
Pesta berakhir dengan sukses. Banyak terjadi kerjasama antar perusahaan. Bahkan perusahan milik Diablo ikut mendulang proyek besar di pesta itu. Anneth tak mau lepas memeluk Gomesh, putranya.
"Aku merindukanmu," ungkapnya jujur.
"Ingin aku masukkan lagi kau dalam rahimku dan melahirkanmu yang nakal dan membawa semua adik-adik yang lahir setiap tahunnya," lanjutnya dengan linganan air mata.
"Tapi aku nggak mau kembali Ma, aku bahagia sekarang," ujar Gomesh yang membuat tangisan Anneth pecah.
Pria raksasa itu meminta maaf, ia menciumi sang ibu dan mengusap air mata penyesalan wanita itu.
"Mom ... i'm happy know ... please don't do this!" pinta pria itu.
"I'm so sorry ... i'm so sorry!"
"I forgive you Mom!" sahut Gomesh mengelus punggung ibunya.
Anneth memeluk Maria. Ia mengelus wajah cantik menantunya.
"Kau adalah yang terbaik sayang ... jaga putra dan semua cucuku ya," pintanya.
"I Will Mom," jawab Maria.
Pesta usai, semua sudah tidur di kamar yang telah dibooking oleh Bart. Hotel ini adalah milik Frans. Dua pasang pengantin sudah menikmati malam mesra mereka di kamar masing-masing.
"Sayang ... apa kau bahagia?" tanya Rion pada sang istri.
"Tentu aku bahagia sayang," jawab Azizah tegas.
Rion mencium bibir istrinya, setengah tahun sudah mereka menjalin hubungan sebagai suami istri. Belum ada tanda-tanda Azizah hamil. Rion masih semangat menanam bibit-bibitnya. Seluruh kamar milik sepasang suami istri sangat panas dengan ritual ranjang mereka.
"Mas," rengek Khasya ketika Herman menggoda intinya.
Pria tua itu sangat tangguh dengan urusan ranjang. Bahkan Bram juga sibuk mencumbu istrinya layaknya pengantin baru.
Pagi menjelang, semua nyaris bangun kesiangan, hal itu berimbas pada semua anak-anak. Usai subuh mereka tidur lagi hingga bangun pukul 10.00.
"Aku lapar!" pekik Bart di kamar.
Efek bergoyang dangdut tadi malam membuat ia kelelahan. Para perusuh juga menangis karena lapar. Beruntung anak angkat Bart sigap. Mereka memesan makanan untuk sarapan.
Kamar anak laki-laki dan perempuan dipisahkan, Nai juga kesiangan. Kaila membangunkan kakaknya karena lapar.
Sedang Adiba juga sudah memesan makanan untuk adik-adiknya. Usai sarapan dan mandi, mereka keluar kamar. Semua orang tua meminta maaf pada anak-anak.
"Maaf ya Baby," ujar Terra pada semua anak-anak.
"Mama Papa napain syih ...!" omel Harun.
"Tayat eundat inet anat!" lanjutnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Untun ada Ata' Azlan!" Harun masih mengomel.
"Kan baby yang nggak mau bobo sama Mama," sahut Terra tak mau disalahkan.
"Telus ... talna pita eundat bawu bobo Ama Mama ... Mama lupa dithu Ama pita?" tanya Arraya sinis.
__ADS_1
"Baby!" peringat Rion.
"Ata' ... Aya beunel tan!"
Rion mengangguk. Ia juga merasa bersalah pada semua adiknya itu. Maryam dan anak seusianya hanya tenang, Adiba yang memeriksa semua bayi itu dan memesan sarapan untuk mereka. Bart memang membuat pintu penghubung antar kamar agar para kakak bisa mengontrol adik-adiknya.
Akhirnya mereka cek out. Bart membawa mereka ke sebuah perumahan villa yang di mana ada nama-nama para orang tua. Herman berada di villa mereka begitu juga yang lainnya. Bart memiliki Villa besar yang baru saja rampung tiga bulan lalu. Frans menyiapkannya atas permintaan sang ayah untuk menampung semua anak-anaknya.
"Papa ... katanya Papa bangun pesantren dan masjid?" tanya Hadi, "di mana?"
"Oh ... besok kita ke sana ya, kita istirahat dulu di sini. Makan-makan enak, nanti malam kita barbequean!"
Sedang di Villa Rion Azizah sudah memasak. Semua bahan sudah disiapkan di lemari pendingin. Siang nanti mereka akan makan bersama di gazebo besar. Semua masak sendiri-sendiri dan dikumpulkan jadi satu.
"Kak, cuminya dipotong-potong kek gini?" tanya Adiba yang membantu kakaknya.
"Iya Sayang," jawab Azizah.
