
Hari yang dinanti tiba. Semua sudah bersiap, tadinya tak ada ijab qobul untuk Nai, tetapi Luisa ingin melihat kembali momentum sakral tersebut.
Gadis itu memakai gamis warna broken white dengan taburan kristal swarovski di bagian bawah gaunnya yang berbentuk A line. Arimbi juga tak kalah cantiknya.
Dua wanita itu mengenakan baju senada hanya saja beda model kembang roknya. Jika Nai memilih rok mekar sedang Arimbi memilih rok lurus dan lebar. Semua design Dewi yang buat. Keduanya benar-benar layaknya putri raja.
Kerudung putih yang syar'i dengan mahkota kecil di atas kepala masing-masing. Semua perhiasan Kaila yang design.
Para keluarga pihak perempuan memakai seragam warna pink. Rion yang punya mau, seluruh pengawal harus memakai seragam warna pink.
"Tuan Baby," keluh Juno.
"Papa harus mau!" tekan bayi besar itu.
"Mama, bolehkan Papa pakai baju pink?" pintanya pada Layla.
"Tentu Baby, biar nggak terlihat sangar," jawab Layla sambil menyembunyikan senyumnya.
Perempuan itu sudah terlihat perutnya. Kandungannya berusia tiga bulan, diperkirakan satu bayi lahir di tahun depan. Juno berdecak pada istrinya.
"Pokoknya harus pake pink. Ini kemauan baby-nya Ion, awas aja kalo sampe baby-nya Ion ngences!" ancam pria tampan itu sampai cemberut.
Virgou tentu mengabulkan semua keinginan putranya itu. Bahkan, pria itu kini memadupadankan setelannya. Ia memakai kemeja pink dengan jas warna ungu begitu juga celananya, bahkan sepatunya senada dengan kemejanya.
"Kak?" Haidar dan David ternganga.
"Kalian juga harus pakai ini!" tekannya menyeringai jahil.
Kini keluarga besar memakai baju warna senada dengan Virgou. Sedang Remario tadinya memilih melarikan diri.
"Jika kau tak mau, kau kutendang dari negara ini!" ancam Bart.
Akhirnya, semua memakai setelan warna seragam. Para perusuh paling senior sampai menatap para pengawal heran.
"Tot pajuna walja sanda?" tanya Azha.
"Heh ... sejak kapan ungu identik dengan janda?" tanya Maisya gemas.
"Tata Pipit Leli!" jawab Azha menyebut salah satu maid di rumah Terra.
Semua pria sebal menatap pria sejuta pesona yang asik duduk dengan santai memangku dua bayi, Ari dan Alia.
Della menggandeng Firman dan Aminah. Bayi itu bertugas menjaga semua bayi yang berjalan. Tak jarang Arsh menurut dengan kakak barunya itu.
"Paypi Alsh, janan puat Mama santunan ya!" peringatnya. "Pita lada palam dedun ... janan pampai lilan!"
"Iyah Ata'!' angguk Arsh.
Bayi aktif itu berada di kereta dorongnya. Bahkan semua bayi juga, Maryam, Aisya, Aaima, Arsyad, Fathiyya, Ari, Aminah, Della, Alia dan Firman semua ada di kereta dorong. Para orang tua takut bayi-bayi itu atraksi sendiri.
Langit duduk di hadapan Haidar. Pria itu kembali menjabat tangan wali dari istrinya, sebuah mahar sederhana yang diminta Nai untuk pernikahan dua kalinya itu.
"Saya terima nikah dan kawin Naisya Putri Hovert Pratama dengan mas kawin uang lima ribu rupiah, tunai!"
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" teriak Dahlan dan Budiman sebagai saksi.
__ADS_1
Lalu giliran Reno kembali menjabat tangan Herman. Pria itu juga sama, kali ini Arimbi juga meminta mahar yang sangat sedikit tetapi menyusahkan dirinya.
"Saya terima nikah dan kawin Raden Ayu Arimbi Triatmodjo dengan mas kawin uang tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah dalam bentuk logam dibayar Tunai!"
"Sah!" teriak saksi.
Kini keduanya kembali bertangisan di acara sungkeman. Nai dan Arimbi kembali menitikkan air matanya ketika bersimpuh di kaki cinta pertama mereka, yakni ayah keduanya.
"Pa, Ayah ... ikhlaskan Nai menjadi istri dari Langit Clementino Dewangga,"
"Papa dan Ayah sudah mengikhlaskan kamu Babies," sahut Haidar tercekat.
Terra menghapus air matanya begitu juga Khasya. Keduanya mencium putri-putri kesayangan mereka.
"Ma, maafin Langit ya, jika sering berseteru dengan Mama," ucap Langit dengan suara serak.
