
Hari-hari Amira berlangsung seperti biasanya, berkutat dengan baju-baju pelanggan yang datang dan pergi. Akhir-akhir ini ada beberapa pelanggan baru sehingga pekerjaannya menjadi bertambah banyak. Namun Amira selalu berusaha untuk tak mengecewakan pelanggannya dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin meski kadang mengorbankan waktu makan siang dan jam kepulangannya.
Sore itu Amira sibuk dengan baju-baju kotor yang masih menumpuk, mungkin membutuhkan sekitar dua kali pencucian dan itu artinya dia harus bekerja lembur sekitar satu jam lagi. Setelah semua baju selesai dikemas dan ditata di lemari penyimpanan dia bersiap untuk pulang. Namun niatnya harus diurungkan saat dia melihat sebuah mobil berhenti di depan gerainya.
Seorang pria turun dari mobil itu dan menghampirinya. Dia menyodorkan bungkusan yang dibawanya.
"Cucikan ini," perintahnya.
"Maaf, Tuan. Gerai saya sudah tutup. Tapi kalau Tuan berkenan saya akan mengerjakannya besok pagi dan Tuan bisa mengambilnya kembali besok siang."
"Hmmm." Tangannya yang masih memegang bungkusan itu masih terjulur ke arah Amira.
Amira tak berani mengambil bungkusan itu karena dia tak bisa mengerjakannya saat itu.
"Ya sudah, besok siang aku ambil. Ini kartu namaku. Besok kabari kalau sudah selesai," ujarnya sambil meletakkan bungkusan yang dibawanya dan juga sebuah kartu nama di atas meja konternya.
Amira mengambil bungkusan itu dan menimbangnya, namun saat dia membalikkan badannya untuk memberitahukan berat bungkusan itu, ternyata pria itu sudah tak ada di tempatnya.
Amira berusaha mengejar pria itu, namun sayang pria itu sudah pergi dengan mobilnya.
Amira kembali ke meja konternya dan mengambil kartu nama yang pria itu tinggalkan. Reynald Subroto. Nama itu tertera di sana besert nomor teleponnya. Disimpannya kartu itu di dompetnya yang sudah usang dan hanya berisi uang recehan untuk ongkosnya pulang.
"Jadi namanya Reynaldi Subroto. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," gumamnya.
Amira tak mau memikirkan lebih jauh tentang nama itu, dia bergegas pulang karena tak mau membuat ibunya cemas dan dia merasa sangat lelah karena terlalu banyak bekerja.
Esoknya Amira membuka bungkusan baju yang belum dicucinya. Baju milik pria itu. Pria bernama Reynaldi Subroto. Dipilihnya baju-baju itu.
"Baju yang mahal," gumamnya saat melihat merek di kerah baju-baju itu.
"Aku harus berhati-hati," gumamnya sekali lagi.
Amira tak mau mengambil resiko harus mengganti rugi jika baju-baju itu sampai rusak karena salah penanganan. Dia tahu bahwa dia tak akan mampu untuk menggantinya.
Dengan sangat hati-hati dia mengerjakan baju-baju itu dan akhirnya selesai. Semuanya sudah tergantung rapi di lemari penyimpanannya. Dia mengambil kartu nama pria itu yang disimpan dalam dompetnya.
"Dimana kartu itu? Kenapa gak ada di sini?" Dia terus mengaduk-aduk isi dompetnya, namun tak ditemukannya kartu nama itu.
__ADS_1
Amira berusaha mengingat-ingat kembali dimana terakhir dia menyimpannya. Dia yakin bahwa kemarin dia menyimpannya di dalam dompet itu. Sesaat dia termenung, lalu tiba-tiba dia ingat bahwa semalam dia sempat mengeluarkan kartu itu di kamarnya
"Ya ampun. Kartu itu ada di kamar. Aku lupa memasukkannya kembali. Aduh... bagaimana ini?"
Di tengah kebingungannya telepon di gerainya berbunyi.
"Halo, Amira Laundry. Ada yang bisa dibantu?" sapa Amira.
"Ya. Apa bajuku sudah selesai?" kata suara pria di seberang sana.
"Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Rey. Reynald."
Deg. Jantung Amira serasa berhenti. Ternyata dia sedang bicara dengan orang yang sedang dipikirkannya
"Oh iya, Tuan. Bajunya sudah selesai. Apa mau diambil sekarang?"
