SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
JALAN-JALAN


__ADS_3

"Uyut ... kita mau jalan-jalan dong!" rayu Maisya.


"Mau ke mana sayang?"


"Katanya Papa mau ajak kita ke masjid dan ponpes yang mau dibuka itu?" celetuk Rina, salah satu anak angkat Bart.


"Oh iya ya! Apa kalian mau?" tanya Bart pada semua.


Walau Maisya ingin jalan-jalan ke sebuah distrik yang katanya banyak baju outlet terkenal dan murah. Gadis itu mengangguk juga.


Bart membawa semua keluarganya menuju masjid yang ia bangun bersama komunitas muslim di Eropa, begitu juga pondok pesantrennya. Al-Isra'l itulah nama masjid dan pesantren yang didirikan Bart. Bram dan Herman sangat tak menyangka jika masjid dan pondok pesantren ini sudah berdiri tiga tahun lalu.


"Kok Daddy nggak bilang?" tanya Herman.


"Mesti gitu?" sahut Bart balik bertanya.


"Kamu juga nggak bilang Frans!" sahut Bram.


"Daddy yang suruh, kami berjuang mendirikan ini sejak bertemu Terra dan Virgou masuk Islam," jawab Frans.


Najwa hanya mengelus perutnya, Leon sudah memperingati istrinya. Kandungannya sudah masuk delapan bulan. Banyak yang menyarankan untuk wanita itu cecar, tapi Najwa menolak.


"Nini, istirahat saja dulu," ujar Nai begitu kasihan melihat salah satu neneknya itu.


Gisel memeluk ibu sambungnya dengan manja begitu juga David. Berapa kali mereka mengusap perut besar Najwa.


"Jadi apa jenis kelaminnya?" tanya Bart.


"Kami belum tau, Dad. Setiap diperiksa, mereka menyembunyikannya," jawab Najwa.


Bart mengangguk. Mereka melihat lima puluh anak tengah berkeliling di halaman dan memasuki kelas-kelas. Bangunan itu sudah ada murid-muridnya. Kebanyakan mereka berasal dari Indonesia, Arab, India dan hanya sedikit yang dari Eropa.


"Ella dan anak-anak sekolah agamanya juga di sini," ujar Gabe.


Pria itu menggendong Baby Zaa sedang Baby Nisa ada di tangan Virgou. Bayi bermata biru itu tampak kegirangan. Puspita mengajak bayi itu bercanda.


"Mama, Baby Fael keknya pup deh," ujar Putri ketika melihat anak Maria gelisah. "Gelisah dan sedikit bau asam!"


"Aaahh!" pekik Fael tampak tak suka disindir Putri.


"Bau asam ... bau asam!" ledek Putri tambah menggoda sambil menciumi kaki kecil bayi tampan itu.


"Oaaaa!" menangislah bayi enam bulan itu.


"Baby, sini sama Mama Aini," ujar Aini lalu membawa bayi itu dan memukul tangan Putri pelan.


"Dah, Ibu Putri sudah Mama pukul!" barulah bayi itu diam.


Zizam bersama ayahnya dan Aaima tengah main ayunan. Anak-anak pun kembali berkumpul setelah puas melihat-lihat pondok pesantren. Bart sudah punya rencana, semua anak angkatnya akan ia sekolahkan khusus agama dan mengajar di pondok pesantrennya.


"Jadi Grandpa ngangkat anak hanya untuk jadi karyawan?" sindir Gabe yang langsung diberi pukulan oleh Khasya.


"Nggak baik begitu!" peringat wanita itu.


Gabe mengerucutkan bibirnya, Bart meledek cucunya itu.


"Untuk apa punya anak banyak, kalau tidak membantu ayahnya," sahut Khasya membela Bart.

__ADS_1


"Bunda ... aku hanya bercanda," sahut Gabe membela diri.


Pria itu memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu. Khasya hanya memencet hidung mancung Gabe.


Para perusuh tampak tenang, kini mereka makan siang di sebuah restoran khusus dengan tulisan halal di depan bangunan itu.


"Jangan bilang, jika ini punya Grandpa juga?" ujar Satrio.


"Iya sayang, Grandpa memang buat ini khusus untuk pemeluk agama Islam dan vegetarian," jawab Bart.


"Papa juga mau salah satu kalian belajar masakan halal, baik dari pengolahannya dan penyajiannya!" pinta Bart pada lima puluh anaknya.


"Baik Pa!" sahut semua menurut.


