
Panti sibuk beberapa anak yatim membantu ibu panti mengatur beberapa meja dan kursi. Agar indah Azizah membeli beberapa pot bunga untuk ditaruh di teras dan pojok ruangan. Gadis itu memilih memesan makanan di banding memasak. Ia hanya membuat pastel dan juga pangsit goreng kesukaan anak-anak.
"Semua sudah diatur di meja dihidangkan secara prasmanan," ujar salah satu ibu panti.
"Makasih ya Bu!" sahut Azizah.
Semua anak memakai pakaian terbaik mereka gadis itu membelikan semua bajunya. Sembilan adiknya juga sudah rapi. Gadis itu diberi kabar jika rombongan keluarga sudah dalam perjalanan.
Azizah duduk dengan jantung berdebar kencang. Tangannya berkeringat, ia cemas lalu menatap seluruh adiknya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" gumamnya lirih.
Azizah mengenakan gamis warna coklat tanah dengan hijab warna hitam. Gadis itu begitu cantik hari ini. Tak lama mobil-mobil berhenti terparkir di halaman panti.
Para ibu pengurus panti menyambut mereka. Mereka turun dengan kemeja untuk para pria dan tunik untuk para wanita. Semua bermotif batik Megamendung warna marun.
"Assalamualaikum!" sahut Bart memberi salam.
"Wa'alaikumusalam, mari-mari masuk!" ajak para ibu pengurus.
Semua masuk, para perusuh langsung menyerbu dengan riuh.
"Alun pasut!"
"Palyam judha!"
Adiba dan Ajis menuntun semua perusuh duduk di atas karpet tebal. Semua duduk di sana. Azizah berada di sisi Herman dan Khasya. Sepasang suami istri itu mengatakan diri jika mereka adalah orang tua dari gadis cantik ini.
Dinar bersama suaminya yang masih mabuk dan lemas. Aminah dan Lana iba dengan pria itu.
"Daddy, mau minum?" tawar Aminah perhatian.
"Iya Daddy, ail hangat mungkin?" sahut Lana.
"Tidak terima kasih sayang," ujar pria itu terharu akan perhatian dua balita cantik itu.
Keduanya duduk dipangkuan Dominic dan diikuti oleh Al dan El Bara. Sambil mencium gemas bayi-bayi lucu itu mereka menyimak para orang tua yang sudah bersiap melamar gadis cantik yang duduk manis diapit oleh Herman dan Khasya.
"Seperti rencana yang telah kami katakan padamu kemarin, Azizah. Jika kami ke sini adalah untuk melamar kamu sebagai istri dari putra kami Rion!" ujar Haidar membuka suara.
"Kami selaku orang tua dari Azizah menyerahkan semua jawaban pada putri kami!" sahut Herman.
"Bagaimana, Nak. Apa kamu bersedia?" tanyanya.
Azizah memejamkan mata menenangkan hatinya. Lalu ia menatap sembilan adiknya di sana terutama pada Adiba dan Ajis. Sedang, Amran, Alim, Ahmad dan Aminah, Lana, Leno dan Lino mereka belum mengerti dengan semuanya.
"Saya memiliki sembilan adik yang mesti saya tanggung. Mereka semua masih kecil-kecil untuk saya tinggal begitu saja. Saya adalah sosok orang tua yang selama ini menopang hidup mereka. Jika saya menikah, apa saya masih bisa menafkahi adik saya dan memberinya tempat tinggal bersama saya?"
Azizah butuh kepastian. Gadis itu tak mau karena cinta membuatnya menelantarkan semua adik-adiknya.
__ADS_1
"Aku yang akan menanggung semua itu Azizah!" sahut Rion langsung.
"Aku sudah merencanakan semuanya jika memang kita berjodoh," lanjutnya lantang.
Darren dan Lidya terharu. Adik bungsunya sudah akan melangkah menuju jenjang yang lebih tinggi di tingkat kehidupan yakni rumah tangga.
Terra sibuk menghapus air matanya. Ia mengingat sosok bayi montok yang tak pernah berhenti membuat ulah. Mengganggu kakaknya, celotehan yang lucu, raja pendongeng, raja para perusuh dan rajanya para bayi.
"Sayang ... putra kita sudah besar sekarang," cicit Haidar dengan air mata berderai.
Virgou hanya menatap Rion yang semakin tampan. Bayi yang selalu berseteru dengannya, bayi kecil yang memiliki kekuatan tersembunyi. Ia sangat ingat lemparan Rion pada kepala Meita ketika melindungi Kakaknya. Bagaimana Rion memarahi semua orang jika ada yang melukai ibunya.
"Putraku sudah besar!" cicitnya lirih.
