SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PAPA GOMESH NYEBELIN!


__ADS_3

Rion mengerucutkan bibirnya. Azizah lebih memilih digandeng oleh Gomesh di banding dirinya.


"Kita mau kemana Pa?" tanya Azizah.


"Ke butik, beli gaunmu," ajak Gomesh lembut.


"Papa Gom ... anak Papa itu Ion apa Zizah!' protes Rion kesal.


Baru mau menyahuti pertanyaan Rion. Ponsel Gomesh berdering, ia mengangkat ponsel itu ke telinganya.


"Halo Tuan!"


".......!"


"Iya Tuan, baik Tuan Baby dan Nona Azizah ada bersama saya!"


"......!"


"Baik Tuan!" sahut Gomesh.


Sambungan telepon terputus. Pria itu memasukkan kembali ke saku celananya. Lalu menarik tangan Rion.


Azizah santai saja, ia hanya mengikuti kemana pria raksasa itu membawanya. Ketiganya memasuki sebuah butik ternama. Pesona Rion tentu menarik semua gadis untuk mendekatinya, termasuk pramuniaga.


"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa pramuniaga ramah pada Rion.


"Kau hanya ramah pada putraku?" desis Gomesh.


"Ah ... ini putranya?" tanya pramuniaga itu tak percaya. "Masa sih?"


"Papa ... kita cari butik lain!" ajak Rion.


"Eh ... eh ... Tuan-tuan!" pekik pramuniaga itu.


Gadis itu kesal sampai menghentakkan kakinya ke lantai. Hilang bonus akibat tak ramah dengan semua pelanggan.


"Mana kutahu kalau itu ayahmu cowok ganteng, kukira bodyguard mu!" dumalnya sengit.


Rion merengek minta makan, ia kelaparan. Gomesh ingin membawa mereka ke restauran. Tetapi Azizah ingin makan nasi Padang.


"Papa ... ke rumah makan Padang sih, pengen rendang sama perkedel kentang," rengeknya manja.


"Ayo kita ke sana," sahut Gomesh.


Rion benar-benar sebal, ia diabaikan oleh pria raksasa itu.


"Papa ... Ion ini anak papa bukan sih?" gerutu pemuda itu.


"Baby," tegur Gomesh memutar mata malas.


Rion mencebik, kini mereka sudah berada di rumah makan. Azizah sudah makan dengan lahap, ia benar-benar lapar. Gomesh diapit oleh Rion dan Azizah. Ketiganya makan dengan tenang.


Usai makan mereka kembali memasuki beberapa butik. Rion mendatangi satu toko perhiasan berlian. Satu cincin cantik ia beli dan disematkan ke jari Azizah.


"Tuan," cicit Azizah.


"Ck!" decak Rion kesal.


"Jangan panggil aku Tuan, aku calon suamimu!" desisnya tak suka.


"Halah ... calon suami ... memang tau apa tugas suami?" cibir Gomesh.

__ADS_1


Rion diam dan berpikir. Ia memang belum tau apa itu tugas suami. Bahkan ia juga tak tahu apa yang ia lakukan ketika sudah menikahi Azizah nanti.


"Emang Azizah tau apa tugas istri?" celetuk Rion.


"Insyaallah saya tau ... Mas Baby," jawab gadis itu memelankan suaranya ketika di dua kalimat terakhir.


"Hah, apa?" tanya Rion.


"Apanya?" tanya Azizah pura-pura bingung.


"Kau tadi bilang apa?"


"Insyaallah bisa?" jawab Azizah.


"Setelahnya!" sahut Rion penasaran.


"Aku nggak ngomong apa-apa," jawab Azizah pelan.


"Jangan bohong Zizah!" tekan Rion tak suka.


"Mas?"


"Ada lagi, kau menyebut dua kata tadi!" tekan Rion bersikeras.


Azizah menatap Gomesh. Sedang yang lain hanya memandangi mereka yang seperti tengah berdebat.


"Papa," panggil Azizah meminta pertolongan.


"Papa juga dengar tadi kau menyebut dua kalimat terakhir, Zizah!" sahut Gomesh.


"Ck ... jangan buat aku kesal Azizah!" sungut Rion mulai emosi.


"Tuan, kenapa marah-marah sama calon istri?" sindir Gomesh.


"Kalian calon suami istli?" tanya pemilik toko perhiasan.


"Iya, Koh!" jawab Rion.


"Lucu sekali, padahal kalian masih muda-muda," kekeh pria bermata sipit itu.


