
Terra dan Haidar sangat terkejut dengan permintaan Felix. Pria itu menjelaskan jika ia telah meminta Sari pada Herman dan pria itu meminta untuk melamar gadis itu secara baik-baik.
"Kapan kau ingin melamarnya?" tanya Terra akhirnya.
"Tuan memberi waktu tiga hari sampai satu Minggu, nona!" jawab Felix.
"Kalau begitu persiapkan semuanya untuk melamar Sari!" titah Haidar.
Felix mengucap banyak terima kasih pada sepasang suami istri itu. Ia akan menyiapkan semuanya. Ia telah bertanya pada Gio yang sudah menikah.
Tiga hari sudah waktu tercepat ditetapkan. Felix diapit oleh Haidar dan Terra mendatangi kantor panti di mana Sari berada. Felix menggelontorkan uang nyaris sepuluh juta untuk acara pertemuan itu.
"Kita bagi dua saja uangnya ya bang," ujar Sari.
"Sayang, aku ini banyak uang. Jangan khawatir," ujar Felix menenangkan.
Sari tetap menambah beberapa makanan yang disuguhkan, seperti buah dan macam-macam kudapan pasar.
Felix duduk dengan tegang. Wajah Herman sangat tidak bersahabat, Khasya menenangkan pria itu. Sedang Sari duduk dengan wajah tertunduk. Ia begitu cantik dengan gamis bahan brokat warna shock pink dan hijab warna senada.
"Ayah," panggil Khasya.
Hanya embusan napas kasar keluar dari hidung pria renta itu.
"Begini ayah, sesuai dengan keinginan Felix jika ia ingin menyampaikan sesuatu pada ayah," ujar Haidar membuka percakapan.
"Benar tuan ... saya ingin melamar Adinda Sari untuk menjadi istri saya," ujar Felix.
Herman terdiam sesaat. Suasana menjadi kaku dan mencekam tak ada yang berani bersuara. Sari mulai menghapus air matanya. Herman bisa melihat keinginan salah satu anak angkatnya itu menikah.
"Sari," panggil pria itu akhirnya.
Sari mendongakkan kepala, mata sang gadis telah basah. Herman sedih dan akhirnya luluh juga.
"Ayah dan bunda hanya mau yang terbaik untuk kamu, nak," ujar pria itu dengan suara tercekat.
"Ayah, Sari sudah melakukan istikharah. Inshaallah jawaban dari Allah adalah Bang Felix yang menjadi suami dari Sari. Sari mohon restu ayah," ujar gadis itu dengan linangan air mata.
Herman menangis mendengarnya. Ia mengangguk dan menyuruh Sari dan Felix mendekatinya. Keduanya bersimpuh di lutut pria itu.
"Felix, kau tau kan jika Sari adalah yatim piatu, aku yang mengurusi, menyayangi dan melindunginya seperti putriku sendiri?"
"Saya tau ayah," jawab pria itu.
"Jika suatu hari nanti, kau tak menyukai cara putriku menjawabmu, mengurusmu dan melayanimu. Jangan kau marahi atau kau bentak sedikitpun. Tapi datang padaku, marah dan bentaklah aku karena tak bisa mendidik ia menjadi istri yang baik untukmu," pinta Herman lagi.
__ADS_1
Felix menitikkan air mata. Ia tak akan berani memarahi pria dengan penuh kharisma itu. Tapi, ia tak akan pernah protes atau memarahi wanita yang mau menerima apa adanya.
"Sari apa kau mau menikah dengan Felix?" tanya Herman lagi.
"Mau ayah," jawab gadis itu dengan rona merah di pipi.
Felix tersenyum bahagia. Sedang Herman dan Khasya terharu. Akhirnya gugur sudah tugas mereka sebagai orang tua dari Sari Hendrawan Triatmodjo.
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Herman.
"Sekitar satu bulan lagi yah, awal bulan depan," jawab keduanya.
Herman mengangguk. Khasya sibuk dengan mengusap air matanya. Semua akhirnya lega, salah satu membuka gerbang menikah.
"Pokoknya Mba Sari harus menikah, biar kita ada jalan buat menikah!" sahut Bimo pada Sari.
"Jadi kalian menunggu mba menikah baru pada berani untuk menikah?" semuanya mengangguk.