"Bagaimana Azizah. Baby bersedia mengambil semua tanggung jawab itu. Jadi apa kau bersedia menjadi istri dari Baby ... maksud ku Rion?" tanya David.
Gabe, istri dan mertuanya ikut duduk menanti jawaban gadis cantik berhijab hitam itu.
"Bismillahirrahmanirrahim ... Azizah bersedia menjadi istri dari Mas Baby ... eum ... maksud saya Mas Rion," jawab gadis itu dengan semburat merah di pipinya.
Semua mengucap syukur. Herman langsung menentukan tanggal pernikahan untuk keduanya. Azizah ingin tepat di usianya yang ke dua puluh baru ia menikah. Bertanda masih lima bulan lagi.
"Oh ya, dua hari lagi juga hari ulang tahunnya Rion yang ke dua puluh dua. Bagaimana jika kita pergi ke Taman Safari?!" ajak Bram.
"Mawu!" teriak para perusuh.
"Pakai bus besar ya!" sahut Demian.
"Iya, kita data semua yang ikut oke!" ujar Bram.
"Pokoknya Ion mesti sama calon istri ya!" celetuk bayi besar itu.
"Tidak boleh!" sahut semua kompak.
Rion mengerucutkan bibirnya. Padahal ia yakin dulu para orang tua pacaran tidak ada yang melarang mereka berdua-duaan.
"Papa Mama dulu pacaran nggak ada yang larang!" gerutunya kesal.
"Baby ... Mama pacaran di depan kalian dan nggak aneh-aneh!" sahut Terra sesekali terisak.
"Pangkuan itu nggak aneh emangnya?" ingat Rion. "Ion sama Kak Iya kan dulu sengaja langsung ikut dipangku!"
"Eh ... Iya ingat itu!" sahut ibu dari Al Bara dan El Bara.
"Mama juga cium bibir Papa di mobil!" sahut Rion.
Terra dan Haidar tak bisa berkutik. Herman berdecak kesal terlebih Virgou. Ternyata mata suci putra mereka sudah terkontaminasi sejak dini oleh kedua orang tua mereka.
"Ck ... kalian ternyata!" decak Virgou.
__ADS_1
"Jangan ditiru yang tidak baik Baby!" sahut Herman sebal pada ponakannya yang ternyata centil itu.
"Ih ... kok pada salahin Mama sih. Emang Ayah sama Daddy nggak ciuman dulunya sebelum menikah!" sahut Darren membela ibunya.
Kini baik Virgou dan Herman diam. Mereka cemberut dengan perkataan
"Astaga, aku kalah telak!" sungut Virgou.
"Sudah biarkan mereka ada dalam satu bus!" putus Darren yang membuat Rion tersenyum senang.
"Tapi duduknya terpisah ya!" lanjutnya sambil menyeringai jahil.
"Ah ... Kakak ... Ion mau cium Azizah untuk pertama kalinya!"
"Baby!" teriak semua orang dewasa.
Sementara itu di sebuah rumah. Sekumpulan orang saling berdebat. Semua harta sudah habis dijual. Mereka akan nyaris gelandangan.
"Ini nih kalau makan harta anak yatim!" sindir salah satu wanita.
"Jangan sok suci! Seperti kau tak ikut menikmatinya saja!" sahut salah satu balas menyindir.
"Ini kenapa begini. Maksud kita mengusir Azizah dan enam adiknya adalah menguasai harta anak itu! Kenapa semua jatuh di pihak pegadaian!?" tanya pria paling tua.
"Loh yang menganggunkan ini ke pihak pegadaian siapa?" tanya pria yang lainnya. "Kan Abang sendiri yang agunkan!"
"Kita yang agunkan, kalian setuju akan itu semua!" teriak pria itu tak terima.
"Kita tak mampu bayar pokok hutang. Mau tak mau rumah dan tanah juga kebun milik Bang Sueb terpaksa kita serahkan dengan uang pinalti tiga ratus juta," sahut pria lainnya.
"Bang Handi ... Bang Tohir, Bang Razak, Bang Ahid. lihat ini!" teriak Ninit istri Ahid.
"Apaan?"
"Ini ... Azizah sudah jadi orang sukses!" pekik wanita itu.
"Sukses dari mana. Sekolah cuma SMAK saja," sahut Rokayah istri Handi mencibir.
Ninit meletakkan satu majalah bisnis ke atas meja. Wajah Azizah ada di sana. Walau gadis itu serius menatap laya komputer dan semakin cantik di foto tersebut, mereka semua mengenali gadis itu.
"Iya ini Azizah!" seru Handi seperti mendapat durian runtuh.
Bersambung.
Weh ... kalian mau ngapain?
Maaf readers ... othor cuma satu up nya. Lagi lemes banget, minta doanya ya makasih ... ba bowu 😍❤️❤️
nex??
__ADS_1