
Jumat semua orang masuk setengah hari. Rion menjemput istrinya. Darren tentu mengajak adiknya itu sedikit menunggu.
"Abah ... Ion lapar!" rengek pria itu kesal karena Darren malah memberinya banyak pekerjaan.
"Bantu Abah dulu Baby. Nanti kamu boleh makan sushi," rayu Darren.
"Ion nggak mau sushi, maunya hot pot daging!" ujar Rion langsung meminta imbalannya.
"Oteh!" angguk Darren setuju.
Rommy senang jika Rion membantunya. Pekerjaan mereka jauh lebih cepat. Memang Darren genius, tetapi Rion jauh lebih genius.
"Assalamualaikum!" Saf masuk.
"Uma ... lihat nih Abah!" adu Rion dengan mulut monyong.
"Baby?"
"Abah kasih Ion kerjaan banyak!" rengek pria itu.
"Kan nanti dijajanin hot pot," sahut Darren terkekeh.
"Itu kalo boleh Mama loh," celetuk Saf yang membuat keduanya diam.
"Aaahhh!" rengek Rion.
Jhenna datang dan menenangkan Rion. Perempuan itu membawa donat banyak. Walau Rion bukan penyuka manis tapi dengan makanan itu masuk perut Rion.
"Makasih MaJhe," ujar Rion manja.
Pekerjaan pun cepat selesai. Azizah pun mendatangi ruang kerja kakak iparnya itu. Perempuan itu tersenyum lebar. Jhenna mengecup perut buncit Azizah.
"Sehat ya bumil," ujarnya penuh harapan.
"Makasih MaJhe," sahut Azizah senang.
Rommy dan Aden akan bergantian mengelus perut adik ipar atasannya itu.
"Kita pulang atau langsung hot pot?" ledek Saf.
"Uma!" rengek Rion cemberut.
"Ayo buruan. Nanti telat sholat jumat!" ajak Darren yang melihat jam tangannya.
Mereka pun bergerak cepat. Semua pergi ke villa di mana masjid yang dibangun Virgou berada. Semua anak sudah ada di sana.
"Apah!" teriak Arsh.
Bayi mau satu tahun itu berlari ke arah Darren. Pria itu langsung menyambar dan mengangkat tinggi-tinggi Arsh hingga terdengar gelak tawa.
"Abah ... masa Kak Sam tadi mukul temennya loh!" adu Benua.
"Baby?"
"Abah ... Sam nggak mukul. Orang Sam lagi merenggangkan otot. Dia main lewat, ya kena lah!" bantah Sam.
"Kalo nggak sengaja kok sampe biru matanya?" tanya Benua tak percaya.
"Baby?" Darren bertanya pada Sam.
Rion langsung membela adiknya. Pria itu tak mau semua adik dimarahi karena perbuatan yang pasti ada sebabnya.
"Pasti ada penjelasan, Kak!"
"Baby Sam bisa jelasin kan?" tanya Darren tegas.
Budiman bukan tak mengajari putra-putranya. Tetapi, ia lebih meminta Darren atau Rion yang menangani semua anak karena mereka hanya menurut pada Rion atau Darren.
"Baby?" kali ini Rion bersuara karena Sam hanya diam.
__ADS_1
"Habis dia bilang Sam gay," jawab bocah dua belas tahun itu lirih.
"Apa?!" Rion langsung emosi.
"Baby!" peringat Darren.
"Allahuakbar ... Allahuakbar!'
Adzan pertama berkumandang. Semua ibu berteriak pada anak laki-laki yang masih saja mengobrol. Mereka buru-buru pergi ke masjid yang hanya dua puluh langkah dari vila.
"Anak-anak itu!" keluh Maria menghela napas.
Usai sholat Jumat, makanan dibagikan pada jemaah. Karena setiap Jumat ada pembagian makanan. Maka jemaah membludak. Nyaris tidak kebagian jika saja Terra tidak sigap mempersiapkan semua.
"Ma ... Nai kok pusing ya?" keluh Nai manja.
"Baby?" Terra menatap putrinya yang sedikit pucat.
Nai memeluk ibunya. Terra berdebar, wanita itu sangat yakin jika ia akan jadi nenek sebentar lagi.
'Ayo, istirahat. Langit masih membagikan makanan untuk jemaah," ajak Terra.
Nai mengikuti ibunya masuk. Ibu dan anak itu duduk. Nai merebahkan kepalanya di pangkuan Terra.
"Baby kenapa?" tanya Gomesh ketika melihat Nai merebahkan diri.
"Nggak enak badan Papa," jawab Nai lemah.
"Gimana nggak lelah," sahut Gomesh. "Nyaris dua minggu Nona tidak ada jeda!"
