SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DISIDANG BAYI


__ADS_3

"Mama curang!" ujar Sean cemberut.


"Giliran kita yang kek gitu Mama larang!" lanjutnya mendumal.


"Sayang ...."


"Iya, coba kalo kita kek gitu. Pasti Mama bilang. Mama lakukan ini karena sayang sama kalian!" sahut Al ikut memprotes.


"Terus kalo gitu kita nggak sayang Mama biarin Mama lepas dari penjagaan!" lanjutnya kesal.


"Babies ...."


"Ya, marahin aja Mama sayang. Padahal bisa anterin kalo emang bener cuma beli pembalut doang!' ujar Haidar memprovokasi anak-anak.


"Amah lalapan ate papa syih?" tanya Arsh sangat ingin tau.


"Pate motolna Uma Paypi!" jawab Della yang menatap Terra tak habis pikir.


Terra gemas sendiri. Kini ia disidang oleh semua bayinya. Virgou masih mode ngambek dengan Herman. Pria itu masih merayu pria sejuta pesona itu walau akhirnya Bart marah karena cemburu.


"Mama podidal tan lada puat sesemamatan pita pemua!" oceh Arraya bijak.


"Imi teunapa Tate iput-iputan lalapan?' tanya Maryam pada Herman.


"Kakekmu curang Baby!" sahut Virgou masih kesal.


"Sulan padhaipana?" tanya Aaima bingung.


"Pa'a Tate peundalului lalapan wowan lain?" lanjutnya.


"Iya Baby, Kakek ngebut padahal yang lain belum siap!" sahut Virgou lagi masih kesal.


"Sayang," Herman jadi tak enak hati.


"Atuh sudha bawu lalapan ah!" sahut Bariana.


"Lalapan pake sambel terasi enak tau Baby!" sahut Kean malas membahas orang tua yang kebut-kebutan di jalan.


"Pambeul selasi?" semua bayi menatap Kean.


"Iya apa lagi kalo pake lele goreng tepung krispi ... trus makannya paket nasi anget .... mantul banget itu!" jawab Kean membayangkan makanan itu.


"Oh sadhi padhi Tate pama Mama lalapan pate pambeul selasi?" tanya Fathiyya memastikan.


"Iya Baby," jawab Kean asal.


"Tundu peubental ...," Arsyad makin bingung.


"Pa'a lalapan pisa teubut-teubutan di salan?" tanyanya penasaran.


"Bisa Baby!' jawab Calvin ikut-ikutan.


Para orang tua hanya bengong. Mode rajuk dan marahnya remaja membuat semua orang tua jadi tak enak sendiri.


"Baby ... bukan begitu," ujar Terra hendak menjelaskan.


Perempuan itu ingin buka mulut tetapi malah dia bingung sendiri ingin berkata apa. Akhirnya Terra membiarkan para perusuh mau bicara apa.


"Sadhi pambeul selasi ipu lalapan pi salan pambil teubut-teubutan pama lele dolen tlispi?" tanya Al Bara.

__ADS_1


"Sanan lupa nasi aneutna Al!' sahut saudara kembarnya.


"Imi teunapa sadhi peumbinuntan seupelti imi syih!" protes Maryam gusar hingga menggaruk kepalanya hingga membuat rambutnya acak-acakan.


"Eh ... ayo bobo udah malam!" perintah Khasya.


Semua menurut pada perempuan itu. Mereka menginap di rumah Terra. Rion yang kesal pada ibunya kini tidur di tengah-tengah bersama Terra dan Haidar jangan lupa Azizah juga berada di antara mereka.


"Ini sudah tau cewe apa cowo?" tanya Terra mengusap perut menantunya.


"Rahasia Ma," jawab Azizah sambil memejamkan mata.


Azizah memang ada di sisi Terra, lalu Rion kemudian Haidar. Bayi besar itu yang memiliki ide untuk menyusahkan tidur kedua orang tuanya.


Tapi Haidar dan Terra malah senang dengan kehadiran anak dan menantunya di tengah-tengah tempat tidur mereka.


Pagi menjelang. Semua yang sekolah dan bekerja sudah pergi selesai menghabiskan sarapan mereka.


Para perusuh paling junior mulai berdiskusi. Terra tak bisa berkutik. Dinar menghela napas melihat perempuan yang memang dari dulu selalu membuat ulah walau sudah memiliki suami.


"Sayang ... anak-anak sudah besar dan tambah banyak. Kapan kamu dewasa?'


"Te dewasa Mbibu," jawab Terra menunduk.


"Kak, coba nasihati dia!' pinta Dinar pada Maria.


"Mana dia dengar Sayang," jawab Maria sarkas..