Usai makan, Maisya benar-benar ingin jalan-jalan di distrik di mana baju-baju itu berada.


"Kamu mau pergi sama siapa?" tanya Bart.


"Sendiri juga nggak apa-apa, Grandpa!" jawab asal gadis itu membuat semua melotot.


"Sama Kak Kean aja ya. Kakak juga lama nggak jalan-jalan," ujar Kean.


"Ikut!" sahut Cal, Sean, Al dan Daud.


"Aku juga mau!" sahut Dewi dan Kaila.


"Dewa, kamu mau ikut?" remaja usia enam belas tahun itu menggeleng.


Dimas juga menggeleng ketika ditawari. Dewa dan Dimas memang tipikal anak rumahan, keduanya jarang sekali keluar rumah jika tidak penting.


"No!" sahut semua kompak.


Kaila mengerucutkan bibir, gadis itu ingin sekali pergi bebas tanpa ada yang mengikuti.


Akhirnya mereka pun pergi ke distrik tersebutlah dengan sepuluh pengawal, tiga diantaranya adalah pengawal berjenis kelamin perempuan.


"Pita eundat pinta piajat zalan-zalan?" tanya Maryam.


"Eundat pahu. Pita peulum dedhe syih ... zadhi pita eundat pidedulitan pama wowan puwa," jawab Aisya.


"Sepeultina pita halus blotes!" ujar Al Fatih memberi saran.


"Blotes pa'a?" tanya Arsyad.


"Ipu woh ... yan tayat Ata' talo eundat poleh pama Mama, nambet!" jawab Al Fatih.


"Atuh bawu zalan-zalan, pati euntal zawab pa'a talo bipanya Mama bawu salan-salan teumana?" El Bara bingung sendiri dengan pertanyaannya.


"Tamu nomon pa'a syih?" tanya Al Bara.


"Daddy!" teriak Arsh pada ayahnya.


"Apa bayi galak?" sahut Virgou.


"Alsh au ... lan-lan!" jawab bayi tampan itu.


"Apa itu lan-lan?" tanya Virgou menggoda Arsh.

__ADS_1


"Daddy ... Alsh au lan-lan ... ut Ata' Ila!" pekik bayi galak itu.


"Daddy nggak ngerti!" goda Virgou lagi.


Arsh kesal, ia menoleh pada kakak-kakaknya. Bariana menatap Virgou dengan pandangan memelas. Pria sejuta pesona itu berdecak kesal. Bahkan Samudera yang jarang sekali bicara ikut memandang Virgou dengan pandangan memohon.


"Ah ... apa kita pergi menyusul anak-anak tadi?" tanya Virgou pada yang lain.


Bart mengangguk, tak butuh waktu lama. Distrik yang dikunjungi Maisya dan yang lain mendadak sepi pengunjung. Seratus pengawal menyisir tempat dan mengurangi kerumunan. Keluarga pebisnis besar mendatangi tempat itu.


"Kok mendadak sepi?" tanya Dewi menoleh pada suasana.


"Pasti uyut ke sini sama semuanya," sahut Kean.


Remaja itu mengambil satu baju setelan formal warna abu-abu.


"Baby Dew, gimana?" tanyanya.


"Eum ... sekali-kali Kakak pake kaos deh dalemannya," usul gadis itu.


"Kaos?" Dewi mengangguk, netranya memindai banyak baju di sana.


Dewi memberi satu kaos warna biru pucat dan celana jeans belel.


"Ganti ini Kak!" pintanya.


Kean ke kamar ganti, remaja itu keluar, semua mata memandang ketampanan Kean.


Kean memang tampan, kulitnya kecoklatan dan matanya biru. Hidung mancung dan bibir tipis merah jambu alami. Kean menjadi pesona tersendiri, belum lagi Satrio, Affhan, Sean, Al dan Calvin. Semua gadis tampak mabuk melihat ketampan mereka.


"Oh ... he so gorgeous!"


"Gini?" tanya Kean sambil bercermin.


Kaila memakaikan Jas abu-abu pada kakaknya. Remaja itu jadi lebih fresh dan sangat modis.


"Rambutnya sini!" Kaila menyisir rambut kakaknya dengan tangan.


"Jongkok dikit ah!" protesnya karena berjinjit terlalu lama.


"Makanya tinggi!' ledek Kean.


"Nah ... cakep!" sahut Kaila dan menghadapkan kakaknya di cermin.


"Wah ... gue ganteng!" pekik Kean senang.



bersambung


wah ...



Reno Alejandro Sanz


next?

__ADS_1


__ADS_2