
Hari lamaran semakin dekat. Azizah sudah gelisah setengah mati. Para adik sampai tak mengerti apa yang membuat kakaknya gelisah seperti ini.
"Kakak kenapa sih?" tanya Adiba bingung.
"Iya nih? Ada apa Kak?" tanya Ajis.
"Kakak sebentar lagi dilamar Dik," jawab Azizah pada akhirnya.
Semua adik Azizah terdiam. Mereka saling pandang satu dengan lainnya. Adiba nyaris menangis.
"Kakak mau dilamar?" tanyanya dengan suara gemetar.
Azizah mengangguk, wajah bahagia sang kakak membuat hati sang adik tak tega. Adiba sebagai adik tertua, ia memenangkan Ajis yang hendak protes.
"Wah ... jadi kakak akan menikah ya?" Azizah kembali mengangguk dengan rona di pipinya.
"Kakak akan bersiap, kalian pakai pakaian yang bagus ya," ujar Azizah pada adiknya.
Semua mengangguk. Lalu gadis itu pun pergi ke luar untuk berdiskusi pada ibu-ibu panti.
Delapan anak berbagai usia menuntut pada Adiba. Gadis kecil itu menenangkan semuanya.
"Tenanglah Dik!"
"Kak ... kita bagaimana, Kak Azizah menikah. Pasti dia ikut sama suaminya!" ujar Ajis.
"Kalau Lana dan adik-adik sih pasti masih tinggal di sini," sahut Lana.
"Kan memang kami di sini baru jadi adiknya Kakak," lanjutnya.
"Apa kita juga di sini Kak?" tanya Amran.
"Aminah bagaimana Kak?" tanya adik bungsunya.
"Ada kakak di sini, kalian jangan khawatir," ujar Adiba.
"Terus yang cari uang untuk kita siapa Kak?" tanya Alim.
"Apa kita bergantung pada donatur, seperti anak-anak panti lainnya?" tanyanya lagi.
"Kakak akan berusaha agar segera lulus dan bekerja seperti Kakak. Jika bisa Kakak akan keluar pondok pesantren dan sekolah kejuruan!" ujar Adiba mulai merencanakan hidupnya.
"Kakak jadi pengawal sepelti Kak Azizah, gajinya besal!" saran Leno.
"Iya Kak, dali sekalang Kakak latihan fisik saja!" sahut Ahmad.
"Kakak sudah belajar pencak silat, sepertinya tak sulit jika berlatih lebih keras lagi," ujar Adiba.
"Iya Kak, jangan cepat nikah seperti Kak Azizah ya!" pinta Aminah.
"Eh ... nggak boleh gitu. Kalau Kak Adiba ada yang suka dan harus menikah. Kan .ada Kak Ajis!" sahut Ajis.
__ADS_1
"Iya, kita nggak boleh sedih dengan pernikahan Kakak kita, kita harus bahagia!" ujar Adiba semangat.
"Jadi kita akan belpisah sama Kak Azizah ya?" tanya Lino sedih.
"Kakak akan jadi milik orang lain Dik, kita nggak boleh mengganggunya," ujar Adiba. "Apalagi menghancurkan kebahagiaannya."
Semua duduk dalam diam. Mereka sedih akan kehilangan satu-satunya panutan hidup mereka. Pernikahan sang kakak akan memisahkan jarak antara mereka.
"Kita nggak ikut Kakak juga?" air mata Aminah menetes.
Adiba menggeleng, "nggak Dik."
Alim mengusap air mata adik bungsunya. Yang lain juga menghapus jejak basah di wajah mereka.
"Kita nggak boleh sedih. Kak Azizah berhak bahagia. Ingat kata Amak dan Apak, kita tidak boleh membuat kakak sedih," ujar Ahmad.
"Amak ... Aminah kangen Amak," cicit Aminah sedih.
"Kenapa dulu Amak nggak ajak Aminah ... hiks ... hiks!"
"Dik jangan gitu," ujar Adiba sedih.
"Kami sayang Adik," ujar Ajis.
Semua berpelukan dan menangis. Azizah masuk dan melihat mereka yang berpelukan seakan saling memberi kekuatan.
"Dik?!" panggilnya.
"Eh ... kakak," sahut semuanya tersenyum.
"Ini ... Lana ceritain lagi bagaimana ibunya meninggal dunia. Padahal udah berkali-kali kita dengar tapi masih sedih juga," jawab Adiba tentu saja berbohong.
Azizah menatap netra pekat Adiba. Gadis itu sangat tau jika adiknya berbohong, Adiba memalingkan wajahnya. Azizah pun duduk bersama adik-adiknya.
