
Satrio sudah membeli rumah sederhana untuknya dan istrinya kelak. Kini mereka berada di sebuah bangunan mewah dengan halaman luas.
"Ini rumah kita sayang," ujarnya sambil menggandeng tangan istrinya.
Adiba berbinar melihat semua dekorasi dalam rumah. Ia tak menyangka bisa memiliki rumah sebagus dan semewah ini.
"Jadi bagaimana sayang? Apa kamu suka?"
"Iya Mas ... aku suka ... suka banget!" jawab gadis itu dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
Sebenarnya baik Satrio semua perusuh angkatan pertama memiliki rumah sendiri kecuali Nai dan Arimbi. Semua berada di satu komplek yang sama.
"Rumah Kean ada di sebelah kita loh," ujar Satrio memberitahu.
"Rumah Sean ada di depan jalan sana, kalau Calvin sebelahnya. Al juga selang dua rumah, Daud ada di belakang rumah Al," lanjutnya.
"Mas dan semuanya memang nggak pernah jauh ya sama keluarga?" Satrio mengangguk.
"Kami selalu bersama dari kami bayi. Jadi ketika Nai dan Arimbi sudah punya suami kami sedikit kehilangan," jawab Satrio.
Pemuda itu menatap lekat netra gelap gadis yang baru ia nikahi dua hari lalu.
"Dek, jika nanti aku lebih mendahulukan saudaraku. Kamu jangan kaget ya," ujarnya.
"Mas ... mereka adalah dirimu dan dirimu adalah mereka. Aku tak berhak memisahkan kalian semua karena statusmu sebagai suamiku. Tapi aku hanya kau tau peranmu sebagai suami," jelas Adiba membuat Satrio tersenyum.
Tangan besarnya mengusap wajah mungil sang istri. Dari ia menikah hingga sekarang hanya itu yang berani ia lakukan.
"Mas ... aku boleh kok dicium," ujar Adiba dengan muka merah karena malu.
Satrio tersenyum lebar. Perlahan ia mengecup kening sang istri untuk pertama kalinya. Jujur ketika masuk kamar, Satrio tak berani melakukan apapun selain memeluk istrinya.
"Sayang," Satrio mengelus bahu Adiba.
Tubuh gadis itu menegang ketika dicium dan disentuh begitu rupa. Adiba memang tak sepolos Satrio. Gadis itu tau banyak, hanya saja sebagai perempuan ia sangat malu memintanya terlebih dahulu.
Sedang Satrio tampak sedikit gemetar ketika ia mencium kening istrinya.
"Buka masih lama ya?" tanyanya serak.
Adiba mengerutkan kening. Ia menatap suaminya dan terlihat ada kabut gairah di sana. Gadis itu menunduk takut. Ia sendiri belum siap untuk melakukan itu.
"Masih lama mas," cicitnya menjawab.
Satrio tersenyum, ia pun memeluk istrinya gemas. Sebelum ia menikahi Adiba, ia begitu bergairah, namun setelah menikah. Gairah itu terbang entah kemana.
"Coba nanti malam ya?" bisiknya dan membuat Adiba merengek manja.
Setelah melihat-lihat rumah mereka. Satrio membawa istrinya ke mansion Bram. Kali ini semua ada di sana.
Mata Rion menyelidik ketika menatap Satrio. Pria itu memang sangat usil terhadap adiknya yang baru menikah itu.
"Wah ... masih puasa? Tumben?!" ledeknya.
"Ih Mas baby!' peringat sang istri yang malu dengan kelakuan suaminya itu.
"Loh ada yang salah?" tanya Rion tanpa dosa.
Azizah kesal, tapi ia juga penasaran kenapa adiknya tak kedapatan rambutnya basah.
Sebagai perempuan walau berhijab, ia pasti tau. Sedang Adiba bukan sedang dalam siklus.
"Dek," panggilnya.
"Ya kak?"
__ADS_1
"Sini ikut kakak!" ajaknya.
Sementara Satrio duduk bersama Demian, Jac, David dan Gabe. Rion menyusul begitu juga Darren.
"Kak," Satrio bersuara.
Semua menoleh padanya. Pemuda itu menghela napas panjang, ia jadi seperti pesakitan di ruang sidang jika berhadapan dengan para perusuh di atasnya itu.
"Kenapa baby?" tanya David sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Satrio.
"Tentang malam pertama," ujarnya sangat pelan.
"Hah ... apa?" David menajamkan pendengarannya.
"Ck!" Satrio kesal sekali dengan itu.
"Hei ... kamu mau ngomong apa sih?" tanya Jac sangat penasaran.
Jac yang dulunya datar dan nyaris tanpa ekspresi. Berubah total setelah bersama keluarga perusuh ini.
