
Zora bayi mungil harus sering diberi treatment. Percuma Luisa memiliki menantu seorang dokter spesialis kandungan dan anak. Naisya yang menangani adik iparnya itu.
Satu ruangan khusus dengan inkubator komplit. Semua untuk menunjang kesehatan dua bayi baru lahir satu minggu lalu.
"Assalamualaikum Baby," sapa Luisa pada dua bayinya dalam boks.
"Netnet ... payina teunapa pasut totat?" tanya Maryam.
Semua perusuh junior menginap di rumah Nai. Tentu saja pagi-pagi begini semua anak sibuk ingin melihat anggota baru mereka.
"Biya teunapa?" tanya Aaima ikut penasaran.
"Kotak ini dibuat agar bayi cepat besar sayang," jawab Luisa.
"Pisa peusal?" ulang Arsyad dengan mata bulat.
"Talo beudithu, pa'a atuh pasut syinih pisa peusal judha?" tanya Fatih menatap kotak.
"Kotak ini hanya untuk bayi yang baru lahir Baby," jawab Luisa.
"Woh tot banya payi yan palu lahin Net?" tanya Arsh.
"Tamih judha pawu peusan!" lanjutnya mulai emosi.
"Tapi box ini hanya cukup untuk bayi sebesar Baby Vendra dan Baby Zora," jawab Luisa gemas.
"Netnet ... imi sundhuh disilimasi!" geleng Al Bara protes.
"Talo Gino di situ pisa tah?" tanya Gino. "Gino kan teusil?"
"Iman judha teusil!" Firman ikut nimbrung.
"Lilo judha!"
"Verra judha!"
"Dita!"
"Yiya!"
"Vella!"
Semua bayi berukuran kecil menunjuk tangan. Mereka ingin besar seperti yang lainnya. Hal itu membuat Luisa menggaruk kepalanya.
"Mama ... Alun yatin talo peunda ini pisa peusalin Ata'Dhino!" ujar Harun.
"Iya Mama, Aya juga mau besal!" ujar Arraya antusias.
"Badhaipana jita pinta Mama Nai puat pots yan leupih peusal?" ujar Aaima memberi ide.
'Pide yan padhus Ata'!" sahut Al Bara setuju.
"Bayo pita tundhuin Mama Nai!" sahut Azha mengomando.
"Payo!" sahut semua perusuh paling junior itu.
Semua bayi pun keluar kamar. Luisa hanya bisa melongo kemudian tersenyum lebar.
"Ah ... Babies ... cepat besar sayang, seperti kakakmu. Mama nggak sabar melihat tingkah kalian,' ujarnya pada dua bayi yang tengah terlelap.
Luisa mengusap tubuh dua bayinya bergantian. Menantunya mengajari agar sang ibu sendiri yang berinteraksi pada dua bayi prematur itu.
__ADS_1
Demian pulang bersama istrinya. Pria itu duduk di antara para bayi. Lidya memilih langsung menuju kamar di mana dua bayi yang baru lahir.
"Papa ... Papa ... pasa teumalin wuyuy pilan Papa Dandolo nanat sisilan!" adu Al Bara.
"Apa?" tanya Demian yang kelelahan.
Tak lama Jac datang. Ia tak bersama istrinya. Putri sedang dinas sore maka akan pulang malam.
"Assalamualaikum!' ujarnya memberi salam.
"Wayaytumsayam!" seru perusuh paling-paling junior.
"Papa eundat pawa loleh-loleh?" tanya Al Bara lagi.
"Nggak sayang. Jam segini tukang jajanan belum ada yang jualan," jawab Jac lalu ikut duduk di samping Demian.
Maid membawa dua cangkir teh jahe. Arsh memilih duduk dipangkuan Jac. Pria itu menyeruput teh.
"Baby mau?" Arsh menggeleng.
'Pawuna dedes Papa!' tolak bayi itu.
"Ini enak loh!" rayu Demian.
"Coba sedikit, perutmu bisa hangat!"
"Eundat pawu Papa!' tolak Arsh.
"Jangan paksa Kak!" peringat Langit ketika masuk rumah.
"Papa tot eundat usap salam?" tanya Dita dengan suara nyaring.
"Sudah tadi Baby, apa kalian tidak dengar?"
"Papa ulang ya. Assalamualaikum!" Langit mengulang ucapan salamnya.
"Wayaytumsayam!" seru semua membalas salam.
"Papa nanat sisilan!" panggil Aaima dengan lembut.
"Dudut syini!" lanjutnya sambil menepuk tempat di sebelahnya.
"Apa?" Langit masih mode bengong dengan panggilan Aaima.
"Papa nanat sisilan judha tan?" tanya Aaima dengan mata bulat.
