
Cerita Benua yang dibekap lehernya tentu membuat seluruh keluarga langsung cemas. Budiman yang marah juga segera mendatangi orang tua bagi pelaku pencekik putranya dan cepat memberi perhitungan pada ayah pelaku.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Gisel khawatir ketika melihat sang suami dan Gomesh datang.
Melihat tangan Budiman yang memerah membuat Virgou menepuk pundak pria itu. Tadinya Virgou yang ingin menangani mereka tetapi Budiman memilih caranya sendiri.
"Diki sudah minta maaf dan merusak ponselnya sendiri. Tadinya aku mau mendatangi kediaman Gito, tapi dilarang Diki," ujar Budiman.
"Gito anak yatim Baba!" ujar Samudera.
"Makanya Sam tidak begitu marah pada Gito, walau biang onar di sekolah adalah dia!" lanjutnya.
"Iya, tadi Diki malah minta hukuman Gito dilimpahkan padanya," ujar Gomesh.
"Kasihan kakek neneknya terlalu memanjakan anak itu. Jadi salah didik," lanjutnya.
"Tapi dia mesti diberi pelajaran agar kapok, Bud!" ujar Terra sangat kesal.
"Aku bingung Kak, takut kakek dan neneknya malah kenapa-napa," ujar Budiman serba salah.
Akibat percakapan orang tua yang dihadiri anak-anak terutama para perusuh bayi. Semua menelan mentah-mentah percakapan itu.
Al dan El Bara adalah pemicu dari percakapan kali ini. Terlebih ayah mereka mengumpat kesal pada pelaku pencekikan Benua.
"Apan pemana eundat teunal pama nanat sisilan yan setit Ata' Penua?" tanya Al Bara pada Arfhan.
"Kenal sih enggak, tapi tau anaknya gimana. Gito itu suka merokok di kamar mandi," jawab Arfhan.
"Melotot?" tanya Arsyad dengan mata bulat tak percaya.
"Tundu pulu!" ujar Harun menghentikan percakapan.
"Melotot ipu yang tayat dhini?" ujarnya sambil membesarkan matanya.
"Butan Ata'!" jawab Al Bara kesal pada kakaknya.
"Tut yan Apan Fafan pilan suta metotot pi taman pandi!" lanjutnya emosi.
"Janan pesmosi Baby ... Ata' banya mendodamu," ujar Harun sambil tersenyum.
"Slepeteksndbenejznwhnsgdhsnsuzbnwhuszhshuu!" omel Al Bara dengan bahasa planetnya.
"Ah ... bandai lada Paypi Alsh," gumam Fatih mengingat bayi galak adiknya.
"Talian nomon pa'a!" tanya Aminah, Ari ikut duduk bersama mereka.
Jika sudah membentuk koloni seperti itu. Maka perhatian semua orang dewasa pada para bayi yang memaksa diri menjadi dewasa.
"Ipu woh Mimah, lada nanat sisilan," jawab El Bara kini.
"Nanat sisilan?" tanya Ari.
"Piya, Ata' Penua pisetit pama nanat sisilan," sahut Arsyad.
"Sisilan pa'a?" tanya Firman kini.
"Teumalin Puyut Palt teliat nanat sisilan. Atuh panya eundat lada yan sawab!" ujar Al Bara melirik pada orang dewasa malas.
__ADS_1
Virgou ingin sekali memakan anak dari gadis kecil kesayangannya itu. Ia sampai menggigit gemas Lidya sampai merengek.
"Daddy!"
"Diamlah kalian!" tekan Bart pada dua orang yang berisik.
Pria gaek itu sendiri juga gemas dengan cicitnya itu. Terlebih semua saudara kini mengamini perkataan Al dan El Bara.
"Sadhi ... Ata' Penua padhi disetit nanat sisilan? Ata' Penua peulawan pidat?" tanya Firman lagi.
"Dilawan dong!" sahut Benua dengan bangga.
"Kakak pencet uratnya sampai dia lemas!"
"Penset yuyat pa'a Ata'?" tanya Aaima penasaran.
"Nanti kalo udah gede Uma sama Mama akan ajarin kalian," ujar Benua memberitahu.
"Oh oteh ... patan pita peusal?" tanya Aisya dengan suara kecilnya.
"Sepeusal Ata' Tean?" lanjutnya.
"Mama Iya teusil pisa penset yuyat!" lapor Maryam bangga.
Semua bertepuk tangan pada Lidya. Wanita kecil itu sampai malu bukan main. Demian hanya tersenyum lebar, ia ingi sekali dipuji semua perusuh bayi itu.
"Papa juga hebat loh," ujarnya.
Semua anak menoleh padanya seakan bertanya apa kehebatan pria itu. Demian sampai berdecak kesal sedang yang lainnya menyembunyikan senyum mereka.
