
Berita meninggalnya Labertha Weist menjadi kabar duka bagi seluruh keluarga. Banyak karangan bunga dikirimkan ke perusahaan Bram dari para kolega. Halaman kantor PT Pratama Corp penuh dengan karangan bunga. Sedang pihak keluarga hanya menggelar doa bersama di mansion Bram.
Kerabat Bram yang ada di luar kota mengadakan kebaktian di hunian mewah tersebut. Karina dan Haidar yang membuat acara open house dan membiarkan kerabat dari papanya membawakan acara. Terra dan Zhein sebagai menantu dari keluarga Pratama diperkenalkan kembali pada para kerabat.
“Ini Om Paulus Hovert Gratama, adalah anak dari kakak sepupu dari Kakek Joko Pratama,” ujar Karina memperkenalkan Terra dan Zhein.
Gomesh dan Maria ada di sana membantu acara atas perintah Virgou. Sepasang suami istri itu mengundang salah satu pendeta dari gereja terdekat. Kebaktian berjalan lancar selama dua jam. Kidung-kidung suci diperdengarkan, semua tamu tanpa khusyuk mengikutinya.
Gomesh diminta oleh Karina untuk mewakili keluarga, yang notabene beragama islam, sedang Paulus juga memberikan ucapan terima kasih pada tuan rumah telah mengadakan acara untuk memberikan doa dan penghormatan terakhir bagi mendiang Labertha Weist.
“Terima kasih pada Keluarga Pratama yang telah mengadakan kebaktian ini. Semoga Tuhan memberkati kita semua, aameen!”
Paulus bersalaman dengan Gomesh sebagai wakil keluarga. Satu foto besar berisi seluruh keluarga yang menjadi kenang-kenangan terakhir dari wanita cantik itu. sedang di rumah Terra semua nampak sedih dan menunduk dalam doa. Mereka mendoakan bagi nenek dan uyut yang baru saja mereka kenal.
“Uyut Bertha orang baik, pasti surga menantinya,” ujar Domesh.
“Aamiin!” sahut semuanya.
Harun, Azha, Arraya, Arion dan Bariana tampak terdiam, mereka tak menyangka uyut yang baru saja mereka bicarakan kemarin sudah meninggal dunia. Kelima bayi baru dua tahu itu duduk di kursi panjang sambil melamun.
“Alun,” panggil Bariana.
“Hmmm,” sahut Harun lemas.
“Pa’a beunel, Yuyut menindhal punia?” tanya Bariana.
“Tata Daddy syih bedhitu,” jawab harun dengan tatapan menerawang.
“Atuh pasih eundat beunanta jita Puyut menindhal talna pipis bi selana,” sahut Arraya tak percaya.
Arion yang duduk di sana nyaris tertawa mendengar asumsi adiknya itu. pemuda itu tau ceritanya karena Bart menceritakan bagaimana, lima bayi yang memaksakan diri untuk bicara itu berdebat gara-gara uyut mereka pipis di celana.
“Baby ... kemarin itu kalian salah tangkap,” sahut Rion menjelaskan.
“Tantap pa’a Ata’ Ion. Pita eundat bain pola tot,” sahut Arion.
“Bukan itu maksudnya,” sahut Rion gusar.
“Jadi maksud Harun bukan pipis tapi tipis,” jelas Rion lagi.
__ADS_1
“Oh ... tipis teltas?” tanya Azha.
“Bukan tipis kertas. Tapi diibaratkan setipis kertas,” jelas Rion lagi.
“Ata’ Ion janan puat tami binun, pahasa wowan pewasa teunapa panat seutali!” protes Bariana kini.
“Nanti deh, kalau kalian besar pasti mengerti!” ujar Rion pada akhirnya.
“Yang penting. Uyut Bertha meninggal bukan karena pipis di celana ya!” lanjutnya.
“Oteh Ata’!” sahut semua bayi kompak.
Dominic terpaksa menunda jadwal fitting baju pengantinnya. Semua keluarga tengah berduka, Dinar juga mengerti, ia tak mempermasalahkan hal itu. mereka menjadwalkannya lusa mendatang.
“Dad, apa undangan sudah jadi?” tanya Demian.
“Besok baru dikirim ke panti, Nak,” jawab Dominic.
“Apa Bibu tak keberatan?” tanya Jac kini.
“Beliau tidak keberatan sama sekali,’ jawab Dominic,
“Keluarga Hovert Pratama masih berlanjut dari keturunanmu Haidar. Om sudah tidak memiliki penerus lagi, semua adalah anak perempuan,” ujar pria itu.
