SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LEBARAN 2


__ADS_3

Setelah diterimanya Santo oleh tiga anak kembarnya. Pria itu tetap berada di bilik paling belakang karena semua anak belum menerima pria itu.


"Baby Kaila nggak makan?" tanya Dinar.


"Langsung ganti puasa Bibu," jawab Kaila.


Dinar tersenyum, ia paling suka pada orang yang langsung membayar utang puasanya.


"Amah ... amah!"


Nisa berlarian bersama Faza dan Ryo. Aksi kejar-kejaran itu diikuti oleh seluruh bayi yang baru satu tahun.


"Babies ... jangan lari-lari!' teriak Layla.


Sepasang kembarnya juga tengah menaiki lemari. Rosa dan Dian sigap mengangkat dua bayi itu sebelum memecahkan pot bunga.


"Dooooll!" teriak Zaa.


Bayi dua tahun, putri Frans itu menendang sepatu ayahnya dan melewati dua guci besar.


"Baby!' Lastri berteriak karena sehabis itu putrinya hendak menjatuhkan dua guci besar karena mengambil sepatu ayahnya.


"Pa'a syih Ma?!' protesnya.


'Nanti pecah, terus pecahannya kena kaki ...."


"Ma!" panggil Gabe pada ibu sambungnya.


"Ucapan itu doa loh ...."


Prank! Guci pecah, Semua menoleh. Zaa ada di sana kebingungan. Fio berhati-hati mendekati bayi itu.


"Jangan bergerak baby ...," pinta pria muda itu.


"Huuuwwaa!"


"Baby!'


Perkataan Lastri jadi kenyataan. Kaki Zaa berdarah, ia menginjak pecahan pot. Fio langsung mengangkat bayi cantik itu..


Lastri menyesal berkata-kata buruk padahal kejadian belum terjadi. Terra menenangkan ibunya.


"Nggak apa-apa ma. Nanti Baby nggak akan main ke situ lagi,"


"Nah apa jadinya kalo nggak nurut Mama?" tanya Rion pada semua anak-anak.


'Biya Papa Paypi!' sahut semua bayi mengangguk.


Nai menarik pecahan keramik dari telapak kaki Zaa. Darah keluar banyak, herannya bayi itu hanya menangis di awal. Tetapi selanjutnya, ia malah penasaran.


"Amah teusil ... tati Zaa teluan siyup?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan aunty baby ... itu bukan sirup, tapi darah," jawab Nai.


"Dayah pa'a mama Paypi?" tanya Zora.


"Darah adalah cairan yang membuat manusia hidup Aunty baby," jawab Nai lagi.


Semua bayi mengangguk tanda mengerti. Setelah kaki Zaa diperban. Bayi itu tak lagi lincah, semua saudaranya menghibur dengan mempersembahkan tarian lucu.


"Pisyimi senan ... pisyama senan ... pimananana batitu senan ... lalalalala ...!"


Zaa ikut menggoyangkan bahunya sambil bertepuk tangan. Virgou mencium kaki adiknya yang diperban.


"Masih mau tendang bola lagi Baby?" tanya pria itu.


"Asih Ata' Daddy!" angguk Zaa yang ternyata tak kapok sama sekali.


Virgou gemas mendengar jawaban adik sepupunya itu. Belum Zaa selesai kakinya, kembarannya nyaris membakar jarinya karena memukul batu terlalu keras.

__ADS_1


Lastri tak bisa berkata-kata, ia tak tau dari mana kekuatan dua bayi perempuannya itu. Frans tak pernah marah pada dua putrinya itu.


"Tidak apa-apa, mereka adalah seorang Dougher Young. Jadi harus kuat!'


'Dulu kita nggak seheboh mereka ya?" sahut Sean melihat perusuh paling junior.


"Kita anak manis," aku Al yang diangguki Cal dan Kean serta Daud.


"Baby Rasyid!' Exel menahan laju remaja itu yang hendak pergi diam-diam.


'Ih Papa!" sungut Rasyid kesal.


"Mana Baby Rasya?" tanya Exel.


"Nggak tau?" jawab Rasyid tak acuh.


"Maaf tuan, ini Tuan muda Rasya hendak kabur lewat pintu samping!'


Derry membawa remaja berusia delapan belas tahun itu dengan wajah ditekuk.


"Baby Sky, Baby Bomesh dan Baby Arfhan mana?" tanya Virgou.


Semua pengawal langsung memindai semua anak. Memang keberadaan tiga bocah yang kini menginjak sepuluh tahun itu tidak terlihat.


"Periksa semua pintu dan arah keluar mansion!" teriak Fio langsung.


Virgou tertawa, ia memegang pergerakan tiga bayi yang kini sudah keluar dari mansion.


"Gomesh!" teriak Virgou.


"Ketua Gomesh sudah mengikuti anak-anak Kak!' lapor Budiman.


"Baiklah ... kita susul mereka!" ajak Virgou.


Sedang Sky, Bomesh dan Arfhan kini mereka berjalan menuju mini market terdekat.


