SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MAISYA


__ADS_3

Maisya, gadis cantik dengan iris mata coklat gelap. Hidung kecil namun mancung, rambut hitam tergerai.


Maisya memang sangat mirip dengan Puspita. Gadis itu belum mengenakan hijab seperti kakak-kakak sepupu perempuannya Naisya dan Arimbi.


Maisya yang berusia delapan belas tahun bertepatan dengan bulan haji ini. Maisya, bekerja bersama dengan Affhan dan Dimas.


"Nona, ini laporan yang anda minta," seorang sekretaris datang menyerahkan satu berkas tebal.


Maisya menghela napas panjang. Baru saja ia senang karena tumpukan kertas di atas meja sudah berkurang, malah datang tumpukan baru.


"Apa urgent?" tanya gadis itu sedikit mengeluh.


"Sayangnya, iya Nona. Perusahaan dari PT Griya Perkasa sudah berkali-kali meminta penyelesaian secepatnya," jawab sang sekretaris dengan wajah menyesal.


Maisya mau tak mau membuka berkas itu. Kebanyakan meliburkan diri bersama keluarga. Membuat pekerjaan sedikit menggunung. Rando sudah membantu sebisanya. Tapi, karena memang banyak perusahaan yang membutuhkan bantuan penyempurnaan data akuntingnya, membuat pekerjaan bertambah banyak.


Usai mengerjakan tugasnya. Gadis itu, dijemput oleh kakak dan juga saudara kembarnya.


"Tuan," sapa genit Lola, sang sekretaris Maisya.


"Ehem!" tegur Maisya kesal.


Lola baru saja bergabung menggantikan sekretaris lama yang menikah. Gadis itu lupa peraturan jika dilarang menggoda atasannya yang super tampan itu.


Gadis itu menunduk takut karena Maisya menatap tajam sekretarisnya.


"Jangan lewati batas Kak. Aku tidak segan mengusirmu lagi dan mencari sekretaris baru," ucap Maisya tegas.


"Ma-maaf Nona," cicit Lola takut.


'Ayo Baby," ajak Dimas menggandeng adiknya.


Affhan ikut digandeng oleh Dimas. Remaja yang berusia sama dengannya hanya beda bulan saja.


"Pa'lek Mai mau makan nasi Padang ya," pinta gadis itu manja.


"Oteh Baby," jawab Dimas gemas.


Mereka berjalan tak ketinggalan empat pengawal yang menjaga mereka. Sandro, Gery, Ahmad dan Hasan.


"Mereka berjalan kaki dan menyeberang jalan, karena letak warung nasi Padang ada di sana.


Usai makan siang, mereka memilih pergi ke masjid terdekat untuk menunaikan shalat dhuhur.


"Hai," sapa seorang pemuda ketika Maisya menunggu dua saudaranya di teras masjid. Para pengawal juga belum selesai sholat. Jadi Maisya sendirian di sana


Maisya mengangguk sopan pada pemuda yang menyapanya. Pemuda itu duduk di sisi sang gadis. Maisya sedikit menjauhkan dirinya agar tak terlalu dekat.


"Sendirian?" tanya pemuda itu mencoba ramah.


"Nggak, lagi nungguin saudara, belum beres," jawab Maisya mencoba ramah.


Kecantikannya Maisya memang beda sendiri. Gadis itu sangat unik, kulitnya yang kemerahan darau campuran terlihat jelas jika Maisya bukan asli pribumi.


"Kamu bule campur ya?"


Maisya sedikit kesal dengan pertanyaan sang pemuda yang mencoba akrab dengannya itu. Gadis itu memilih berdiri, tau begitu ia meminta kunci mobil pada pengawal dan menunggu di sana.


Maisya melihat ada pedagang rujak. Gadis itu turun dari teras untuk membelinya. Pemuda itu mengikuti.


"Ngapain sih?" tanyanya sewot.


"Aku juga mau beli!" sahut pemuda itu juga sewot.

__ADS_1


"Jangan deket-deket. Gue tendang ntar Lu!" hardik Maisya kasar.


Gadis itu mengeluarkan sisi bar-barnya. Sang pemuda sedikit beringsut mundur.


"Neng," si penjual rujak menenangkan Maisya.


Para pengawal tak menemukan nona mudanya sedikit panik. Mereka sampai mencari di seluruh parkir masjid. Memang halaman masjid begitu luas.


"Itu Nona!" serunya.


"Biar saya ke sana!" ujar Hasan lalu menyusul nona mudanya.


"Nona!" panggilnya.


"Om," sahut Maisya.


Tatapan tajam Hasan pada pemuda yang berdiri dekat dengan nona mudanya membuat pemuda itu langsung mundur teratur.


"Ini Neng," si penjual rujak menyerahkan dua mika ukuran sedang.


Mereka kembali ke kantor. Beberapa pasang mata menatap tiga makhluk dengan ketampanan dan kecantikan di atas rata-rata.


"Uh, ganteng amat sih, Tuan Dimas dan Tuan Affhan," puji salah satu karyawati.


