SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ALL IS FIRST


__ADS_3

Dominic memesan banyak makanan dari restauran milik Lastri. Semua tak menyangka akan kesigapan pria itu. Sebuah pesta begitu sederhana diadakan. Kedua pasang mempelai disandingkan. Para pengurus masjid juga senang mendengar adanya pernikahan.


"Dik, bolehkah aku menggenggam tanganmu?" tanya Langit meminta ijin.


Nai menatap pria yang sudah resmi jadi suaminya. Gadis itu masih tak menyangka. Ia yang baru saja kemarin merengek pada ayah dan ibunya, kini sudah berganti status menjadi seorang istri.


"Kak, jika Nai nanti tidak patut jadi istri. Tolong bilang pelan-pelan ya. Nai nggak pernah dimarahi Mama sana Papa soalnya," ujar gadis itu.


"Jangan khawatir Dik, Kakak mengenalmu selama empat tahun. Gadis keras kepala, yang paling susah diatur dan paling sering membangkang, paling sering ...."


"Cukup Kak!" potong Nai kesal.


Gadis itu cemberut, rupanya Langit benar-benar mengenal gadis itu. Dari semua anak ibunya, dia lah paling vokal bersuara lebih keras dan membangkang. Kecuali jika Rion yang bicara, maka dia akan tunduk.


"Maaf sayang," ujar Langit.


Pria itu mengamit tangan istrinya. Haidar sangat kesal, tetapi Langit sudah halal menyentuh putrinya.


"Sayang," Khasya mengelus punggung pria itu.


"Ikhlaskan Nak, dia memang putrimu. Tapi suaminya lebih berhak sekarang dibanding dirimu," lanjutnya.


Kanya mendekati putranya. Bram tidak seperti itu ketika melepas Karina menikah. Tetapi ternyata, Terra yang membuat semua pria menjadi posesif. Pengajaran Terra yang sederhana dan menjauhkan dari hal-hal negatif. Bahkan kepolosan Terra menurun pada semua anak-anak.


"Mama senang kau memilih Langit untuk Nai dan Reno untuk Arimbi," ujar wanita itu.


"Mam," Haidar memeluk ibunya dan Khasya.


Khasya adalah ibu kedua bagi Haidar. Arimbi seperti orang kebingungan. Gadis itu ketakutan, ia takut menyakiti Reno, sungguh ia belum siap. Rahma istri Dahlan melihat.


"Umi ... umi!" panggil Arimbi.


Gadis itu memeluk Rahma sedemikian rupa. Rahma memang jarang berkumpul di acara keluarga karena tugas Dahlan menjadi ketua umum di perusahaan SavedLived. Pria itu ikut dan mengajak putranya, Meghan yang sudah enam bulan dan merambat kemana-mana bers.ama, Aliyah, Fael, Angel dan Zizam. mereka lahir bersamaan. Hanya beda bulan saja. Zizam lahir belakangan.


"Umi," Nai juga mendatangi wanita itu.


"Sayang, kenapa kalian seperti orang linglung?" tanya Rahma lembut.


Dahlan tengah mengawasi semua pengawal yang berjaga. Meghan bersama bayi seusianya. Rahma menatap dua gadis cantik.


"Kalian tau kan bagaimana Umi menikah?" dua gadis itu mengangguk.


"Bahkan Abi kalian beragama beda dengan Umi. Tapi Abi menurunkan ego dan memilih bersama Umi hingga hari ini. Umi bahkan pernah menjodohkan Abi kalian dengan gadis yang tadinya seiman dengan beliau," Rahman bercerita panjang lebar.


Nai dan Arimbi terdiam. Bukan mereka tidak tau cerita itu. Dahlan sendiri yang mengatakannya. Semua salut akan kesungguhan Dahlan menikah dengan Rahma dan tidak meninggalkannya saat itu begitu saja.


"Percayalah sayang. Insting kalian akan menuntun, hanya perlu diingat. Bakti kalian kini berubah dari orang tua kini ke suami," lanjutnya.


Nai dan Arimbi memeluk wanita yang mereka panggil Umi itu. Rahma mencium keduanya, Langit dan Reno mengamit tangan istri mereka masing-masing dan kembali duduk bersama di pelaminan.


"Kak ... nanti kalo Nai atau Bu'lek manja sama Papa, Ayah, Daddy atau Papi dan Baba jangan marah ya," pinta gadis itu lagi.


"Tidak akan sayang. Malah Kakak juga mau dimanja seperti kalian. Sumpah Dek. Ayah itu menyeramkan sekali!" ujar Reno bergidik.


"Ih ... Ayahku baik tau!" bela Nai.


"Tentu saja, Ayah baik. Hanya saja kalau sifat galaknya kumat. Aku takut Dik," jelas Reno.

__ADS_1


"Sama Daddy?" tanya Arimbi.


"Sama sayang ... tapi paling takut ya sama Ayah," jawab Reno.


"Dik, boleh cium nggak?" bisik Reno.


"Kakak ... malu ih," cicit Arimbi.


Langit menatap Nai. Keduanya kini berada di kamar mereka.


"Boleh lihat rambutnya kan?" tanya Langit berbisik.


