
Mall paling besar dan terlengkap di salah satu kota yang ramai dan banyak pengunjung, mendadak disterilkan dari banyak orang.
Rombongan keluarga pebisnis yang paling berpengaruh mendatangi tempat itu. Hanya para ayah, remaja dan anak-anak yang ikut sedang para ibu dan bayi memilih tinggal di kastil karena mereka kelelahan.
"Babies, kalian sama Papa Gom ya!"
Gomesh menggandeng Sky dan Bomesh. Pria raksasa itu memilih mengawasi sendiri dua bocah itu.
"Papa ... mama Alsh!" pekik Arsh.
"Baby sama Daddy ya," ujar Gabe mengangkut putranya yang memang nakal sendiri itu.
"Daddy mama Alsh, Papa udha mama Alsh ... bemua alus mama Alsh!" titah bayi itu memonopoli semua ayah.
"Baby sama Apah Ion yuk!"
Arsh akan tenang di gendongan Rion, Azizah tidak ikut, hanya adik-adiknya saja yang ikut.
"Amran, kamu katanya kemarin mau kaus kaki!" sahut Ajis ketika melihat kaus kaki di salah satu toko.
Gio mendatangi dua bocah itu. Pria itu membawa masuk Amran dan Ajis.
"Ih .. mahal Papa Gio, mending nanti aja di Indonesia, pasar lebih murah," tolak Amran ketika disodorkan satu kaus kaki.
"Tidak masalah sayang," ujar Gio.
Pria itu membeli enam pasang kaus kaki. Setelah itu mereka kembali bersama rombongan. Lana, Leno dan Lino menggandeng Aminah dan Ari.
"Ata' ipu pa'a?" tanya Ari menunjuk satu tanaman gantung.
"Itu tanaman rambat sayang," sahut Lana.
"Lan, punya uang nggak?" tanya Leno.
"Mana ada sayang, kita kan nggak pernah pegang uang," jawab Lana.
"Iya, emangnya kamu mau apa sih?" tanya Lino.
"Nggak ada sih. Cuma liat jepit rambut itu, keknya lucu kalau dipakai sama Mama Maria," tunjuknya pada sebuah jepit mutiara.
"Ih iya bagus, eh itu juga ada kalung salip yang pakai mata mutiara!" tunjuk Leno.
Bart mendengar perkataan tiga adik angkat dari Azizah itu. Lana, Leno dan Lino sebenarnya anak angkat Herman, tiga anak itu memakai nama Triatmodjo. Tetapi Azizah mengurus mereka bersama dengan Ari.
Herman menggandeng dua anaknya, Dewa dan Dewi. Dimas sudah mencoba beberapa kemeja.
"Ayah, ini bagus nggak?" tanyanya.
"Bagus sayang," jawab Herman.
"Ambil ya?" pinta Dimas.
__ADS_1
"Iya sayang, ambil saja," jawab pria itu.
Dimas senang ia mengambil beberapa potong kemeja dan celana juga sabuk. Herman membayar dengan kartu hitamnya.
"Ayah ... Dewa mau satu set alat lukis sih," pinta remaja itu.
"Bukannya kamu lebih suka menggambar di komputer?" tanya Herman.
"Kamu beli aplikasinya aja, terus ditanam di PC kamu," tawar Herman.
"Mau alat lukis aja Yah, Dewa pengen hiking terus melukis di atas bukit," pinta remaja itu setengah merengek.
Herman pun membelikan apa yang dimaui putranya. Dewi menolak ketika ingin dibelikan.
"Mau belajar jahit lah Yah. Mau jadi designer,"
Herman tak pernah memaksa putra dan putrinya mengambil jurusan tertentu, ia selalu mendukung semua keinginan putra dan putrinya selama mereka serius.
Sedang Satrio dan Adiba kini berada di sebuah toko laptop. Remaja itu menggandeng erat tangan gadis yang telah ia ikat itu.
"Baby?" keduanya menoleh.
"Gandengan?" tunjuk Budiman sedikit kesal.
Satrio melepas genggaman tangannya. Budiman menatap gusar remaja yang masih polos tapi berani menggandeng tangan seorang gadis. Pria itu yang menggandeng Adiba.
"Baba," keluh Satrio.
Kini ketiganya memilih satu laptop yang menunjang keinginan Adiba. Gadis itu mencium pipi Budiman karena pria itu yang membelikan untuknya. Satrio hanya tersenyum kecut.
"Ata' pita lada pimana imi?" tanya Al dan El Bara.
Dua bayi itu celingukan mencari orang dewasa. Beruntung Langit selalu waspada, terlalu banyak anak yang dijaga dengan polah tingkah mereka. Membuat semuanya kesulitan.
