SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERCAKAPAN PANJANG


__ADS_3

Semua remaja menuntut jawaban para orang dewasa. Hal ini membuat semuanya jadi pusing.


"Papa bilang kalo cewe itu menari telanjang untuk cari uang kan?" tanya Nai.


Semua mengangguk lemah. Semua anak mereka genius dan berpikiran sangat kritis.


"Lalu apa mereka jadi kaya mengerjakan hal tersebut?" tanya Nai lagi.


Semua mata remaja benar-benar ingin tau jawaban yang pasti. Para remaja berpikir lurus. Tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang tidak memberikan apa-apa bagi yang mengerjakan.


"Jika dia bisa kaya dari menari striptis. Kenapa tidak ia bekerja hal lain yang membuatnya lebih terhormat? Dia bisa pindah kan?"


"Ada satu faktor yang membuat mereka seperti itu Baby," jawab Dominic.


"Seperti apa contohnya?" tanya Affhan.


"Bisa jadi faktor lingkungan, desakan ekonomi juga tidak memiliki keahlian," jawab Gabe kini.


"Tunggu dulu!" sela Rasya.


"Tidak memiliki keahlian apa tidak mau punya keahlian?" tanya remaja itu lagi.


"Dia bisa nari di tiang. Bukankah itu mengharuskan dia memiliki keahlian itu?"


Bart berdecak kesal. Para ibu memilih mundur dari percakapan, mereka juga bingung menjelaskan seperti apa.


"Terkadang mereka kalah bersaing dan memilih jalan pintas Baby," jawab Haidar.


"Kalah bersaing?" tanya Sean menggeleng tak setuju.


"Apa dia juga tidak bersaing di tempat itu? Sean liat kemarin bukan hanya satu penari tanpa busana di sana, setidaknya ada tiga penari. Belum lagi para pelayan yang seksi juga perempuan-perempuan lainnya. Bukankah itu mereka harus bersaing menarik perhatian pengunjungnya?"


Telak. Para orang dewasa bungkam seribu bahasa. Virgou sangat setuju dengan pikiran semua anak-anaknya.


"Begini sayang, kami hanya memberitahu apa yang kalian lihat kemarin. Kadang apa yang dilalui seseorang kita tak pernah tau dan tak pernah sama. Pikiran orang itu berbeda," jelas Dominic.


"Lalu apa mereka sampai tua begitu Daddy?" tanya Arimbi.


"Mereka tua gimana? Lalu anak-anak mereka?" tanyanya dengan pikiran menerawang.


"Jika semua pekerjaan adalah warisan sama seperti kita ini. Apa semua keturunan mereka bekerja seperti orang tua mereka?" tanyanya lagi.


"Iya, lalu peran kita sebagai masyarakat apa Daddy?"


"Peran pemerintah, tokoh agama?"


Bram begitu salut dengan pemikiran semua cucu-cucunya. Pikiran mereka begitu jauh memandang ke depan.


"Mbi ... bukankah kemarin kita baru saja menyuarakan suara-suara perempuan tertindas?" Arimbi mengangguk.


"Bagaimana kinerja PBB sekarang? Apa sudah banyak merekrut perempuan-perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan dan hidup di jalanan?"


"Sepertinya kita menemukan kendala, Nai," jawab Arimbi.

__ADS_1


"Sebagian mereka kembali ke jalan dan memilih jadi pengamen jalanan juga jadi wanita penghibur," jawab Arimbi sedih.


"Nah, kalian dapat sendiri bukan jawabannya?" sahut Kanya menimpali.


"Terkadang, kita sudah berusaha memberi ruang untuk mereka berkembang dan hidup secara layak. Tetapi, mereka sendiri yang enggan untuk berubah," lanjutnya.


"Kalian memang tidak pernah bersinggungan dengan masyarakat luas. Kalian memang kami lingkari di rumah, dan memberikan kenyamanan di dalamnya agar kalian tidak keluyuran di luar sana," lanjutnya.


"Nah, maksud kami menjelaskan hal ini pada kalian juga agar kalian tidak kaget jika bertemu sesuatu yang tak pernah kalian lihat, tak kalian mengerti,"


Semua remaja menatap perempuan tua. Mereka mengangguk tanda mengerti. Para orang dewasa menghela napas panjang.


"Susah juga menjelaskan sesuatu pada anak-anak ya?" sahut Demian.


"Ya, mereka berbeda. Pikiran mereka yang lurus karena memang kita yang membentuknya seperti itu," sahut Gabe.


