SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SENIN RAMAI


__ADS_3

Hari senin tentu semua heboh, terutama untuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah. Virgou tenang karena hanya tinggal Kaila yang masih sekolah. Sedang Harun masih lama. Bahkan balita itu sekarang ada di rumah Rion bersama seluruh saudaranya.


"Rasya Rasyid!" teriak Terra pada dua jagoannya.


"Udah siap Mama," sahut Rasya dengan seragam sekolahnya.


Dewi dan Dewa datang bersama Kaila. Mereka satu sekolah bahkan satu kelas. Jadi tak ada kendala untuk saling menunggu.


"Sarapan dulu sayang!" suruh Haidar.


"Mana Baby Ay dan Baby Yi Ma?" tanya Dewa.


'Kamu nanya?" sengit Terra ala pertanyaan viral itu.


"Wuih ... Mama gaul!" kekeh Kaila.


"Nanti juga mereka ke sini," ujar Rasya.


"Katanya sih mereka mau melihat Baby Ndra dan Baby Zora," sahut Terra.


'Nanti pulang kita ke sana ya Ma!" ujar Kaila.


"Boleh," sahut Haidar.


Akhirnya anak-anak berangkat. Terra yang mengantongi kelima anak itu bekal. Haidar mencium bibir istrinya.


"Kita udah lama nggak bulan madu lagi sayang," ujarnya setelah mencium bibir Terra.


"Anak-anak pasti minta ikut sayang," sahut Terra sambil tersenyum.


"Ah ... kita diam-diam saja," ujar Haidar memberi saran.


"Ih ... Mas nggak tau keluarga kita kek apa?" dumal Terra bertanya.


Haidar terkekeh, tentu saja ia tau seperti apa seluruh keluarganya itu.


"Tapi papa sama mama kemarin lolos loh," sahut Haidar.


"Iya ... gitu sampe jadi bahan Bullyan ayah sama Grandpa kan?" cibir Terra kesal.


Haidar malah tertawa. Ia justru sangat ingin melakukan hal sama seperti yang diperbuat orang tuanya.


"Oke sayang, aku pergi dulu. Bersiaplah untuk kabur!" Haidar kembali mengecup bibir istrinya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas Terra.


Wanita itu tersenyum, hatinya berdebar menantikan keseruan mereka ketika berhasil lari dari penjagaan ketat para pengawal.


"Ah ... kenapa sih mereka tambah pintar!' keluh Terra.


Wanita itu melirik Fio. Pria tampan itu hanya menatap datar. Ia tentu tau apa yang akan direncanakan oleh atasannya.


"Silahkan coba Nyonya," sahutnya menantang.


"Aku pecat kau!" ancam Terra.


"Saya adukan sama Ayah!" ancam Fio balik.


"Ih!" Terra menghentak kakinya ke lantai.


Terra bersungut. Maria tak datang ke tempatnya hari ini karena semua bayi ada di rumah Nai. Para perusuh itu ingin mengajari bayi berusia dua minggu itu untuk bernyanyi.

__ADS_1


'Kak ... assalamualaikum!" Seruni datang menjemput Terra.


Wanita itu sudah siap dengan celana jeans dan baju kaos. Tak ada busana branded atau tas limited edition. Terra sangat sederhana. Bahkan kini ia memakai sandal jepit saja.


"Bi Ani, Bi Gina ... jaga rumah ya!"


"Iya Nyonya!' sahut dua wanita itu.


Deno ada di gerbang bersama beberapa pengawal. Terra tentu diantar Fio yang jadi supir. Mereka akan menjemput Gisel. Setelahnya kendaraan itu meluncur ke rumah Nai.


Butuh waktu lima belas menit. Mereka sampai di hunian besar dan mewah. Baru masuk teras, suara anak-anak sudah terdengar begitu riuh.


"Ata' puluan yan pedan ipu!' teriak Fatih.


Dua bayi tampak berebutan mainan. Fatih tak mau mengalah pada Izzat. Sang adik juga tak mau mengalah, tangannya melayang hendak memukul kepala sang kakak. Della mengangkat tangan untuk melindungi dan menahan pukulan.


"Huuuuwwaaa!" teriak keduanya menangis.


Izzat kesal, mobil-mobilan yang dipegangnya dilempar ke arah sang kakak. Della lagi-lagi jadi tameng untuk Fatih.


"Au!' mobilan itu mengenai dada Della.


"Babies!" Terra mulai meninggikan suaranya.


Seruni segera menghampiri Della dan mengusap dadanya. Ia sendiri sampai nyeri ketika benda keras itu mengenai dada Della.


Gisel hanya mengusap perutnya. Fathiyya sedang bermain boneka bersama Dita. Keduanya anteng bahkan Fathiyya yang mendominasi permainan dan Dita menurut saja.


