SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PERAWAN PRATAMA, TRIATMODJO DAN BLACK DOUGHER YOUNG


__ADS_3

Hari kedua menjelang pesta pernikahan Rion dan Azizah. Sebuah hotel berbintang lima dengan taraf internasional tengah ramai didatangi para wartawan. Mereka memburu berita tentang pernikahan besar salah satu keturunan terbaik dari Dougher Young.


Nama Rion Permana Hugrid Dougher Young memang begitu terkenal di dunia bisnis. Nama Azizah juga jadi bahan pencarian para media asing untuk mengetahui siapa sosok yang mampu bersanding dengan seorang Dougher Young.


"Setelah Nona Lidya bersuamikan Starlight, sosok pebisnis ternama yang tak kalah hebat. Lalu Tuan Darren beristrikan Velareal, seorang anak legenda mafia terkenal. Siapa Azizah Putri Sabeni?"


Mereka mencari profil wanita yang kini berusia dua puluh tahun itu. Semua begitu tak percaya jika sosok yang menjadi pendamping dari Rion Hugrid Dougher Young adalah seorang wanita biasa.


"Hanya anak seorang karyawan biasa?" kejut salah satu wartawan.


"Bekerja menjadi manajer IT milik Nyonya Terra Pratama?'


"Hei ... dia pencipta sistem anjing penjaga di data cyber!" sahut salah satunya.


"Apa iya dia segenius itu?"


Semua wartawan ribut, mereka setengah tak percaya dengan info yang mereka dapatkan tentang Azizah.


Sementara itu. Nai, Arimbi dan Maisya lepas dari pengawasan para bodyguard. Tiga gadis dengan kecantikan masing-masing yang memang begitu memukau semua mata memandangnya.


Tiga gadis itu kini bergandengan. Maisya yang memang lebih muda satu tahun setengah dari Nai dan Arimbi menggandeng erat kakaknya.


"Kak, kita pasti nanti dimarahi Daddy,"


"Ih, jangan ingatkan. Yang penting kita hanya sekedar jalan-jalan saja tanpa pengawalan!" ujar Nai.


"Nai ... Versane!" tunjuk Arimbi.


Sebuah setelan baju model jas dan celana kulot dengan warna senada. Arimbi yang penasaran dengan setelan cantik itu mengajak dua saudaranya masuk. Pakaian mereka tentu bukan pakaian berkelas seperti anak-anak orang kaya pada umumnya.


Nai memakai tunik buatan Dewi yang melukis di baju itu dengan gradasi warna berani begitu juga celana Nai. Arimbi memakai gamis buatan tangan Kaila. Gamisnya ditoreh dengan spidol warna-warni ala benang kusut hanya kerudung yang menutupi kepala keduanya saja yang polos. Sedang Maisya memakai baju kaos oblong buatan Dewi dengan corak berbagai gambar cookies bermata dengan berbagai ekspresi.


"Excuse me, what are you doing?" (Maaf, apa yang kalian lakukan?) tanya salah satu pramuniaga menghalangi langkah ketiganya.


"Mau lihat baju yang di manekin itu?" tunjuk Maisya polos.


Pramuniaga tak mengerti perkataan gadis di depannya itu. Ia menatap apa yang ditunjuk lalu memandangi ketiganya dengan tatapan remeh. Ia sangat yakin jika tiga gadis ini hanya ingin menyentuh pakaian mahal itu. Tentu hal tersebut tak akan ia biarkan.


""That's not something you can touch just like that!' (Itu bukan barang yang bisa kalian sentuh begitu saja!) sentaknya kasar.


"What do you mean?" (Maksudmu apa?) tanya Nai tak suka.


"Oh... come on, look at you guys. I bet you guys just want to try it out for free!" (Oh ayolah, lihat diri kalian, aku yakin kalian hanya ingin mencobanya secara gratis!) tuduh pramuniaga itu tanpa alasan.

__ADS_1


" You'd better go. Before I yell at you thieves!" (Sebaiknya kalian pergi sebelum kalian kuteriaki pencuri!) ancam pramuniaga itu memandang hina.


Pandangan diskriminasi pada dua gadis berkerudung dilayangkan sang pramuniaga. Mereka masih memandang tak suka dengan wanita-wanita yang menutupi rambut indah mereka dengan kerudung.


"I marvel at the government! Why let like you roam!" (Aku heran dengan pemerintahan. Membiarkan seperti kalian berkeliaran!) lanjutnya menuduh.


Maisya sangat emosi mendengar tuduhan perempuan dengan seragam ketat itu. Roknya begitu pendek dengan stoking hitam. Belum lagi kemeja yang kekecilan hingga membuat kancingnya sampai mau lepas. Mai bukan seperti dua kakaknya yang sabar.


"Kau bilang apa tadi? tentang kakakku ?"


