
"Adiba tetap berlatih?" tanya Terra pada menantunya, Azizah.
"Iya, Ma. Namanya sudah terdaftar sebagai peserta, dia nggak bisa mundur begitu saja," jawab Azizah.
"Sudah ... biarkan saja. Itu bentuk dari tanggung jawabnya," sahut Bart membela gadis tanggung itu.
Adiba kini sudah ada di sekolah, gurunya baru saja datang bersamaan dengan gurunya yang menggunakan motor.
"Assalamualaikum, Bu Ustadzah!" sapa Adiba.
Juno dan Ricky turun dan mengawal Adiba sampai teras sekolah.
"Om, nggak apa-apa sampe sini aja," ujar Adiba sungkan.
"Sudah, nggak apa-apa. Kami memang diperintahkan untuk mengantar Nona," sahut Ricky.
"Dib, ayo!" ajak Ustadzah Layla.
Juno menatap sosok cantik berhijab. Dari semua pengawal senior yang menikah, hanya Juno yang belum menikah. Selain anak angkat ayah habis diambil dengan pengawal lain.Juno juga masih trauma dengan pernikahan yang baru seumur jagung malah berakhir perceraian.
"Mas berdua boleh masuk menonton Adiba latihan. Sekalian melatih mentalnya," ajak wanita itu.
Adiba digandeng oleh gurunya, masuk ke dalam salah satu ruangan diikuti oleh dua pengawal yang menjaga gadis tanggung itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Adiba memulai berdakwah dengan mengucap salam.
"Maaf intrupsi!" Juno acungkan tangan.
"Ya Mas?" sahut ustadzah Layla menoleh pada pria itu.
"Apa setiap salam harus begitu ya?" tanya Juno bingung.
"Kenapa nggak bisa saja atau jika memang ingin menarik intonasinya diganti," lanjutnya.
"Seperti gimana tuh?" tanya Adiba.
"Seperti ... assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
Nada diawal dirubah seperti menyapa bukan yang ditinggikan di awal seperti deklamasi.
"Wah ... makasih atas masukannya. Diba nggak kepikiran buat ganti nada salam. Habis biasanya kan kek gitu!" sahut Adiba tercerahkan.
"Ya sudah, coba kamu ganti, Nak!" ujar Ustadzah Lyla.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulilahi rabbil 'alamin, was sholatu wassalamu 'ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a'laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba'du. Pertama-tama, marilah kita semua panjatkan puji syukur kehadirat Allah, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. ... Hay sobat semua, gimana nih kabarnya? Semoga semua sehat dan dalam lindungan Allah Subhana wa ta'ala, aamiin yaa rabbal alaamin!"
Adiba begitu lancar berlatih, Juno dan Ricky begitu antusias mendengar apa yang dikatakan gadis tanggung itu.
"Nah ... kalian tau kan apa akibat dari berbohong itu, awalnya sih seneng. Lama-lama makin takut ketahuan dan kembali berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. Ibarat kata, kebohongan itu seperti candu atau narkoba. Sekali mencobanya, maka sulit untuk lepas dari kebohongan itu. Saya Adiba Azhara Sabeni. Akhirul Kalam wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
__ADS_1
Juno, Ricky dan Ustadzah Lyla bertepuk tangan sambil berdiri. Ketiganya senang sekali dengan pembawaan sang gadis, begitu tenang, tidak menggurui dan membuat orang tak bosan mendengar apa yang dia katakan.
"Hebat!" puji Bu Ustadzah Lyla dengan tersenyum bangga.
"Nah, sepertinya kamu siap untuk tanding dua hari lagi. Jika kamu menang, kamu akan masuk program televisi itu. Jangan cari menang atau hadiahnya, tetapi cari ilmu yang kamu dapat di sana!' ujar Ustadzah Lyla terharu.
"Insyaallah, jika Allah berkenan. Saya ingin membanggakan pesantren ini dan membawa harum nama guru besar Hajjah Nurul Khadeejah!" tekad Adiba.
"Sekarang beliau juga sudah bangga denganmu, Nak," sahut ustadzah Layla mengelus kepala Adiba yang terbungkus hijab.
Juno menatap guru cantik, itu jantungnya berdebar kencang. Ustadzah Layla menundukkan kepalanya agar tak dipandang pria di dekatnya itu, jantungnya juga berdetak sangat cepat hingga membuat panas pipinya.
"Ibu kok pipinya merah?" tanya Adiba polos. "Ibu nggak lagi sakit kan?"
"Nggak, Ibu nggak apa-apa!" jawab Layla cepat.