“Laki-laki dan perempuan itu sama Om,” sahut Haidar.
“Memang sama, tapi anak-anaknya semua ikut marga suaminya,” sahut Paulus Gratama.
Haidar hanya tersenyum menanggapi perkataan omnya itu. Semua tamu sudah pulang. Karina disuruh menginap di mansion bersama suaminya. Haidar dan Terra tak bisa menginap karena ada anak bayi di rumah.
"Jadi kalian pulang gitu?”
“Oh, ayo lah kak. Ini juga rumahmu!” sahut Haidar kesal.
"Sudah tidak apa-apa lagi pula kita tak memiliki anak kecil,” sahut Zhein menengahi.
Akhirnya kakak dari Haidar itu menginap di hunian besar milik ayahnya Karina. Haidar mengajak istrinya, Gomesh dan juga Maria untuk pulang. Keempat orang itu naik mobil Haidar dan melaju dari halaman mansion Bram.
Sampai rumah mewah milik Terra, mereka turun. Semua sudah tidur di kamar masing-masing. Gomesh akhirnya menginap bersama istrinya.
__ADS_1
Pagi menjelang semua sibuk. Anak-anak sekolah, Sean tetap menjadi pengantar adik-adiknya yang masih SD, sedang Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid, berangkat sekolah bersama para pengawalnya. Begitu juga Dimas, Maisya dan Affhan. Rumah Terra sedikit lengang karena para pria juga sudah berangkat kerja.
Hanya tersisa Bart saja. Leon dan Frans yang ada di Eropa, datang ke Swiss untuk mengucap bela sungkawa.
“Grandpa, mau menu apa hari ini?” tanya Maria.
“Apa saja kau masak aku makan Maria,” jawab pria itu.
Maria memasak garang asem ikan kakap, sedang untuk anak-anak wanita itu memilih memasak ikan goreng dan sayur bening. Waktu makan tiba, semua makan dengan nikmat tanpa ada suara. Para perusuh tampak tenang.
“Net!” panggil El Bara.
Terra, mencium gemas bayi tampan itu. El dan Al bara sudah memakan makanan pendamping asi. Bayi itu memakan bubur saring yang telah dibawakan oleh Saf. Lidya memang menyerahkan penuh asupan gizi dua anak kembarnya pada sang kakak ipar.
Sehabis makan semua anak bermain sebentar kemudian ditidurkan. Bram mengabarkan akan pulang dua hari mendatang. Pria itu meminta Al bersiap untuk terjun langsung sebagai penerus perusahaan buyutnya.
“Jadi Tuan muda Al nanti tidak tinggal di sini?” tanya Maria keberatan.
“Mau diapain lagi kak. Perusahaan butuh pemimpin, Papa sudah terlalu tua untuk memegang kendali bisnis. Sean sudah menolak keras untuk menangani satu pun perusahaan, kafe miliknya sudah memiliki enam cabang yang tersebar di seluruh kota,” jelas Terra panjang lebar.
“Andai perusahaannya bisa dipindah ke sini, tentu Tuan Muda tak perlu jauh-jauh tinggal di sana,” sahut Maria lagi.
“Mungkin bisa, aku akan membantunya. Al masih muda bukan? Dominic bisa membantunya memindahkan perusahaan pusat ke sini!” sahut Bart.
Terra tersenyum. Ia nyaris menangis ketika ayah mertuanya meminta Al tinggal di Swiss, remaja itu baru tujuh belas tahun, tentu belum bisa mandiri secara pribadi. Ali Narendra Hovert Putra Pratama itu masih bergantung pada ibunya.
“Yang pasti mereka akan ikut semua ke Eropa,” sahut Maria mengingatkan.
“Ah, benar. Jika Al pergi. Pasti Kean, cal, Satrio dan Sean ikut pergi,” sahut Terra baru ingat.
“Aku sudah menghubungi Dominic untuk persyaratan pemindahan perusahaan utama,” ujar Bart.
Terra mengatakan itu pada suaminya. Bram yang ada di Swiss tentu sangat setuju perusahaan ayahnya dipindah ke Indonesia. Secara kebetulan para kolega di Eropa hanya tinggal sedikit, berbeda dengan milik Bart yang mencakup seluruh bisnis.
“Al pasti seneng nggak jadi ke Eropa!” sahut Maria antusias.
Bersambung.
Pastinya gitu ...
__ADS_1
Next?