SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CINTA BERSEMI


__ADS_3

Acara berlangsung meriah. Banyak anak angkat Bart ikut andil memeriahkan acara. Arsh dan para bayi heboh, mereka semua ingin tampil di panggung.


"Ipu tulu yan syantit ... poleh ya Syasyad peumpeulsempahtan ladhu!" pinta Arsyad pada salah satu guru di sana.


Semua perusuh paling junior menatap dengan mata bulat dan penuh pengharapan. Guru itu menoleh pada ketua yayasan. Salmah mengangguk, tentu saja gadis itu senang dengan para bayi pemberani itu.


Semua bayi usia belum satu tahun naik ke panggung berikut kakak mereka. Perusuh senior memberi semangat pada adik-adiknya. Adiba membantu mereka bersama adik-adiknya.


Ajis menggandeng Aaima dan Fatih. Dua bayi itu masih malu-malu, Fathiyya sudah berjoged padahal musik belum berbunyi.


"Amran, Alim, Ahmad maju mainkan rebana kalian!" perintah Adiba.


Keempat bocah itu pun maju. Lana, Leno dan Lino juga maju mereka memegang alat musik lain.


Bunyi tabuhan rebana terdengar, semua bayi heboh. Senyum lebar tercetak di semua undangan.


"Allahuma sholi ala Muhammad ya Robbi sholi alaihi wasalim ... Allahuma sholi ala Muhammad ...."


Adiba mengajarkan lagu shalawat pada adik-adiknya. Mereka mengikuti. Semua berhenti beraksi ketika panitia membagikan kotak makanan.


"Ata' Alsh papal au matan!" pekik Arsh.


Kelakuan para perusuh tentu membuat semua orang tua sedikit malu. Mereka orang berpunya, tapi masih ingin kotak makan yang dibagikan.


"Sepertinya kita harus mengajarkan soal ini pada mereka," ujar Dinar pada sang suami.


"Mereka menganggap diri mereka sama dengan semua. Apa yang kita katakan pada mereka?" tanya Dominic bingung.


Dinar menghela napas. Pandangan semua orang di ruangan menatap keluarga besar itu. Dinar memberi kode pada semua ibu agar memberi kotak pada anak-anak mereka. Tentu saja, baik Khasya, Seruni, Gisel, Rahma, Layla bahkan Maria juga ikut karena semua anaknya mau ikut. Mereka paham dengan kode Dinar, kecuali Terra.


"Mumi eundat matan?" tanya Fathiyya pada Rahma.


"Nggak sayang, buat kamu aja," jawab Rahma.


Perempuan itu menyuapi Fathiyya, putranya baru sembilan bulan. Meghan tentu belum boleh makan berat. Bayi itu memakan makanannya, Dahlan menyuapi putranya itu.


"Persembahan terakhir diperuntukkan oleh Adiba!"


Semua bertepuk tangan riuh. Satrio paling semangat diantara semuanya. Khasya tentu memperingati sang putra.


"Maaf Bunda," bisik Satrio malu.


"Yaa Man Shollaita Bikullil Anbiya' ...," suara merdu Adiba mengalun, gadis itu memetik gitar..


Adiba menyanyikan lagu terbaru milik Maher Zain. Rahmatul Lil alameen. Tentu saja semua anak hapal lagu itu. Banyak yang turut serta mengikuti tembang merdu itu.


"Yaa man fii qolbika Rohmatun linnas,"


"Ya man allafta quluuban bil Islam."


Acara pun selesai, semua hadirin saling bersalaman satu dan lainnya. Mereka mengitari ruangan tersebut. Ketua yayasan kembar merekahkan senyum mereka. Pablo menatap Fatimah, mata hijaunya menembus iris coklat terang di sana. Seperti slow motion, waktu seakan berjalan lambat. Angin meniup hingga membelai rambut Pablo yang sedikit panjang. Hijab Fatimah pun ikut bergerak seiring angin yang berhembus.

__ADS_1


Deg! Deg! Deg! Bunyi genderang di hati mereka seakan mengalahkan riuhnya suasana.


El Bara tampak kesal karena Pablo berdiri terlalu lama. Bayi itu menarik celana pria itu.


"Papa ... sepetan!"


Waktu kembali normal. Pablo dan Fatimah malu bukan main. El Bara digendong oleh Rion, bayi itu mendumal dengan bahasanya sendiri.


Setelah Pablo, Fabio menatap Salmah. Netra pekat pria itu mampu menarik sepasang mata coklat gelap milik sang gadis. Salmah dan Fatimah memang kembar identik. Tetapi warna mata keduanya berbeda, itulah yang membedakannya.


"Saya Fabio Cannavaro, usia tiga puluh enam tahun. Sudah punya rumah dan masa depan. Insyaallah, bisa jadi imam!'


"Ma-maksudnya?" Salmah tentu tersipu malu dengan perkataan pria tampan di depannya.


