
"Arrggghhh!" teriak Arfhan.
"Arfhan!' pekik Sky dan Bomesh bersamaan.
Virgou melihat pisau yang hendak melukai Gomesh malah dihalangi oleh Arfhan dan malah menusuk bahu kiri bocah itu.
Mata pria sejuta pesona itu mengelam, ia marah luar biasa. Pria itu hanya sekali bergerak dan ....
Krek! Teriakan mengaung dari mulut pria yang menikam Arfhan. Gomesh terkejut bukan main, sungguh jika pisau itu mengenai dirinya tak akan berpengaruh sama sekali. Tangan pria yang menusuk patah jadi dua bagian. Hanya dalam waktu hitungan detik tempat itu sepi semua preman diangkut oleh pria berpakaian hitam-hitam. Deno dan Ardhan ada diantaranya.
Sedang Gomesh menggendong Arfhan yang menjadi tamengnya. Arfhan terkulai lemas, darah mengalir di tangan Gomesh.
Sky dan Bomesh dibawa Satrio pulang, keduanya tadinya menolak keras mereka ingin bersama temannya.
"Baby, nurut sama Daddy ya!" pinta Virgou.
David ikut mengantar duo petualang cilik itu, sedang Fabio dan Pablo kembali ke perusahaan.
"Dahlan, susuri bibi dari Arfhan!" titah Virgou melalui sambungan telepon.
Dahlan bergerak cepat. Ia dan tim sudah berada di rumah kumuh yang tak terawat tiga anak kecil menangis kelaparan.
"Mamak ... Mamak!" jerit ketiganya.
"Bu, ini ibunya kemana?" tanya Bambang salah satu bodyguard.
"Nggak tau, dari tadi malem belum pulang. Ibunya WTS Pak," jawab salah satu penduduk di sana.
Dahlan dan tim mengambil tiga anak itu dan mengurusnya. Beberapa orang membenahi ruangan agar sedikit layak dan sebagian memasak untuk memberi makan tiga anak malang yang berusia belum satu tahun itu.
"Kita tunggu sampai ibunya pulang!" ujar Dahlan sambil terus menyusuri semua melalui ponsel pintarnya.
Sedang di tempat lain Gomesh terus menggendong Arfhan yang bersimbah darah. Pria raksasa itu baru kali ini berdebar jantungnya. Ia mendekap bocah itu ke dadanya untuk menutupi luka tusuk yang diderita Arfhan.
"Tenanglah Gomesh," pinta Virgou yang juga kalut.
Mereka pun sampai di rumah sakit milik Arimbi. Perempuan yang baru menikah dua minggu lalu itu langsung melakukan prosedur operasi pada Arfhan.
"Papa nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Reno sampai hampir menangis melihat baju ketuanya bersimbah darah.
"Papa nggak apa-apa Baby," ujar pria raksasa itu menenangkan keduanya.
Mereka masih menunggu, salah satu pengawal membawa baju ganti untuk Gomesh.
"Papa harus ganti, nanti Mommy akan khawatir jika melihat baju Papa ada darah banyak," ujar Reno memberi pengertian.
__ADS_1
"Gantilah Gom, aku yang menunggu Arfhan di sini," ujar Virgou.
Tak lama David menyusul bersama Herman dan Haidar. Dua pria itu sampai gemetaran memeluk Virgou.
"Apa benar temannya Sky menjadi tameng Gomesh?" tanya Haidar nyaris tak bersuara.
"Iya, Arfhan tak berpikir dua kali untuk menghalangi laju pisau itu dan mengenai tubuhnya sendiri," jawab Virgou.
"Innalilahi ... ya Allah berani sekali anak itu!" desis Herman takjub.
"Maaf, kami kekurangan darah AB negatif ... apa di sini ada yang bergolongan darah sama?!" teriak dokter keluar dari ruangan.
Virgou berdiri, pria itu berdarah sama dengan Arfhan. Gomesh yang mendengar jika anak laki-laki itu memiliki darah langka yang juga kebetulan sama dengannya ikut menyusul Virgou.
Dua pria mendonorkan darah yang diperlukan rumah sakit.
"Arfhan butuh darah banyak, setidaknya 500cc," jelas dokter yang menangani Arfhan.
Arimbi menangis ketika melihat darah dua ayahnya mengalir di kantung darah. Gadis itu digiring oleh beberapa perawat.
"Sayang, jangan seperti ini!" pinta Reno memeluk istrinya.
