
"Papak ... dadah!" lambai Firman pada layar.
Pemerintah negara K meminta maaf pada negara Indonesia. Bukan hanya pada Indonesia saja, tapi ada banyak negara yang manusia mendapat suaka di negara itu langsung dikenakan wajib militer. Kekurangan personil untuk mengamankan negaranya membuat pemerintah terpaksa mengambil jalan itu.
"Jono Susilo menolak kembali ke negara kita begitu juga enam orang lainnya. Mereka siap mengangkat senjata dan menjadi pahlawan di sana. Hanya Tuan Jono Susilo yang memiliki keluarga yang ditinggalkan," ujar perwakilan duta besar negara K ketika memberikan rekaman terakhir dari Jono sebelum gugur.
"Berkat keberanian Tuan Susilo dan enam kawannya. Pemerintah berhasil merebut kekuasaan dari pemberontak dan kemenangan telak berada di pihak pemerintahan yang sah. Kini konflik selama tiga tahun berhasil reda setelah dua minggu keberadaan Tuan Susilo dan enam temannya," lanjut pria itu panjang lebar.
Sebuah amplop berisi baju dan identitas Jono dan enam rekannya berada di tangan Virgou. Gomesh memberikan amplop itu karena tadi raksasa itu yang mendatangi kedubes karena pemberitaan itu.
Arfhan menenangkan tiga sepupunya yang menangis. Ketiganya sudah menjadi yatim piatu, semua memeluk mereka dan bertangisan.
"Abang ada di sini Dik, jadi jangan khawatir ya," ujar Arfhan.
Della, Firman dan Alia memang adik sepupunya. Mereka memanggil Arfhan Abang semenjak bisa bicara.
"Ada Daddy, Papa, Papi, Baba dan Abi di sini sayang. Jangan lupakan itu," ujar Dominic lalu memeluk Alia yang paling kecil.
Virgou berdecih ketika melihat nominal cek yang ada di tangannya. Pria sejuta pesona itu meminta negara K mengembalikan jasad ketujuh pria pemberani itu. Walau dengan diskusi yang sangat alot.
Virgou kini mendapat kabar jika Rodrigo tengah melangsungkan pernikahan di rumah sakit dengan Sashi. Ia juga mendengar jika ibu karyawatinya itu meninggal dunia satu jam setelah Sashi menikah.
Haidar dan Herman mengurus semuanya. Walau semua diserahkan pada ajudan kedua mereka. Berita itu membuat Virgou kini duduk sambil mengurut keningnya.
"Daddy!' panggil Maisya hati-hati.
"Iya Baby ... kemarilah!" Virgou merentangkan tangannya.
Maisya duduk di pangkuan sang ayah. Netra pekat Maisya sangat mirip sang istri. Memang Affhan dan Maisya lebih mirip Puspita di banding dirinya.
"Daddy lelah?" tanya gadis itu mengusap rahang kokoh sang ayah.
"Sini Mai peluk," ujarnya lalu memeluk sang ayah.
Virgou tak ragu memeluk putrinya itu. Maisya memang tak begitu dekat dengannya, gadis itu sedikit pendiam. Berbeda dengan Kaila yang periang dan cerewet.
"Thanks hon," ujar Virgou setelah menenangkan dirinya.
"Ba bowu Daddy," ujar Maisya lalu mengecup kening pria, cinta pertamanya itu.
"Ba bowu pu, baby. Sudah sana, sama saudaramu," ujarnya meminta putrinya pergi.
Maisya menolak, ia masih ingin bermanja pada ayahnya. Akhirnya Virgou membiarkan anak gadisnya itu.
"Hai ... kau sudah besar sayang," ujar Puspita ketika menemukan putrinya dipangku sedemikian rupa oleh suaminya.
"Mai kan jarang begini, malah nggak pernah," ujar gadis itu lirih.
__ADS_1
"Baby ... ada apa? Kenapa hmmm?" tanya Virgou menatap anak gadisnya.
Maisya hanya menunduk, matanya yang berbeda dengan saudara lainnya membuat ia membangun benteng tersendiri dengan ayahnya. Padahal Virgou tak pernah membedakan semua anak.
"Baby, tatap Daddy!" perintah pria sejuta pesona itu.
Maisya menatap ayahnya. Ada genangan kecil di sana. Virgou dan Puspita tentu panik. Mereka tak menyangka jika anak gadisnya itu menyimpan sesuatu yang mengganggu hati gadis itu.
"Baby?"
"Maaf Daddy, Mai hanya merasa berbeda dengan Daddy," jawab Mai lirih.
"Kamu sama cantik dengan Mommy!' tekan Puspita.
"Apa wajah Mommy jelek sampai kamu malu?"
"Sayang!" peringat Virgou.
"Mommy ... bukan gitu," rengek Maisya merasa bersalah.