"Belapa usianya pak?" tanyanya pada Gomesh.


"Yang cewek mau sembilan belas, yang cowok dua puluh satu," jawab Gomesh.


"Wah ... anak saya yang pelempuan juga menikah diusia tujuh belas tahun, tapi cowoknya udah doktel usia dua pulu enam tahun," sahut pria itu. "Jaman sekalang memang olang tua halus cepat-cepat menikahkan anaknya. Takut masuk pelgaulan bebas aa," ujarnya dengan aksen kental.


"Benar Koh, makanya saya mau menikahkan mereka cepat, dari pada pacaran lama-lama," sahut Gomesh.


Rion telah membayar cincin yang ia sematkan di jari manis Azizah. Walau entah kapan mereka menikah, tetapi cincin itu memperkuat hubungan mereka.


Mereka kembali ke perusahaan. Virgou masih di sana, pria itu menatap layar di mana sistem yang diciptakan Azizah bekerja. Kini ia paham bagaimana Kenshin bersikeras mendekati Azizah.


"Aset berharga tentu banyak peminatnya. Aku yakin jika pemerintahan mantan penjajah itu menginginkan Azizah berada di negara mereka," ujarnya dengan kilatan mata sinis.


"Kau kira bisa mengalahkan pesona putraku? Jangan mimpi Samurai Es!" tekannya lagi.



(Rurouni Kenshin)


"Hanya modal baby face ... ck ... yang benar saja," gerutunya pelan.

__ADS_1



(Rion Permana Hugrid Dougher Young).


"Tuan!" sapa Azizah.


"Ck ... kau ini!" decaknya kaget.


"Bisa ucap salam dulu nggak ... ingat, aku ini Papamu!" omelnya.


"Maaf Daddy, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumusalam!" sahutnya.


Pria itu melihat paper bag yang dibawa gadis itu. Lalu mencari keberadaan Rion.


"Mas Baby sudah ke kantornya Daddy," sahut Azizah memberitahu.


"Mas apa?" tanya Virgou ingin memastikan apa yang ia dengar.


"Ah ... eh ... itu," cicit Azizah gugup, ia keceplosan.


"Azizah!"


"Iya Daddy,"


"Mas apa?"


"Mas Baby, Daddy," jawab Azizah dengan rona merah di pipinya.


Virgou tersenyum mendengarnya. Ia lalu terkikik geli sendiri. Pria itu mengelus kepala gadis itu dan kemudian pamit.


Terra dan Haidar sudah pergi dari tadi. Sedang Virgou menunggu Gomesh. Darren tengah keluar kota bersama Rommy dan Budiman. Jadi mereka tak bertemu.


"Astaghfirullah!" ujar Azizah mencakup dua pipinya yang memanas.


"Apa yang kau lakukan Azizah!" gerutunya kesal pada diri sendiri. "Memalukan sekali!"


Sementara itu Rurouni Kenshin, menatap layar berisi foto Azizah. Pria itu baru saja menelepon negaranya jika ia gagal mendapatkan gadis genius itu.


"Dia adalah milik seorang mafia yang bahkan Yakuza tak berani mengusiknya," ujar Kenshin ketika menjelaskan kenapa ia gagal.


"Memangnya milik mafia siapa?"


"DeathAngel dari BlackAngel,"


Jawaban Kenshin membuat pihak Jepang menutup ponsel. Mereka meminta pria itu segera pulang ke negaranya. Misi gagal dan Rurouni harus menerima perjodohan bisnis ayahnya dengan salah satu pebisnis di sana.


"Azizah ... Azizah ... kukira kau sama seperti gadis-gadis lain yang akan tergiur dengan bayaran dan jumlah uang yang kumiliki," monolognya.


"Aku pun cukup kaget dengan jumlah adikmu yang super banyak itu," keluhnya.


"Azizah ... otakmu itu genius, aku juga jatuh cinta karena kegeniusanmu," lanjutnya.


Rurouni menatap jendela hotel di mana ia menginap. Biasanya jam segini ia berada di sebuah klub terkenal di Jepang dan minum beberapa sake dengan para kolega sambil menjawil wanita-wanita tanpa busana yang tidur di atas meja mereka.


"Apa di sini tidak ada sasyimi yang dihidangkan di atas tubuh para Oiran?" keluhnya.


"Ah ... sabar lah, di Jepang kau akan puas My Boy," ujarnya mengelus benda keramat miliknya yang tiba-tiba berdiri.


bersambung.

__ADS_1


Oiran adalah wanita penjaja cinta.


next?


__ADS_2