SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
AKHIR BUNGA MAISYA


__ADS_3

Maisya sosok gadis yang manis. Rambut hitam legam sama dengan iris matanya. Ia mirip dengan saudara kembarnya yang lahir lebih dulu, Affhan.


Gadis itu diapit oleh dua saudaranya yang posesif seperti ayah-ayahnya. Dimas dan Affhan menunjukkan taringnya jika ada lelaki mendekati Mai.


"Ini aaa!" Dimas menyuapkan suapan terakhir ke mulut Maisya.


Gadis itu membuka lebar mulutnya. Ia memang semanja itu pada pamannya. Dimas juga menyuapkan pada Affhan. Dua remaja yang hari ini berulang tahun ke tujuh belas.


"Sudah!" ujar Dimas.


Baik Mai dan Affhan mengangguk. Dimas memang memanjakan keduanya. Karena memang mereka seumuran. Tetapi posisi kerabat, Dimas adalah anak Herman yang notabene adalah paman dari Terra. Putra-putri Herman adalah adik sepupu Terra. Maka semua anak dan keponakan Terra memanggil Satrio, Arimbi, Dimas, Dewa dan Dewi adalah Pa'lek dan Bu'lek.


"Mau nambah nggak?" tawar Dimas lagi.


"Rendangnya kurang Pa'lek," jawab Mai.


"Astaga Mai, kamu udah nambah loh!' peringat Affhan.


"Nambah juga berdua sama kamu!" sengit Mai tentu tidak mau disalahkan.


"Eh ... kok malah ribut!" sela Dimas.


"Mau nambah nggak?" tanyanya lalu Affhan dan Mai menggeleng.


Akhirnya ketiganya kembali ke ruang kerja mereka. Rando juga datang setelah makan siang di rumahnya. Pria itu memang sebucin itu pada sang istri. Terlebih kini Ia menanti anak ketiga.


"Papa!" Rando tersenyum.


Ketiga atasannya memang sedekat itu. Terlebih Khasya meminta Rando untuk menjaga ketiga anaknya.


"Paket!" seorang kurir datang membawa satu buket bunga yang sangat cantik. Semua menoleh.


"Dengan Nona Maisya Dougher Young?!"


"Saya!" sahut Mai tersenyum.


Gadis itu membubuhkan tandatangan lalu sang kurir hendak memfotonya. Dimas sengaja menaikan tangan Maisya hingga ketutup buket agar sang kurir tidak mencetak gambar wajah keponakannya itu.


"Makasih!" sang kurir hanya bisa menghela napas.


Mai senang dengan buket itu. Wajahnya sampai memerah karena begitu bahagia. Sebenarnya baik Dimas dan Affhan mulai kesal. Dua laki-laki itu ingin sekali mencopoti kuntum bunga agar habis.


"Mai!" peringat Dimas.


"Pa'lek cuma kasih peringatan aja ya!" lanjutnya.


"Mai simpen di meja kerja Mai, Pa'lek!" janji gadis itu.


Rando menahan dua tuan mudanya. Ia tentu iba melihat Mai yang bahagia.


"Sudah Tuan,"


Akhirnya mereka naik ke tempat bangunan paling tinggi. Nai meletakkan bunga di pot. Ia membaca kartu pemberi bunga.


"Happy sweet seventeen dearest. ❤️ Jeremy Renner.


Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat siapa nama pemberi bunga. Gadis itu akhirnya mengendikan bahu. Dibuangnya kartu nama itu dan tersenyum melihat bunga indah itu.


Sore menjelang, semua pekerjaan sudah selesai. Dimas menutup laporan dan menyimpannya di brankas. Rando juga sudah selesai dari tadi.

__ADS_1


"Tuan, PT Renner meminta pembenahan dipercepat!" tiba-tiba seorang gadis mendatangi Dimas dan Rando.


"Apa?"


"Tuan Renner meminta kita mempercepat perhitungan. Beliau bersedia membayar tiga kali pinalti!" sambung Sisi.


"Tolak! Aku sudah bilang, perhitungan tidak bisa dipercepat. Walau ia mampu membayar tiga kali lipat pinalti!" tolak Rando cepat.


"Tuan Renner juga bilang pihak audit yang meminta dipercepat karena akan diadakan laporan triwulan!"


Semua melihat tanggal. Mereka lupa jika bulan februari kemarin itu hanya dua puluh delapan hari.


"Sepertinya harus lembur Pa," sahut Dimas.


Rando menghela napas. Pria itu mengangguk. Tak butuh waktu lama, mereka ada di sebuah ruangan.


Sebagai CEO perusahaan, Jeremy datang untuk memastikan jika memang perhitungannya tidak salah. Tetapi, para audit itu yang mencari-cari kesalahan.


Maisya yang menghitung. Gadis itu hanya beberapa kali menggunakan kalkulator. Itu pun jika pihak audit yang tak percaya hitungan Maisya.


Virgou datang bersama Gomesh. Ia ingin membawa tiga remaja yang berulang tahun ke sebuah restoran miliknya. Semua keluarga telah menunggu.