"Baby ... kenapa adiknya kamu suruh-suruh?' peringat Gisel.


Terra menasehati cucunya yang sedang berseteru. Fatih dan Izzat saling buang muka ketika disuruh meminta maaf.


"Babies ... nanti Nenek bilangin ke Papa Baby loh!" ancamnya.


"Ini kan banyak mainan mobilnya. Kenapa harus berebut?" Terra harus banyak bersabar.


Arsh bersama Fael dan Angel juga Zizam. Bayi-bayi delapan bulan itu mengerjai para pengawal. Luisa turun, ia sangat senang melihat rumah menantunya sudah seperti kapal pecah.


"Netnet!" teriak Aisya.


Bayi dua tahun itu digendong dan diberi ciuman oleh Luisa. Ia ingin anaknya cepat besar agar melihat kerusuhan lagi.


"Apa kabar Babies Jeng?" tanya Terra ketika Luisa duduk.


"Alhamdulillah, dua-duanya baik. Bahkan Zora tambah besar begitu juga Vendra,' jawab wanita itu lalu memangku Aisya.


"Alhamdulillah," ujar Terra.


"Ata' teunapa tepala ponetana pisosop?" tanya Dita.


Fathiyya memang mencopot kepala boneka Barbie.


"Imi butan poneta ladhi!' jawabnya.


"Pa'a Ata'?" tanya Dita..


Alia, Rinjani dan Verra mendatangi Fathiyya. Mereka penasaran kenapa malah kakaknya mencopot kepala boneka.


"Imih sadhi suntilanat!' Terra membelalak.


"Dari mana dia ...."


"Sssh ... diamlah!'

__ADS_1


"Suntilanat pa'a?" tanya Verra.


"Suntilanat ipu hantu," jawab Fathiyya menakut-nakuti saudaranya.


"Peumana tapan tetemu suntilanat?" tanya Alia.


"Tot pita eundat pahu. Tan pita syelawu pelsyama Ata'," lanjutnya bingung.


"Seupenelnya Ata' penen selita," jawab Fathiyya.


Akhirnya semua bayi berkumpul. Fathiyya bercerita siapa itu suntilanat. Semua mendengarkan dengan baik. Terra, Luisa, Seruni dan Gisel hanya tersenyum lebar mendengarnya.


"Oh sadhi suntilanat ipu hantu yan nanatna lilan?" ujar Maryam mengangguk.


"Ah ... soba teumalin pita pidat pahu spasa nanat sisilan ipu!" sahut Al Bara tercerahkan.


"Janan nadhi-nadhi tamuh Paypi!' sanggah Azha langsung.


"Papa ipu wowan puwa pita ... putan hantu!" lanjutnya.


Al Bara pun diam. Ia tadinya mau menyamakan Nanat sisilan itu seperti hantu yang tidak tau siapa wujud aslinya.


"Hapisna tan beudithu," cicitnya.


"Pita pihat paypis ladhi yut!' ajak Lilo.


"Ayut!' seru semua bayi.


Mereka beranjak ke kamar di mana dua bayi masih melakukan treatment. Keduanya masih dalam kotak penghangat. Kedatangan para perusuh paling junior itu tentu membuat dua bayi antusias. Luisa tersenyum melihatnya.


"Mereka sehat kan?"


"Iya Jeng ... mereka sehat," sahut Terra ikut tersenyum.


"Paypi pilan ba bowu!"


"Awwuu!" seru Zora dengan suara kecil.


"Oh ... suara bayiku!' pekik Luisa kegirangan.


Semua bayi tentu menoleh padanya sambil mengerutkan kening.


"Netnet imih lada-lada sajha!" geleng Seno.


"Paypi Zola meman Pasih payi Net! Sejat tapan tipa-tipa peusan?" lanjutnya memutar mata malas.


Luisa gemas, ia menciumi semua bayi. Akhirnya makan siang tiba. Semua anak telah kembali ke sekolah. Kecuali Duo R, Duo De, Kaila, Gabriella, Bastian, Billy dan Martha.


"Bommy, besok Sam harus full day ada ekstrakulikuler," ujar Samudera memberitahu.


"Iya sayang," sahut Gisel sambil mengelus perutnya.


Usai makan siang semua anak diminta tidur. Luisa menciumi lagi semua bayi perusuh itu.


"Aku tak sabar melihat Vendra dan Zora besar Terra," ujarnya pada sang besan.


"Pastinya lebih heboh dan gurunya adalah anak-anak ini," sahut Terra yang juga tak sabar janin dari bayi besarnya lahir.


"Te yakin kalo nanti lebih heboh dari ini!" lanjutnya dengan pandangan menerawang.


Bersambung.


Pastinya lebih heboh ya Ma ...

__ADS_1


next?


__ADS_2