Usai masak, kini semua kumpul di gazebo besar di tengah-tengah komplek villa. Para bodyguard ikut makan bersama, Usai makan siang mereka kembali tidur kerena memang acara kemarin menguras tenaga.
"Kak, kita mau keliling taman ya!' ujar Adiba ketika sore menjelang.
'Iya sayang," sahut Azizah.
Adiba keluar, gadis tanggung itu menikmati pemandangan sore, ada taman bunga di sana. Kean tampak sibuk mengamati kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya.
"Kak Kean!" remaja itu menoleh.
"Dib," sahutnya.
"Nih, lihat kupu-kupu keluar dari kulit kepompongnya," tunjuk Kean sambil menjawab.
Adiba terpana dengan binatang itu. Sayapnya yang indah tampak kuyu dan lama mekar dan terbang mengitari bunga.
"Kamu tau nggak, selama metamorfosis, kupu-kupu itu berpuasa loh. Ada yang hanya beberapa minggu bahkan ada yang sampai bertahun-tahun, paling lama adalah dua tahun," jelas Kean.
Adiba mengangguk, gadis itu tentu tau bagaimana binatang cantik namun hidupnya tak lama itu berkembang, dari ulat hijau yang menjijikkan berubah jadi kupu-kupu cantik.
Satrio melihat kedekatan gadisnya dengan salah seorang saudaranya. Memang cemburu belumlah pantas dirasakan Satrio. Remaja itu memilih mendekati mereka berdua, senyum indah Adiba padanya membuat hati Satrio tenang.
"Kalian ngapain?" tanyanya.
"Ini loh Mas, tadi ada kupu-kupu keluar dari kepompongnya," jawab Adiba.
Kean lalu mengambil keong yang cukup besar, ia menunjukkannya pada Adiba.
"Hah!" sahutnya menakuti.
"Ih ... kakak Kean jorok!" teriak Adiba.
Remaja yang polos tentu mengajak adiknya bermain. Satrio juga jijik dengan binatang itu berlarian, Kean tertawa-tawa sambil menakuti keduanya. Sean, Cal, Daud dan Al melihat Kean membawa binatang filum Mollusca atau hewan dengan tulang lunak.
"Papa ... Kean jorok megang-megang keong!" adu Sean.
"Kean!" teriak Haidar.
__ADS_1
"Buang keongnya!" titahnya galak.
Kean cemberut, dengan hati-hati ia mengembalikan binatang lucu itu ke pot besar.
"Cuci tangan!" perintah Haidar lagi.
Kean menurut, Satrio meledek saudaranya sambil menjulurkan lidah.
"Aku ambil lagi nih keongnya!" ancam Kean usil.
"Papa ... Kean nya masih mau megang keong!" adu Satrio.
"Satrionya ngeledek Kean Pa!" adu Kean.
"Trio!" seru Haidar lagi.
"Kamu!"
"Kamu!"
"Ih ... kok malah ribut?!" seru Haidar melihat dua putranya eker-ekeran. (Selalu membuat ulah pada sesamanya).
"Tadi Papa suruh apa?" tanya Haidar gemas dengan tingkah perusuh senior itu.
Kean mencuci tangannya. Terra hanya bisa menggeleng kepala.
Harun dan lainnya bersepeda, Leon membelikan banyak sepeda untuk anak-anak kebanyakan roda tiga. Para ayah dan kakak mengawasi mereka.
"Wah ... imi badhaibana delatinna!' pekik Arsyad.
"Dikayuh pedalnya Nak!" suruh Gio.
Tangan pria itu menuntun kaki putranya mengayuh pedal. Dengan cepat Arsyad bisa mengayuh sepeda roda empat itu. Semua anak riuh bahkan Ari juga sudah bisa bersepeda.
"Papa ... Kean nggak dibeliin sepeda?" tanyanya sedikit merajuk pada Haidar.
"Kenapa tanya Papa. Yang belikan kan Grandpa Leon," jawab Haidar.
Kean merajuk pada Leon, ia juga mau bersepeda. Tak butuh waktu lama, sepeda untuk para remaja datang.
"Hati-hati ya!' peringat Terra.
Semua anak bersepeda mengelilingi gazebo besar itu. Terra dan lainnya menyiapkan kudapan dan minuman sore.
Malam berganti, semua tidur dengan senyum bahagia. Anak-anak mengucap terima kasih pada para orang tua yang membuat mereka bahagia.
"Terima kasih Papa," ujar Azlan mewakili semua saudaranya.
Bart memeluk mereka dengan sayang, dalam hidupnya ia tak pernah sebahagia ini.
bersambung.
Terkadang ... bahagia itu sederhana ... membuat orang lain tersenyum bahagia.
Next?
__ADS_1