
Hari yang dinantikan tiba. Herman memilih berbuka puasa bersama anak-anak di pesantren.
Restoran Lastri yang memenuhi makanan yang dipesan oleh Herman, Pablo dan Fabio. Mereka berangkat setelah Ashar. Banyak mobil mewah masuk halaman parkir pesantren.
Semua anak-anak langsung berbaur di sana. Tak ada perbedaan, semua orang tua memang mengajarkan kesederhanaan pada semua anak.
"Ata' Peta!" pekik Chira pada Deta.
Deta sudah kelas enam, bocah itu semakin tampan dan cerdas. Hampir semua anak angkat Bart itu berusia sama paling tua adalah kelas dua SMP. Ambar, Sarlita dan Angga merupakan anak paling tua diantara semua.
"Jadi ibu akan menikah dengan Papa Pablo?' tanya Adiba pada Aisyah.
Perempuan berhijab biru itu mengangguk. Sebuah lesung pipit tercetak di sana menambah manis si empunya wajah.
"Baby ... gendong sini, mau buah ceri nggak?" tawar Hasdi pada Vendra.
"Au ... anah?"
satu tahun itu diangkat oleh bocah dan mengambil buah ceri yang menggantung setelah dicuci, Vendra memakan buah kecil itu.
"Anis ... au ladhi!' pinta bayi tampan itu.
"Ndla yan mbilbil Ata'!' lanjutnya.
Hasdi mengangkat tinggi agar Vendra mengambil buah itu. Bayi itu memekik girang. Beberapa pengawal mengawasi semua anak-anak.
"Baby!" teriak Rosa pada Zaa.
Bayi cantik itu dengan cepat menaiki tiang bendera. Rosa harus melompat cepat mengambil Zaa sebelum naik makin tinggi.
"Tinti!" pekik Zaa marah.
Lastri hanya bisa menahan napas. Sedang Frans tak mau melihat bayinya yang berulah sangat ekstrim itu.
"Putrimu Mas," keluh Lastri.
Gabe mengambil alih Zaa dan menggendongnya. Berbeda dengan kembarannya Nisa yang sangat kalem jika berada di tangan Haidar.
"Baby Zora!" panggil Azlan pada bayi Luisa dan Andoro itu.
"Uuhh ... pa'a syih!" gerutu bayi cantik itu kesal.
Sedang yang lain tampak berbincang dengan kakak-kakak santri.
Herman dan lainnya diminta duduk di ruang utama. Semua akhirnya menyaksikan hari bersejarah di mana dua pengurus dan pemilik pesantren dipinang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Haidar jadi juru bicara di sana.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas semuanya.
"Baiklah, selalu pembawa acara yang mewakili keluarga Pablo dan Fabio, saya Haidar Pratama akan menyampaikan perihal kedatangan kami kemari!" lanjutnya sambil menggendong Nisa.
__ADS_1
Baik Salma dan Aisyah hanya diwakili oleh wakil kepala pesantren yang bernama Astuti, wanita itu ditunjuk sebagai orang tua dari gadis kembar yang memang tak memiliki kerabat yang tinggal di Indonesia karena semua keluarga ada di kota Mekkah, Madinah juga Qatar.
"Jadi kami kesini untuk melamar Ustadzah Salma dan Ustadzah Aisyah sebagai istri dari Fabio dan Pablo," lanjut Haidar lagi. "Untuk lebih jelasnya, saya serahkan pada ayah kami, Herman. Silahkan Ayah!"
"Baik Nak, terima kasih," ujar Herman mengambil alih pembicaraan.
"Jadi begini Nak Salma dan Nak Aisyah," lanjutnya.
"Putra saya Pablo dan Fabio ingin meminang kalian menjadi istri. Bagaimana apa diterima?"
"Saya selaku wakil dari keduanya menyerahkan keputusan pada Nak Salma dan Nak Aisyah," ujar Astuti tersenyum.
"Kami menerima pinangan itu!" jawab kedua gadis itu dengan kepala tertunduk.
"Alhamdulillah!" seru semua orang lega.
"Baiklah ... agar kalian tidak berkhalawat terlalu lama. Kami akan menikahkan kalian secara agama dulu baru disahkan, bagaimana?" tanya Herman lagi.
"Kami bersedia!" jawab kedua gadis itu kompak.
"Baik, karena saya memang tak mau berlama-lama. Persiapkan dua minggu dari sekarang kalian menikah secara agama terlebih dahulu kemudian baru urus semuanya sendiri berdua jadi lebih aman!" ujar Herman lagi tegas.