"Kita jajan apa?" tanya Bomesh.


"Kita beli buat kita sendiri nih?" tanya Arfhan.


"Ya mau gimana. Beli satu bagi tiga?' Bomesh mengangguk setuju.


Setelah membayar coklat yang dibeli mereka keluar dan duduk di teras mini market.


Tiga pria memakai pakaian badut tengah berjoget. Mendekati beberapa orang dan sebagian mereka memberi uang sebagian tidak.


"Pelit!" dumal salah satu badut.


Ketiganya melihat tiga bocah tengah duduk memakan coklat. Pakaian ketiganya memang tidak jelek dan tidak buruk. Baik Sky, Bomesh dan Arfhan memang tak dibelikan baju bagus dan bermerek. Tetapi tampang ketiga bocah itu yang tampan. Membuat ketiga badut mendekati mereka.


"Oh ... mungkinkah diri ini ... dapat memecah buih ...."


Salah satu badut bernyanyi, yang lainnya bergoyang. Sky memberi uang lima ribu pada badut itu.


"Yah jangan lima ribu dong!' ujar badut itu kecewa.


"Eh ...?" Bomesh tentu bingung.


"Kita udah cape keliling dari tadi. Udah tiga jam loh. Masa cuma lima ribu!' lanjut badut itu berkacak pinggang.


"Loh bukannya bersyukur ya Mas? Kan ada rejeki walau dikit?" sahut Bomesh.


"Lagian emang kita nyuruh mas gitu jalan ampe tiga jam jadi badut?" lanjutnya bertanya.


"Maaf adik ini dari mana?" tanya salah satunya.


"Kita dari sana Mas," jawab Arfhan menunjuk sebuah jalan.


"Eh ... cabut yuk!' ajak Sky.

__ADS_1


Ketiganya pamit pada tiga pria pakaian badut. Arfhan berjalan menuju arah berbeda dari rumah sebenarnya.


"Kita ke sini?" tanya Sky bingung.


"Mereka ngikutin!" jawab Arfhan.


"Eh iya!" sahut Bomesh.


"Jangan noleh!" larangnya pada Sky yang hendak menoleh ke belakang.


"Terus gimana?" tanya Sky.


"Aku tau jalanan ini," sahut Arfhan.


"Jangan bilang kamu pernah kabur dari rumah Daddy?" sahut Sky dan Bomesh bersamaan.


Arfhan hanya tersenyum, ia memang tinggal bersama Virgou. Della dan Alia diurus juga di sana bersama Maisya, Affhan, Kaila dan Harun. Walau terkadang mereka menginap di mana pun mereka mau.


Tiga bocah itu berjalan cepat, bahkan setengah berlari. Benar saja tiga pria pakaian badut mengikuti mereka.


"Hei berhenti!' teriak salah satu di antaranya.


"Lari!" teriak Arfhan.


Ketiganya mempercepat gerakan kaki mereka. Tiga pria di belakang ikut mengejar. Arfah menjadi joki arah karena ia tau jalan.


"Kenapa nggak tanya aja. Mereka mungkin hanya butuh uang?!' teriak Sky.


"Kamu emang percaya sama orang yang baru minta uang lebih dari lima ribu?" tanya Arfhan.


"Jangan terlalu baik!" ujar Arfhan.


"Ke kiri!" perintahnya.


Semua membelokkan kaki mereka ke kiri. Tiga pria sudah terengah-engah. Ketiganya kalah cepat dan kalah gesit dengan tiga bocah incaran mereka.


"Ah ... sial. Tadi pas di sana kenapa nggak langsung disekap aja!' sesal salah satu pria.


Mereka membuka kostum badut mereka. Lalu membuangnya di pinggir jalan.


"Ayo ke sana!' ajak salah satu sambil menunjuk jalan.


"Aku yakin kita akan bertemu dengan mereka. Beberapa jalan di sini ada yang buntu," lanjutnya memberitahu.


Sedang Sky, Bomesh dan Arfhan kini berada di salah satu jalan kecil. Ada satu pintu masuk makam di sana rupanya. Arfhan salah peta.


"Eh ... tadi aku bilang kiri kan?" tanyanya.


"Iya!" jawab Sky dan Bomesh.


"Maaf, aku salah ... mestinya kanan," ujar Arfhan.


"Lalu?" tanya Sky sedikit kesal.


'Masuk makam aja yuk!' ajak Arfhan.


"Dengan baju seperti ini?" tanya Bomesh seperti tak setuju dengan ide Arfhan.


"Mana mereka?" sebuah suara menganggetkan tiga bocah itu.


Arfhan menggandeng Sky di kanan dan Bomesh di kiri. Mereka bertiga masuk makam umum.


"Itu pohon Kamboja. Kita sembunyi di sana!" ajak Arfhan.


Ketiga pria tengah celingukan. Mereka kehilangan tiga bocah ladang emas mereka.


Bersambung.


Lah ... kan

__ADS_1


next?


__ADS_2