"Ayah saja Te lawan kan?" sindir wanita itu.


"Mommy," rengek Terra memeluk Maria.


"Bunda," rengek Terra makin bersalah.


Seruni, Najwa, Lastri, Layla dan Rahma hanya bisa menggeleng saja. Terra memang jadi kesayangan semua orang dan memanjakan wanita itu.


"Mana menantuku yang bandel itu!" teriak Kanya masuk dalam rumah.


"Oma ... teunapa masut eundat susap salam!" tegur Bariana dengan kening berkerut.


"Baby ...."


Kanya memang masuk tak memberi salam. Kini giliran wanita paru baya itu yang dihakimi semau bayi di sana.


"Oma lupa sayang," ujarnya.


"Teunapa ya ... wowan puwa selalu pilan lupa. Soba pita pilan lupa. Pasti pait Mama, Papa, Oma, Tate, Nenet beunasihati pemua!" keluh Harun.


Luisa terkikik geli. Ia mentertawakan semua orang tua di sana. Wanita itu senang dengan kepintaran dan keberanian semua bayi yang memaksa bicara itu.


"Meuleta beudithu talena meuleta pudah tawu pa'a yan meuleta latutan Baby," ujar Gino kini bersuara.


"Sadhi meuntan-meuntan meuleta peusal pisa peulbuwat memauna?" tanya Arraya.


"Butan bedhitu, Pati wowan puwa teultadan meninintan teupepasan adal ndat teulus-teulusan nulusin pita," sahut Gino.


"Bukan itu sayang!" elak Terra.


"Mama lakuin itu bukan karena bosan mengasuh kalian!" lanjutnya sedih.

__ADS_1


"Telus teunapa Mama latutan tayat teumalin?" tanya Della.


Batita cantik yang biasa membela para orang tua. Malahan kini kecewa melihat kelakuan salah satu orang tuanya.


"Soba talo teumalin teulsadhi pa'a-pa'a pama Mama, pita basti syedih Ma," lanjutnya lirih.


"Baby ... maaf sayang," Terra langsung mendekati semua bayi dan menyamakan dirinya dengan semuanya.


Semua bayi tampak sedih akibat perkataan Della barusan. Batita itu memang sangat perasa.


"Mama janan latutan ipu ladhi ya," pinta Della dengan mata berkaca-kaca.


Terra menangis dipelukan bayi tiga tahun itu. Semua bayi memeluknya.


"Mama pita peumua sayan Mama. Sadhi talo lalapan ladhi janan di salan ya!" peringat Arsyad.


"Iya Baby," jawab Terra.


"Biya papaladhi talo lalapan pama pambeul, lele dolen tlispi pama nasi anet ...," ujar El Bara.


Terra mau tertawa mendengarnya. Namun melihat cucunya itu sangat serius, ia hanya melipat bibir ke dalam.


"Biya ... Mama pisa selata!" ujar Bariana menakuti Terra.


"Mama butan lalapan pati sadhina matan!" lanjutnya dengan suara horor.


Kanya jadi tertawa mendengarnya. Akhirnya semua tenang dan tidak membahas masalah Terra yang kabur membawa motor menantunya itu.


"Abah ... kalo Uma kek Mama kemarin pasti lebih seru!" sahut Saf pada suaminya di sambungan telepon.


"Jangan macam-macam sayang!" peringat Darren keras.


"Aku hukum Kak Fio jika Uma berani lakukan itu!" ancam pria itu lalu memutuskan sambungan telepon.


Saf terdiam, ponselnya mati dan sang suami dalam keadaan marah. Wanita itu langsung minta ijin dan pergi ke kantor suaminya.


"Mas Darren i am sorry!" pekik Safitri di interkom yang menyambungkan semua speaker kantor.


Darren buru-buru keluar dari rapat dan meninggalkan Rommy yang ada di sana.


"Sayang!" teriak Darren.


Keduanya pun berpelukan hingga membuat satu perusahaan ribut dengan riuh tepuk tangan.


"Duh ... Pak Darren ... jangan bikin jomblo kek kita makin ngenes dong!" sahut salah satu karyawati keki sendiri.


"Terima nasibmu Nona!' ledek Darren pada karyawatinya itu.


Safitri dibawa ke ruangan pribadinya. Tak peduli jika masih banyak masalah dalam rapat. Darren menuntaskan hasratnya dengan sang istri di kamar pribadi dekat ruang kerjanya.


"Kita akan lanjutkan ini besok!" ujar Rommy yang kini mulai memijat batang hidungnya.


"Sayang, kapan kamu selesai nifas," keluhnya dalam hati.


bersambung.


Eh ... Mama Teyya disidang bayi.


Next?

__ADS_1


__ADS_2