"Tiga operasi cecar, belum lagi lima persalinan dalam satu hari. Bagaimana Nona tidak kelelahan," lanjutnya perhatian.
"Papa, Nai minta belikan es krim tong-tong dong," pinta Nai tiba-tiba ingin eskrim yang bahan dasarnya santan kelapa.
"Oteh, Papa carikan ya," sahut Gomesh lalu pergi cepat.
Arimbi datang, wanita itu banyak membawa makanan. Tubuhnya sedikit berisi. Terra tiba-tiba menitikkan air matanya.
"Oh sayang ... kalian sudah bersuami ... pasti kalian akan memberikan Mama cucu sebentar lagi," jawab Terra dengan nada serak.
"Mama ... gimana mungkin. Sekarang aja Nai lagi haid?" sahut Nai menatap ibunya polos.
"Hah?"
"Bu'lek juga sama datang bulannya sama Nai. Kami belum hamil Mama," jawab Nai dengan nada lirih.
"Tapi kenapa kalian jadi gembul? Mama dulu hamil kalian juga gitu masalahnya," rengek Terra kesal.
"Ih Mama ... Nai baru dapet tiga hari lalu. Nai masih negatif. Mungkin kalo Mama mau cucu. Nai akan program sekarang deh!' jawab Nai.
Arimbi datang dengan membawa setumpuk makanan. Ia menyuapi Nai keripik kentang.
"Bi Lili, minta piring dong!"
"Iya Nyah!" teriak maid lalu membawa mangkuk dan sendok.
"Makasih Bi," ujar Arimbi.
"Sama Nyah!"
Arimbi menuang pempek kapal selam. Nai langsung merengek minta suap.
"Bu'lek!"
"Nih aaa ...!" Arimbi menyorongkan pempek ke mulut Nai.
"Mama mau dong!' Arimbi melakukan hal sama.
Anak laki-laki datang. Tentu saja Arsh paling ribut jika ada makanan tapi dia tidak dibelikan.
__ADS_1
"Alsh au petpet!" teriak bayi itu.
"Ini pedes Baby!' peringat Gabe.
Nai menghisap pempek lalu mengunyahnya sedikit. Ia menyuapkan kunyahan ke mulut Arsh. Bayi itu dengan lahap memakannya.
"Papa minta!" Haidar mencomot satu pempek.
Beruntung Arimbi membeli banyak. Jadi semua kebagian. Semua tengah mempersiapkan ulang tahun Arsh yang ke pertama.
"Mau dipestain di mana Mom?" tanya Langit pada Widya.
"Tanya Daddymu. Dia yang atur semua," jawab Widya yang sudah pusing.
Luisa mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Andoro selalu ada di sisi istrinya.
"Arsh masih kecil, di mansion Kakek saja!" tawar Bram.
"Lagi pula banyak saudaranya. Jadi tidak perlu ngundang siapa-siapa," lanjutnya.
"Iya ya," sahut Gabe akhirnya setuju.
"Nggak ngundang anak yatim?" tanya Kean.
"Nggak usah deh, Daddy lagi banyak pengeluaran ini!' jawab Gabe yang langsung diberi pukulan oleh Bart.
"Apa aku tidak bisa merayakan ulang tahun cicitku!"
"Huh ... Addy siput pati sistim!" ledek Arsh.
"Wuwitna pemana mua-mua tuch?" lanjutnya sampai monyong mulutnya.
"Astaga anak ini ya!" gereget Demian.
Bayi itu tergelak karena digelitiki. Pria itu malah dikerumuni semua bayi yang juga ingin diperlukan hal sama.
"Mom ... boleh nggak Mai jalan-jalan?" pinta Maisya pada Maria.
"Nggak Baby!' jawab Maria tegas.
"Mom," rengek Maisya.
"Mau ngapain keluar?" tanya Affhan dengan kening berkerut.
"Mau dengerin ceramah ustadz Varrel Al Habsy," jawab Mai.
"Itu kajian buat cowok. Ngapain kamu ikut?" tanya Dewa gusar.
"Oh buat cowo toh?" tanya Mai baru tahu.
"Iya buat cowo!" sahut Dewa ngegas.
"Yang jujur, kamu mau kemana?" tanya Affhan pada saudara kembarnya.
"Tadi katanya mau jalan-jalan?" lanjutnya.
"Mai jalan-jalan sama Papa Gio yuk!" ajak Gio.
"Itut!" sambar Arsh langsung.
"Mau juga!" teriak semua perusuh bersuara.
Gio menggaruk kepalanya. Virgou berdecih pada pengawalnya itu.
"Rasakan!" cibirnya meledek.
Bersambung.
Papa Gio ... kalo satu anak diajak, semua harus diajak ya ...
__ADS_1
Next?