"Sayang ... dengar!" ujar Virgou menenangkan dua perempuan yang kini malah saling mencibir satu dan lainnya.
"Kamu cantik seperti mommy kamu, Daddy jatuh hati karena mata mommy yang cantik dan juga semua tentang dirinya yang indah!" lanjut Virgou.
"Jangan membedakan dirimu dengan yang lain," lanjutnya.
"Besok tunjuk orang yang mengatakan itu pada Mommy! Biar Mommy lipet-lipet!" omel Puspita sambil memperagakan melipat baju.
Maisya tertawa melihatnya, lalu ia merajuk manja. Kaila datang dan ikut minta pangku. Maisya pun menyingkir.
"Kakak nggak usah bangun, kita siksa Daddy dengan memangku kita berdua!"
Kaila menarik tubuh kakaknya, kini dua gadis cantik berada di pangkuan ayah mereka. Puspita mencium empat kesayangannya itu.
"Ayo sudah manja-manjanya. Kasihan Arfhan dan tiga adiknya," ujar Puspita menyudahi drama yang dibuat Maisya.
"Iya Mommy," keduanya menurut.
Arfhan sudah lama yatim piatu. Kini ketiga adiknya juga yatim piatu. mereka dalam gendongan para pria. Alia dalam gendongan Felix, Arfhan digendong Gomesh, Della digendong Dahlan dan Firman digendong Budiman.
Hari ini tujuh peti mati didatangkan dari negara K. Rio yang menerima tujuh bendera merah putih sebagai wakil dari ketujuh pria pemberani itu.
Setelah perdebatan alot antara pihak keluarga dan kedutaan besar. Dibantu oleh pemerintah pusat. Virgou berhasil mendapatkan tujuh jenazah laki-laki yang ia buang ke laut lepas akibat berseteru dengan Sky juga Bomesh.
"Papak!" panggil Firman ketika foto ayahnya dipajang di pinggir makam.
Pemerintah memutuskan memakamkan ketujuhnya secara militer dan dimakamkan di taman makam pahlawan.
__ADS_1
Virgou menolak semua uang tanda belasungkawa dari berbagai negara. Terlebih dari negara K. Arfhan selaku ahli waris menyerahkan semua keputusan pada ayah angkatnya.
Bahu Arfhan bergetar ketika peti dimasukkan ke dalam liang lahat. Rio memastikan jika semua peti diisi jenazah yang sesuai dengan tujuh pria pemberani itu.
"Tenang sayang," ujar Gomesh memeluk Arfhan yang menangis tertahan.
"Papak ... peulamamat pindhal ... pampai pita peultemu di suldha-Nya Allah ya Papak!" teriak Della menyebut doa penuh pengharapan. "Panti tundhuin Della ya Pak!"
Semua meneteskan air mata mendengar harapan bayi cantik yang ada digendongan Dahlan. Bunga ditabur, ucapan belasungkawa dari berbagai negara diucapkan pada empat anak kecil yang masih terlalu polos.
Semua akhirnya pulang. Mereka masih dirundung duka. Virgou kini berhadapan dengan Arfhan.
"Arfhan!"
"Daddy,"
"Sekarang, Daddy akan menyuruh Papa Gomesh untuk melatih dan menggemblengmu secara keras dan penuh disiplin. Apa kau siap Nak?"
Arfhan menatap ketegasan Virgou. Sebuah perintah agar membuat dirinya lebih baik. Bocah delapan tahun itu mengangguk tegas.
"Siap Daddy!"
Virgou lalu merentangkan tangannya. Arfhan lalu mendekati dan menyambut pelukan Virgou. Zhein dan anak-anaknya baru melihat hal baru di sana.
"Papa, Setya juga mau ditempa seperti Baby Arfhan!" pinta remaja itu tegas.
"Raffhan juga mau!"
"Jangan khawatir. Kak Ion yang turun tangan melatih kalian. oteh!"
"Oteh!" sahut semuanya setuju.
"Tuh ... au sadhi dadoan!" sahut Arsh tiba-tiba sambil berkacak pinggang.
"Oh ya? Sini kamu Bayi!" ujar Azizah yang gemas dengan bayi montok itu.
Semua kini tergelak, mereka berlarian menghindar kakak-kakak yang hendak menggelitiki mereka.
Sementara di tempat lain, pemakaman ibu Sashi berlangsung sederhana, perwakilan dua perusahaan mengucap belasungkawa dan juga selamat atas pernikahan gadis itu.
Rodrigo menatap istrinya, ia sudah mengurus semuanya. Kini Sashi ia peluk dengan mesra dan membawanya ke sebuah hotel memadu kasih dan mencetak banyak bibit.
Bersambung.
Ah ... ada air mata ...
Next?
__ADS_1