"Oh ... ya udah. Diba pamit pulang ya Bu. Assalamualaikum!" pamit Adiba.
"Wa'alaikumusalam!" balas Layla.
"Mari Ustadzah!" sahut Juno dengan tatapan langsung menembus mata Layla.
Dua netra pekat saling pandang. Sungguh Layla ingin sekali memutus pandangan tak sehat bagi jantung dan imannya ini. Guru yang masih gadis di usianya yang sudah mau menginjak kepala empat ini tak bisa memalingkan wajahnya dari sorot mata tajam nan teduh milik Juno.
Pria tampan berusia empat puluh lima tahun itu, memang tampan dengan postur tubuh gagah dengan dada lebar, rahang kokoh, hidung mancung, bibir tipis dan mata laksana pisau yang siap menusuk, belum lagi alisnya yang tebal seperti kepakan sayap.
"Astagfirullah!" Layla mengucap istighfar berkali-kali.
"Ampuni aku Ya Allah, mengagumi ciptaan-Mu nyaris mengabaikan-Mu!" ujarnya sambil mengusap dada.
Ketika pulang ke rumah kakak iparnya. Adiba langsung diberondong pertanyaan semua adik-adiknya.
"Kak tadi dari mana?" tanya Amran.
"Latihan Dik," jawab anak gadis itu.
"Kapan kakak lombanya?" tanya Alif.
"Dua hari lagi,"
"Nanti kalo masuk dan menang. Kakak akan dikarantina ya?" Adiba mengangguk.
"Lama nggak Kak?"
"Satu bulan Dik atau selama Kakak masih dikompetisi. Kan pake sistem SMS," jawab Adiba.
"Ali pama Ata' Mamina badhaibana Ta'?"
"Loh ... kan ada Kak Ijah di sini!" sahut Azizah.
__ADS_1
"Tan Ata' pisbut,' sahut Ari sedih.
Azizah sedih, ingin sekali ia berhenti bekerja, Rion sang suami juga sudah memintanya untuk berhenti.
"Di perusahaan sedang sibuk mau akhir tahun Mas Baby, jadi Azizah nggak bisa resign begitu saja," sahut Azizah memberikan alasannya.
"Oh ... sayangnya Kakak. Maaf ya kalau belum ada waktu dengan kalian," ujarnya.
Rion mendekati semua adik iparnya terutama Ari dan Aminah yang masih terlalu kecil untuk ditinggal. Untung ada sang ibu yang mau dititipi.
"Nanti ya, tunggu semua awal tahun, Kakak akan resign dan fokus dengan tumbuh kembang kalian," janji Azizah.
Ari memeluk kakaknya itu. Bocah itu langsung menempel pada Azizah ketika pertama kali bertemu.
Sedang di tempat lain. Juno berganti tugas dengan rekannya. Ia tengah menikmati jalan-jalannya, hingga ia menangkap sosok gadis yang tadi ia kenal. Baru saja ia hendak memanggil, ternyata gadis itu tampak berseteru dengan seorang pria. Perlahan Juno mendekati keduanya.
"La, aku nggak ada hubungan dengan Anna!" teriak pria itu.
"Kita juga nggak punya hubungan, Mas!" hardik gadis itu.
"La ... aku cinta kamu! Kita pacaran ya!" ajak pria itu.
Deg! Juno patah hati langsung mendengar pengakuan pria yang sedang menghalangi gadis berhijab itu.
"Aku nggak mau pacaran!" tolak sang gadis membuat hati Juno tersambung lagi.
"Kalau gitu kita nikah!" Juno kembali patah hati.
"Maaf saya sudah memiliki tunangan!" aku Layla yang membuat Juno tambah patah hati.
"Jangan bohong kamu!" teriak pria itu.
"Aku nggak bohong. Dia mau datang menjemputku!' teriak Layla.
Gadis itu sudah ketakutan pada pria yang memaksanya. Sudah dua kali ia kedapatan pria itu berciuman dengan gadis lain. Jadi ia takut jika pria itu ternyata sudah memiliki istri. Matanya mengedar dan mendapat Juno tengah berdiri melamun.
"Mas Juno, Layla di sini Mas!" teriaknya dengan senyum penuh kelegaan.
Gadis itu langsung mendekati Juno dan menarik tangannya. Pria yang tadi menghadang Layla tertegun.
"Mas ini tunangan Layla, Mas Juno!' ujar gadis itu mengagetkan Juno.
"Eh?"
Bersambung.
uhuy Bang Juno 😍
Next?
__ADS_1