SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KONFERENSI PERS


__ADS_3

Labertha Weist benar-benar menjalankan niatnya. Pagi hari ia sudah begitu rapi dengan dress dari sutra terbaik dan perancang ternama. Dress selutut dengan warna putih dengan aksen bunga-bunga kecil. Ia memakai Stiletto warna navy. Rambut peraknya ia sisir ke belakang dengan jepit rambut berlian sesuai dengan anting, kalung gelang dan cincin yang ia pakai hari ini. Wajahnya begitu segar dengan polesan lipstik warna merah menyala. Labertha benar-benar mengeluarkan pesona luar biasa pagi ini.


Di halaman khusus banyak wartawan berbagai media lokal dan elektronik datang memenuhi undangan. Dua ratus pengamanan bekerja sama dengan kepolisian menangani membludaknya para pencari berita yang hendak masuk walau tanpa undangan.


Gomesh sebagai kepala pengawal bersama Budiman, Dahlan dan Gio mengatur tiga puluh anak buahnya. Langit, Rio, Ricky, Lucky, Reno berbaris rapi dan mendengarkan instruksi dari pemimpin mereka.


"Apa kalian sudah dengar!" sentak Gomesh tegas.


"Siap laksanakan ketua!" teriak semua bodyguard tampan itu.


Virgou datang bersama Haidar, Leon dan Frans. Mereka membagi menjadi tiga kelompok yakni bagian pengaman pada remaja pria, pengaman pada remaja wanita dan pengaman pada para bayi.


"Khusus Sky dan Bomesh ada di bawah pengasuhan putraku Rion!" ujar Virgou memberi instruksi.


"Tapi tetap ketat pengawasan pada seluruh keluargaku siapa pun kalian!" lanjutnya dengan tatapan menusuk siapa pun yang berani membangkang.


"Siap ketua!"


Semua membubarkan diri. Tentu saja sepuluh orang mengawal remaja yang terdiri dari, Kean, Calvin, Satrio, Arimbi, Nai, Sean, Al dan Daud. Sepuluh lagi mengawal Dimas, Affhan, Maisya, Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid. Sepuluh orang lagi mengawal Samudera, Benua, Domesh, Ditya, Radit, Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana. Sedang para bayi tentu dijaga oleh orang tua mereka. Bersama para pengawal yang ada di mansion Labertha Weist.


Rion menggandeng ketua perusuh Sky dan Bomesh. Virgou memang mengkhususkan dua balita itu berada di tangan bayi besarnya. Karena Sky dan Bomesh sangat menurut pada Rion, walau terkadang masih terlepas juga.


Seorang pria berusia empat puluh tahun maju di mimbar. Dia adalah Danuar Noumb, pengacara Labertha Weist, pria peranakan Indonesia-Prancis. Bekerja menggantikan ayahnya yang sudah pensiun menjadi pengacara pribadi wanita tua kaya raya itu.


"Bonjour à tous les partenaires médias !" (Selamat pagi para rekan media semua!) sapa pria itu.


"Bonjour!" (Selamat pagi!) sahut semua wartawan.


"Comme vous le savez, je suis l'avocat et le porte-parole de Mme Hovert Pratama annoncer," quelque chose d'important !" (Seperti yang kalian tau saya selaku pengacara dan juru bicara Nyonya Hovert Pratama akan mengumumkan sesuatu!) lanjutnya.


Bunyi bidikan kamera dan lampu blist membuat anak-anak sedikit takut. Bahkan Satrio yang biasa berhadapan dengan maut karena sering berseteru dengan para mafia ikut takut.


"Bunda," rengeknya.


"Tenang baby, jangan khawatir oteh," ujar Khasya menenangkan putranya itu.


Saf mengusap keringat dingin yang keluar di dahi Satrio. Remaja itu memang sedikit unik, ia memiliki phobia pada keramaian yang asing.

__ADS_1


Lidya ikut menenangkan yang lain karena ikutan Satrio yang takut.


"Hei katanya pemberani," ujar Demian.


"Papa ... mereka orang asing, kita bukan di negara kita sendiri," cicit Dewi yang biasa sangar dengan orang asing ikutan takut seperti mas-nya.


Para perusuh minta gendong. Mereka juga ikut takut, semua kepala disembunyikan di ceruk leher para pengawal. Bariana dalam gendongan Reno. Pemuda itu mengusap punggung bayi cantik itu yang gemetaran.


"Nona baby cantik, jangan takut ada Abang pengawal tampan di sini," ujarnya.


Itulah panggilan Bariana untuk Reno. Bodyguard yang selalu bertugas menjaga Arimbi itu mempunyai panggilan khusus dari para bayi perempuan.


