SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DUKUNGAN KELUARGA


__ADS_3

Hari Sabtu, semua berkumpul di mansion Herman. Bram dan Kanya ikut mengunjungi Arimbi. Keduanya begitu marah ketika mendengar kejadian yang menimpa gadis itu.


"Baby, sayang!' panggil Bram.


Kedua insan yang sudah renta itu masuk ke kamar Arimbi yang enggan untuk bangkit.


"Kakek, Oma!" panggilnya dengan suara manja.


"Oh sayangku ...," Kanya begitu terenyuh melihat kondisi gadis itu yang seperti terpukul.


"Kau harus bangkit sayang. Kau harus lawan semuanya!' ujar Bram lalu mengelus sayang surai hitam gadis itu.


"Bagaimana melawannya kek?" tanya Arimbi menerawang.


"Rimbi akan ditertawakan semua orang dan mengatakan hal itu hanya masalah sepele," lanjutnya dengan pandangan menerawang.


"Kalau begitu kau harus menyuarakannya sekarang, baby!' ujar Bram memberi semangat.


"Kau harus memberikan edukasi pada semua orang tentang bahayanya pelecehan, kau harus bangkit untuk membantu semua saudaramu yang lain," ujar pria itu lagi memberi saran.


Arimbi termenung. Ia menatap pria tua itu yang memandangnya penuh pengharapan.


"Kau harus bangkit sayang," ujar Bram kembali meyakinkannya.


"Baby dari kemarin makannya sedikit," adu Khasya.


"Bunda ...," rengek remaja cantik itu.


"Ayo bangun sayang. Sudah cukup kau tidur seharian," ajak Khasya.


Bram dan Kanya membantu gadis itu bangkit dari ranjang.


"Uh ... kamu sudah besar ya," keluh wanita itu lalu menciumi wajah Arimbi.


"Oma, Arimbi minta dimandiin Oma," rengeknya.


"Eh ... apa, anak gadis masih mau dimandikan?' tanya Kanya lalu menggoda gadis itu.


"Oma," rengeknya.


Bram terkekeh melihatnya. Lalu pria itu pun berlalu dari kamar dengan dominasi warna jingga itu.


Pria itu turun ke lantai bawah. Frans dan Leon sudah pulang bersama istri mereka dan kini tengah membagikan oleh-oleh pada semua cucunya.


"Nih hadiah yang sunat kemarin," ujar Najwa memberikan hadiah untuk Sky, Bomesh dan Domesh.


"Makasih Nini," sahut ketiganya kompak.


"Sama-sama sayang," ujarnya.


"Loh, mama mana pa?" tanya Virgou pada Bram yang turun sendirian.


"Itu Baby minta dimandikan olehnya," jawab pria itu lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Bart.


"Dad, kau semakin tampan," seloroh pria itu.


"Kupukul kau, dasar tukang ledek!" sahut pria gaek itu kesal.


"Loh ... aku jujur Dad. Kau semakin tampan," kilah Bram sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kau ini ... menjauh sana!" sungut Bart kesal.


Bram malah memeluknya. Pria itu seperti menemukan kembali sosok ayah dalam diri Bart.


"Apa kau sudah membereskan cacing busuk itu boy?" tanya Bart akhirnya dan membiarkan Bram memeluknya.


"Sudah grandpa, aku sudah memberikan perhitungan kejam padanya bahkan gelar juga ijin prakteknya dicabut!" jawab pria beriris biru itu.


Rion hanya duduk mendengarkan, ingin rasanya mencincang tubuh pria yang berani melecehkan adiknya itu.


"Kenapa nggak dicincang lalu diberi makan anjing saja!" runtuknya kesal.


"Baby," tegur Terra.


"Tapi pasti anjing itu juga tak mau memakan daging busuknya!" timpal Puspita kesal.


Tak lama Lidya datang bersama suami dan dua anak kembarnya. Lalu di susul oleh Jac dan putrinya.


"Assalamualaikum!" sapa Demian memberi salam.


"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.


Para perusuh dan kakak-kakaknya tengah bermain di halaman belakang mansion. Keributan terjadi di sana. Para remaja tengah asik menggoda adik-adiknya.


"Hiks ... hiks ... ayah ... hiks ...!" Kaila berlari sambil menangis.


"Hei kenapa. Satrio!" teriak pria tua itu mulai marah.


Kaila menangis dipelukan Herman. Virgou hanya menggaruk kepala saja. Satrio datang dengan cengiran lebar. Herman memelototi putranya itu.


"Jangan mengganggu adikmu!" teriak pria itu.


"Ih ... siapa suruh dia kecil!" sahut Satrio gemas.


"Sudah tidak apa-apa, nanti kau balas saja dia ya!" sahut Herman.


Satrio mengamit tangan adiknya dan mereka kembali bergandengan. Herman hanya menghela napas panjang.


