
Di Eropa, Bart mengajak semua cucu dan cicitnya berkenalan dengan beberapa kolega. Bahkan semuanya sempat memberikan review pada satu meeting dan mampu menghipnotis para kepala divisi dan kolega Bart. Kecuali Nai, Arimbi dan Daud.
"Tuan, semua keturunan anda luar biasa. Oh ya, kenapa Tuan Muda Rion juga tak diajak serta?" tanya kolega itu.
"Tidak, cucuku itu sudah menjadi CEO dan tengah melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah," jelas Bart bangga.
"Andai aku memiliki keturunan," keluh kolega itu.
"Bagaimana kau memiliki keturunan tuan, anda sendiri tidak menikah!" sahut Bart.
Pria itu tersenyum, ia memiliki kekasih tetapi enggan dinikahi karena sibuk dengan karirnya sendiri.
"Kau pacaran sudah nyaris dua puluh tahun, itu adalah pacaran terlama yang aku ketahui Tuan Fernandez," sahut Bart mengingatkan.
Fernandez hanya diam menanggapi. Kehadiran keturunan Dougher Young membuat perusahaan pria tua itu makin kuat. Semua pebisnis yang melakukan kerjasama tak ketakutan karena banyaknya keturunan Bart Dougher Young itu.
"Tuan selamat ya, anda akan dikaruniai cucu lagi," ujar salah satu kolega menyalami Bart.
Fernandez memilih menyingkir, ia melihat kumpulan remaja yang tengah tertawa dan berbicara bahasa yang tak ia mengerti. Pria itu mulai berdecak.
"Ck ... kenapa tidak kau berikan satu keturunanmu padaku, Bart. Kau sudah banyak kan?" gumamnya dalam hati.
Pria itu tertarik pada salah satu kerumunan remaja yang tengah tertawa tertahan. Netranya menatap satu netra gelap dan memiliki sorot mata tajam.
"Dia tampan, sepertinya dia bisa menjadi putraku, netranya sama denganku!" gumamnya.
Fernandez mengalihkan tatapannya ketika netra yang ia pandangi menangkap basah dirinya.
Kening remaja tampan itu berkerut hingga menimbulkan tanya dari saudaranya yang lain.
"Kamu lihatin siapa" tanya Al.
Remaja itu menggeleng. Lalu Bart mendatanginya, delapan remaja itu minta ijin jalan-jalan.
"Kan lusa kita udah pulang, Grandpa," rengek Arimbi.
"Boleh dong, jalan-jalan ... sekali aja tanpa pengawal," pintanya yang berat diiyakan oleh Bart.
"Grandpa ... please!" pinta Nai kini.
"Kan ada Sat yang paling jago di sini," sahut Daud menimpali.
Bart akhirnya luluh, ia pun mengijinkan delapan remaja itu pergi jalan-jalan. Lalu Gabe datang dan bertanya kenapa para remaja seperti senang.
"Mereka ku ijinkan jalan-jalan tanpa pengawal," jawab pria gaek itu.
"Apa grandpa gila, ketahuan Terra besok kita tak bisa mengajak mereka kembali!" seru pria itu panik.
Bart ikutan panik, Gabe langsung memanggil para pengawal dan meminta mereka mengintai remaja dari kejauhan.
"Pokoknya ketika ada bahaya baru kalian bergerak, mengerti!" tekan Gabe.
"Mengerti tuan!"
Bart bernapas lega. Ia nyaris dimarahi cucu cantiknya itu. Walau ia rindu dimarahi oleh Terra.
"Tapi, aku sudah lama tak dimarahi adikmu itu," akunya jujur.
"Oh ... grandpa jangan membangunkan singa betina tidur," sahut Gabe memutar mata malas.
Sedang di Indonesia. Kesibukan Dominic dengan perusahaan barunya membuat intensitas kedatangannya ke panti di mana gadis pujaannya berada sedikit menurun. Terlebih Herman juga sering datang ke sana dan seperti menghalangi Dominic mendekati putrinya.
"Duh, gimana sih menaklukan mas Herman ini!" dumalnya kesal.
__ADS_1
"Masa dia nggak mau bermenantu diriku?" lanjutnya lagi dengan nada kesal.
Demian yang tengah datang untuk mengajak ayahnya sedikit tertegun melihat ayahnya galau seperti itu.
"Dad, kau kenapa galau begitu?"
Dominic hanya menghela napas setengah kesal. Tampak wajahnya yang kacau. Demian sampai tak tega melihatnya ayahnya itu.
"Apa ini karena bibu?" pria itu mengangguk.
"Apa bibu tak mencintaimu?"
"Dia mencintaiku, tapi ayahnya itu loh!" gerutu Dominic.
"Memang kenapa dengan ayah?" tanya Jac tiba-tiba.
Pria itu datang dan membawa rantang berisi makanan. Putri tadi menyiapkannya.
"Ayo kita makan siang!" ajaknya kemudian.
Semua masuk ke ruangan Dominic. Demian dan Jac menyusun makanan di meja makan. Dominic sangat menyukai menu ini, sayur asem, ikan asin, sambel terasi, lalapan dan tahu tempe goreng.
