SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CINTA YANG RUMIT


__ADS_3

Sementara di tempat Arimbi. Gadis itu duduk di kursi penumpang. Reno ada di sisinya sedang dua rekannya di depan, salah satunya menyetir mobil. Pria tampan itu mencuri pandang pada sosok cantik yang memejam. Tampak raut lelah terpancar dari wajah Arimbi.


"Kak Bambang, nanti di Bakso Mang Kusni berhenti ya," pinta gadis itu.


"Baik Nona," sahut Bambang yang menyetir.


Hanya butuh sepulu menit mereka sampai di tukang bakso yang kebetulan penuh.


"Kak, pesenin bakso telor, pake mi putih aja jangan pake micin!" pintanya pada salah satu bodyguard yang mengawal.


Reno turun untuk memesan bakso yang diminta oleh nona mudanya. Pria berparas tampan itu tentu jadi bahan godaan para gadis yang ada di sana.


"Kak Reno, kalo udah pesen ke sini aja!" teriak Arimbi.


Ada nada cemburu di sana. Reno begitu bahagia mendengar nada itu. Bahkan Mang Kusni menggoda pria itu.


"Udah Den, turutin aja pacarnya. Nanti ngambek berabe!"


Reno pun tersenyum kikuk. Pria itu menurut, ia kembali ke mobil. Arimbi berdecak kesal dengan pengawal tampannya itu.


"Kegenitan!" sindirnya pedas.


Ricky dan Bambang hanya diam mengawasi keduanya. Satu mangkuk baso datang. Arimbi menatap tiga pengawalnya.


"Kalian nggak pesan?"


"Nggak Nona," sahut ketiganya kompak..


"Oh ... kasihan sekali kalian, program hidup sehat ... nggak usah sehat-sehat nanti dokter kek aku nganggur tau!" sahutnya.


"Eh ... sambelnya nggak ada ... Mang, sambelnya mana!"


"Oh iya Neng!" sahut Mang Kusni.


Satu mangkuk sambel diberikan. Arimbi mengambil tiga sendok penuh. Hal ini membuat Reno menegurnya.


''Nona, jangan banyak-banyak!"


"Nggak pedes, nggak nampol Kak!" sahut gadis itu.


Dengan santai, gadis itu memakan baksonya. Hanya butuh waktu lima menit, seluruh isi mangkok pindah ke perut gadis itu. Satu gelas es limun juga habis.


"Mang udah nih berapa?' tanya Arimbi.


"Udah dibayar Neng!" ujar pria itu ketika mengambil mangkuknya.


"Makasih ya Kak!" ujar gadis itu pada Reno.


"Sama-sama Nona!"


Mobil bergerak. Dahi Arimbi berkeringat, mulutnya tak berhenti mengecap karena kepedasan. Sungguh Reno ingin mengusap keringat yang membasahi kening nona mudanya. Tangannya begitu gatal terangkat ke atas dan mengusap peluh yang mengalir di pelipis gadis itu. Arimbi refleks menjauhkan kepalanya. Tangan Reno berhenti di udara.


"Kakak mau apa?" tanya gadis itu curiga.


"Itu, ada semut hitam di jilbab," jawab pemuda itu bohong.

__ADS_1


Arimbi langsung mengusap jilbabnya. Gadis itu takut jika semut itu masuk telinganya.


"Udah nggak ada kan?" Reno mengangguk.


Tangannya turun dan ia meruntuki kebodohannya. Arimbi termasuk gadis bar-bar. Ia tak pernah basa-basi dengan apapun tindakannya.


Lain Arimbi lain juga Nai. Gadis itu sedikit kalem. Perjalanan sedikit merayap, ada pohon tumbang di depan sana dan membuat jalan sedikit macet.


"Lapar," keluhnya merengek.


"Nona, di depan ada warung sate. Apa mau mampir? Mumpung kita belum jauh?" tanya Ricky.


"Oke deh!"


Mobil mengambil jalur menepi. Mereka pun akhirnya sampai di sebuah warung sate yang lumayan ramai. Akibat kemacetan panjang, membuat semua memilih berhenti dan makan di sana.


"Minta sate ayam satu porsi sama lontong ya!' pinta gadis itu.


"Dibungkus Neng?" tanya penjual.


"Nggak, makan di sini aja!"


Gadis itu sudah turun dari mobil ketika sampai. Langit ada di sisinya. Ia meminta nona mudanya untuk menunggu saja di mobil.