Herman merentangkan tangannya. Arimbi langsung berlari ke ayahnya. Haidar ikut memeluknya.
"Kemarilah Nak!" ujar Virgou pada Reno.
Pria sejuta pesona itu memeluk pengawalnya. Ia juga butuh kekuatan setelah mendonorkan darahnya. Reno memapah Virgou dan duduk di kursi panjang depan UGD.
"Pasien masih koma," ujarnya.
Gomesh nyaris limbung jika saja Virgou dan Haidar tak menahan laju pria raksasa itu.
Kini bocah itu terbaring lemah di ranjang paling empuk. Beberapa selang menjalar di tubuhnya. Kantung darah dan infus menggantung. Luka di bahu kanannya sudah dioperasi dan ditutup perban.
Gomesh duduk di sisi bocah laki-laki pemberani itu. Ia mengusap jejak keringat di dahi Arfhan.
"Nak, mestinya kau biarkan pisau itu mengenaiku. Itu tak sebanding dengan apa yang kau rasakan sekarang Nak," ujarnya lirih.
Bunyi ponsel Virgou berdering, Dahlan menelepon pria itu. Ia segera menjauhkan diri dari sana dan mendengarkan apa yang terjadi.
"Tuan, ibu atau bibi dari Arfhan tewas overdosis di klub malam tempat ia bekerja," ujar Dahlan.
"Urus semuanya!" titah Virgou.
"Baik Tuan!" seru Dahlan sigap.
Ponsel terputus, di sana Arfhan tengah berjuang dengan hidupnya. Masa kritis anak laki-laki itu masih diambang kematian.
__ADS_1
"Nak ... tiga adikmu menunggu. Mereka butuh kamu sayang!" ujar Virgou berusaha menyadarkan Arfhan.
Tiit! Bunyi monitor di layar menandakan pergerakan. Haidar langsung memencet tombol.
"Kami mohon keluar ya," pinta dokter.
"Arfhan ... bangun Nak ... tiga adikmu menangis!" teriak Virgou. "Bibimu meninggal dunia Arfhan!"
"Della, Alia, Firman!"
Bocah itu bangun dari komanya. Ternyata sebuah tanggung jawab membuat Arfhan sadar. Kini ketiga bocah itu ada di sisi Arfhan.
"Jadi Bibi sudah meninggal dunia Om?" tanya anak laki-laki itu lirih.
"Sayangnya iya Nak, Bibimu meninggal akibat overdosis," jawab Virgou tak ingin menutupi.
Delia, Alia dan Firman tampak terlelap setelah mendapat asupan susu dan makanan. Delia paling besar berusia dua tahun lalu Firman berusia satu tahun kemudian Alia yang baru berusia delapan bulan. Arfhan mengelus ketiganya penuh kasih sayang.
"Sayang, kamu ikut Daddy ya!" ajak Virgou.
"Tapi takut pamanku mencari mereka dan menyusahkan Om!" tolak Arfhan.
"Jangan khawatir sayang. Pamanmu sudah mendapat hukuman yang setimpal, ia tak akan mengganggu lagi," ujar Virgou mengelus kepala Arfhan.
"Oh ya, sayang ... kenapa kau malah menghalangi laju pisau itu?" tanya Gomesh kini.
"Arfhan nggak mau Om terluka gara-gara orang-orang jahat itu. Mereka teman-teman Paman Jono," jawab Arfhan begitu polos.
"Oh sayang ... terima kasih atas keberanianmu Nak!" ujar Gomesh mencium Arfhan.
Kini bocah itu terlelap bersama tiga adiknya, darah Gomesh dan Virgou cepat meresap ke tubuh kecil Arfhan.
"Biar saya menunggunya ketua!" ujar Deno.
"Makasih Den. Kau jangan merasa bersalah," tepuk Virgou pada pengawalnya itu.
Sampai di rumah Sky dan Bomesh berhadapan dengan ayah mereka. Keduanya menunduk, Rion menghalangi Budiman dan Gomesh dengan melindungi dua adiknya di belakang tubuhnya.
"Baby,"
"Nggak ... mereka tidak salah!" seru Rion membela perbuatan Sky dan Bomesh.
Sedang di lautan lepas delapan pria terkatung-katung di lautan. Salah satunya tampak tangannya di gips.
"Tolong ... tolong kami!" teriak Jono ketakutan ketika ombak tinggi menerjang mereka.
bersambung.
__ADS_1
Ah ... met bersenang-senang sama ikan Jono!
Next?