
Kini distrik itu penuh dengan manusia. Keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight menjadi sorotan. Terutama anak Dominic, tiga bayi kembar identik itu diburu fotonya oleh para wartawan.
Namun betapa rapatnya penjagaan yang dilakukan oleh PT SavedLived milik Virgou yang kemarin baru saja ia margin atau gabung dengan salah satu perusahaan bodyguard yang ia beli ketika kasus mendiang Labertha Weist memperkenalkan keluarganya.
"Berbaik hatilah Tuan!" pinta beberapa wartawan yang datang.
Tiga empat paparazi sampai naik ke pohon demi mendapat foto-foto mereka tapi lokasi yang jauh dari jangkauan bidikan kamera membuat semua kesulitan.
"Aku dengar Tuan Muda Hugrid Dougher Young memiliki putra yang baru lima bulan?" sahut salah satu paparazi.
"Itu yang digendong di dada Tuan Hugrid Dougher Young!" pekik mereka.
"Ah ... kenapa tidak ada pohon dekat lokasi ya!" dumal salah satunya kesal.
Sementara di sana, Rasya mengambil beberapa baju dan celana yang menurutnya bagus. Nai membantu adiknya itu. Rasyid yang kurang suka dengan baju memilih mengambil beberapa topi dan bucket. Tak butuh waktu lama, rombongan keluarga paling populer itu kini sudah pergi.
"Sial ... kita hanya bisa memfoto Tuan muda Pratama saja!"
"Tapi dia tampan sekali," ujar para wartawan yang juga mendapat foto.
"Ini Tuan Sean, Tuan Al atau Tuan Daud?" tanya beberapa wartawan.
"Mereka kembar identik hanya saja Nona Naisya yang berjenis kelamin perempuan. Jika saja Nona Pratama tidak berkerudung dan memakai topi juga berbaju laki-laki, kita tidak akan mengenali mereka!"
"Aku dapat Tuan Affhan!" pekik salah satu memperlihatkan Affhan Black Dougher Young
"Gosh ... he so cute!" pekik para wartawan.
"Tuan Triatmodjo juga tampan sekali!" pekik salah wartawan.
"Nona Triatmodjo juga luar biasa ... astaga ... Kenapa gadis Indonesia itu sangat mempesona!"
"Nona Pratama! She so gorgeous!"
Semua wartawan takjub memandangi semua foto yang berhasil mereka dapatkan.
Berita dan foto-foto para pewaris Pratama, Black Dougher Young dan Triatmodjo. Para pemburu berita itu langsung menjadi trending topik. Budiman menatap datar ponsel yang ada di tangannya. Pria itu menunjukan semua berita pada ketuanya, Virgou.
"Hapus semuanya!" titah pria dengan sejuta pesona itu.
Hanya beberapa menit saja berita itu menjadi buruan semua orang, mendadak hilang dari berita portal.
"Hei ... aku belum menyimpan foto-foto tadi!' pekik salah satu pembaca.
"Sudah ketua!" sahut Budiman melaporkan.
Virgou mengangguk, kini mereka menikmati kudapan yang dibuat Seruni dan Lastri. Masakan keduanya memang sangat disukai semua orang. Terra, Khasya, Widya dan Puspita hanya duduk tenang di sana. Mereka membiarkan dua perempuan itu saling membantu.
"Hei ... kau tidak membantu Mommy?" tanya Leon.
"Ada Kak Maria, Mama Sriani dan Nini Nanaj," sahut Terra malas.
Khasya juga mengangguk, kehadirannya malah membuat mereka tambah repot. Jadi wanita itu memilih duduk santai. Leon hanya mencebik pada empat wanita yang tengah duduk itu.
"Kak Ras!" panggil Samudera.
__ADS_1
Rasya dan Rasyid menoleh. Duo R itu sangat diam, bahkan jarang bersuara sama dengan Dewa dan Dimas. Empat remaja itu sampai dijuluki patung oleh semua teman sekantor atau teman sekolahnya.
Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila satu kelas. Mereka seumuran. berusia mau enam belas tahun. Tidak ada yang mengetahui karakter duo R, karena begitu diamnya mereka.
"Apa Baby," sahut Rasya.
"Eum ... lupa kak," sahut Samudera.
Rasya hanya menghela napas panjang. Samudera juga anak yang pendiam, Benua, Domesh, Bomesh dan juga Sky makin hari makin kalem walau Sky dan Bomesh tak bisa ditinggal sendiri. Dua perusuh itu beda sendiri.
"Babies ... ayo makan!" suruh Sriani.
Seruni dan lainnya menata makanan di meja, Arsh paling tampil jika perihal makanan, bayi sembilan bulan itu begitu montok, bahkan sudah bisa berjalan walau tertatih.