Arimbi turun digandeng oleh Khasya dan Kanya. Lidya melihat luka di tatapan gadis itu. Wanita itu langsung merentangkan tangannya lebar.


Arimbi melepas gandengannya dan berlari ke arah Lidya. Hati yang begitu kalut dan kesal langsung terobati secara sendirinya. Arimbi menangis dipelukan Lidya.


Tangisan itu terdengar ketika Darren masuk bersama Saf dan tiga anaknya.


"Baby," panggil pria itu dengan suara parau.


Semua sedih mendengar tangisan Arimbi.


"Kau tidak apa-apa baby, kau gadis kuat, kau bisa melewatinya," ujar Lidya menenangkan gadis cantik itu.


Arimbi mulai tenang. Hidungnya memerah dan matanya bengkak karena menangis seharian. Nai begitu sedih melihat saudaranya.


"Baby tau, saudar kembarmu juga merasakan kesakitan mu. Satrio juga tengah demam tinggi kemarin," sahut Khasya memberitahu.


"Iya, bahkan sekarang anak itu sebenarnya masih sakit, tapi lihatlah," semua menoleh.


"Ayah, tolong minta Satrio berhenti sebelum ia pingsan!" ujar Saf langsung.


"Apa, kenapa?'

__ADS_1


Saf segera menghampiri remaja itu dan mengajaknya beristirahat dulu.


"Trio nggak kenapa-napa Uma!" tolak remaja itu.


"Nurut sama Uma ya!" titah wanita itu lembut.


"Uma!" rengek remaja itu.


"Baby, ayo sini!" titah Darren dari dalam rumah.


"Yang lain main aja lagi," pinta Saf pada anak-anak yang lain.


"Nggak ah, udah cape!" sahut Kean sambil mengusap peluhnya.


Harun, Azha, Arion, Arraya langsung masuk dan minta minum. Mereka lalu sibuk membuka oleh-oleh dari nini mereka lagi.


Satrio yang memang tengah tak enak badan, namun semua ia hiraukan. Wajah remaja itu sudah pucat dengan bibir pecah-pecah.


"Minum ini sayang," Khasya memberikan air hangat untuk putranya.


"Bunda minta es kayak mereka," rengeknya.


"Nggak sayang, kamu sedang tidak sehat. Jadi minum ini ya," pinta Saf.


Satrio cemberut. Remaja itu meminum lalu tiba-tiba tubuhnya gemetaran.


"Bunda, pusing ...," keluhnya.


Saf membimbing remaja itu ke kamarnya diantar oleh Khasya. Sedang Arimbi pun juga berimbas sakit.


"Ini lah jika kembar, yang satu sakit satunya ikutan sakit," sahut Lidya.


"Arimbi istirahat lagi deh ya," ujar remaja itu.


Semua mengangguk dan membiarkan gadis itu naik ke atas. Nai diminta untuk mengobati keduanya. Daud membawa obat penurun panas.


"Kasihan Arimbi. Dia begitu terpukul dengan kejadian kemarin," ujar Lidya sedih.


"Terasa sekali jika ia tak menerima perlakuan pria itu kemarin," lanjutnya.


"Lalu bagaimana tadi setelah memeluknya?" tanya Herman khawatir.


"Alhamdulillah, gadis itu baik-baik saja. Kita harus memberi ia dukungan penuh agar ia bisa melewati semua," jelas Lidya panjang lebar.


Semua mengangguk setuju. Dukungan keluarga memang harus diberikan pada Arimbi untuk melewati masa traumanya.


Sedang di sudut sana sosok pria tampan menatap benda yang diberikan ayahnya. Sebuah kilas balik peristiwa masa lalu diceritakan oleh sang ayah.


"Kau harus mencarinya nak, dia adalah gadis luar biasa. Perhitungan dan kepercayaannya waktu itu membuat papa bisa melawan semua penyerang," ujar sang pria pada putranya.


"Pa, dia siapa?" tanya Reno gusar karena minim sekali informasi yang ia dapatkan.


"Dia adalah salah satu putri Black Dougher Young. Mafia terkuat dan terkaya, gadis kecil hitam manis. Aku tak peduli, sekarang kemungkin gadis itu belum tujuh belas tahun!" jelas pria itu tak peduli.


Tiga tahun penyelidikannya dan berimbas pada perekrutan pria itu sebagai bodyguard. Reno berlatih di SavedLive selama dua tahun dan bekerja untuk mengawal gadis itu ketika kuliah. Arimbi yang memakai hijab tentu membuat Reno kesulitan menyelidiki gadis itu. Hingga ketika BraveSmart ponsel berada di tangannya. Barulah ia yakin gadis kecil yang ayahnya maksud adalah Arimbi Triatmodjo.


Bersambung.


Readers maafkan othor jika hari ini hanya satu saja ya ... besok up dua episode lagi.

__ADS_1


ba bowu ❤️😍😍


next?


__ADS_2