SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ULANG TAHUN


__ADS_3

Bart meminta seribu pegawai wahana berpakaian warna-warni mereka menabur bunga pada tiga bayi yang sedang berulang tahun. Bariana, Arion dan Arraya. Tiga bayi menggemaskan ini berjalan dengan mata berbinar dan mulut terbuka. Dari bunga-bunga yang ditabur kini berganti gelembung-gelembung udara hingga membuat, Fathiyya, Al Bara, El Bara, Maryam, Aisyah dan Fatih terpekik senang.


"Ma ... lan!" pinta Arsyad ingin berjalan sambil ditatah.


Dimas mengambil alih bayi itu berjalan dengan kakinya. Arsyad terpekik senang mengejar bola-bola sabun itu. Sedang Aaima juga senang digendongan ayahnya.


Para remaja sangat menyukai acaranya. Beberapa fotografer dikerahkan untuk mengambil gambar secara on the spot. Mereka harus pintar mengambil foto shut tanpa minta diulang.


"Selamat datang Baby Bariana, Baby Arion dan Baby Arraya!" sambut para pegawai memakai baju kerajaan.


Tiga bayi yang sedang berulang tahun itu sangat senang dengan pesta mereka. Satu aula dihias cantik dengan berbagai balon, kertas warna-warni dan juga pita-pita. Lagu happy birthday terdengar. Bariana menangis begitu juga Arion dan Arraya.


"Baby ... baby kenapa menangis?" tanya Maria haru.


Wanita itu juga begitu terharu dengan pesta yang disiapkan untuk putrinya itu. Satu kue besar dengan banyak nama di dorong.


"Wah!" seru semua anak bertepuk tangan.


Nama Bariana, Arion dan Arraya paling besar menancap di tengah kue bertingkat itu. Sedang nama anak lain berbentuk kecil.


"Mommy ... bestana badhus mommy ... huuuuu!" tangis Bariana haru.


"Iya mommy ... badhus setali ... hiks!" sahut Arion juga berkaca-kaca.


"Say thank you sama grandad," titah Maria.


Tiga bayi memeluk Bart. Pria itu membalas pelukan mereka dengan menyamankan tingginya. Para bayi menciumnya. Bukan hanya tiga bayi yang menciumnya. Tapi semua mencium pria tua itu.


"Hei ... hentikan!" teriak pria itu kesal karena semua menciumnya.


Virgou terus menerus menciumi pipi keriput Bart, hingga basah.


"Ck ... bocah kurang ajar!" sengitnya.


"Benpa pa'a ipu bulan bajal?" tanya Arion dengan mata bulat penasaran.


Bariana dan Arraya juga menunggu jawaban pria itu. Bart yang kini mati kutu karena sembarangan bicara. Sedang tersangka utama hanya tersenyum mengejek pria tua itu.


"Jangan dengarkan baby, tadi itu kata-kata yang tidak baik," ujar Bart mengingatkan.


"Tot pidat bait? Talo pidat pait beustina pidat poleh bicucap tan benpa!" tegur Azha sambil menggeleng.


Virgou, Leon dan Frans nyaris tertawa mendengar teguran Azha pada Bart. Pria tua itu sangat kesal dengan bayi baru dua tahun itu.


"Kau mengguruiku?" geramnya gemas.


Pria itu menciumi perut bundar Azha hingga tergelak. Anak-anak sudah mengerubungi kue. Mereka ingin memotong kue itu.

__ADS_1


"Baby Bal bulu!" seru bayi itu marah.


"Baby," tegur Maria.


"Beunel mommy, beustina yan bulan pahun bulu yan boton tuena!" sahut Arraya mengangguk membenarkan perkataan saudaranya.


Maria tak bisa bersuara lagi. Tiga bayi itu meminta pisau plastik untuk memotong kue. Budiman, Gomesh dan Haidar membantu tiga anak itu memotong kuenya.


Kue pertama tentu diberikan pada tiga pria itu. Lalu pada Bart dan kemudian yang lainnya.


Muka Aaima sudah celemotan kue. Saf memperingatkan Putri agar tak banyak memberikan putrinya kue itu.


"Ibu, jangan buat Aaima bengkak karena krim itu, gulanya jahat loh!"


"Bagaimana cara memberhentikannya?" tanya Putri bingung.


Putrinya satu itu sangat bar-bar. Tak bisa dilarang. Saf mendatangi bayi itu dan menghapus semua krim yang mengotori muka dan tangannya.


