SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CINTA FELIX PADA SARI


__ADS_3

Felix menatap pintu itu dengan pandangan nanar. Pria itu memang belum pandai meyakinkan gadisnya, ia memegang dadanya.


Sebuah debaran terasa di sana. Wajah Sari yang manis menjadi bunga tidurnya dua malam terakhir ini.


"Bagaimana ini, aku tidak mau kehilangan gadis itu. Aku tak ingin dia disambar oleh Langit, Rio, Hendra atau siapapun!" gumamnya panik sendiri.


Herman memandang kesal pada sosok yang berdiri di luar paviliun anak-anak angkatnya. Khasya menatap apa yang dipandang oleh suaminya.


"Mas," panggilnya lembut.


Wanita itu tampak mengelus punggung suaminya.


"Sari sudah besar, ia sudah pantas menikah," ujarnya pelan.


Herman memang posesif pada semua anak-anak angkatnya sama dengan anak kandungnya sendiri. Terra dan Haidar melihat sepasang suami istri itu. Keduanya pun mendekati.


"Ada apa?" tanya Terra.


"Ada laki-laki yang mau mendekati adikmu, Sari!" sahut Herman gusar.


Terra menatap Felix yang berlalu dari villa paling besar setelah Villa utama yang ditempati Terra. Semua anak perempuan ada di sana termasuk Nai, Arimbi, Kaila, Maisya dan Dewi. Sedang para remaja dan anak angkat Herman yang laki-laki di sebelah villa Herman. Lalu villa utama di mana Terra dan keluarga di sana lalu paviliun kecil tempat Frans dan istrinya kemudian tempat Leon dan istrinya baru, Darren, Saf dan tiga anak kembar, Lidya dan Demian, tempat Virgou dan keluarga lalu tempat Gio dan keluarga, vila kecil tempat Jac dan keluarga, ia juga membawa adik ipar dan kedua mertuanya. Villa tempat Gomesh, istri dan tiga anaknya, Budiman dan Gisel juga membawa kedua mertuanya. Lalu di paling akhir paviliun tiga lantai milik para bodyguard.


Satu kawasan villa dengan luas tanah satu hektar setengah itu benar-benar penuh dengan tiga keluarga besar dan empat keluarga kecil dan dua pasang suami istri.


"Felix pacaran sama Sari, adikku?" tanya Terra setengah tak percaya. "Kapan pacarannya?"


"Mereka tidak pacaran sayang," sabar Khasya.


"Lalu apa itu maksud ayah tadi?"


"Felix mengutarakan perasaannya pada Sari, itu saja. Tapi dilihat adikmu menolaknya," sahut Khasya menjawab.


"Awas saja kalo dia berani memainkan perasaan adikku!" ancam Terra sebal.


Haidar dan Khasya hanya bisa menghela napas panjang. Tidak hanya yang kandung saja mereka begitu posesif bahkan dengan saudara angkat juga Terra begitu posesif. Makanya belum ada satupun dari anak angkat Herman yang menikah padahal usia mereka sama dengan Darren dan Lidya.


"Oh ya Yah, Mba Dinar katanya mau pulang setelah tugas mengajar di Kairo?" tanya Haidar mengalihkan semuanya.


"Ah iya, tapi masih lama, katanya bulan Juli mbakdhe mu itu pulang," jawab Herman.


Dinar Zahrain Triatmodjo adalah salah satu anak angkat Herman yang lain. Gadis itu awalnya mengurus anak-anak panti asuhan Khasya setelah wanita itu menikah dan memiliki anak. Seorang yatim-piatu terbaik, lulus kuliah jurusan pendidikan Agama Islam dengan nilai tertinggi yakni 4,0. Bahkan Dinar seorang hafidzah tiga puluh djuz.


"Te kangen. Pokoknya kalo mbadhe datang. Aku minta traktir bakso!" sahut wanita itu antusias.

__ADS_1


Khasya hanya tersenyum kedekatan Terra dan Dinar memang tak terlalu diumbar publik karena memang sifat Dinar yang begitu pemalu dan Terra yang posesif.


Sedang di tempat jaga. Felix duduk lemas, ia menatap menerawang plafon. Budiman tengah menyeruput kopinya.


"Hei ... jangan kebanyakan melamun, ini ngopi dulu!" ujar pria itu lalu menuang kopi pada cangkir kosong.


"Terima kasih ketua," ujarnya pelan.


Wajah lusuh Felix tertangkap oleh Gomesh. Pria raksasa itu duduk di sebelah Felix.


"Kenapa kau?" tanyanya lalu menuang kopinya sendiri.