Dengan beringas gadis itu menarik kerah seragam pramuniaga itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kaki sang pramuniaga sampai harus berjinjit. Beberapa orang langsung berteriak, dua orang sekuriti hendak menangkap Maisya. Nai dan Arimbi tentu membela adiknya, dua gadis itu hanya memberi tiga totokan pada tubuh dua sekuriti hingga terjatuh lemas.


"Katakan sekali lagi!" bentak Maisya marah.


Plak! Plak! Plak! Tiga tamparan bolak-balik mengenai pipi sang pramuniaga. Seorang pria gemuk datang hendak menolong karyawatimya. Maisya langsung melemparkan gadis itu. Beruntung sang manager menangkap tubuh karyawatinya.


Langit dan Reno kini berada di kantor polisi, keduanya tadi datang terlambat, sebenarnya Langit menyadari jika tiga nona mudanya hilang dari kesibukan persiapan pesta. Makanya ia mengajak salah satu rekannya.


Semua bukti memberatkan sang pramuniaga karena telah berlaku diskriminasi terhadap Nai dan Arimbi, terlebih mengatai mereka dengan sebutan tak pantas.


Virgou datang dengan wajah marah. Pria itu hendak menampar karyawati tadi karena berani mengatai anaknya.


"Kau Katai apa putriku tadi bangsat!' makinya murka.


Tentu raksasa itu selalu ada bersama sang atasan. Pria itu tentu tau apa yang harus dilakukannya.


"Bereskan mereka, buat mereka tak bisa menjual satu bajupun di Eropa!" titahnya.


Gomesh membungkuk hormat. Bukan masalah besar untuk menutup seluruh outlet Versane salah satu designer terkenal itu. Bahkan kini pemilik outlet meminta maaf secara terbuka pada dunia atas tingkah tidak menyenangkan salah satu karyawatimya itu.


"Kami tidak pernah memusuhi atau bertindak kasar pada salah satu pelanggan terlebih dengan sebutan buruk!" tekan pemilik brand ternama itu.


Tiga gadis itu kini berhadapan dengan Herman. Nai, Mai dan Arimbi hanya menunduk. Khasya sampai mengelus tangan suaminya.


"Mas,"


Herman menghela napas panjang. Ia mengambil tangan Maisya yang tadi katanya menampar pipi sang pelayan kurang ajar itu.


"Apa perih?" tanyanya.


"Nggak Yah ... hanya kurang kenceng aja tadi namparnya," jawab Maisya.


"Astaga anakmu Virgou!" keluh Kanya tak habis pikir.

__ADS_1


"Sudah, jangan marahi mereka!" ujar Bram.


"Aku setuju perbuatan Baby Mai tadi!" lanjutnya malah mendukung.


"Tak sepantasnya mereka langsung mengatakan cucuku miskin karena pakaian mereka. Terlebih menuduh keturunanku!" umpatnya kesal.


Sedang Langit dan Reno mengawasi para pekerja butik ternama itu memindahkan semua barang-barang miliknya. Sesuai dengan pekerjaan Gomesh, hanya dalam waktu tak kurang dari dua jam. Mereka diusir dari Eropa dan dilarang menjual semua baju milik designer ternama itu.


"Baju apa sih yang diinginkan gadisku?" tanya Langit pada salah satu karyawan.


"Yang ini Tuan," jawab karyawan itu.


"Hanya barang jelek ini?" ia melihat bandrol harganya.


"Ck ... hanya 320 euro saja?" decaknya meremehkan.


Sang karyawan menatap langit dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tentu pria itu tak tahu siapa Langit Putra Dewangga ini.


"Dia meremehkanmu Bro!" sahut Reno menatap pelayan yang sudah tak memiliki muka masih berani menghina rekannya itu.


"Itu ada Khanel di depan Lang!" sulut Reno.


Langit ke butik di depannya, ia membeli delapan setelan dengan design yang lebih indah dan mahal, bahkan beberapa sepatu dan tas cantik. Lalu ia keluar dengan membawa banyak paper bag dan memperlihatkan struk belanja yang menandakan ia membayar dengan kartu debit bukan kredit.


"Apa kepalamu juga kau jual?" tanya Langit begitu angkuh.


Pelayan itu menunduk malu. Reno dan Langit pun pulang. Ia memberikan barang belanjaannya pada Nai, gadis incarannya.


"Ini manager toko membelikannya sebagai permintaan maaf," jelasnya tentu berbohong.


Nai menerima itu dengan senyum indah. Dua netra saling menatap, Langit sangat ingin memeluk gadis yang membuatnya panas dingin itu.


"Baby!" sebuah panggilan yang membuat kaki Langit gemetaran.


"Mau apa.kau?' sentak Herman menatap horor pria tampan itu.


Bersambung.


Hah ... mau hadapin singa bocan ...


next?


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2