SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KISAH


__ADS_3

Hari Senin datang. Semua anak yang sekolah sibuk membereskan peralatan sekolah. Karina dan keluarga ternyata sudah memiliki mansion yang sama besar dengan milik ayahnya dulu.


Zhein Wijaya memberi semua harta yang mestinya miliknya kepada semua keluarga. Pria itu mengikuti saran dari Virgou. Selama ia kembali pada Karina dan Raka yang menjadi CEO perusahaan mendiang ayahnya. Semua yang mengaku keluarga menuntut dan meminta Raka dilengserkan.


Raffhan tadinya sempat menggantikan sang kakak. Namun, rumor autis sang kakak membuat banyak menyangka Raffhan juga pernah mengidap autis. Membuat semua pemegang saham menolak kepemimpinan Raffhan.


"Mas ngelamunin apa?" Karina mendekati suaminya.


Zhein menatap sang istri yang tetap setia padanya..Padahal mereka nyaris bercerai akibat adu domba para ipar yang mengatakan hal yang tak pernah terjadi.


Satu titik bening jatuh dari sudut mata pria itu. Karina langsung tau apa yang dipikirkan sang suami. Ia memeluk Zhein erat.


"Sudahlah ... jangan ingat lagi," ujarnya lirih.


"Aku malu denganmu sayang. Sungguh aku malu," bisik Zhein yang juga memeluk istrinya.


Kanya melihat itu, Zheinra pergi ke sekolah, sedang Raffhan pergi bekerja bersama kakaknya. Bram juga sudah pergi setelah selesai sarapan tadi.


"Sayang," panggil Kanya.


Sepasang suami istri itu mengurai pelukannya. Kanya menangkap jejak basah yang disembunyikan keduanya.


"Sini sama Mama. Ayo cerita!" ajak Kanya lalu menyeret dua manusia itu ke ruang tengahnya.


Mereka duduk di dan Kanya langsung meminta Karina menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku malu sama keluarga Terra ma," ujar Zhein lirih.


"Secara notabene. Keluargaku juga sama besar dengan keluarga Terra. Tetapi, semua tak mengenali satu dan lainnya. Setiap Papa adakan pertemuan dulu. Yang kami pikirkan adalah memasang gaya kami sebagai jet set," ujar Zhein mulai bercerita.


"Setelah pertemuan terakhir kita di rumah ayah waktu itu. Dewinta dan Setya sangat tidak nyaman jika berkumpul dengan saudara seumuran mereka. Terlebih Setya yang baru keluar dari truamanya waktu itu," lanjutnya.


"Kecelakaan Mira, juga dikait-kaitkan dengan Raka yang dulu sempat autis. Padahal jelas-jelas yang salah adalah penabrak Raka ... hiks ... hiks, mereka jahat Ma ... mengatai anakku gila," Zhein mulai terisak.


Kanya menutup mulutnya. Ia sangat kesal dengan keluarga menantunya itu. Namun Kanya sadar, jika ia lah yang bersalah karena tidak mengobati Raka secara benar dulunya.


"Andai Mama dulu juga tidak malu mengobati Raka ...."


"Ma ... please ... aku malah bahagia karena Mama tidak mengobati Raka. Aku bisa kembali pada Karina, dan aku tidak menyesal sama sekali meninggalkan semua keluargaku yang kemaruk itu!" sahut Zhein meyakinkan mertuanya.


"Aku hanya malu dengan keluarga Dougher Young dan Triatmodjo. Mereka adalah pebisnis yang sangat terkenal bahkan lebih terkenal dari Papa. Tapi lihat kemarin?" Zhein sampai terengah saat berkata-kata.


"Mereka saling sindir, tapi layaknya sindiran antar saudara. Bagaimana Terra begitu disayangi di sana. Bahkan anak-anak angkat yang banyak itu ...."


Zhein menghentikan ucapannya. Pria itu malu luar biasa. Setelah dua tahun Raka berhasil mengepak sayap tinggi-tinggi, ada beberapa saudara datang dengan wajah tanpa bersalah.

__ADS_1


"Raka cucu mama terlalu baik hati. Untung ada Raffhan yang jadi pelindung Raka sekarang," ujar Karina kini menimpali.


"Kenapa lagi, apa ada orang yang tiba-tiba datang dan mengatakan sebenarnya mereka kemarin tidak ingin memojokkan kalian, begitu?" terka Kanya yang langsung diberi anggukan dua anak dan menantunya membenarkan perkataan sang ibu.


"Cis ... tak tau malu!" umpat Kanya kemudian.


