia melihat ketulusan Rio dari pancaran mata pria itu.
Sebuah senyum indah terukir. Rio hendak memeluk Ariya tapi sebisa mungkin ia menahan diri.
"Aku akan memintamu di depan ayah!' ujarnya lalu membalikkan tubuh.
Ariya tiba-tiba memeluknya dari belakang. Rupanya sang gadis tak tahan untuk merasakan kenyamanan ketika bersandar di punggung kokoh milik Rio.
"Dek?"
"Sebentar Mas. Aku butuh ini," ujar Ariya dengan suara lirih.
Rio mengusap buku tangan sang gadis. Pria itu menyalurkan kehangatan bagi pemeluknya. Setelah merasa cukup. Ariya melepas pelukannya, wajah gadis itu merona karena malu luar biasa. Rio membalikkan badannya.
"Nona ... maaf."
Pria itu membalas pelukan Ariya. Sang gadis cukup terkejut mendapat pelukan hangat Rio. Setelah pelukan, keduanya tersenyum.
"Aku akan ke rumah ayah," ujar Rio.
"Bagaimana jika kita berdua?' sahut Ariya menatap mata pekat pria yang memberinya kenyamanan.
Rio mengangguk. Gerimis sudah reda. Dua pegawai Ariya pamit pulang. Toko pun tutup cepat, Rio bersama dua rekannya dan juga Ariya naik mobil dan menuju mansion milik Herman.
Hunian mewah itu sepi. Khasya di sana tengah menyiapkan semuanya. Semua anak belum kembali dari rumah Terra.
"Assalamualaikum, bunda!" seru Ariya mengucap salam.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut Khasya membalas salam.
"Sayang?" sapa wanita itu ketika melihat Ariya masuk.
"Bunda ...."
__ADS_1
Ariya langsung memeluk wanita itu dengan manja. Khasya yang memang tidak pernah memberi batasan pada siapapun. Tersenyum melihat kelakuan salah satu putri angkatnya itu.
"Ayah belum pulang Bun?" tanya Ariya sambil mencari sosok yang ditanyanya.
"Belum ... tumben cari ayah?" Khasya memandang menyelidik Ariya.
Lalu pandangannya beralih pada pria tampan yang masih berdiri tegak tak jauh dari mereka.
"Rio?"
"Bunda ...."
Khasya adalah wanita paling peka dari semua wanita yang ada. Ia langsung mengetahui kenapa Rio berdiri begitu lama di sana. Lalu tatapannya beralih pada Ariya yang merona wajahnya.
"Ah ... apa kalian?"
"Bunda ...."
Khasya tersenyum lebar. Wanita itu langsung memeluk Ariya dan memberikan selamat padanya. Lalu tangannya merentang meminta Rio masuk dalam pelukannya.
Pria itu tersenyum dan langsung menyambut pelukan Khasya. Hal itu bersamaan dengan pulangnya Herman dan semua perusuh. Kean yang manja memeluknya dengan mata setengah mengantuk.
"Sasayamunanaatitum!" seru Arsh memberi salam.
Bayi tampan itu tak peduli siapapun. Arsh masuk dan duduk di sofa lalu menghela napas panjang.
"Sape!" keluhnya.
Kean tak mau melepas Herman. Remaja itu akan merengek dan menangis jika Herman berusaha melepas pelukannya.
"Ayah nggak sayang Kean!"
Herman tak berkutik. Khasya tersenyum, hal itu memudahkannya untuk berbicara pada sang suami.
"Sayang, restui Rio dan Ariya ya,"
"Apa?"
"Sayang," bujuk Khasya.
"Rio?" Herman benar-benar tak bisa berkutik karena Kean tak mau melepasnya.
"Ayah ... ijinkan saya menjaga Ariya sepenuh jiwa dan seumur hidup saya!" pinta Rio tegas.
Herman menatap kesungguhan pria yang bekerja selama tujuh belas tahun bersama mereka. Rio adalah pengawal sesi ketiga setelah kelahiran duo R.
