
POV LISA
Ku rengkuh kedua lututku,ku tutup kedua mataku.Merasakan setiap denyut sakit yang meraja dihati.Aku kecewa,sakit,mahkota kesucian yang ku jaga direnggut dalam ketidak sadaranku.
Lucy yang sangat aku harapkan bisa membalas sakit hatiku,ternyata menambah kekecewaan yang mendalam.Percuma ia punya kesaktian tapi tidak bisa melakukan apapun.
"Jika dia tidak bisa melakukannya,maka aku sendiri yang akan turun tangan."Ku buka perlahan mataku,aku semai keinginan yang menggebu dengan rencana yang harus matang.Karena saudariku punya kelebihan yang bisa tahu sesuatu dengan adanya kontak badan,maka aku harus menghindari itu.
Aku cepat turun dari tempat tidur,meraih tas lalu bergegas keluar.Tapi diambang pintu aku bertembung dengan Lucy.
"Lisa mau kemana?"
"Bukan urusanmu"Tak ada waktu untuk berbaik-baik dengannya.
"Lisa tunggu"
Lucy ingin menahan tanganku,tapi cepat aku mundur untuk menghindari bersentuhan.Ia terpana melihat sikapku.
"Kau pasti marah denganku karena melepaskan Danu dan Antok,tapi aku sudah membunuh Vicky.Orang yang sudah merekam kejadian itu"
"Mereka semua sama saja Lucy,yah memang benar Vicky yang merekam kejadian itu dan mengirimnya padaku.Dia mengancam akan menyebar luaskan video itu jika aku tidak memberinya sejumlah uang.Tapi bagiku mereka semua sama,mereka harus mati semua"
Lucy tertunduk,ia nampak menyesal tapi aku tidak perduli.Aku segera pergi tanpa ingin berlama-lama disitu.Untung Lucy tidak menahanku lagi.
Keadaan di ruang tamu sudah lenggang,aku cepat-cepat pergi sebelum dihadapi berbagai pertanyaan.Aku juga tidak mendapati Om Riky diluar,jadi aku bisa tenang.
Setelah aku berada diluar pagar rumah,aku pesan taxi online.Dan langsung pergi setelah kendaraan pesananku datang.Tujuanku adalah Farmasi.
___
Tidak mudah mendapatkan barang yang aku mau,aku harus mengeluarkan nominal yang banyak untuk menyogok penjaga apoteker agar memberikan pesananku.
__ADS_1
Tak apa asal aku bisa mendapatkannya untuk mempermudah rencanaku.Setelah aku mendapatkan apa yang aku mau,aku segera pulang ke rumah.
___
Malam pun tiba,aku malas untuk berkumpul di meja makan bersama keluargaku.Aku meminta Mumun untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar.Aku tidak perduli apa komentar mereka,yang jelas aku hanya ingin sendiri untuk memfokuskan rencanaku.
Tok tok tok
"Masuk"Seruku.Pasti itu Si Mumun,setelah pintu terbuka ternyata perkiraanku salah.Mbak Laras datang membawa nampan yang berisi makanan untukku.
Sesudah meletakkannya di meja samping tempat tidur,Mbak Laras duduk di bibir kasur.
"Kamu kenapa?Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia menyentuh lenganku dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa Mbak"Aku berkilah sebisaku.
"Jangan bohong,aku sangat mengenalmu Lisa"Mbak Laras tambah menyudutkan aku.
"Baiklah"Lalu ia bangkit dan berlalu keluar dari kamarku.
Aku habiskan makananku,lalu merebahkan tubuhku menunggu Lucy masuk kamar.Tak lama kemudian orang yang aku tunggu-tunggu datang.Ku buka mataku perlahan.Lucy tersenyum tipis ke arahku.
"Ayah bertanya keadaanmu Lisa"Lucy duduk di atas tilamnya.Aku beringsut duduk."Sampai kapan kamu akan mengurung diri di kamar?"Sambungnya.
Aku tidak bisa menjawab apapun,ku katupkan bibirku rapat.Lucy bangkit menghampiriku.
"Jangan dekat-dekat denganku!"Hardikku cepat.Langkahnya membeku,aku tahu ia pasti sangat sedih.Tapi aku tak ingin disentuh olehnya.