"Papa hebat karena bisa mendapat Mama Iya!" ujarnya.
"Ata' Penua pasih beulah woh lehenna dala-dala nanat sisilan ipu," ujar Aaima begitu khawatir melihat leher kakaknya.
"Pasih satit eundat Ata'?" tanya Aminah perhatian.
"Sedikit sih, ini leher berasa gimana gitu," jawab Benua merasakan hal aneh pada lehernya.
"Sini Uma lihat Baby!" panggil Saf yang jadi khawatir.
Wanita itu memeriksa semua otot dan syaraf pada leher Benua. Ada sedikit trauma otot yang ditekan terlalu keras.
"Oh Baby, ototnya trauma," jelas Saf.
Gisel sedih mendengarnya. Lidya harus menenangkan Virgou dan Budiman. Dua pria itu tentu akan kembali marah jika tidak ditenangkan.
"Ini karena otot dan syaraf tidak pernah dilatih Baba, jadi jangan khawatir. Akan hilang walau dengan waktu yang tidak sebentar," jelas Saf.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sayang?" tanya Khasya sedih.
"Tidak ada Bunda. Semua akan terlewat dengan waktu. Makanya sering latihan untuk menguatkan otot," jelas Safitri panjang lebar.
"Huh ... soba atuh yan peundadapi nanat sisilan ipu!" kecam Arsyad begitu kesal.
"Atuh sonjot mutana pampei lilan pial piya pinun sali muta pinana!" lanjutnya begitu berapi-api.
"Woh ... ite yan badhus setali Syasyad. Ata' Alun atan pantu tamu puwat peumpunyiin muta nanat sisilan ipu!" sahut Harun mendukung.
__ADS_1
"Janan beudithu ... ipu pidat pait!" sahut Aminah sedih.
"Lolan sahat janan pipalas sesahatan!" lanjutnya memberi nasihat.
"Pita pasih peundoatan meuleta pial piambuni pama Allah!"
"Tamuh pait seutali Baby!" ujar Arion tersenyum pada Aminah.
"Piya pita doatan piya tewus pita tapulin buna ...," ujar Aminah tenang.
"Tot pitapulin Puna Baby?" tanya Harun bingung. "Butan pita tasih buna aja?"
"Pisa sadhi, pita tasyih lantaian puna yan dedhe lada pulisanna!" jawab Aminah serius.
Semua mengernyit heran untuk apa diberi rangkaian bunga yang ada tulisannya. Mereka berpikir keras apa yang dimaksud oleh Aminah.
"Apa itu karangan bunga papan atau steekwerk?" tanya Rasya.
"Pototna ipu," sahut Aminah membenarkan ucapan Rasya.
"Memang apa tulisannya Baby?" tanya Kaila begitu penasaran.
"Tulisan terima kasih jadi orang jahat?" lanjutnya.
"Butan, pita tapulin buna teyus pita letatan buna papan denan pulisan Innalilahi wa innailaihi ladjiun!" jawab Aminah dengan santai.
Semua orang dewasa nyaris tersedak mendengar perkataan Aminah. Azizah hanya tersenyum lebar. Aminah adik bungsunya itu memang beda sendiri.
"Seupeltina atuh sepuju syama ide Baby Mimah!" sahut Bariana mengangguk.
"Atuh ipu pasih binun!" ungkap Al Bara kesal.
"Pinun teunapa Pala?" tanya Firman.
"Pinun spasa nanat sisilan peultama yan pipandhil pama Yuyut Palt?" jawab Al Bara.
Semua bayi menoleh pada Bart. Virgou menyingkir dari sana. Terra mencebik kesal pada kakeknya yang bicara sembarangan.
"Nanat sisilan itu anak yang tukang nyisir Baby!" jawab Dewa.
"Janan pohon Ata'!" tukas El Bara tak mau dibodohi.
"Atuh pahu entau inin peumpohonin atuh!" lanjutnya lalu melipat kedua tangannya di dada.
Dewa menggaruk kepalanya. Ia menatap semua kakak dan juga saudara seumurannya.
"Sudah nggak usah dicari anak sisilan yang pertama Baby. Uyut kadang suka bicara sembarangan!" ujar Seruni pada akhirnya.
"Pelalu peudithu ... peulalu pedhitu ... seatan-atan tamih imi pidat peuntin ladhi!" ujar Al Bara kesal.
"Baby, Mami gelitikin kamu ya!" ujar Seruni lalu mengangkat Al Bara dan menyembur perut bulat bayi itu.
Gelak tawa terdengar. Semua bayi kini digelitiki para orang tua. Hingga satu ruangan riuh dengan tawa anak-anak.
Bersambung.
Nanat sisilan peultama ipu Daddy Vildo Baby!
__ADS_1
Next?