"Hmmm ... waktu malam pertama Papa Ama kakak ngapain?" tanya Satrio pada akhirnya.
"Oh itu!" sahut semua lega.
"Eh ... emang kamu belum ... nganu?" tanya Rion dengan seringai menjengkelkan.
Satrio menggeleng. "Takut."
"Mprrurufffhhh!" semua nyaris menyemburkan ludah mereka karena menahan tawa.
"Ih ... kesel!" Rajuk Satrio ngambek.
"Eh ... eh ... ShadowAngel kok ngambekan!" sindir Demian.
"Habis ...!" rajuk Satrio mencebik kesal.
"Kak ion malah nanya sama Papa Dem dan lainnya yang udah nikah," lanjutnya.
"Baby ... kamu cium aja bibir Adiba!" suruh Gabe yang diangguki semua pria.
"Takut," cicit Satrio.
"Percaya dari cium bibir dulu baru ada kegiatan lainnya," sahut Jac antusias.
"Papa emang dulu nggak pernah pacaran?" tanya Satrio.
"Papa nggak pernah pacaran. Pacar Papa cuma pacaran sama Ibu Putri!" jawab Jac.
"Papi juga!" sahut David.
"Daddy juga!" sahut Gabe.
"Abah dulu hanya suka sama Mama Aini tapi nggak pacaran ya!" aku Darren. "Sekarang istri Abah cuma Uma!"
"Papa Dem?" tanya Satrio.
Pria itu berdecak, lalu melirik Haidar dan Virgou. Dua pria itu tentu punya wanita lain sebelum menikah dengan isteri mereka sekarang.
"Papa Haidar sama Daddy Vir juga pacaran dulunya!" sengit pria itu.
Beruntung semua perusuh paling junior tengah bermain. Jadi mereka tak mendengar percakapan dewasa itu.
"Hei sudah ... jangan bicara. Nanti ketauan sama tukang kepo!" peringat Gabe sambil memberi kode dengan gerakan dagu.
Semua menoleh, Al Bara ada di sana dengan mata bulat. Semua gemas, Rion menarik keponakannya itu dan langsung memangkunya.
__ADS_1
"Baby tadi denger apa?" gelitiknya sampai Al Bara tergelak.
Demian memang sangat tidak percaya jika dua putranya jadi tukang gosip dan paling suka menguping.
"Ambun Papa!" teriak Al Bara.
"Baby denger apa?" tanya Rion lagi.
"Eundat deunel pa'a-pa'a Papa. Suwel!" jawabnya bersumpah.
"Lain kali jangan menguping pas orang dewasa sedang berbicara ya!" peringat Darren.
"Pati Papa suta deunelin oplolan pita!" tembak Al Bara yang membuat Darren berdecak.
"Udah main sana!' suruh Rion sambil menepuk bokong Al Bara.
Bayi itu bergerak menuju semua perusuh seumuran.
"Days!" panggilnya.
Semua menoleh, mereka langsung berkumpul seperti ingin mengetahui apa yang hendak dibicarakan oleh saudaranya itu.
"Pa'a?" tanya Arsh.
"Lada finfo pentin nih!" sahut Al Bara.
"Basti omonan lolan pewasa!" tebak Aisya.
"Pa'a lada nanat sisilan palu?" tanyanya.
"Apaw nanat beulenpuan seutalan pisa sadhi nanat sisilan judha?" cecarnya.
"Butan ... imih butan pentan nanat sisilan palu!" jawab Al Bara.
"Pa'a don?" tanya Fathiyya begitu penasaran.
"Imih peuntan balam peultama!"
"Prrruufffhh!" Virgou menyembur lalu tersedak.
"Pelan-pelan Daddy!" Arimbi mengelus punggung lebar Virgou.
"Tidak apa-apa Baby," ujarnya.
Kupingnya makin ia pertajam untuk mendengar celoteh anak-anak lagi.
"Balam peultama?" tanya Rinjani dengan mata bulat sempurna.
"Biya ... padhi Patlet Pastlio nomon dithu!" jawab Al Bara semangat.
"Peumana teunapa denan balam beultama?" tanya Aaima dengan kening berkerut.
"Atuh pidat pahu. Pati yan atuh baham Patlet pidat pahu beusti pa'a puntut balam peultamana!" jawab Al Bara lagi.
"Beumana balam peultama pa'a?" tanya Fatih kini.
"Buntin balam peultama Patlet Pastlio bobo pama butlet Pida!" celetuk Maryam menjawab.
"Tan pindal popo jaja ... pa'a syusyahna syih?!" sengit Dita.
Mereka semua tiba-tiba menoleh pada Virgou.
"Dasar Nanat sisilan!" umpat pria sejuta pesona itu pelan.
Bersambung.
__ADS_1
Aduh sakit perut othor nulis ini!
next?