Tuuut. Sambungan teleponnya terputus. Amira menatap gagang telepon yang sedang dipegangnya lalu meletakkannya di tempatnya kembali.
"Orang aneh," gumamnya.
Amira terkejut mendengar suara itu lalu segera membalikkan badannya ke arah suara itu berasal.
"Tuan? Anda sudah di sini?" Amira menatap takjub pada pria di depannya.
"Bajuku!" ucapnya tegas.
"Oh, baik." Amira segera mengambil baju-bajunya dan menyerahkan pada pria itu.
"Lain kali telepon aku, kalau sudah selesai," ujarnya sambil meraih baju-bajunya.
"Mohon maaf, Tuan. Saya kehilangan kartu namanya. Jadi saya tak bisa menghubungi Tuan."
"Panggil saja Rey." Dia mengeluarkan kartu namanya lagi dan menyerahkan pada Amira.
Rey memberikan beberapa lembar uang pada Amira tanpa bertanya berapa dia harus membayar dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Tuan, ini terlalu banyak!" teriak Amira.
Rey hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh sedikitpun. Amira tersenyum melihat uang digenggamannya. Pikirannya seketika menjadi cerah, berbagai rencana terlintas dalam pikirannya. Dan yang utama, dia akan membeli obat untuk ibunya.
Sejak saat itu Rey menjadi pelanggan tetap Amira meski tak setiap hari. Amira selalu setia menantikan kedatangan Rey, karena selain Rey itu tampan, dia juga selalu memberi uang lebih. Amira sangat terbantu oleh uang yang diberikan Rey. Dia sudah tak terlalu pusing lagi memikirkan biaya hidup dan biaya obat ibunya.
Rey memang bukan tipe pria yang suka beramah tamah dan cenderung tak banyak bicara, namun Amira sangat menyukainya karena dia tak pernah bersikap tidak sopan padanya.
Namun tanpa sepengetahuan Amira, Rey memperhatikan gerak gerik Amira yang lincah, dan tampang Amira pun lumayan cantik, apalagi kalau dipoles kosmetik dan dipakaikan baju dan perhiasan mahal.
Diam- diam Rey mengagumi Amira. Wanita itu sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah singgah ke pelukannya dengan begitu mudah hanya dengan diiming-imingi uang. Wanita-wanita yang tak mau bekerja keras dan ingin mendapatkan segalanya dengan cara cepat dan mudah. Berbanding terbalik dengan Amira, seorang gadis cantik yang rela bekerja keras untuk menopang hidupnya.
Tak pernah Rey melihat Amira mengeluh atau sekedar berkeluh kesah tentang kesulitan hidupnya. Dia seperti membawa energi positif bagi Rey untuk selalu bersemangat menjalani hidup.
"Wanita yang menarik," gumamnya setiap kali dia memperhatikan Amira.
Rey bisa saja meninggalkan baju-bajunya dan mengambilnya kembali saat sudah selesai dicuci, tapi dia lebih memilih untuk menunggunya. Dia lebih suka memperhatikan kelincahan Amira dalam bekerja.
Namun karena gengsinya Rey menahan diri untuk mendekati Amira. Dia selalu merasa ada jarak yang membuatnya sulit sekali untuk mendekati wanita itu. Amira selalu bersikap seolah tak tertarik pada ketampanan dan kekayaannya.
"Tuan, bajunya sudah selesai..."
"Panggil Rey saja," potong Rey.
"Baik. Tuan Rey, bajunya..."
"Rey saja. Tidak pake tuan."
"Oh iya. Bajunya sudah selesai." Amira meletakkan baju-baju Rey di atas meja konternya dengan hati-hati.
Seperti biasa Rey meletakkan beberapa lembar uang seratusan ribu beberapa lembar.
"Maaf, Tuan..."
"Rey!"
"Rey, uangnya terlalu banyak. Ini kembaliannya."
__ADS_1
"Anggap saja tip untuk kerja kerasmu," jawab Rey sambil berlalu
Entah apa yang dirasakan Amira saat itu. Di satu sisi dia senang karena punya cukup uang untuk membeli obat ibunya dan sedikit menambah tabungannya. Di sisi lain dia merasa bahwa itu bukan haknya, karena uang yang diberikan Rey terlalu besar, meski Rey mengatakan bahwa itu adalah tip untuknya.