SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERSIAPAN PERNIKAHAN ULANG


__ADS_3

Rion telah menempati hunian barunya bersama istri dan juga sepuluh adiknya. Semua kebagian kamar sendiri-sendiri. Aminah begitu terharu dengan ruang tidur yang ada lukisan beruang coklat besar. Di sana juga ada boneka kesukaan batita cantik itu.


"Imi padhus setali!" puji Ari.


Bayi usia dua tahun setengah itu menatap kamarnya yang banyak gambar mobil-mobilan. Ia menatap kakak yang begitu menyayanginya, Azizah.


"Pati Ali pasih poleh tan pidul syama Ata'?" tanyanya takut-takut.


"Tentu Baby," jawab Rion langsung.


Ari langsung mengecup pipi kakak angkatnya itu dan mengucap terima kasih. Begitu juga dengan semua. Adiba sangat senang telah mendapat ruangan pribadinya sendiri.


"Makasih ya Mas Baby," ucap Azizah memeluk lengan besar dan mengecupnya.


Rion memeluk istrinya erat. Ia bahagia telah memberikan yang terbaik pada sang istri dan sepuluh adiknya itu. Ia mengecup mesra kening Azizah dan membenamkan tubuh sang istri dalam pelukan.


"Satu bulan lagi kita menikah ulang sayang. Apa di sini belum ada tanda-tanda?" tanyanya sambil mengusap perut istrinya.


"Maaf sayang. Sepertinya belum, aku baru selesai siklus kemarin," jawab Azizah dengan nada menyesal.


"Ah ... jangan dipikirkan. Kita bisa melewatinya perlahan. Lagi pula aku masih ingin bermanja dan pacaran sama kamu tanpa gangguan tangisan bayi," sahut pemuda itu.


Azizah memanggil semua adiknya untuk makan siang. Ruang makan yang besar penuh dengan manusia. Istri Rion memasak banyak dan semua pengawal diminta untuk makan bersama.


"Terima kasih Dik!' sahut Roni salah satu pengawal.


Kini rumah itu dijaga oleh dua puluh lima pengawal. Rion membeli satu kendaraan minibus untuk mengangkut seluruh adiknya bersekolah. Hunian megah itu memperkerjakan sepuluh asisten rumah tangga yang terdiri dari lima pasang suami istri.


Tak lama hunian itu penuh dengan semua keluarga datang berkumpul. Gomesh sedang dalam perjalanan pulang. Masalahnya sudah selesai.


"Mama ... Papa nanti bawa oleh-oleh nggak ya?" tanya Bomesh.


"Baby, doakan Papa selamat sayang. Kan yang penting kan itu dulu," Maria memberi nasihat pada putranya.


"Iya Mommy," ujar Bomesh menunduk.


Rafael dan Angel enam bulan sama dengan Izzat dan Aliyah. Mereka kini sudah mengkonsumsi MPASI. Aliyah tampak menangis karena sang ibu menggodanya karena berlama-lama memainkan sendok.


"Seruni!" peringat Bart yang kesal pada cucu menantunya itu.


"Sayang," keluh Dav.


Seruni hanya merengut, ia memang suka sekali mendengar bayinya menangis.


"Habis dia gembul. Masa dua keping biskuit kurang!" ujarnya.


Karena masih lapar Baby Aliyah pun menangis keras hingga membuat sang kakak marah pada ibunya.


"Mami ... Dedet payina janan bipitin nayis teyus don!"

__ADS_1


"Sudah dua biskuit Baby, nanti ya," ujar Seruni.


"Mami ini," Saf mengambil alih Aliyah.


Istri Darren itu memberikan bubur saring yang ia bawa. Memang Seruni sedikit malas membuat bubur saring. Akhirnya Aliyah kenyang dan tertidur.


"Gembul habis mam bobo!"


Seruni gemas dengan bayi rakusnya itu. Pipi dan pahanya bulat hingga menggoda siapapun untuk menggigitnya gemas. Fael, Izzat dan Angel juga sama montoknya.


"Padet payi ... bobo ya," ujar Maryam mengecup adiknya itu.


"Sudah bobo semua sana!" titah Saf pada semua anak.


Anak-anak menurut. Mereka naik ke kamar yang sudah disediakan dan tidur di sana. Rion dan Azizah tengah duduk di antara keluarga.


"Jadi apa kalian siap menikah kembali empat minggu lagi?"