"Nona di mobil saja. Di sini tidak ada bangku kosong!"


"Kakak-kakak nggak mesen?" tanya Nai.


"Tidak Nona!"


"Emang nggak laper? Udah pesen aja sih!" ujarnya.


Nai akhirnya ke mobil Ricky dan Hendro menemani nona mudanya. Tak lama pesanan datang, mereka makan dengan lahap. Selesai makan Langit membayar makanannya.


"Kak, mestinya aku yang bayar," ujar Nai.


"Tidak masalah Nona!" sahut pria itu.


"Makasih ya,"


"Sama-sama," sahut Langit dengan senyum indah.


Nai mengangguk. Akhirnya pohon tumbang dapat diatasi. Mobil pun sampai rumah dalam waktu lima belas menit. Terra dan Haidar sudah menunggu putrinya dari tadi. Perasaan cemas tentu selalu ada, walau Nai sudah mengatakan jika ada pohon tumbang.


"Mana satenya?" tanya Haidar tiba-tiba.


Nai terbengong, mulutnya terbuka hendak memberi salam. Terra sampai kesal pada suaminya itu.


"Apaan sih Pa!" dumal istrinya.


"Assalamualaikum Ma, Pa! Maaf Nai nggak beli satenya, orang Mama sama papa nggak pesen!"


"Wa'alaikumusalam, udah abaikan Papamu. Ayo masuk!" ajak Terra.


Haidar hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Langit menatap sosok gadis yang telah lama mencuri hatinya itu.

__ADS_1


"Nona Naisya Putri Hovert Pratama!"


"Hacchuu!" Nai bersin. "Alhamdulillah!"


"Yarhamukallah!" sahut Terra.


Nai tersenyum. Sang ibu mengecup kening putrinya lembut begitu juga ayahnya.


"Jangan lupa shalat dulu, baru tidur ya!" perintah Haidar.


"Nai masih belum bisa sholat Papa!" ujar gadis itu.


"Oh ... anak gadis Papa sudah besar," keluh Haidar.


"Jangan cepet-cepet menikah ya Nak!" pintanya lirih.


"Papa masih pengen manjain kamu lama-lama," lanjutnya.


Nai tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Ia juga masih ingin dimanja ayahnya hingga napasnya berhenti.


"Malam Pa, Ma!"


"Nite Baby!"


Nai masuk kamar dan menutup pintu. Terra dan Haidar menghela napas panjang. Sang suami menggenggam erat tangan istrinya.


"Aku belum sanggup Nai diambil pria gagah yang datang melamarnya Ma!"


"Mama juga belum sanggup Pa," sahut Terra lirih.


"Tapi ketika masa itu datang. Kita berdoa agar suami Nai adalah pria baik yang mencintainya dengan tulus ya Pa!"


Haidar mengangguk. Keduanya pun menuju kamar mereka.


Sedang di sebuah kamar yang berbeda. Langit merebahkan dirinya. Ia hanya mengenakan bokser ketat dengan telanjang dada. Tampak bongkahan otot di dada dan perutnya. Terlebih aset masa depannya yang menyembul di sana.


"Aku tak boleh memikirkanmu Nona. Aku takut membuatmu berdosa akibat khayalanku!" gumamnya lirih.


Cuaca cukup panas malam ini. Padahal mesin pendingin ruangan bekerja maksimal. Langit memejamkan mata dan terlelap.


Sementara di tempat lain. Rion tengah menatap ponselnya, ia baru saja menelepon Azizah, bertanya kabar. Ia masih memastikan hatinya, ia takut mengambil langkah salah.


"Apa kau masih mau menungguku Zah?" tanyanya tadi.


"Insyaallah, Mas Baby," jawab gadis itu di seberang telepon.


Rion tersenyum lebar mendengar nama panggilannya. Pemuda itu lalu memutuskan sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari gadis yang dijodohkan dengannya itu.


"Apa nikah aja sekarang ya?" tanyanya bingung.


"Kata Kak Darren, sebagai laki-laki. Nanti tau sendiri kok jika sudah jadi suami," monolognya.


Rion menghela napasnya. Pikirannya satu yakni menurut apa kata semua orang tuanya. Pemuda itu memastikan satu hal, jika Azizah adalah gadis yang cocok untuknya.


Bersambung.

__ADS_1


Nah gitu Ion.


next?


__ADS_2