"Sari," jawab Felix lemah.


Gomesh yang belum tahu tentang hal yang terjadi memandang Budiman bertanya lewat tatapan.


"Dia naksir anak angkat ayah," sahut Budiman.


"Oh ... eh apa ... berani sekali kau!" seru Gomesh takjub.


"Oh ... ayolah ketua ... kau membuatku ngedrop!" sungut Felix putus asa.


"Ayah kan bukan Tuan Bart yang pasti langsung memaksakan putrinya menikah!" sambar Gomesh.


Budiman mengangguk setuju, ia bersyukur jika Gisel, istrinya bukan anak dari Herman Triatmodjo. Ia juga ngeri jika berhadapan dengan pria itu karena Virgou ada di depannya.


"Ketua," cicit pria itu makin ciut.


"Ck ... aku tak mengada-ada. Beruntung dulu Nona Gisel jatuh cinta pada ketua kita ini, kalau tidak ...."


Gomesh menghentikan ucapannya. Budiman malah mengangguk setuju, pria itu memiliki keberanian tingkat tujuh melamar Gisel waktu itu bahkan berani mengajak berkencan walau semua berantakan akibat ulah Rion dan Lidya.


"Memang apa kata Nona Sari padamu?" tanya Budiman akhirnya.


"Sari memintaku untuk kembali menetapkan hati, apakah dia adalah gadis yang kuinginkan," jawab Felix.


"Benar itu. Dia tentu takut kau sia-sia kan!" sambar Gomesh.


"Ck ... diamlah Gomesh!" desis Budiman yang membuat Gomesh mengerucutkan bibirnya sebal.


"Sari bertanya apakah aku mencintainya ..."


"Lalu kau jawab apa?" potong Gomesh cepat.

__ADS_1


Budiman berdecak sebal pada pria yang usianya delapan tahun di bawahnya itu. Gomesh hanya nyengir saja.


"Aku bilang jujur jika belum mencintainya, aku rasa waktu akan membuatku jatuh cinta padanya," jawab Felix.


"Dasar bodoh!" ledek Budiman kesal.


Felix malah merengek, ia butuh solusi atas hatinya yang begitu kacau sekarang. Gomesh terkikik geli dengan bawahannya yang tiba-tiba bucin itu. Tiba-tiba Gio masuk, ia jadi ikut menguping obrolan para ketua, lalu tak lama Dahlan juga ikut bergabung. Sedang lainnya bertugas mengelilingi kawasan.


"Kenapa dia seperti Arsyad yang merengek?" tanya Dahlan lalu menuang kopi dalam cangkirnya.


"Biasa patah hati, barusan ditolak sama Nona Sari," jawab Gomesh.


"Nona Sari anak Tuan Herman?" Budiman mengangguk.


"Kau cari mati Felix!" seloroh Gio dan Dahlan bersamaan.


"Ketua ... tolonglah aku ini!" rengek pria tampan itu.


"Memang setelah kau berkata itu apa kata Nona Sari?" tanya Gio.


"Dia memintaku memantapkan hati, agar tak salah pilih, dia takut aku jatuh cinta pada gadis lain," jawab Felix lemah.


"Lalu sekarang apa yang kau rasakan?" tanya Gio lagi.


"Aku nggak mau kehilangan dia!" rengek Felix membuat keempat pria tertawa.


"Ketua ... tolonglah!" rajuk pria itu lagi putus asa.


Akhirnya baik Gomesh, Budiman, Dahlan dan Gio iba melihat pria bucin itu.


"Aku rasa benar apa yang diminta Nona Sari padamu, Felix. Mantapkan hatimu, tunjukkan jika kau jatuh cinta padanya," saran Dahlan.


"Oh, kau baru saja mengatakan begitu, padahal kau sendiri jomlo!" ledek Budiman sinis.


"Ketua ...,"


"Ah, kau ini ketua. Jangan begitu. Dahlan itu benar. Felix harus menunjukkan jika ia mencintai Nona Sari. Kalau hatinya sudah luluh, apapun rintangan pasti bisa dilewati termasuk Ayah Herman dan Nona Terra," ujar Gomesh membela Dahlan.


Budiman cemberut, ia memang setuju apa kata anak buahnya itu. Gio hanya mengangguk saja.


"Kau tau kau berhadapan dengan siapa, dan Nona Sari adalah gadis paling sempurna menurutku, makanya jodohnya harus lah bukan yang main-main!" timpalnya.


bersambung.

__ADS_1


ayo Felix tunjukkan nyalimu! Seperti Demian berjuang untuk Lidya.


next?


__ADS_2