"Insyaallah Ayah, kamu bersiap dari sekarang!" sahut Salma mewakili adiknya.
Pablo dan Fabio bernapas lega. Dua pria tampan itu sudah mengurus semuanya, data pernikahan. Keduanya sudah menjadi warga negara Indonesia. Pablo dan Fabio tinggal dan bekerja sudah enam belas tahun di Indonesia. Makanya mereka sudah jadi warga negara.
"Keluarga juga akan datang tiga hari lagi Ayah. Ada paman yang bisa menikahkan kami," ujar Salma
"Baik, persiapkan itu semua!" ujar Herman.
Semua menunggu maghrib tiba. Calvin mengumpulkan beberapa anak santri dan qori secara bergantian.
"Bisa tiga puluh juz?" tantang Calvin.
"Bisa Kak!' sahut semua santri.
"Yuk mulai!'
Tak lama lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar dari mulut Calvin. Ayat pembuka, Al-fatihah. Usai Al-fatihah, berlanjut Al-Baqarah.
Salma dan Aisyah sangat antusias melihat pemuda bermata biru yang sudah hafal tiga puluh juz.
"Jadi Nanda Calvin seorang hafidz?' tanya Salma berbinar.
"Alhamdulillah, ustadzah," jawab Puspita tentu dengan nada bangga.
"Semua anak rata-rata hafal tiga puluh juz," lanjutnya.
"Mashaallah tabarakallah!" puji Salma terharu.
"Jarang ada orang kaya yang membuat anak-anaknya jadi seorang hafiz dan hafidzah!" lanjutnya tak percaya.
__ADS_1
"Bukan kami yang mengajari Bu Ustadzah. Anak-anak sendiri yang menginginkan hal itu," jawab Terra kini merendah.
"Mereka merasa tertantang dan menginginkan jadi yang terbaik," lanjutnya.
"Tapi tetap saja jika tak ada dukungan dan nasihat dari orang tua. Mereka semua tak seperti ini!" sahut Aisyah.
Tak lama, Darren maju. Ia hanya melihat jam. Beduk ditabuh, Darren membatalkan puasanya terlebih dahulu. Bayi-bayi yang biasanya ribut ingin buka cepat kali ini mereka tahan hingga buka puasa tiba.
Lalu terdengar adzan dikumandangkan oleh Darren. Anak-anak mengucapkan hamdalah lalu berbuka dengan yang manis.
"Alhamdulillah semua bisa dilewati puasa ini dengan mudah. Semoga diterima oleh Allah aamiin!" ujar Dewi yang diamini semua anak.
Usai berbuka, semua anak mengambil wudhu lalu merapatkan shaf. Kali ini Herman yang jadi imam.
Usai shalat maghrib, mereka melanjutkan makan. Semua tertib dan makan dengan tenang.
"Alhamdulillah. Mereka semua menurut sama kakak-kakaknya ya," ujar Luisa melihat dua anak kembarnya yang tenang.
"Hai, assalamu'alaikum," sapa seroang pemuda pada Maisya.
Gadis itu menoleh, lalu mengangguk. Mulutnya penuh makanan jadi tak bisa menjawab salam dari pemuda itu.
Virgou hendak menyela keduanya, tapi Andoro menahannya.
"Sudah lah, biarkan Baby bersosialisasi!"
"Ck!" Virgou melotot tajam pada Andoro.
Pria itu hanya menghela napas ketika Virgou tetap menyela keduanya. Maisya merasa terselamatkan dengan kedatangan Virgou.
"Halo Nak, siapa namamu?" tanya pria beriris biru itu.
"Nama saya Iqbal Maulana Yusuf putra dari Tuan Imam Yusuf," jawab Iqbal tenang.
"Gomesh!" panggil Virgou.
Pria raksasa itu tentu ikut bersama istri dan anak-anak. Walau mereka berbeda keyakinan. Tetapi Gomesh sudah merasa bagian dari keluarga.
"Cari tau siapa orang tua anak ini!" tunjuk Virgou pada Iqbal.
"Iqbal Maulana Yusuf adalah putra kedua dari pasangan Imam Yusuf dan Zulaikha Adhiaksa," jawab Gomesh tenang.
"Seorang pengusaha intan dari pulau Sulawesi dan tambang nikel," lanjutnya.
"Hmmm!" sahut Virgou mengangguk.
bersambung.
Selamat berbuka puasa Readers ba bowu 😍
next?
__ADS_1