"Dik, apa kalian keberatan dengan pernikahan Kakak?"
"Tidak Kak, kami tidak keberatan sama sekali!" sahut Adiba tegas.
"Kami hanya takut ditinggal Kakak!' aku Leno jujur.
Semua diam dan menunduk. Azizah menatap semua adiknya. Gadis itu tau kegelisahan mereka. Ia ingat janji Khasya padanya. Rion akan tetap menganggap sembilan adiknya sebagai adik Rion juga. Bahkan mereka semua adalah anak-anak dari semua pasangan orang tua itu.
"Kakak akan mengajak kalian hidup bersama Kakak. Kakak juga tak bisa tanpa kalian," ujarnya.
"Nggak bisa gitu Kak. Nanti, aku akan bukan mahrom bagi Kak Ion, begitu juga dengan Lana dan Aminah!" sahut Adiba.
"Kami tak bisa tinggal satu atap dengan Kakak!" lanjutnya lalu menangis.
"Tidak ... kalian adalah adik-adik Kakak. Buktinya Kak Lidya bisa tinggal sama Mama Terra sampai besar!" ujar Azizah.
"Kami nggak mau mengganggu kehidupan Kakak dan suami!" sahut Ajis kini.
__ADS_1
Azizah menangis, ia menggeleng kuat, berpisah dengan sembilan adiknya adalah hal terberat yang ia lakukan.
"Kakak memilih tak menikah jika harus berpisah dengan kalian," sahutnya dengan suara bergetar.
"Jangan Kak!" sahut Adiba dan Ajis bersamaan.
"Kakak berhak bahagia. Kami nggak mau buat Amak dan Apak sedih karena menghalangi kebahagiaan Kakak!" tolak Ajis.
Adiba, Amran, Alim, Ahmad Aminah, Lana, Leno dan Lino menangis. Azizah menutup mulutnya menahan tangis. Ia tak mau bahagia jika harus meninggalkan semua adik-adiknya.
"Kakak yakin kakak bahagia jika memilih kalian!"
"Kak, jangan membuat kami merasa bersalah. Kami tidak mau membuat penyesalan dikemudian hari!" tekan Adiba.
Azizah menggeleng, pilihan begitu sulit. Ia sangat mencintai Rion, tetapi jika memilih. Ia akan memilih bersama sembilan adiknya.
"Kak, jangan pikirkan kami. Bakti seorang istri adalah pada suaminya. Tanggung jawab adik-adik adalah sebagai anak laki-laki tertua di sini!" tekan bocah sepuluh tahun itu.
Azizah terharu, ia begitu bangga pada adik-adiknya. Gadis itu memeluk semuanya dengan erat.
"Kakak yakin, Mas Baby pasti tidak akan menjauhkan kalian dengan Kakak!" ujarnya yakin.
"Jadi yang melamar kakak itu Kak Baby?' tanya Amran antusias.
"Iya sayang!" jawab Azizah.
"Ih ... kenapa nggak bilang dari tadi sih!" sahut Ahmad sebal.
"Eh ... emangnya kenapa?" tanya Azizah bingung.
"Kita mah setuju banget kalau Kak Azizah sama Kak Baby!" Semua mengangguk setuju.
"Iya Kak, kalau sama Kak Baby kita mau lah tinggal bareng sama Kakak!" sahut Adiba.
"Loh kok gitu?" tanya Azizah mulai bingung.
"Iya karena Kak Baby itu beda dengan kakak pria lain yang pasti berat buat hidupin kita bersembilan ini!" sahut gadis kecil itu semringah.
Azizah melongo tak percaya. Semua adik-adiknya langsung bahagia ketika tau jika kakak ipar mereka adalah kakak panutan mereka.
"Pokoknya Kakak harus jadi sama Kak Baby!" sahut Ajis kini semangat.
"Emang Kak Ion mau gitu nampung kalian?" goda Azizah.
"Pasti lah, mau taruhan?" tantang Alim.
Azizah mengerucutkan bibirnya. Tentu saja ia akan kalah bertaruh. Rion sudah mengatakan akan membawa semua adiknya tinggal satu rumah dengannya. Ia ingin rumahnya ramai dengan suara anak-anak.
"Jangan khawatir sayang, Mas Baby tentu akan membawa semua adik untuk tinggal bersama kita. Kita akan bermain gobak sodor tiap hari jika perlu!" sahut pemuda itu beberapa hari lalu.
"Jika kamu kalah, kamu harus cium aku!" lanjutnya.
__ADS_1
bersambung.
eh ... Ion 😍🤦