"Meuleta eundat pahat tan papan penawal pampan?" cicit bayi cantik itu.


Hanya Sky dan Bomesh yang begitu santai menghadapi lebih dari seratus wartawan yang berkerumun dan menjepret mereka.


"Bayah pemuana!" sindir Bomesh terkontaminasi bahasa bayi.


Sky yang selalu kepo, berusaha lepas dari gandengan Rion. Padahal pemuda itu sering memperingati balita tampan itu.


"Baba lihat wartawan itu ngeluarin apa?!" teriak pemuda itu menunjuk salah satu wartawan.


Memang pemeriksaan awal bukan tim dari Savelived yang melakukannya tetapi dari pihak pengawalan Labertha.


Budiman langsung maju dan mengambil sesuatu yang dikeluarkan wartawan itu. Ada keributan kecil dan bisa diatasi oleh Budiman dengan baik. Wartawan itu diseret keluar oleh pengawal Labertha.


"Apa itu baba?" tanya Rion ingin tahu.


Sebuah pena yang mengeluarkan cahaya merah kecil. Budiman memprediksi jika ini adalah alat untuk pengganggu konsentrasi. Ternyata wartawan tersebut ingin menyerang ketahan Labertha. Wanita berusia lebih dari seratus tahun tentu jadi sasaran empuk para pebisnis lain untuk menjatuhkannya.


Virgou datang dan meminta pengurangan jumlah wartawan. Separuh dari wartawan dikeluarkan. Banyak protes terjadi, bahkan adanya saling tarik menarik. Para remaja, anak-anak dan para bayi diungsikan masuk ke dalam mansion begitu juga Labertha.


Virgou sedikit kualahan menangani para pemburu berita itu.


"Ck, andai bisa pakai senjata," dumalnya pelan.


"Si vous êtes encore bruyants, je m'assure que cet événement ne se poursuivra pas !" (jika kalian masih ribut, saya pastikan acara ini tidak dilanjut!) ancam Virgou dengan suara menggelegar.

__ADS_1


Semua diam dan akhirnya bisa ditenangkan. Virgou mendumal panjang pendek, memprotes kinerja pengawal yang disewa oleh Labertha.


"Dulu, ketika pembelaan pada anak-anak, hanya sepuluh orang saja yang mengawal acara bisa diatasi dengan mudah.


Acara akhirnya dilanjutkan dengan banyak alat perekam di atas podium. Labertha muncul ditemani ajudan pribadi sekaligus ketua semua maid, Adrianus Moy, pria kebangsaan Thailand-Prancis.


Wanita itu berjalan dengan tingkat dengan kepala naga yang dilapisi emas 24karat. Tongkat kayu berukir itu dibuat khusus dari Bali, Indonesia.


"Je suis vraiment déçu de vous les gars !" (saya sungguh kecewa dengan kalian!) keluh wanita itu.


Aura kekecewaan begitu kuat. Bertha memang dekat dengan para wartawan karena ia sangat suka memberi berita tentang keberhasilan dalam bisnis atau kegiatan sosial lainnya. Bisa dibilang wartawan dapat hidup akibat berita yang wanita berusia satu abad lebih itu berikan.


Labertha tidak ingin membuang waktu. Ia pun meminta semua keturunan utamanya maju.


Nai, Sean, Al, Daud, Rasya, Rasyid, Arion dan Arraya maju.


"Ce sont des descendants de Hovert Pratama!" (Mereka adalah keturunan Hovert Pratama!)


"Mais j'ajouterai plus à mes descendants!" (tapi saya akan menambah keturunan saya!).


Semua anak-anak maju. Mata biru Kean, Calvin, Kaila dan Harun menjadi sorotan di antara semuanya. Para kuli tinta itu ribut dan sedikit protes.


"De qui sont-ils les enfants. Pas de descendants de Hovert Pratama yeux bleus!" (Mereka anak-anak siapa, tidak ada keturunan Hovert Pratama bermata biru!).


"Maintenant ici! Et tu ne peux pas te plaindre !" (Sekarang ada dan tak boleh protes!) sahut Bertha keras.


Usai perkenalan semua keturunan, wartawan bubar. Sky dipanggil oleh Bertha. Wanita itu berterima kasih atas kejelian balita itu.


"Merci de m'avoir sauvé !" (Terima kasih telah menyelamatkan aku!) ujarnya lalu mengusap kepala Sky.


Sky mengangguk saja. Labertha mencium gemas pipi balita tampan itu.


bersambung.


Sky gitu loh Uyut ...


next?

__ADS_1


__ADS_2