"Siap lahir batin Pa," sahut Rion.


"Dih ... nempel terus. Baby nggak polos lagi," ledek Budiman.


"Baba ... Ion udah beristri ...ternyata menikah itu enak ya," ujar Rion sambil terkekeh.


Azizah hanya diam dengan pipi memerah. Lengan pria itu merengkuh bahunya bahkan tak ragu Rion mendaratkan ciuman di pipinya.


Rion terkekeh, ia memang sudah membuat semua adiknya tidak polos lagi. Kini baik Satrio, Kean dan lainnya jadi ingin memiliki pacar.


"Ayah gantung kau kalau sampai pacaran!" ancam Herman pada semua anak laki-laki dan perempuan.


"Kalau langsung nikah?" celetuk Arimbi bertanya.


"Nanti jika usia kalian sudah matang!" jawab Virgou langsung.


"Kapan Daddy?" tanya Nai iseng.


"Kalau kami merasa kalian sudah besar," jawab Haidar santai.


"Kapan itu?" tanya Nai lagi.


"Kenapa nanya-nanya terus?" tanya Terra tak suka akan pertanyaan putrinya.


"Ma ... Nai kan hanya bertanya," sahut anak gadis itu.


"Jawab terus perkataan Mama!" sahut Puspita mulai tak suka jika anak-anak sudah membantah kata orang tua.


"Loh ... kok ...."


"Sudah Nai ... yuk ikut aku ke tempat Sean!" ajak Al menyudahi perdebatan .

__ADS_1


Dari sekian banyak anak, Nai yang paling vokal membantah atau menentang keinginan orang tuanya. Bukan ia keras kepala, tapi gadis itu memiliki pendapat dan caranya sendiri.


"Aku ikut!" sahut Satrio, Kean, dan Calvin.


Daud dan Arimbi ada kasus besar di rumah sakitnya jadi mereka akan pulang sedikit malam. Nai pun ikut saudaranya, bersama Satrio, Kean dan Calvin. Mereka menuju kafe Sean.


"Astaga anak-anak itu!" dumal Bart kesal.


"Baby," keluh mereka pada master bayi.


Rion hanya tersenyum lebar. Undangan sudah di sebar. Acara hanya diadakan akad saja dan selamatan kecil-kecilan karena resepsi akan di adakan di Eropa sekalian menyambut tahun baru.


"Ma, Pa semuanya ... Ion ngantuk, pergi bobo dulu ya," ujarnya pamit sambil menguap.


Azizah berdiri hendak menuju dapur. Rion menariknya hingga wanita itu terkejut.


"Mas Baby?"


Semua orang berdecak melihat bayi besar mereka sudah tidak polos lagi. Sepasang suami istri itu masuk ke kamar mereka untuk memadu kasih.


"Ah ... sialan. Ayo kita tidur juga kalau begitu!" ajak Haidar.


Pria itu menggandeng istrinya, begitu juga Dav dan Seruni lalu disusul Virgou dan Puspita. Hanya Herman dan Khasya saja yang tidak.


'Loh ... Ayah dan Bunda kok nggak pergi bobo juga?" tanya Maria.


"Kau juga istirahat lah, sini Fael dan Angel!" ujar Khasya.


Dua bayi itu sudah berada di tangan sepasang suami istri yang sudah tua itu. Aaima dan Arsyad belum datang. Putri masih berada di ruang persalinan jadi putrinya bersama kakek dan nenek juga pamannya.


"Bagaimana Dok?" tanya Jac khawatir.


"Tenang saja Pak, Bunda sama bayinya baik-baik saja. Belum pembukaan jadi bawa istrinya jalan-jalan dulu ya," ujar Dokter Arimbi.


Safitri yang tengah cuti melahirkan itu diganti oleh Arimbi, gadis itu sudah menangani kasus kelahiran. Tadi ia baru saja mengeluarkan sebanyak dua kepala bayi satu hari ini.


"Baby nggak lelah?" tanya Jac.


Demian dan Lidya masih dalam perjalanan. Jac mengelus perut istrinya. Putri merasa pinggangnya mau patah dan panas.


"Ssshhh!" erangnya mendesis.


"Baby ... jangan persulit ibumu," pinta Jac iba pada kesakitan sang istri.


Bersambung.


Wah ... Ion udah mau nikah ulang sama Azizah terus Ibu Putri akan melahirkan sebentar lagi.


next?

__ADS_1


__ADS_2