Perlahan Lucy mundur,ia memilih untuk membenamkan diri dalam selimut.Aku menunggu dan tetap menunggu Lucy benar-benar tertidur.
Dua jam sudah aku menunggu,ku ambil sapu tangan dibawah bantal yang sudah ku olesi obat bius yang aku beli tadi.Perlahan aku turun dari tempat tidur,dan menghampiri perbaringannya.
__ADS_1
Posisi Lucy saat ini tengah membelakangiku.Itu adalah posisi yang sesuai untuk melancarkan aksiku.Aku bekap pernafasan Lucy,tak ada perlawanan yang berarti sampai dia benar-benar tidak sadarkan diri.
Aku tersenyum puas"Maafkan aku Lucy"Lirihku dalam hati.Segera aku cari benda pusaka milik Lucy.Akan aku bantai para keparat itu dengan kekuatan benda itu.
Setelah menggeledah lemari Lucy,benda itu tak kunjung aku temukan.Aku jadi geram sendiri,Namun tiba-tiba aku melihat sebuah kotak hitam berada diposisi paling bawah dengan ditutupi oleh kain sebagai alas baju.
Aku bongkar baju-baju yang tersusun rapi itu untuk mengambil kotak tersebut.Aku tersenyum begitu melihat isi kotak itu.Benda pusaka itu aku ambil dan aku pakai.
WUUUSSSSSS
Angin kuat menerpa tubuhku,aku terkesiap begitu melihat sebuah samurai tiba-tiba ada dalam genggaman.Entah dari mana datangnya tapi aku merasa sebuah energi mengalir dalam darahku.
Aku melihat ke arah jendela,jendela itu terbuka dengan sendirinya.Waooowwww aku merasa takjub dengan kekuatan yang ada dalam diriku sekarang.
Aku ingin melangkah keluar dari jendela,tapi yang aku rasakan malah melesat terbang dengan cepat.Ku ucapkan niat dalam hati untuk datang ke tempat Antok berada.Dan aku pun melesat cepat tepat di atas sebuah rumah besar mentereng.
Aku tatap sekeliling rumah itu,mungkin panggilan kematian datang,aku lihat Antok melangkah menuju ayunan yang berada di tengah-tengah taman di halaman samping rumahnya.
Ia duduk di ayunan sambil menghisap nikotin.Aku melayang turun dengan perlahan tepat di hadapannya.Antok begitu terkejut sampai ia berdiri gemetaran melihatku.
Aku tidak ingin dia hidup lebih lama lagi,ku angkat samurai dengan kedua tanganku lalu ku tebas tubuhnya menyerong terbagi menjadi dua.Ayunannya pun juga terputus karena saking tajamnya pedang yang ku pegang.
Aku tersenyum puas,ku sebut nama Danu dalam hatiku.Seketika tubuhku melesat cepat dan berhenti di sebuah Rumah susun.Ternyata Danu tinggal di rumah susun.Pantas saja dia nebeng terus sama Antok,karena dia orang yang kere.
Kakiku menapak terali besi di balkon rumah Danu.Angin kuat berhembus menghantam jendela Rumah Danu hingga terbuka lebar.Danu yang tengah nonton TV bersama keluarganya ketakutan melihatku berdiri diatas terali besi di Rumahnya.
Tubuhku melayang masuk ke dalam.Aku lihat orang tua Danu dan juga adik lelakinya saling berpelukan karena ketakutan.
"Si-si-siapa kamu?"Danu bertanya dengan suara gemetar.Aku tidak ada waktu untuk menjawab ataupun berbasa-basi.Ku angkat pedangku dan ku tebas tubuh Danu yang bersembunyi dibalik kursi kayu.Dia dan kursi itu sama-sama terbelah.
"AAAAAAAAAAKKKKK"Jeritan histeris Ibu Danu membuatku menoleh kepada mereka.Seketika Ibu Danu terdiam lalu terkulai lemas.Aku menyeringai lalu melesat pergi dari tempat itu.Kini aku tenang karena mereka sudah mati ditangan ku.
__ADS_1
Kalau saja aku punya ide ini dari awal,tak perlu aku meminta pertolongan kepada Lucy.Ternyata menjadi hebat dan punya kekuatan seperti ini membuatku sangat puas.