
Bram dan Kanya terkejut ketika sampai hunian mereka. Wanita berusia satu abad lebih duduk di teras belakang menatap taman bunga.
"Mommy!" seru Kanya gembira luar biasa.
Labertha tersenyum.. Para maid tentu mengenal wanita itu. Lukisannya besar ada di ruang keluarga berdampingan dengan suaminya. Bram mengecup pipi ibunya.
"Mommy kenapa tak bilang jika kau ke sini?" keluhnya, "Aku pasti akan menyempatkan menjemputmu!"
"Jangan khawatir sayang. Fabian yang menjemputku tadi," ujar wanita itu.
Bram bersyukur ibunya datang dengan selamat, ia akan berterima kasih pada asistennya yang sangat setia itu.
"Mommy ke sini sendiri? Tak mengajak Marina?" tanya Kanya mendorong kursi roda ibu mertuanya itu.
Mereka menuju ruang keluarga. Bram mengajaknya. Angin siang tak baik bagi kesehatan ibunya.
"Tidak, Marina mengurus di rumah. Aku sendiri ke sini," jawab wanita itu.
"Kata maid, kalian ke panti asuhan milik Khasya?" tanya Labertha.
"Iya mom, yayasan itu menerima anak asuh baru yang diambil dari sebuah panti bermasalah," jawab Bram.
"Mommy sudah makan?" wanita itu mengangguk.
Satu cangkir teh jahe menghangatkan tubuh Labertha.
"Boleh aku mengunjungi tempat itu?" pintanya.
"Tentu mommy," sahut Kanya senang.
Lalu Labertha mengatakan dirinya lelah. Bram dan Kanya membawa ibu mereka ke kamarnya, lalu membiarkan wanita itu beristirahat.
Bram langsung memberitahu pada Haidar jika neneknya datang. Pria itu terpekik senang.
"Aku akan membawa pasukan!" sahut Haidar dari seberang telepon.
Bram tersenyum. Terkaan Bart tentang kedatangan ibunya tepat. Pria itu belum membawa pakaiannya ke sini. Bram tak memaksanya.
Kanya memilih ke dapur dan melihat stok makanan. Wanita itu pasokan bahan makanan sudah mulai menipis.
"Sepertinya aku harus belanja lagi," gumamnya.
"Lea!" panggilnya pada kepala pelayan.
"Saya nyonya!" Lea datang dan membungkuk hormat.
"Kau belanjalah, bawa beberapa maid bersamamu. Perbanyak beli daging, baso, sosis dan kentang goreng!" titahnya.
Lea membungkuk hormat. Wanita yang telah bekerja selama lima tahun bersama Kanya, sangat paham berapa banyak bahan makanan yang ia beli.
"Oh ya minta para maid untuk menambah menu western pada makanan. Ada ibu ku datang ke sini!" titahnya lagi.
"Baik, nyonya!" sahut Lea.
__ADS_1
Kanya mengangguk dan meninggalkan kepala maid. Lea segera mengganti baju, ia membawa tiga maid perempuan dan empat maid laki-laki. Mereka naik mobil secara terpisah. Sebagian maid laki-laki dengan mobil bak terbuka. Sebagian ikut maid perempuan dalam mobil minivan.
Haidar langsung memberitahu istrinya jika neneknya datang. Wanita itu antusias dan langsung membawa empat anaknya. Rasya, Rasyid, Arraya dan Arion.
Bart juga ikut bersamanya. Terra mengingatkan untuk membawa pakaianya.
"Ah ... tak usahlah menginap," ujar pria tua itu.
"Grandpa!"
Bart berdecak malas. Ia memanggil dua cucu kembarnya untuk membantu berkemas.
"Memang uyut mau bawa berapa baju?' tanya Rasya merapikan baju-baju Bart di dalam tas.
"Tak usah banyak-banyak, cukup lima baju, dua celana panjang, empat celana pendek dan lima bokser!" jawab pria itu memandori cucunya yang memasukkan baju-baju itu.
Terra hanya menggeleng melihat tingkah kakeknya itu. Ia memilih membantu mengemas baju putra kembarnya begitu juga anak kembar sepasangnya.
"Mama ... Alun syama, Azha ban Balian itut pidat?" tanya Arraya.
"Ikut sayang, mereka malah sudah sampai," jawab Terra.
"Baby Fathiyya?" tanya Arion.
"Sedang menjemput kita ke sini," jawab Terra lagi.
"Ata' Sty, Ata' Domesh ban Ata' Bomesh?"
"Ikut semua sayang," jawab Terra mencium gemas dua bayinya.