"Sebenarnya kami ingin tinggal di rumah yang telah kami beli sendiri, tapi kami memang masih ingin dimanja oleh ayah dan bunda. Tapi dengan mba yang menikah maka alasan menikah untuk pergi dari panti itu paling benar," sahut Anyelir.
Sari mengangguk setuju. Semua saudaranya telah mapan. Mereka juga telah memiliki hunian mereka sendiri, tapi untuk meninggalkan panti, mereka tak punya alasan.
"Tapi bagaimana dengan Lana, Leno dan Lino?" tanya Bambang.
"Aku akan bawa mereka bertiga, biar aku yang mengurusnya," ujar Dayani.
"Baiklah biar Ibu-ibu pengurus juga tak ditinggalkan begitu saja, sebagian dari kita meneruskan jalannya panti," putus Sari.
Gadis itu telah membicarakan pada semua saudaranya beberapa hari lalu. Mereka sudah memutuskan untuk mengelola panti ini.
"Benar Mbadhe Dinar juga mau pulang bulan depan kan?" semua mengangguk. Bertepatan dengan Mba Sari menikah jika begitu," ujar Didin.
Kini semuanya menyantap makan siang. Hanya para penghuni panti dan pengurus panti yang. Tak lama Virgou datang bersama Puspita lalu Leon dan Najwa. Mereka mengucap selamat pada Felix dan Sari.
"Semoga lancar hingga akad ya," harap Virgou.
"Aamiin," sahut kedua pasangan yang tengah berbahagia.
Najwa menghadiahkan sebuah kalung pada sang gadis.
"Nyonya ...."
"Panggil aku nini, sayang," potong Najwa lalu mengecup pipi gadis itu.
Anak-anak tak dibawa. Semua larut dalam syahdu. Sangat sepi dan Virgou jadi bosan.
__ADS_1
"Kangen perusuh," ujarnya.
"Kita pulang yuk!" ajaknya.
Akhirnya mereka pamit pulang. Felix ditinggal di sana. Pria itu bisa pulang sendiri.
Mereka pulang ke mansion Virgou. Semua perusuh sudah bernyanyi riuh bahkan Domesh bergoyang dangdut.
"Ayo kawan-kawan gembira bersama. Ayo kawan-kawan berjoget bersama. Hilangkan semua keluh kesah yang ada dengan lagu yang gembira ...."
"Halo ... halo ... halo!"
Virgou langsung bergoyang heboh. Semua perusuh ikut bergoyang bersama. Semua penuh gelak dan tawa.
Malam tiba, Darren mengusap perut istrinya yang masih rata. Ketiga bayinya telah terlelap dari tadi.
"Sayang," panggil Saf.
"Apa sayang?" sahut Darren.
"Kita ke makam ayah dan ibuku yuk," ajak wanita itu.
"Sebelum pergi berlibur ke Eropa," lanjutnya.
"Boleh, weekend ini ya," sahut pria itu.
"Makasih sayang,"
Keduanya pun berciuman. Darren selalu berhasrat pada wanita yang ia nikahi satu tahun lalu itu. Keduanya kini dalam gelora cinta satu selimut.
Sedang di tempat lain Reno menatap anting strawberry milik Arimbi. Melihat perjuangan Felix yang mudah mendapatkan Sari, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu ingin juga berencana menikahi Arimbi.
"Tapi, kata mereka Ayah Herman ... ah maksudku Tuan Herman sangat ditakuti dibanding semua tuan karena ada Tuan Virgou. Jadi jika aku menikahi Arimbi, aku harus melawan Tuan monster itu?"
Reno bergidik sendiri. Pria itu mengantongi kembali anting milik Arimbi dengan baik agar tak hilang.
"Bisa dibunuh papa jika anting ini hilang!" ujarnya kembali bermonolog.
"Nona, kau sangat cantik. Papa benar, kau adalah seorang gadis spesial. Aku kadang takut menghadapi mu," ujarnya lagi-lagi bermonolog.
Sepasang mata menatap pria itu. Ia memang tak mendengar apa yang diucapkan oleh salah satu rekannya itu.
"Apa Reno sudah gila? Bicara sendirian?" ujarnya sambil menggeleng tak percaya lalu pergi begitu saja.
bersambung .
__ADS_1
next?