SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
WELCOME BOY


__ADS_3

Kelahiran anak keempat Darren dan Safitri menambah kebahagiaan dari pihak Dougher Young. Bart menggendong cicit tampannya yang baru berusia dua puluh hari itu. Hari ini Darren berada di rumah yang dulu ia tempati bersama ibu dan semua adik-adiknya. Rumah impian Darren ketika kecil dulu.


Pria itu memberi nama Muhammad Izzat Hugrid Dougher Young, bayi itu dipanggil Baby Izzat.


"Mama Iya ... ipu lada bumah bi pohon?" tanya Aaima melihat rumah pohon yang ada di dekat kolam renang.


"Iya Baby," jawab wanita itu gemas sendiri.


"Tesanana bedibana Mama? Mima bawu te lumah pohon!" ujar bayi cantik itu.


"Nggak bisa sayang. Rumah itu sangat tinggi. Baby nggak boleh naik ke sana!" larang Lidya.


"Talo eundat poleh te sana tenapa lumah na basih lada?!" tanya Aaima protes.


Lidya gemas dan mengangkat bayi cerewet itu. Putri sedang berdinas sore, Jac sedang bersama Demian ke luar kota, nanti malam baru pulang.


Dinar dan Dominic bersama anak-anak lainnya, Maria juga ada di sana sedang bayi kembarnya bersama Herman dan Khasya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan walau Maria sedikit kesal, ia punya bayi tapi bayinya tidak selalu berada di tangannya.


"Mommy, pa'a yan sedan mommy pitiltan?" tanya Maryam mendekati wanita itu.


Bayi berusia mau dua tahun itu duduk di pangkuan wanita itu. Maria gemas dan menciumi Maryam.


"Mommy nggak mikirin apa-apa Baby,"


"Pati eundat seupelti ipu peulihatanna!" sahut bayi cantik itu.


"Memang kelihatannya seperti apa Baby?" tanya Maria gemas.


"Mommy seupelti tesal syama wowan-wowan!" jawab Maryam yakin.


Maria gemas sendiri, ia memang kesal dengan para majikan yang seenaknya mengambil bayi kembarnya.


"Tuan, mereka masih disusui!" protesnya.


"Kan ada susu di botolnya?" Maria memberengut.


"Kau buat lagi saja," ujar Herman menepuk bahu wanita itu.


Bayi Darren sudah dicukur tadi, ia juga telah mengaqiqah putranya. Seperti biasa semua perusuh mengantri bersama anak yatim lainnya. Hal ini membuat David marah-marah dan mengeluarkan mereka semua dari barisan.


Aliyah ada dalam gendongan Terra. Ia terus berdoa agar usahanya untuk hamil lagi terwujud. Ia memang gemas dengan bayi, sepasang anak kembarnya sudah tak mau disebut bayi lagi.


Harun duduk memandangi para orang tua yang sibuk dengan bayi-bayi yang baru lahir, begitu juga Azha, Arion, Arraya dan Bariana. Sky dan Bomesh ikut duduk di sana.


"Kok pada melamun ada apa?" tanya Sky.


"Semenjat ada payi ... Mama syama Papa eundat peulnah peulhatiin pita ladhi?" jawab Harun.


"Baby, baby kan masih pada bayi jadi harus ada yang jagain mereka ekstra," ujar Bomesh menimpali.


"Waktu kalian masih bayi kami juga begitu. Mereka lebih fokus ke kalian dibandingkan ke kami!" lanjutnya.


"Sudahlah ... pial saja olan pewasa syama pala bayi," tukas Bariana.


"Toh pita butan payi ladhi!" lanjutnya.


Aaima datang dan duduk bersama mereka. Bayi cantik itu memandangi kakak-kakaknya.

__ADS_1


"Eh ... Ata', Ata'!" panggilnya.


"Pa'a?" sahut Azha.


"Teumalin Mima watu binet pi bumah Nenet, lada ya pibut-pibut woh!" adunya.


"Wah ... tot eh Kok kek tetangga kita dulu ya? Ada yang suka berantem?" sela Bomesh mengingat kejadian waktu dulu.


"Memangnya ributin apa?" lanjutnya.


Aaima tampak berpikir dengan mengetuk dagunya dengan jari. Para orang dewasa mulai berkumpul dan mendengar gosip bayi belum dua tahun itu.


"Lada yan teuliat ... selaitan atuh! Bedithu," Terra membola.


Memang ayah ibu putri tinggal di perumahan kelas menengah ke bawah. Dua orang tua itu sangat suka membawa cucunya menginap, Septian yang sering mengambil Aaima dari rumahnya.