Zhein terkekeh mendengarnya. Ia kini menyandar di bahu ibu mertuanya dengan manja. Setelah kematian ibunya lalu disusul sang ayah. Semua perusahaan dan keluarga jadi kacau balau. Terutama keluarga Nugie Wijaya yang banyak menghasut bahkan mengadu domba.


"Aku sudah lama tak bermanja sama Mama," ujar Karina.


"Sudah ... sekarang kau bermanja dengan mama untuk seterusnya, oke!" sahut Kanya mengecup pucuk kepala sang putri.


"Ayo ... kita ke mansion Ayah Herman," ajak Kanya. "Semua anak sekarang di sana!"


Kanya, Karina dan Zhein pun pergi ke mansion Herman. Tak ada yang berubah hanya kini anak yang tambah banyak saja. Dinar membawa tiga putranya. Sari menitipkan putrinya dan kini berada di tangan Khasya. Sedang Alia dan Firman juga Ari dan Aminah tengah di dudukkan di kursi khususnya.


"Assalamualaikum!' salam Karina.


"Wa'alaikumusalam ... ah ... akhirnya kalian datang juga!" ujar Khasya.


Wanita itu memberikan Baby Xiera pada Karina


"Mommy, ini Baby Prajna Narayna Lexiera anak Felix dan Sari," ujar Khasya memperkenalkan bayi tiga bulan itu.


"Masyaallah ... cantik sekali," puji Karina.


"Uuuh ... mereka cantik-cantik dan tampan sekali!" puji Zhein gemas.


Arsh datang dengan wajah galaknya. Bayi itu seperti mencurigai dua orang yang baru saja ia temui itu.


"Mama ... mi pasa?" tanyanya sambil menunjuk dua orang yang menyentuh semua adik-adiknya.


"Tot lani-lani edan dede atuh!" lanjutnya begitu sengit.


Karina dan Zhein menganga, sedang Kanya tentu sangat gemas dengan bayi galak nan tampan itu.


"Hei kau Virgou kedua, sini kau!" panggilnya gemas.


"Atuh tan ildo ... pasa Ildo?" tanya Arsh sengit.


"Virgou itu Daddy sayang," sahut Puspita sedikit keras karena ia ada di ruang makan.


"Oh ... ama Addy Ildo?" tanya bayi tampan itu dengan mata bulatnya.


"Iya sayang, nama Daddy yang galak kek monster itu Virgou," sahut Karina.

__ADS_1


"Addy ait ... ndat alat!" pekik Arsh tak terima daddynya dikatai galak.


"Apa katanya?" tanya Zhein sangat gemas dengan bahasa yang digunakan Arsh.


Semua anak bayi berkumpul, mereka menatap dua orang yang baru saja datang di kehidupan mereka. Zhein dan Karina layaknya terdakwa yang tengah disidang. Semua anak melipat tangannya ketika menatap dua orang dewasa itu.


"Oh ... zadhi imi Ata'na Papa Idal?" tanya Harun bayi paling besar di sana.


"Iya Baby, Mama adalah kakaknya Papa kalian," jawab Karina geregetan.


"Ck ... kenapa aku jadi tertuduh di sini!" sungut Zhein yang gemas sendiri terlebih melihat netra polos para bayi yang menatapnya seperti menyelidik.


"Kamu masih bayi waktu Mama ke sini," ujar Karina pada Harun.


"Beunel dithu Mom?" tanya Harun pada Puspita sang ibu.


'Iya sayang, kamu baru lahir,"


"Oh beudithu ... Mama Talina eundat mawu bunya padet payi ladhi?" tanya Harun membuat semua orang shock termasuk Zhein.


"Mama Kar udah tua ... mana bisa hamil lagi!" jawab Karina gemas dengan Harun memanggil namanya itu.


"Nini Pastli Pisa bunya padet payi!' celetuk Aminah.


Lastri yang disebut namanya itu mengangguk membenarkan. Ia juga seusia Karina mungkin hanya tua Karina dua tahun. Zhein langsung menatap istrinya. Karina menggeleng. Wanita itu memilih ikut memasak bersama para ibu yang lain.


"Sayang," rengek Zhein.


"Nggak mau!" tolak Karina.


"Ma ...," Zhein mengadu pada mertuanya.


"Sayang usia Karina sudah cukup," jelas Kanya.


Zhein akhirnya mengerti walau ia sangat berharap ada bayi lagi dari perut istrinya.


"Mereka juga adalah anak-anakmu," ujar Kanya memperlihatkan semua bayi yang masih asik terlelap sambil minum susu dalam botolnya.


bersambung.


Ah ...


maaf ya keknya satu dulu. Othor lagi banyak pikiran.


Ba bowu Readers ❤️😍😍

__ADS_1


next?


__ADS_2