"Baby ... sudah ya, nggak boleh lagi. Nanti sakit gigi. Kalau sakit ibu dan papa sedih, oteh?!"


"Oteh!" angguk Aaima.


"Jangan beri dia kue lagi!' peringat Saf pada semua saudaranya.


"Baby Arsyad juga stop kuenya ya!" perintah wanita itu.


"Uma ... tan tsayan!' protes lima bayi dua tahun itu.


"No babies! Cukup ya," pinta Saf dengan lembut tapi penuh ketegasan.


Akhirnya kue besar itu ditarik keluar aula. Saf memilih memberi anak-anak makanan buah agar bagus pada pencernaan mereka.


"Minum teh hangat dan tawar untuk menetral semua gula yang masuk!" ujarnya.


'Eundat enat uma!" keluh semua bayi.


"Minum baby!" pinta wanita itu dengan lembut.


Akhirnya semua bayi meminum teh tawar yang diberikan oleh wanita itu. Bahkan ada yang sampai dua cangkir.


"Beulnyata enat woh!" seru Harun ditanggapi anggukan semua saudaranya.


"Ayo nyanyi!" seru Kean.


"Eundat lada busitna Ata'!" sahut Harun.


"Dung teret ... selempak pelendung teret ... selempak telendung teret ... santai ....!" Sean dan Al membunyikan musik dangdut milik raja dangdut dengan judul santai.

__ADS_1


"Dung teret ... selempak pelendung teret ... selempak telendung teret ... santai ....!" sahut mereka lagi.


"Otot tegang karena bekerja sehari-hari ... otak tegang karena berpikir sehari-hari ... santai ... santai ... yuk santai agar otot tidak tegang ... yuk kita santai agar otak tidak kejang ... yuk kita santai agar otak tidak tegang ... yuk kita santai agar otot tidak kejang ...."


Kean menyanyikan lagunya tanpa musik. Ternyata mereka melakukan akapela ala para perusuh.


"Dung teret ... selempak pelendung teret ... selempak telendung teret ... santai ....!" sahut Daud dan Sean menimpali lagu tersebut.


Mereka berjoget ala-ala mereka. Para perusuh juga ikut serta.


"Dun ... telet ... beletat peulendun ... pelet ... zantai ...!


"Botot tejan talna beuleja peulhali-hali ... botat tedan talna pelipil beulhali-hali ... zantai ... zantai ...."


"Yuk kita santai agar otot tidak tegang!" sahut Sean.


"Yuk kita santai agar otak tidak kejang!" timpal Al.


"Yut pita pejan adal botot pidat pedan ... yut pita pejan adal potat pidat tedan ...!"


"Dun ... telet ... beletat peulendun ... pelet ... zantai ...!


Semua bertepuk tangan meriah. Muka mereka memerah karena menahan tawa akibat ulah para perusuh.


Darren juga tak mau kalah, ia juga bernyanyi nasyid, ia mengajak Istrinya untuk bernyanyi bersama. Lagu bidadari surga milik almarhum ustadz ternama.


Keduanya bernyanyi dengan indah. Semua pasangan berpelukan. Arimbi melirik beberapa pria tampan yang tengah berjaga ketat. Reno juga menatap gadis itu dengan pandangan kerinduan tak berujung. Lalu pandangan itu putus karena Tubuh Haidar menghalanginya.


"Papa ...," rengek gadis itu.


"Apa!" sahut pria itu galak.


Arimbi mengerucutkan bibirnya. Nai berusaha tenang ia akan pura-pura melihat yang lain, walau sebenarnya ia mencuri pandang pada sosok pemuda tampan di sana. Pemuda itu tersenyum manis padanya. Nai mengangguk dan membalas senyuman pemuda itu hingga wajah Herman berada tepat di depannya juga tersenyum penuh intimidasi.


"Ayah," keluhnya.


"Ck ...!" decak pria itu benar-benar posesif.


Semua tak tau dengan kelakuan para gadis yang mulai mencuri pandang pada lelaki muda nan tampan. Tetapi para ayah langsung memotong mereka dengan muka tak bersahabat.


"Syululup ... tetiwil ... pihat tebuntuh ... benuh denan Puna ... lada yan butih ... pan lada yan pelah ... betiap hali ... tulilam pemua ... pawal peulati ... bemuana pindah ...!" Harun menyanyikan lagu itu bersama musik ala dia.


"Syululup tetiwil ...!!"


bersambung.


syululup tetiwil ... 🎹🎀🎚️🎸🎡🎼

__ADS_1


__ADS_2