"Basti pistlina yan binta selai!" terka Arraya.


"Butan, sualana butan suala beulempuan, pati lati-lati," jawab Aaima.


"Wah ... piasana talo yan pinta selai ipu beulempuan. Tayat yan disinelton yan bipi Lala tonton," ujar Arraya lagi.


"Eundat, Mima yatin sualana lati-lati, bampe nanis-nanis nejal pistlina," ujar Aaima serius.


Terra ingin menghentikan percakapan putrinya, tetapi Virgou langsung melarangnya.


"Wah ... buntin lati-lati ipu bensintai pistlina bampai nanis bedithu!' sahut Arraya.


Arsyad, Maryam, Aisyah, Fathiyya, Fatih, El dan Al Bara bergabung bersama. Para perusuh baru itu sepertinya penasaran dengan percakapan kakak-kakak mereka.


"Pistlina pilan dini ... atuh eundat pawu belselaitan tamu. Atuh menandun anat tamu!"


'Tundu peubental!' sela Arsyad tiba-tiba.


"Tamu ladhi nomoni spasa?" tanyanya lagi.


"Tetanda peubelah lumah Nenet!" jawab Aaima.


"Oh ... tetanda atuh judha selin pibut-pibut, balahan lada yan pampe teuliat-teuliat!" ujar Arsyad.


"Teuliat badhaibana?" tanya Maryam penasaran.


"Peuldhi pama selintuhan tamu syana!"


Bart nyaris tersedak mendengarnya, Virgou sampai keluar barisan untuk membuang angin dari perut. Sedangkan Herman benar sudah terkentut-kentut sampai semua anak menoleh padanya.


"Tate ... ipu suala dali pana?" tanya El Bara pemasaran, matanya membola.


'Itu suara kentut Baby," sahut Kean.


'Pemanan bentut lada sualana?" tanya Al Bara kini.


"Ada, Al Bara sering kentut kan?" ujar Kean lagi.


"Ah ... atuh lada ide!" sahut Fathiyya tiba-tiba.


"Pa'a?" tanya semua bayi kompak.

__ADS_1


"Badhaibana talo pita puat peulompaan tentut!" idenya.


"Ide yang bagus sekali. Yang menang suara kentutnya yang paling besar!' ujar Sean ikut-ikutan.


Terra dan wanita lain sudah menggeleng. Mereka menyingkir dan membiarkan para laki-laki berbicara sesuka mereka.


"Mama," panggil Nai.


"Ada apa Baby," sahut Terra.


"Ma, Nai besok mau ke kota M. Mau kasih penyuluhan di sana," ujar anak perempuan itu minta ijin.


"Loh, kamu kan kepala rumah sakit, kamu juga udah bayar pinalti karena menolak dinas di pedalaman kan?" Nai mengangguk.


"Kenapa disuruh ke Kota M lagi?" lanjut Terra.


"Karena nggak ada yang mau Ma. Pihak kampus mohon-mohon ke Nai, katanya karena banyak pengawal jadi mereka meminta Nai buat ke sana," jelas Nai.


Terra sedikit berat mengijinkan putrinya bertugas. Kota M sedang bergejolak karena banyak ketimpangan sosial di sana. Kota paling maju di banding kota J tempat di mana mereka tinggal.


"Kenapa sayang?" tanya Bart.


Rupanya diskusi soal kentut tadi sudah selesai. Para perusuh memilih bermain mobil-mobilan.


"Baby Nai dapat tugas ke Kota M," jawab Terra.


"Kenapa mesti Nai? Memang tak ada dokter laki-laki di kampus atau kota ini?" tanya pria itu gusar.


"Entah, alasannya karena Nai punya banyak pengawal,"


"Haidar!" panggil pria gaek itu.


"Apa Grandpa?" Haidar mendatangi kakek istrinya.


"Kenapa Nai ditugaskan ke Kota M?"


"Apa? Biar aku telepon pihak kampus!" ujar Haidar.


"Oh ... ayo lah ... jangan berlebihan seperti itu!" sela Nai mulai kesal akan sikap posesif orang tuanya.


"Baby bukan begitu! Kota M tengah bergejolak sekarang!"


"Justru itu Nai harus datang. Nai akan menghapus pikiran tentang orang kaya yang sombong!" sahut gadis itu bersuara keras.


"Nai!" peringat Rion.


Pemuda itu tengah menggendong Fael. Bayi tampan itu tak mau lepas dari gendongan raja bayi itu.


"Kak ... please!"


bersambung.


wah ... diijinin nggak ya?


Welcome Baby Izzat!


next?

__ADS_1


__ADS_2