SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SAH


__ADS_3

Sepasang pengantin kini bersimpuh di kaki Khasya dan Herman. Mereka menangis setelah anak gadis mereka meminta restu dan doa pernikahan yang baik.


"Bunda terima kasih telah menyayangi Sari seperti anak sendiri ... hiks ... hiks!"


"Sayang," Khasya mencium pucuk kepala putri angkatnya itu.


Semua menangis haru ketika Felix mencium Gina dan Deno, keduanya memang telah menganggap Felix putra mereka. Bukan hanya Felix tapi seluruh bodyguard adalah putra mereka. Felix juga bersimpuh di hadapan Virgou. Pria penyelamat hidupnya. Pria itu mengucap banyak terima kasih pada sosok dengan sejuta pesona itu.


Kini keduanya duduk bersanding saling berpegangan tangan erat. Sari tertunduk malu karena Felix terus menggoda istrinya itu.


"Ehem ... yang sudah sah!' sindir Dinar mengejek.


"Makanya nikah Mbadhe!" seloroh Terra malah meledek saudaranya itu.


Sepasang mata menatap tubuh tambun yang dari tadi sibuk bergerak itu. Dinar sangat cantik, walau pipinya chuby, badannya besar lebih besar dari pada Saf.


Lidya dan Saf memeluk tubuh padat gadis itu bahkan Lidya mengigit bahu Dinar gemas.


"Aduh, Mbadhe kok digigit!" protesnya.


"Habis gemes ... daging semua!" seloroh Lidya.


"Bibu Pinal ... bayo banyi!" seru para perusuh.


Gadis gempal itu naik ke atas panggung. Tak ada organ yang mengiringi musik. Ada hanya rebana atau hadroh. Dinar membagikan alat-alat itu bahkan ada yang memegang pemukul perkusi.


Dengan telaten Dinar mengajari para perusuh memukul rebana.


"Pukul satu!" Harun dan Benua memukul rebana seperti diajarkan Dinar.


"Pukul dua!" Azha, Bomesh dan Sky memukul rebana.


"Pukul tiga!" Bariana memukul perkusi.


"Aya napain?" tanya Arraya.


"Kita bisa nyanyi balonku, ikutin Bibu ya," ajak Dinar.


"Balonku ada lima ...," Dinar bernyanyi ala arabian.


"Syalala!" timpal Arraya.


"Rupa-rupa warnanya!"


"Syalalaaaa!" timpal Arraya.


"Hijau kuning kelabu ... merah muda dan biru ...."


"Syalala!" timpal Arraya lagi.


"Peletus Palon bijau ... syalala ... patitu banat cacau ... Palon tuh pindal bempat ... tupedan elat-elat!" lanjut Arraya bernyanyi ala arabian.


Semua menabuhkan rebana sesuai instruksi jari Dinar. Maka timbullah intonasi musik merdu awalnya, lambat laun makin berantakan karena para perusuh akhirnya membunyikan asal alat musik itu.


Dinar menahan tawanya. Gadis itu sampai harus terduduk di atas panggung. Bariana memukul kuat-kuat perkusi. Hingga.


"Huuuwwaaaa ... Uma ... tanan Baliana syatit!" teriak bayi itu karena tongkat pemukul terpental.


Dinar bergegas ke arah bayi cantik itu. Begitu juga Saf, Aini dan Lidya. Bariana hanya mau diobati oleh Saf.

__ADS_1


"Baby, sakit ya?" tanya Darren.


"Bibubibubibu!" panggil Arsyad dan Aaima macam bunyi sirine ambulan.


Dinar tertawa mendengarnya. Gadis itu mendatangi dua bayi yang digendong para bodyguard. Sepasang mata menatap lekat pada gadis bertubuh tambun itu.


"Ck ... apa aku pantas?" gumamnya pelan sekali.


Satu persatu tamu berdatangan. Rata-rata adalah rekan seprofesi Sari. Banyak juga teman-teman dari adik-adik angkat gadis itu. Tak lama Azizah datang bersama enam adiknya. Terra sangat antusias dengan kedatangan gadis cerdas dan genius itu.


"Nyonya, tuan," sapa gadis itu pada Haidar dan Terra.


Enam adik Azizah menyalim semua orang tua di sana. Azizah mengucap selamat pada Felix, mereka tentu saling kenal karena Azizah yang berprofesi sebagai bodyguard tadinya.


"Selamat ketua!" ujarnya.


"Semoga sakinah mawadah warahmah hingga Jannah!"


"Aamiin!' sahut keduanya mengamini doa baik tersebut.


Azizah membawa enam adiknya ke sebuah meja bundar, Seruni menunjukkan tempat itu pada sang gadis.


"Terima kasih Nyonya!" sahut gadis itu dengan senyum lebarnya.


"Tata ... Ina eundat belihatan!" seru Aminah ketika duduk di kursi.


Terra tertawa melihatnya. Ia mengingat Lidya ketika pertama kali duduk bersama di meja makan. Wanita itu menitikkan air mata.