"Baby, sini sama Kak Langit ya!"
Dua bayi itu dalam gendongan Langit. Al dan El Bara memeluk pria itu dengan erat. Demian tengah menjaga Maryam, Aisya, Al Fatih juga Aaima bersama Jac.
Sedang beberapa pengawal menjaga yang lainnya. Samudera masuk ke sebuah toko mainan ada satu mainan yang begitu menarik perhatiannya. Samudera diikuti oleh Benua dan Domesh. Gabe ada di belakang mereka. Ternyata, baik Samudera, Benua dan Domesh punya kesempatan untuk hilang jika benar-benar tak diawasi.
"Daddy mobil Jeep!" tunjuk Samudera.
"Kau mau?" bocah itu mengangguk kuat.
Jangan tanya Gabriella, Bastian, Billy dan Martha. Empat anak itu bersama Haidar dan David.
Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana bersama Bart dan Bram.
Kelima balita yang belum lancar bicaranya itu dengan berani menuju sebuah panggung kosong. Bart dan Bram sudah mulai resah. Kelima anak itu sangat suka menunjukkan aksi mereka.
'Syululup syuap-syuap ... syululup ... tetiwil ...!" Azha dan Arion mulai berakapela.
__ADS_1
"Atuh punya anjin teusil ... tu beli nama Heli ... dia senan peulmain-main ... bampil belali-lali ... Heli ... guk ... guk ... guk ... teumali ... guk ... guk ... guk ... ayo lali-lali ... Heli ... guk ... guk ... guk ... teumali ... guk ... guk ... guk ... ayo lali-lali!"
"Pap suap ... tetiwil ... syelulup ...tetiwil ... atuh bunya ... ansin teusil ... tu beli nama Heli ... !"
Arsh yang melihat kakak-kakaknya bernyanyi, bayi itu langsung ingin ikut bernyanyi.
"Baby ... ayo banyi!' ajak Bariana.
"Ulup-ulup ... wiwiwil ... ulup-ulup ... wiwiwil!"
Arsh bergoyang heboh dan berakapela. Gabe tersedak mendengar nyanyian salah satu putranya itu. Sedang yang lain mulai bertepuk tangan untuk mengiringi lagu.
Lagu selesai, semua bertepuk tangan meriah, Bart harus mengeluarkan uangnya agar semua anak-anak itu senang.
"Mestinya biarkan saja Dad," ujar Bram.
Bart menggeleng, ia tak setuju dengan ucapan mertua cucunya itu.
"Mereka berusaha menghibur kita, sudah sepantasnya mereka mendapatkan reward," sahut Bart.
Usai membeli apa yang mereka butuhkan. Mereka semua kembali ke kastil. Para perusuh memamerkan barang-barang yang mereka beli. Adiba langsung memakai laptopnya. Gadis itu cepat sekali belajar, hanya dalam hitungan menit satu neraca perusahaan sudah ia buat dengan sangat rapi.
"Baba ... apa seperti ini bentuk neraca perusahaan?" tanyanya.
Budiman melihat hasil kerja gadis kecil itu. Ia sampai membelalak tak percaya, Adiba belum belajar perihal bisnis, tapi gadis itu baru saja menyusun sebuah anggaran perusahaan yang begitu rapi dan sangat terencana.
"Grandpa ... lihat ini!" ujarnya lalu menyerahkan laptop pada Bart.
Bart membacanya, Gabe penasaran ia ikut melirik dengan apa yang ditulis Adiba.
"Sayang, ini terencana sekali!" puji pria gaek itu.
"Kau belajar dari mana?" tanyanya lalu menoleh pada Adiba.
"Memang itu benar?" tanya Adiba masih tak percaya.
"Ini benar sekali sayang. Ini coba tanya sama Nini Najwa, pasti Nini akan setuju apa kata Uyut,"
Bart menyerahkan laptop pada Leon, Najwa ikut membaca apa yang dirancang oleh Adiba. Wanita itu mengkoreksi Beberapa saja, ia mengangguk puas.
"Hanya sedikit kesalahan tapi tidak membuat margin error. Ini sudah setara dengan pembukuan perusahaan sebesar milik Daddy," jelas wanita itu.
Azizah begitu bangga, semua adiknya memang pintar dan cepat belajar. Rion mengusap kepala Adiba sayang.
"Atuh udha intal!" seru Arsh tak mau kalah.
"Iya Baby ... kamu adalah yang paling segalanya!" sahut Ella gemas.
Bersambung.
Iya ... Arsh memang rajanya bayi!
__ADS_1
Next?