"Papa bukan nanat sisilan!" sanggah pria tampan itu kesal.
"Woh teunapa butan?' tanya El Bara kini emosi.
"Papa nanatnya Tate Dandolo tan?" lanjutnya kesal.
"Iya Papa anak dari kakek kamu Andoro," jawab Langit polos.
"Teumalin Wuyuy pandhil Tate Dandolo nanat sisilan. Sadhi Papa nanat sisilan judha!" ujar El Bara menjelaskan.
"Piya Papa. Peumuwa Papa nanat sisilan pipandhil Wuyuy. Sadhi tamih nanat lati-lati dadalah nanat sisilan pemuana!" sahut Ari.
Langit terbengong. Bart muncul. Baik Jac, Demian dan Langit menatap laki-laki gaek itu dengan pandangan kesal.
"Apa kalian menatapku seperti itu anak sialan!" umpat pria itu marah.
__ADS_1
"Tuh tan!" seru Lilo.
"Pemua papa ipu nanat sisilan!" lanjutnya.
Bart menutup mulut. Ia tak melihat Terra, pria itu akhirnya bernapas lega.
"Pati tata Mama Nanat sisilan ipu altina pidat bait!" sahut Della mengingat perkataan Terra.
"Tewus Ata' pitil Wuyuy pilan nanat sisilan muwamuwa papa ipu pidat pait?" tanya Arsh tak percaya.
"Biya Ata'. Wowan puwa pidat muntin natain nanatna pandhilan pidat bait!' angguk Arsyad setuju.
"Atuh pawu don sadhi nanat sisilan!' ujar Aisya.
"Tan atuh nanat Papa judha!" lanjutnya setengah menghiba.
Bart menggaruk kepalanya. Baik Demian, Langit dan Jac tak bisa berkata-kata. Tiga pria itu sudah kehabisan bendahara kata untuk menanggapi pembicaraan anak-anak mereka.
Usai makan siang anak-anak diminta tidur. Tetapi rencana untuk meminta boks pembesar tetap ingin diutarakan para bayi terutama Gino.
Gino paling tua diantara semua bayi. Tapi tubuhnya sama besar dengan El Bara yang baru berusia dua tahun dua minggu lagi.
Nai menatap mata Gino yang penuh pengharapan. Wanita itu sedih dan begitu terharu. Semua ibu sangat terenyuh mendengar alasan Gino ingin besar.
"Pial Gino pisa lindunin adit-adit Mama," pintanya memohon.
Saf tersenyum, ia menyamakan tingginya dengan Gino.
"Papa Deni kecil, tapi beliau kuat dan bisa melindungi kita semua," jelasnya.
"Baby bisa lihat. Dari semua pengawal. Papa Deni paling kecil. Tapi, lihat!" tunjuknya pada Deni yang kini tengah memeriksa para anak buahnya.
"Papa Deni jadi ketua semua pengawal dari mereka, bahkan Papa Langit harus menurut pada Papa Deni," lanjutnya.
"Pati Baby Del, pebih tuat dali Gino Uma," cicit Gino lirih.
"Baby, Della punya keahlian yang memang harus diasah sejak dini. Kamu tau, kalau Papa Gio juga kuatnya setelah besar?" Gino menggeleng tanda tak tau.
"Papa Gio bilang ke Uma, kalo Papa Gio kuat setelah masuk SavedLived karena ia tak mau dibully," lanjut Saf menjelaskan.
Gino menatap Saf. Balita itu setengah tak percaya. Gio pengawal bertubuh besar, tentu saja memiliki kekuatan yang sama dengan sepuluh pria.
"Kalau tak percaya. Gino boleh tanya Papa Gio," ujar Saf kembali meyakinkan balita itu.
"Sadhi tamih pidat Pisa peusal tayat Papa Domesh?" tanya Seno memastikan.
"Jadi besar tidak harus seperti Papa Gomesh sayang," kekeh Saf.
Gomesh adalah sosok panutan para bayi. Raksasa itu memang jadi incarannya kerusuhan dan keusilan semua bayi.
"Kalian harus kuat dan besar dari sini," lanjut Saf sambil menyentuh dada Gino.
"Pita halus sadhi peulempuan?" tanya Arsyad.
"Kok, perempuan?" Saf bingung begitu semua ibu.
"Itu Uma pilan pita halus peusal dadana ... peulalti tayat Uma don dadana peusal!" lanjut Arsyad lagi.
Semua mengulum senyum. Saf hanya menghela napas panjang. Ia sepertinya harus memberi penjelasan lagi.
bersambung.
__ADS_1
eh kok gitu mikirnya Syad! ðŸ¤ðŸ¤¦
next?