"Jadi atasan kalian masih rapat karena jadwal dipercepat?" tanya Virgou.


"Benar Tuan," jawab salah satu karyawan.


Dua pria masuk lift, hanya butuh waktu lima menit sampai di lantai paling atas. Pria itu mengecek satu ruangan yang bertulis "Don't Distrubt!"


"Tuan!" Gomesh membuka pintu ruang kerja Maisya.


"Apa?" tanya Virgou.


"Ck! Apaan sih!" dumal pria sejuta pesona itu kesal.


Virgou hendak membuka pintu ruang kerja milik Dimas. Ia berhenti.


"Apa katamu?"


"Buket bunga," jawab Gomesh bodoh.


Virgou berjalan menuju ruang kerja putrinya. Di sebuah pot kristal terdapat buket bunga cantik. Pria itu langsung masuk dan memeriksa. Tentu saja tidak ada kartu nama pengirim karena Maisya sudah membuangnya.


"Nggak ada yang ngirim?" tanya Virgou curiga.


Pria itu menoleh bak sampah. Satu kertas kecil warna hitam dengan tulisan dari emas. Pria itu memungutnya.


"Cari tau siapa itu Jerami sapi!" perintah Virgou.


"Jeram ... siapa Tuan?" tanya Gomesh yang hendak mengetik bravesmart ponselnya.


"Jeremy Renner!' jawab Virgou berdecak terlebih dahulu.


"Jeremy Renner adalah pengusaha muda berbakat. Perusahaannya menembus 2 juta dolar hanya dalam jangka tiga tahun selama berdiri!' lapei Gomesh kagum.


"Ck!' Virgou berdecak sambil menatap kesal pada Gomesh.


"Eh ... apa dia mau menggoda putriku?"


"Kamu nanya?" sindir Virgou bergaya kalimat viral itu.

__ADS_1


"Nanat sisilan!' umpat Gomesh kesal.


Virgou membuang buket bunga ke tong sampah. Hal itu bersamaan dengan kedatangan Maisya.


Gadis itu keluar bersama dua saudaranya. Melihat Gomesh yang ada di luar ruangannya. Membuatnya tersenyum.


"Daddy?"


Mata Virgou yang garang membuat gadis itu harus menahan kesedihannya. Maisya memang beda dari saudara polos lainnya. Gadis itu sangat manis dan lembut walau kadang suka keluar sifat bar-bar nya.


"Kenapa. Kau keberatan?" Maisya menggeleng cepat.


Virgou melangkah keluar. Jeremy tentu tidak bisa melirik gadis idamannya. Perhitungan gadis itu luar biasa. Maisya membuktikan jika hitungan pemilik dari PT Renner grup tidak salah sama sekali.


Dimas dan Affhan memandang horor pada pria tampan itu. Semua keluar bangunan tingkat tiga, menaiki mobil masing-masing dalam diam.


Maisya membuang mukanya melihat jendela. Deretan gedung-gedung tinggi menarik perhatian gadis itu.


Tiga remaja ada di mobil MPV Virgou. Semua pengawal berada di mobil satunya. Virgou tau jika Maisya sedih karena ia telah membuang buket bunganya.


Ketika sampai di sebuah restoran. Ketiganya disambut tarian hula-hula dari perusuh. Semua tersenyum termasuk Maisya.


Akhirnya kesedihan gadis itu hilang bersama gelak tawa semua saudaranya. Virgou menghapus cepat air matanya.


"Sayang?" panggil Puspita.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" lanjutnya bertanya.


"Aku telah membuat putriku sedih hari ini," jawab pria beriris biru itu.


"Apa? Maisya nampak bahagia sayang?"


Puspita melihat senyum putrinya yang lebar. Bahkan anak gadisnya itu juga tak kalah usil dengan saudaranya.


"Aku membuang buket bunga cantik dari salah satu penggemarnya," jelas Virgou.


Puspita terdiam, ia menatap suaminya. Baru kali ini ia melihat sang suami merasa bersalah. Tetapi, sebagai ayah. Virgou ingin putrinya aman dan tidak ada yang menyakitinya.


"Sayang," Puspita hanya bisa menenangkan sang suami dengan memeluknya.


"Barakallah fii umrik, Dimas, Affhan dan Maisya!" seru Bart.


Pria itu menghadiahkan banyak hadiah. Bahkan buket bunga yang tak kalah cantik. Senyum Maisya tambah lebar menerima buket itu.


"Makasih Buyut!" ia mencium pipi Bart.


Rona merah kembali menyeruak di pipi Maisya. Virgou tertegun, kini ia sadar. Bukan pemberi yang diinginkan gadis itu. Tetapi bunga cantik yang membuatnya bahagia.


"Gomesh!"


"Saya Tuan!"


"Jadwalkan untuk Baby Mai mendapat buket setiap dua hari sekali dariku!" perintahnya.


"Baik Tuan!" Gomesh membungkuk hormat.


Bersambung.


Happy sweet seventeen Dimas, Affhan, Maisya.

__ADS_1


next!


__ADS_2