Sementara di hunian Virgou. Pria itu langsung meneriaki istrinya. Hal itu membuat Puspita mengelus dada. Suaminya memang selalu heboh jika ada kedatangan saudaranya dari jauh.
"Ayo lekaslah sayang!" paksa pria itu.
"Bantu daddy ... jangan memandoriku!" keluh Puspita.
Virgou menggaruk kepalanya. Sedang Harun hanya santai bergulingan di kasur.
"Aku ke kamar Kaila, Affhan dan Maisya," elak Virgou yang membuat istrinya mendengkus kesal.
Ketiga anaknya hanya berbekal tas kecil. Tak banyak baju yang mereka bawa. Kanya sudah menyiapkan baju semua cucunya di kamar mereka masing-masing.
"Kalian hanya bawa sedikit?' ketiganya mengangguk.
"Di sana sudah banyak baju, daddy," jawab Affhan.
"Dad, sore nanti kita boleh ya, ke kafe kak Sean," ujar Maisya minta ijin.
Virgou mengangguk. Ia tak lagi melarang putra dan putrinya bermain selama dalam pengawasan bodyguard mereka.
"Dengan bodyguard, oteh!"
Walau terdengar helaan napas panjang dari ketiganya. Tapi baik Affhan, Maisya dan Kaila mengangguk setuju.
__ADS_1
Mereka berangkat ke mansion Bram. Para pengawal mengikuti dengan mobil dan motor. Sampai mansion Bram, sudah penuh dengan manusia.
Gisel datang bersama empat anaknya dengan Terra juga dengan empat anaknya. Hanya Herman dan Khasya yang datang berdua saja. Lidya belum datang bersama suaminya, begitu juga Darren.
Rion datang bersama Al. Lalu tak lama Kean datang, disusul Calvin dan Satrio. Arimbi, Nai dan Daud masih di kampus persiapan wisuda mereka yang hanya tinggal menghitung minggu.
"Wah ... Yuyut Belta datan!"
Bomesh langsung mendekati wanita itu. Sky mengikutinya, keduanya takjub dengan wanita yang menurut mereka unik.
Labertha selalu terkejut dengan pola tingkah mereka. Ia mencium bocah lelaki tampan itu. Keduanya juga menciumnya. Sedang Harun mencari keberadaan saudaranya yang lain.
"Ajha, Aya, Ayi, Baliana!" panggilnya.
Empat bayi yang seumuran dengan dia mendekati. Kelima bayi itu tentu menjadi perhatian para orang dewasa. Arsyad ikut serta begitu juga Aaima. Jac membawa putrinya serta. Istrinya akan datang bersama Lidya nanti begitu juga Aini.
"Ata'! Ata'! Ata'!' pekik Aaima.
Tangan bayi itu mengait taplak di meja ruang tamu. Hal itu membuat Bertha nyaris menahan napas jika saja Seruni tak sigap menangkap tangan bayi cantik itu.
"Baby mau ke mana?" tanya wanita itu gemas bukan main.
"Au ... Ata'!" lalu terdengar gemuruh gelak tawa Aaima karena diciumi perutnya oleh Seruni.
David juga gemas dengan bayi usil itu. Labertha merasa muda kembali mendengar celotehan bayi-bayi ajaib itu.
Harun mengajak empat saudaranya ke tempat sedikit sepi dan lengang. Herman dan Virgou penasaran. Mereka mengikuti lima perusuh plus Arsyad.
"Eh ... buyut budah datan ... beustina pita bembelsempahtan sepuah talya," ujar Harun memberi ide.
"Bemana pita bawu napain?" tanya Arion.
"Badaibana talo pita beulbanyi?" saran Azha.
"Poleh ... pa'a yan beusti pita banyitan?' tanya Bariana lalu melipat tangannya di dada.
Harun berpikir keras. Ia menggosok dagunya dan mengerutkan kening sembari memancungkan bibirnya.
"Pita beulpanyi tan ladhu picaan pita seundili,"
"Oh pita atapela," ujar Azha.
Mereka mengangguk. Lalu berembuk tentang lagu yang akan mereka cipta kan.
Arsyad hanya jadi penonton. Bayi sebelas bulan itu akan bertepuk tangan, begitu titah Harun padanya. Bayi tampan itu hanya mengangguk setuju.
Kelima plus bayi perusuh datang berjejer. Tiba-tiba Arsyad nungging di tengah-tengah ruangan di depan Labertha.
"Syululup ... syululup ... cuap ... cuaap ... belpom hom yuyut syantit ... syululup ... tetiwil ... belpom hom puyut bait pudi ...!"
Semua nyaris tersedak, hanya Labertha yang tersenyum dan tak mengerti apa yang terjadi.
bersambung
__ADS_1
mereka tengah merusuh uyut!
next?