Lidya melihat itu dan menyambangi ibunya.


"Ma," panggilnya lembut.


Azizah memangku adik bungsunya. Sedang yang lain membantu. Adibah, Ajis memangku Ahmad yang baru berusia lima tahun, sedang yang lain bisa memakan makanannya sendiri. Aminah disuapi oleh Azizah. Haidar duduk bersama mereka.


"Zizah, aku akan langsung meminta tolong padamu," ujar pria itu.


"Apa itu tuan, jika saya bisa bantu?"


"Aku ingin kau menangani komputering error di perusahaanku, aku sudah memintanya pada Darren, bossmu," ujar pria itu mengutarakan maksudnya.


Azizah mengangguk setuju. Rion sedikit kualahan dengan Komputering error itu. Pemuda itu selalu emosi hingga membuat mati beberapa akun divisi.


"Terima kasih, aku tunggu besok ya," ujar pria itu.


Azizah mengangguk setuju. Gadis itu sedikit menghela napas. Pikirannya tengah kacau. Haidar dapat membacanya.


"Kau kenapa?" tanyanya.


Gadis itu cepat menggeleng. Walau terlihat jelas kegelisahan melanda Azizah.


Haidar mengkodekan pada istrinya. Wanita itu duduk bersama gadis itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya lembut.


Hal itu membuat Azizah menitikkan air matanya. Tapi sekuat mungkin gadis itu menahan semuanya.


"Bicaralah, siapa tahu kami bisa membantumu," pinta Terra mengelus tangan gadis itu.


Terra sangat tahu betapa berat beban yang Azizah pikul. Azizah mengingat akan dirinya. Sendirian dan dibuang semua orang, persis dengan Aini.

__ADS_1


"Saya malu nyonya," cicitnya pelan.


"Malu kenapa?" tanya Haidar mulai gusar.


"Sayang," tegur Terra.


Pesta resepsi masih berlangsung meriah. Para perusuh masih bergoyang heboh di panggung bersama Dinar dan Rion.


"Kak, Amran dan Alim boleh ke situ nggak?" tunjuk Amran pada panggung.


"Boleh sayang," Haidar langsung meminta Kean mengajak adik-adik dari Azizah ke atas panggung.


Kean langsung mengajak mereka. Dua bocah berusia enam dan lima tahun bergabung. Tak lama panggung tambah heboh dengan aksi kocak mereka semua.


"Azizah!" panggil Haidar tak sabaran.


Gadis itu sedikit terkejut. Akhirnya ia menceritakan kesulitannya.


"Astaghfirullah!' seru sepasang suami istri itu tak percaya ketika mendengar kisah Azizah.


"Lagu ini buat kakakku tercinta ..."


"Dia bernama Azizah, perempuan kuat lagi perkasa ... dialah kakakku Azizah ...," Amran menyanyikan lagunya sendiri.


"Kakaku belanama Azizah ... kata apak dia pelmata kelualga, kata amak dia juga benteng peltahanan seluluh saudalanya ...." Alim melanjutkan lagunya.


Adiba dan Ajis yang duduk di kursi ikut bernyanyi lagu ciptaan mereka sendiri itu.


"Dia kakak kami Azizaah ... perkenalkan dia yang terkuat dan terhebat ... kami cinta kakak ... kakak adalah segalanya ....."


Azizah tersenyum. Hilang sudah semua sedih dan beban yang ia pikul, keenam adiknya adalah jiwa gadis itu. Terra menatap lembut Azizah, kembali mengingat perjuangannya bersama Darren, Lidya dan Rion.


Semua bertepuk tangan meriah. Para perusuh ingin juga menciptakan lagu dadakan. Harun bernyanyi lebih dulu.


"Peultenaltan atuh Alun ... Daddy tu banaat ... mommy tuh judha baanaaat!"


Semua menahan tawa mereka. Bariana ikut bergoyang, Dinar membunyikan hadrohnya. Harun dan Bariana bergoyang seiring ketukan rebana yang dipukul oleh gadis tambun itu.


"Atuh judha ... manana atuh baby Baliana ... tata papan peunawal pampan pilan atuh banis dan syantit!" Bariana mendendangkan sesuka hatinya.


Reno tertawa mendengarnya dan mengacungkan dua ibu jari pada bayi cantik itu.


"Atuh judha syantit ... tata daddy podi atuh menalit ...." sahut Arraya tak mau kalah.


Semua perusuh menoleh padanya. Arraya menatap bingung pada saudara seusianya.


"Tenapa?" tanyanya bingung.


"Bemanan podi tamu beunalit pa'a?" tanya Azha bingung.


"Biya peulasaan podi tamu eundat nalit pa'a-pa'a?" sahut Arion juga.


"Eundat pahu ... tata daddy podi atuh beunalit!' sahut Arraya bersikeras.


"Baby Aya ... podi tamu ipu butan delobat tan, yan pisa ditalit-talit!' seru Azha mengingatkan.


bersambung.


Lah kok gitu Azha 🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2