Fabio harus segera menyingkir. Banyak orang yang hendak bersalaman dengan kepala sekolah cantik itu.


Fabio menatap Salmah, Pablo memandang rekan kerjanya. Ia menepuk bahu Fabio pelan.


'Kita terlambat," ujarnya lirih.


Adiba baru memberitahu jika dua kepala sekolahnya itu telah dijodohkan semenjak kecil. Jodoh mereka tengah studi di Mekkah.


'Mereka sudah dijodohkan dengan pria yang tentu lebih baik dari kita," lanjut Pablo.


Fabio menatap rekannya, Pablo mengangguk membenarkan kata-katanya. Mereka pun pulang dengan hati yang retak.


Pesantren sepi, hanya anak-anak mondok yang lalu lalang membantu membersihkan area.


"Sudah biarkan saja Nak!" ujar Salmah pada semua anak didik.


Salmah melihat adik kembarnya yang tengah melamun. Pipi Fatimah bersemu merah, ia menekan dadanya lalu terdengar ucapan istighfar dari mulut gadis itu.


"Dik," panggilan Salmah yang membuat Fatimah terkejut.


"Ya kak!"


"Jangan begitu. Almarhum Abah sudah menjodohkan kita," ujar Salmah mengingatkan.


"Kak ... Akhi Luthfi mengatakan jika beliau sudah menikah di sana, bagaimana aku bisa mengganggu kehidupan rumah tangganya?" Salmah terhenyak mendengar berita itu.


"Apa katamu?"


Fatimah memberikan satu deretan percakapannya di wa. Salmah terdiam, tentu saja ia akan melarang keras adiknya untuk mengganggu rumah tangga pria itu.


"Kita sepertinya harus menghadap Paman Husni," ujar Salmah.


"Kalau Paman ajukan poligami gimana Kak?" tanya Fatimah.


"Itu sudah diluar keinginan Abah. Kita bisa menolak kan?" Fatimah mengangguk.


"Lalu kakak?"

__ADS_1


"Aku kenapa?" tanya Salmah.


"Akhi Fadlan gimana? Apa belum bisa dihubungi?" tanya Fatimah.


Salmah menggeleng, ia juga kesulitan menghubungi orang tua dari pria yang dijodohkan dengannya itu.


"Setiap menelepon Bibi Salimah, beliau selalu memutuskan percakapan. Kakak sudah menunggu tiga tahun, semenjak kepulangan kita," jawab Salmah.


"Kak, usia kita makin bertambah. Sepertinya kita harus tegas!" ujar Fatimah.


"Baiklah, kita istikharah dulu untuk memantapkan pilihan kita. Sepertinya perjodohan Abah sudah dilanggar oleh mereka," jawab Salmah.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga dipermudah ya Kak!"


"Aamiin ... mudah-mudahan Dek," sahut Salmah.


"Apa kau menyukai pria bermata hijau itu Dek?"


Fatimah langsung bersemu merah, gadis itu menunduk. Bahkan dari tadi jantungnya selalu berdetak cepat ketika mengingat sepasang iris yang membuat semua kaum hawa menjerit histeris.


Semua orang sampai pada mansion Bart. Mereka kini tengah bercengkrama. Fabio dan Pablo adalah dua ajudan kepercayaan dari Virgou. Mereka bernasib sama dengan Gomesh. Ditinggal orang tua dan menjadi penjahat di kota. Virgou yang menemukan Fabio terlebih dahulu lalu Pablo. Keduanya beragama sama dengan Virgou yakni Islam.


"Sebentar lagi bulan haji. Dahlan ... bagaimana semuanya apa sudah kau siapkan?"


"Sudah Tuan. Kita mendapat kuota terbanyak dari pemerintahan Arab Saudi," jawab Dahlan.


"Jadi nanti Domesh ditinggal sama Benua naik haji?" celetuk Domesh bertanya.


"Hanya dua minggu Baby. Nggak lama kan?"


Domesh menunduk, matanya mengembun. Ia tak pernah berpisah dengan Benua dan semua saudaranya.


"Baliana judha pitindhal?" tanya balita cantik itu.


"Hanya sebentar Baby," jawab Bart.


"Mama juga nggak ikut kok," sahut Aini yang tengah mengandung tujuh bulan.


"Mama juga," sahut Gisel yang ikut mengelus perutnya.


"Umi juga!" sahut Layla.


"Mama Iya juga," sahut Lidya yang juga tengah mengandung.


"Berarti Papa Dem, Papa Gio, Baba, Nggak bisa ikut ke sana,"


"Ah ... eundat pa'a-pa'a. Yan peuntin Alsh itut pait saji!" sahut bayi itu tak peduli.


Demian gemas sekali dengan bayi satu itu. Ia mengangkat Arsh dan menggelitik perutnya hingga terdengar gelak tawa.


Bersambung.

__ADS_1


Ah ... sabar ya Fabio dan Pablo ... akan ada jawaban dari semua doamu.


next?


__ADS_2