"Iya Nak, Mama sengaja. Mama ingin kau mendapatkan wanita yang baik. Tapi ingat Nak. jika kau menyakiti Nai sedikit saja. Maka lawanmu adalah Mama!" tekan Luisa mengancam putranya.
Kini semua duduk di pelaminan. Virgou juga memberi wejangan kepada dua pasang pengantin itu. Pria itu bersumpah akan mencincang Langit dan Reno jika berani bermain api.
"Daddy tidak akan segan-segan mengubur kalian hidup-hidup di sungai Amazon bersama ikan piranha!" ancam pria itu.
Baik Langit dan Reno mengangguk, tentu saja bukan karena takut. Tapi, mereka sangat mencintai istri yang didapat harus berjuang selama empat tahun lamanya.
Semua kolega bisnis tumpah ruah di ruangan mewah itu. Luisa memamerkan menantunya pada semua istri grup asuhan sosialitanya.
"Jadi menantu Jeng Luis, cucunya Dougher Young?" tanya salah satu teman arisan wanita itu.
"Iya tentu saja!" sahut Luisa bangga.
Para wanita sosialita itu menatap aneh pada Luisa. Mereka mencibir perempuan itu.
"Eh, apa Jeng Luisa punya anak selain Langit?" bisik salah satu wanita berpakaian mahal.
"Eh ... dapat berita dari mana?" bisik lainnya lagi.
"Itu katanya, dia punya putra dari pria lain," jawab wanita bergaun warna pastel.
Bisik-bisik miring itu menyebar di seluruh ruangan. Luisa berdecak sebal dengan kebodohan para wanita sosialita itu.
"Cis ... tau gitu aku bilang jika aku sudah punya banyak cucu!" dumalnya pelan.
Andoro sedikit risih mendengar bisikan-bisikan tak ada rimbanya itu. Bisikan itu malah bertambah jika Andorolah yang punya putra dari selingkuhannya.
"Kalo putranya itu hasil perselingkuhan Tuan Dewangga, tentu tak memakai Sanz!" sahut wanita lain yang memakai gaun hijau dan semua perhiasan dan tasnya juga hijau.
"Ata' Piba!" panggil Bariana.
"Apa Baby?" jawab Adiba.
"Pihat lada pohon!" tunjuknya pada wanita memakai serba hijau.
"Hussh! Nggak boleh gitu Baby!" peringat Adiba.
"Woh teunapa Ata'?" tanya Bariana bingung.
"Baliana, piya butan pohon ... meulaintan limbunan taun!" celetuk Arraya.
__ADS_1
"Butan, Pati semat-semat!" timpal Arion.
"Talian peumpicalatan spasa?" tanya Harun.
Bariana, Arion dan Arraya menunjuk satu wanita yang berpakaian serba hijau.
"Woh ... teunapa lada lantin hohon pisyimi?" tanyanya bingung.
"Na tintin ohon Ata'?" tanya Arsh.
"Pitu!" tunjuk Harun pada wanita tinggi kurus memakai baju serba hijau.
"Oh," angguk Arsh.
"Tot butan tantin hopon Ata'!" sahut Aisya..
"Pati lonton sayun!" lanjutnya.
"Alsh ndat au oton yayul!' tolak bayi itu sambil menggeleng.
"Edes!" lanjutnya mengingat ketika makan lontong sayur di pernikahan kakaknya, Rion waktu itu.
"Halo Assalamualaikum!" ujar Kean di atas panggung.
Melihat perusuh paling junior berada di atas panggung. Semua anak sibuk ingin turun dari kereta dorong mereka.
"Mama ulun!" pekik Arsh marah pada Maria.
"Kita nyanyi dangdut!" seru Kean.
"Sel poha!" lanjutnya.
Semua anak berjoged bergoyang pinggul di atas panggung. Para kolega yang memang sangat tau betapa hebohnya keluarga besar itu jika ada pesta, langsung maju ke depan panggung.
Luisa tak kaget lagi, ia sudah pernah lihat aksi heboh semua anak jika ada pesta. Tiba-tiba wanita itu berdiri.
"Mama mau kemana?" tanya Andoro gusar.
"Sebentar, sekalian menjelaskan kesalahpahaman tadi!" ujarnya.
Wanita itu naik ke atas panggung. Ia menjelaskan semuanya siapa Reno Sanz. Para wanita sosialita tentu malu karena telah menuduh Luisa yang tidak-tidak.
"Satu lagi dari saya untuk semuanya!"
Musik dangdut mengalun, Andoro dan Langit membelalakkan mata mereka.
"Zaaainaal ... maafkan lah ...!" Luisa menyanyikan lagu milik Rita Sugiarto.
"Bukan ... aku tak mau bersamamu lagi .... bukan ku jatuh hati selain dirimu ...."
"Sel poha!" pekik Arsh memutar pinggulnya bersama Kean.
bersambung.
Eh ... emaknya Langit ... mantap jiwa!
Next?
__ADS_1