"Ayah restui!" ujar pria itu pada akhirnya.
Ariya menangis mendengarnya. Rio pun setengah tak percaya. Tetapi Herman menunjukkan keseriusannya dengan menjitak kepala Rio.
"Bunda ... ayahnya nih!" adu Rio pada Khasya.
"Ayah," tegur Khasya dengan tersenyum.
Haidar dan lainnya senang mendengar akan ada lagi pernikahan di keluarga mereka. Ariya bahagia sekali, Dinar memeluknya.
"Jangan menangis Dek," pinta wanita itu.
__ADS_1
"Aku menangis karena aku bahagia Kak," sahut Ariya.
Herman tak mau lama mempersiapkan pernikahan keduanya. Baik Ariya dan Rio juga tak mau pesta berlebihan. Setelah akad mereka menggelar selamatan antar keluarga saja.
"Tiga minggu lagi pernikahannya!' putus pria tua itu.
Rio setuju begitu juga Ariya. Bart membayangkan semua keturunan yang lahir akibat pernikahan ini.
"Aku akan mati dengan tenang!" ujarnya haru.
"Grandpa akan hidup lama!" ujar Virgou tak menyukai perkataan Bart.
"Boy, kemarilah!' Virgou berada dipelukan Bart. Leon dan Frans ikut memeluk keduanya.
"Teletabis mana Pinki wingki dipsi Lala sama Poo?" ledek Haidar sebal.
Semua terkekeh mendengarnya. Dahlan menepuk bahu Rio yang berbahagia. Lalu Budiman dan Gomesh mengucap selamat pada pria itu.
"Ayah curang!" seru Langit tiba-tiba.
"Eh ... teunapa Yayah sulan?!" tanya Harun.
Para bayi masih terang matanya. Padahal hari sudah mulai malam Makan malam juga sudah lewat. Kean sudah naik tidur duluan. Remaja itu tak tahan begadang.
"Astaga ... kenapa kurcaci masih melek?" tanya Remario gemas.
"Spasa tulsasi?" tanya Fathiyya tak suka.
"Pita teloyot Papa Lemalio!" seru Al Bara memprovokasi.
Pria itu diterjang semua anak bayi. Remario tertawa terbahak ketika semua bayi mengerumuninya. Ia mendapat ciuman banyak.
Akhirnya semua bayi dibawa ke kamar mereka dan ditidurkan. Rio pergi ke markas untuk mempersiapkan berkas pernikahannya dengan Ariya.
Khasya mendatangi kamar gadis itu. Ariya baru saja selesai mengaji. Tak butuh waktu lama membuat Ariya fasih membaca kitab suci Al-Qur'an itu.
"Assalamualaikum sayang. Bunda boleh masuk?'
"Wa'alaikumusalam bunda, tentu saja," sahut Ariya tersenyum lalu meletakkan Al-Qur'an di atas nakas.
Khasya mendekati gadis yang sudah mau setengah tahun kembali. Wanita itu mengusap wajah Ariya penuh kasih sayang.
"Nak, bunda senang karena kau telah lepas dari traumamu. Rio adalah pria yang baik, ia tidak pernah macam-macam selama bekerja dengan kami," ujar wanita itu.
"Bunda," Ariya merebahkan kepalanya di dada Khasya.
Wanita itu mencium kening Ariya lembut. Kasih sayang tulus ia tumpahkan di sana. Ariya sudah ia anggap sama dengan putrinya Arimbi atau Terra.
"Terima kasih mau menerimaku kembali Bunda," ujarnya lirih.
"Sayang ... kau adalah putriku. Selamanya tetap begitu," ujar Khasya menenangkan Ariya.
Sementara di tempat lain. Remario menatap langit yang sudah menghitam. Pria itu kembali ke hunian sementaranya. Ia tak mau tinggal bersama putra dan menantunya.
"Hmmm mana jodohku?"
Bersambung.
__ADS_1
Papa Rem ... mau sama othor nggak?? 🥹😛🥹
next?