Malam pun tiba, semua pun tidur dengan pulas. Besok Bart ingin mengajak semua ke pulau pribadinya. Sebuah cottage besar akan menampung semua orang. Gomesh, Budiman dan Dahlan diminta untuk menyiapkan semuanya.
Tiga pria itu langsung membawa beberapa pengawal yang masih baru untuk memberikan pengamanan ekstra. Semua pulau dan tempat disisiri. Tak boleh ada satu kamera, semua karyawan ditraining sedemikian rupa untuk menyambut mereka semua.
Pagi menjelang, semua anak sibuk. Mereka menggunakan tiga bus untuk berangkat. Bart tetap bersama lima puluh anak angkatnya Leon dan Najwa juga ikut bersama ayah mereka.
'Sayang, apa ini masih tidak apa-apa?" tanya Bart.
"Santai Daddy," jawab Najwa begitu enteng membawa perut besarnya.
Butuh waktu dua jam untuk sampai ke sebuah pelabuhan pribadi milik Bart. Dominic berdecak, ia sangat mengagumi kekayaan kakek dari menantunya itu.
"Dad ... apa kau juga akan mewariskan sebagian hartamu padaku?" tanyanya usil.
Bart berdecak, sedang Dominic hanya nyengir kuda. Demian ikut menimbrung perkataan ayahnya.
"Kalian mau apa?" tanya Herman tiba-tiba datang.
"Minta warisan sama Grandpa," jawab Demian polos.
"Astaga ... kau lupa jika sudah punya pelabuhan besar juga?" desis Herman bertanya.
"Lihatlah,.mereka meminta warisan seakan mereka itu miskin!" gerutu Bart.
"Siapa yang minta warisan?" tanya Terra.
"Itu, besan dan menantumu!" tunjuk Herman.
"Ih, ayah triple boys ini!" sahut Terra kesal.
"Grandpa ... aku miskin. Jadi kasih aku saja!" celetuk Jac.
"Kalian apaan sih!" tegur Kanya.
"Minta warisan Mom!" sahut Dominic.
"Sama?" Dominic menunjuk Bart.
"Ah ... Dad," wanita itu tiba-tiba merajuk pada pria tua itu.
"Apa lagi kau?!" dengkus Bart.
__ADS_1
"Daddy kan tau, aku sudah yatim piatu,' ujar wanita itu.
"Astaga ... Bram!" pekik Bart mulai kesal.
Bram hanya cuek. Mereka kini turun dan naik kapal pesiar. Perjalanan menuju pulau hanya ditempuh selama tiga jam.
Anak-anak begitu antusias. Rasya menuju lambung kapal, ia memfoto banyak sekali ikan-ikan yang berenang di sekita kapal. Remaja itu juga sama dengan saudarinya Kaila yang mahir membidik kamera ponselnya.
"Sya!" panggil saudara kembarnya.
"Ngapain Lu?" tanya Rasyid.
"Macul," jawab Rasya asal sambil melirik malas pada saudara kembarnya itu.
Rasyid malah menanggapi dengan anggukan. Lalu kepalanya berputar seakan mencari sesuatu.
"Nyari apaan?" tanya Rasya kini heran.
"Pacul Lu mana?"
Pertanyaan Rasyid membuat Rasya meninggalkannya. Rasyid berteriak memanggilnya.
"Woi ... Rasya ... mana paculnya?"
Tak mendapat jawaban, Rasyid menyusul saudara kembarnya itu. Tak lama, kapal mewah itu bersandar di sebuah pelabuhan besar. Tiga bus turun bersama penumpangnya.
Hanya lima belas menit mereka sudah sampai pada resort cottage miliki Bart. Semua petugas dan pekerja cottage berjejer rapi. Mereka membungkuk hormat.
"Selamat datang Tuan Dougher Young!" sambut mereka semua.
"Ya ... ya ... ya!" sahut Bart malas.
"Waah ... pantai!" pekik Ajis langsung berlari ke arah pantai.
"Baby!" Gio langsung menyambar tubuh kecil bocah itu.
"Nanti ya sayang, ombak masih tinggi," ujarnya.
Ajis menurut, semua perusuh tentu ada di kereta bayi mereka. Semua berdecak kagum dengan bangunan mewah dan semua fasilitas yang ada.
"Ini dia ruang Bougenville luxury, ruangan paling lengkap dan paling mewah di sini Tuan!" ujar manager tempat itu.
"Kalian ke kamar yang berderet, semua memiliki spot dan view yang indah menghadap laut. Untuk anak perempuan harus dipisahkan dengan anak laki-laki!" sahut Bart tak menanggapi perkataan manager tempat itu.
Azizah mengatur semua adik-adiknya. Rion, Darren dan Saf ikut membantu, sedang para orang tua masuk ke kamar mereka masing-masing.
bersambung.
semua foto ada di grup chat othor ya
Langit Clemnetino Dewangga.
Next?
__ADS_1