"Akhirnya, menantuku masakin juga apa mauku," kekeh pria itu.
Ia makan dengan lahap, tentu tanpa sendok. Pria itu mahir menyuap makanan dengan menggunakan tangannya langsung.
Sementara di panti. Herman datang dan mengecek anak-anaknya terutama anak-anak yang baru saja bergabung.
"Adiba, apa sudah pulang?" tanyanya.
"Belum pak, katanya sih Adiba mencoba ikut lomba hafalan Al-Qur'an," jawab Sri, salah satu pengurus di sana.
"Ajis, Amran, Alim, Ahmad dan Aminah mana?" tanyanya lagi.
"Itu sedang main dengan Tiga eL," jawab Sri lagi.
"Assalamualaikum!" sapanya.
"Wa'alaikumussalam, ayah!" seru semuanya lalu berdiri dan mencium punggung tangan pria itu.
Herman mengusap kepala anak-anak yatim itu penuh kasih sayang. Ia menggendong Aminah dan menyuruh yang lain belajar. Ia pun membawa bayi seusia perusuh itu keluar.
Dinar baru saja pulang bersama Adiba, gadis itu kini bekerja di pesantren sebagai pengajar. Adiba termasuk anak yang ia asuh untuk pelatihan menghapal Al-Qur'an.
"Assalamualaikum!" sahut mereka memberi salam.
"Wa'alaikumussalam!" sahut semua membalas salam.
Adiba berwajah sedih. Herman mengerutkan keningnya.
"Kenapa sayang?" tanyanya setelah gadis kecil itu mencium punggung tangan pria itu.
"Dia gagal di test pertama ayah," jawab Dinar lembut.
Kedatangan Herman meyakinkan jika Dominic pasti tak akan datang ke panti. Hati gadis itu sedih, tetapi sebisa mungkin ia menetralkan rasa sedih itu.
Adiba terisak. Herman iba dan memeluknya, menenangkan gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa, kan baru pertama mencoba. Latihan lagi dan belajar dengan giat, pasti kamu berhasil," nasihat pria itu.
Adiba menghapus air matanya ia mengangguk.
Herman menatap Dinar yang seperti melamun. Pria itu sedikit tak suka dengan apa yang dilamunkan anak gadis angkatnya itu.
__ADS_1
"Dinar!" panggilnya.
"Eh ... iya yah ...!" sahut gadis itu tergagap.
Gadis itu langsung menunduk dengan wajah murung. Herman menghela napas panjang.
"Adiba, bawa adikmu ke dalam. Kau lalu segera ganti baju ya," titah pria itu.
"Baik yah,"
Adiba mengambil Aminah dari gendongan Herman. Ada penolakan dari bayi berusia dua tahun setengah itu. Herman mengecup bayi itu barulah Aminah mau dilepas.
"Kita bicara!" tukas Herman.
Dinar mengikuti ayahnya ke sebuah ruangan kantor utama.
Sementara di benua lain. Sore yang indah membuat delapan remaja tampak asik menikmati jalan-jalan mereka.
"Kean belikan aku ini!" pinta Satrio menunjuk salah satu celana panjang berbahan kulit.
"Kau punya uang sendiri!" tolak Kean sebal.
"Ah ... kau pelit!" sindir Satrio mengatai Kean.
"Aku bilangin Daddy ah ...," ancam remaja itu menyeringai jahil.
"Kau itu!" pekik Kean kesal.
Satrio terkikik penuh kemenangan. Ia mengambil celana yang ia inginkan, lalu mencobanya di kamar pas.
"Eh, kita sembunyi yuk!' bisik Kean pada semua saudaranya.
Sean, Cal, Nai, Arimbi, Al dan Daud mengangguk. Mereka memang usil sesama saudaranya.
Semua pergi meninggalkan Satrio yang mencoba celananya.
"Pas!" pekiknya senang.
Ketika keluar ia tak melihat seluruh saudaranya di sana. Ia kesal bukan main, memilih abai, ia kembali memilih beberapa baju dan celana yang memang ia incar dari tadi.
"Kalau memang tak mau beliin, oteh ... aku bisa beli sendiri!" gumamnya kesal.
"Hai boy," sapa seorang pria.
Satrio menoleh, ia tersenyum.
"Tuan Fernandez?" pria itu tersenyum lebar.
"Apa kau sendirian?" tanya pria itu.
"Tadinya tidak, sekarang iya," jawab remaja tampan itu.
"Apa kau ingin membeli lagi?"
Satrio melihat barang apa saja yang ia beli. Lalu ia menggeleng.
"Ayo, ke kasir, biar aku yang membayar semua belanjaanmu," ujar Fernandez.
Satrio mengucap terima kasih pada pria itu. Usai membayar, pria itu mengajak sang remaja untuk menemaninya Satrio ingin membalas keusilan seluruh saudaranya. Ia pun mengikuti Fernandez.
Hingga tiba-tiba, beberapa pria menyergap remaja itu dengan sapu tangan bius. Satrio pun tak sadarkan diri.
bersambung.
__ADS_1
ah ... mas Satrio!
next?