Nai mengangguk, tubuhnya bergetar ketika tangan pria itu menyentuh kepalanya. Langit tidak sanggup, pria itu akhirnya memeluk Nai laksana porselen mahal yang gampang pecah, begitu berhati-hati.


"Kak ... aku milikmu," ujar Nai.


"Sayang?" Langit menatap istrinya.


Nai melepas jilbabnya. Rambut panjang ikal kemerahan, kini pria itu bisa melihat Nai secara utuh. Bibirnya kini menyasar pada kening gadis itu.


Satu tetes bening jatuh. Setelah para ayah yang sering menciumnya, kini pria asing yang menjadi suaminya pertama kali mencium kening Nai.


"Kakak pria asing pertama yang mencium kening Nai," ujarnya lirih.


Ciuman itu turun ke hidung, lalu merambat ke bibir. Pagutan Langit membuat Nai mencengkram kuat kemeja pria itu. Begitu berhati-hati, takut sang gadis merasa tersakiti.


"Nai ... sayang ... katakan jika harus berhenti," bisik Langit lalu memeluk erat istrinya yang sangat cantik itu.


"Itu ciuman pertamaku Kak," cicit Nai dengan genangan di matanya.


"Sayang, lihat aku, please!" pinta Reno sedih.


"Kak ... kakak kan tau jika aku pertama kali bersama Kakak berduaan di kamar. Jadi wajar jika aku takut," sahut Arimbi.


Reno gemas, ia memencet hidung istrinya sampai mengaduh.


"Aduh Kakak ... kenapa keras-keras!" pekik Arimbi.


Di luar pintu Herman dan Virgou membelalak. Hari masih terlalu sore untuk melakukan ritual malam pertama.


"Ayah, biar kudobrak pintu ini!" geram pria sejuta pesona itu.


"Sayang!" Herman menahan laju Virgou.


"Ayah, biarkan aku menyeret anak sialan itu!' pekik Virgou.


Herman terpaksa menyeret Virgou pergi menjauh. Rasa penasarannya menjadi bumerang sendiri. Tapi, ia sadar, Arimbi dan Nai wajib melaksanakan tugasnya menjadi istri bagi Langit dan Reno.


"Ayah ... kenapa bawa Ketua seperti itu?" tanya Dahlan.


"Ini, masa dia mau dobrak pintu kamar putrinya!" adu Herman.


"Loh ... memang apa yang terjadi? Apa dua pria tengik itu melukai putriku?" tanya Gomesh mulai gusar.


Herman memutar mata malas.


"Bersiaplah akan kehadiran perusuh baru tahun depan!" sahutnya.

__ADS_1


"Apa?" teriak hampir semua orang.


Sementara tadi ketika Herman membawa Virgou pergi. Reno membuka pintu karena merasa ada orang di depan pintunya.


"Ada orang Kak?" tanya Arimbi ikut melongok kepala.


"Hei ... kau tidak pake hijab sayang!" tegur Reno lalu menarik istrinya masuk ke dalam.


Para perusuh tengah berjoget tiang. Lima puluh anak angkat Bart menabuh alat-alat marawis. Tania bernyanyi begitu merdunya.


"Mulia, indah, cantik berseri.


Kulit putih, bersih, merah di pipimu. Dia Aisyah, putri Abu Bakar Istri Rasulullah.


Sungguh sweet Nabi mencintaimu


Hingga Nabi minum di bekas bibirmu


Bila marah, Nabi'kan bermanja


Mencubit hidungnya ...."


"Aisyah.. romantisnya cintamu dengan Nabi


Dengan Baginda kau pernah main lari-lari


Selalu bersama.. hingga ujung nyawa Kau disamping Rasulullah!"


Sebuah lagu sederhana yang membuat romantis suasana. Dahlan memeluk istrinya.


"Umi sudah makan?" tanyanya penuh perhatian.


"Bagaimana bisa Umi makan jika Abi belum?" tanya Rahma begitu lembut.


"Umi harus makan sayang. Meghan kan harus menyusu," ujar pria itu.


"Jangan khawatir soal itu sayang. Tapi, Umi lebih mengkhawatirkan Abi," ujar Rahma lagi.


Dahlan begitu bersyukur dengan adanya Rahma sebagai istrinya. Wanita itu begitu telaten mengajarinya tentang agama yang baru satu tahun ia kenal.


"Ba bowu sayang," ujarnya tulus.


"Ba bowu pu!" balas Rahma.


Nai dan Arimbi keluar bersama suami mereka. Semua kening berkerut lalu saling lirik satu dan lainnya.


"Apa belum ada tanda akan lahir cepat perusuh itu!" bisik Demian pada kakak iparnya.


"Kita tunggu saja, aku juga sudah tak sabar ... bahkan Baby Ion juga belum dikaruniai anak," bisik Darren lagi.


Bersambung.


Ah ... ba bowu 😍


othor pertama kali dikecup kening sama Christiano Ronaldo, dipeluk Keanu Reeves, terus disun bibir sama Brat Pitt ... di dalam mimpi 🤣🤭.


next

__ADS_1


__ADS_2