"Nona cantik sekali," puji salah satu karyawan.


"Nona, Tuan muda, Tuan Carlos datang," lapor Loli.


"Baiklah, suruh beliau menunggu di ruangan biasanya," perintah Dimas.


"Baik Tuan!"


"Pak Rando mana?" tanya Affhan.


"Pak Rando sedang meeting di ruangan lain menyelesaikan akuntansi milik PT Gelar Prizen, Tuan muda!" jawab Loli membungkuk hormat.


'Heh, udah ayo!' ajak Dimas. "Biar cepat beres!"


Maisya membawa rujak yang ada di tangannya. Mereka bertiga menemui Carlos Tevez. Pria kebangsaan Indonesia-Brazil.


Mereka bersalaman. Maisya duduk sendiri dan membiarkan saudaranya yang mengambil alih pekerjaan.


Gadis itu sangat menginginkan makan rujak. Ia membukanya perlahan dan memasukkan buah nanas setelah mencolek sambel kacang terlebih dahulu.


'Sruup!' bunyi seruput terdengar.


Tiga laki-laki berbeda usia menoleh. Maisya jika sudah menemukan kesukaannya tak memperdulikan yang lain.


Carlos terpana akan kecantikan gadis yang tengah asik makan itu. Dimas sangat kesal pada pandangan Carlos.


"Ehem!" peringatnya.


"Ah ... pardon me!" Carlos langsung sadar.


"Bisa kita lanjutkan?" tanya Dimas.


Carlos mengangguk, tetapi fokusnya jadi terpecah. Kunyahan Maisya pada rujak yang dimakannya membuat ia harus menelan saliva kasar.


Maisya benar-benar seksi di mata Carlos. Bahkan decak lidah Maisya yang kepedesan membuat pikiran pria itu melalang buana.


"Maisya!" bentak Dimas pada sepupu keponakannya itu.


Gadis itu menatap polos pamannya. Maisya memang sama polos dengan perusuh paling junior di rumah.

__ADS_1


"Ke ruanganmu!" perintah Dimas akhirnya dengan nada lembut.


"Oteh!" sahut Maisya.


'Jangan habiskan rujaknya!' peringat Affhan.


"Suruh Om Hasan beli lagi!" teriak Maisya menjawab.


Affhan hendak menyahuti tetapi tatapan datar Dimas mengurungkan niatnya.


"Pa'lek," rengek Affhan manja.


Carlos menganga melihat keduanya. Ia merasa kehangatan dari dua remaja itu.


"Kalian sepertinya dekat sekali," ujar pria itu tersenyum.


"Iya kami memang dekat Tuan," sahut Dimas.


Selesai memperbaiki sedikit masalah akunting milik Carlos. Mereka keluar dari ruangan dengan senyum lebar.


"Terima kasih Tuan, telah memperbaiki data akunting saya," ujar Carlos bersalaman dengan keduanya.


Kepala pria itu masih mencari keberadaan sosok gadis yang telah menarik hatinya. Dimas memutus tatapan pencarian pria itu. Carlos tersenyum kecut.


Pria itu pun pergi, setelah itu mereka mendatangi ruang kerja Maisya. Di sana gadis itu tengah memegangi perutnya.


"Baby!" pekik Dimas panik. Affhan tak kalah panik.


"Sakit!" rengek Maisya.


Affhan melihat dua bungkus rujak habis dimakan Maisya. Remaja itu menghela napas panjang.


"Ke rumah sakit ya," ajak Dimas khawatir.


Maisya mengangguk, gadis itu terus menekan kuat perutnya yang melilit kesakitan. Dimas menggendongnya.


"Nak?" Rando terkejut ketika melihat Maisya digendong.


Maisya memeluk erat Dimas. Affhan sudah basah matanya karena ikut merasakan sakit saudari kembarnya.


"Papa, Dimas mau bawa Baby ke rumah sakit dulu ya, tolong urus semuanya," ujar Dimas.


"Baik Nak," ujar Rando mengusap punggung Maisya.


Para pengawal langsung sigap. Mereka naik mobil dan langsung menuju rumah sakit.


"Baby?" Lidya terkejut ketika Dimas berlari sambil menggendong Maisya yang kesakitan.


"Baby Mai kebanyakan makan rujak Mam," lapor Dimas.


Affhan sudah menangis, ia juga merasa sakit perutnya. Padahal ia tak makan buah secuilpun.


Tak lama, Virgou datang ke rumah sakit. Maisya sedang terlelap dan tangannya diinfus.


"Baby siklus mendadak dan makan buah berlebihan hingga membuat perutnya kram," jelas Lidya.


"Nggak apa-apa Daddy. Besok boleh pulang," lanjutnya melegakan Virgou.


Pria dengan sejuta pesona itu menunggui putrinya. Maisya memeluk ayahnya erat.


"Baby ... cepet sembuh ya," ujarnya lirih dan mencium lembut kening Maisya.


Bersambung.

__ADS_1


Ah ... kelakuan beda Mai.


Next?


__ADS_2