Kini para remaja bermain dengan para adik-adik mereka. Mereka membelah jadi dua kubu, rumput sintetis milik Bart sudah diberi goresan panjang. Mereka bermain gobak sodor.


"Aku nggak pernah main ini kakak!" sahut Bastian.


"Ikut saja baby, kita seru-seruan," sahut Dimas.


Para perusuh junior memilih menjadi penonton dan bersorak menyemangati semua kakak mereka. Para anak perempuan memilih membantu ibu mereka. Kali ini Kanya menyuruh semua anak perempuan memasak pangsit rebus dan pastel goreng.


"Mama ... minyaknya panas!" teriak Kaila.


"Ma ... garemnya segimana?" tanya Arimbi.


Hanya Nai dan Ella yang santai membuat makanan itu. Dua gadis itu memang sering membantu ibunya.


"Mbi ... kalo garamnya segitu, kamu buat Mas Renomu darah tinggi?" ledek Khasya.


"Bunda ... emang Kak Reno mau sama Mba Arimbi?" tanya Kaila setengah meledek.


"Baby ...," rengek Arimbi.


"Ciee ... Budhe Arimbi," goda Ella.


"Bunda ih!" sungut Arimbi sebal.


"Eh ... lagi masak nggak boleh cemberut gitu ah ... nanti Mas Reno jadi nggak cinta loh!" ledek Kanya.


"Oma!"


Arimbi menghentikan kegiatannya, ia benar-benar malu dengan godaan para ibu itu walau hatinya berbunga-bunga. Nai tersenyum, ia sedikit iri. Sekelebat wajah tampan mengusik pikirannya selama ini. Gadis itu menggeleng lemah.


"Eh ... Kak Nai apa punya pacar?" tanya Ella tiba-tiba.


"Mana boleh pacaran!" jawab Nai sengit.


"Baby?" peringat Terra.


"Maaf Ma," sahut Nai merasa bersalah.

__ADS_1


"Emang Baby Ella boleh pacaran?" tanya Kaila.


Ella seumuran dengan Adiba hanya tua Ella tiga bulan. Adiba hanya jadi pendengar saja.


"Sama, nggak boleh sama Daddy. Padahal di kelas temen-temen udah gandengan dan ciuman di koridor sekolah," jawab Ella santai.


"Astagfirullah, kamu jangan kayak gitu ya Baby!" peringat Khasya.


"Tenang Bunda, Ella bisa jaga diri. Lagian Bastian sama Billy itu galak banget sama semua cowo yang deketin Ella," sahut gadis itu santai.


Sedang di halaman belakang. Semua anak berteriak memberi semangat termasuk Arsh.


"Ata' ... anan ituh ... anah!" tunjuknya sok tau.


"Atal ... ipu atal!" pekiknya marah-marah.


"Huh ... ndat da yan sa ain!" gelengnya kecewa.


Bayi montok itu berkacak pinggang, rupanya ia pendukung tim Kean yang berulang kali melakukan kesalahan. Tim Sean unggul dua angka. Para ayah mengawasi semua anak.


"Ata' Wewa aju!" teriak Ari memberi kode.


Arsh melihat pergerakan Bastian yang bisa menyentuh kepala regu, yakni Sean yang tak fokus.


"Ata' Ian ... antap Ata' Ean!" pekiknya.


Sean sadar ia terlalu di pinggir garis. Bastian langsung menangkapnya. Sean memutar tubuh berkelit.


"Anan elat Ata' Ean ... tan ndat ena!" pekik Arsh marah.


"Dor! Kalian terbakar!" seru Satrio.


Sean ada di kotak berlima bersama Billy, Azlan, Bambang dan Al. Arsh pun bersorak. Tim Kean dapat satu angka karena berhasil membakar lawan.


"Pidat pa'a-pa'a, pidat pa'a-pa'a. Setalan tedudutan anta sama!" sahut Harun yang ada di tim Kean.


Tim Sean kini giliran berjaga. Kean mulai berembuk, Arsh mencoba menguping.


"Baby ... ngapain?' Kean selalu bisa menggoda bayi galak nan tampan itu.


"Daddy ... Ata' Ean sahat ... huaaaaa!" pekiknya langsung menangis.


"Kean!" peringat para ayah.


Kean langsung mengangkat Arsh gemas dan menyembur perutnya yang bulat. Bayi itu terbahak dan menangis berbarengan.


"Ayo buruan!" pekik Sean tak sabar untuk kembali merebut poin yang kini seri.


Bersambung.


hmmm ...


Next?

__ADS_1


__ADS_2