
Darren dan lainnya sudah berada di sebuah villa besar di pinggiran kota. Sebuah masjid indah yang dibangun sekitar dua tahun lalu telah berdiri kokoh tanpa donatur. Virgou menamai masjid itu Al-Huda.
Bangunan dengan bahan dasar tembok dan kayu jati. Virgou mengambil bahan dengan kualitas nomor satu untuk membangun rumah ibadahnya di situ. Sudah ada banyak makam yang letaknya tidak jauh dari sana. Makam kedua orang tua Terra.
Terra baru saja selesai menabur bunga untuk keduanya. Tak lupa makam almarhumah bik Romlah. Terra berkali-kali mencium batu nisan perempuan yang ada di saat dia paling terpuruk waktu itu.
"Bahagia di sana ya Bik!" ujarnya lirih.
Terra membawa Ani, Gina dan Deno bersamanya. Mereka juga baru saja mendoakan salah satu saudara mereka.
"Sayang, ayo!' ajak Haidar.
Terra berdiri lalu menyambangi suaminya. Haidar mengecup mesra kening istrinya, lalu membawanya pergi ke villa tingkat tiga itu.
Kawasan yang biasa ramai orang lalu lalang mendadak sepi karena begitu ketatnya penjagaan yang dilakukan oleh Budiman dan tim.
Virgou dan lainnya sudah ada di masjid bersama bayi laki-laki mereka. Para wanita sudah menyiapkan nasi kotak yang telah dipesan untuk dibagikan pada jemaah sholat jumat.
"Mudah-mudahan nggak kurang!' ujar Sari ketika melihat banyaknya jemaah yang masuk dalam masjid.
"Aamiin!' sahut semua ikut berdoa.
Para bayi laki-laki tenang bersama ayah juga kakak mereka. Arsh diapit oleh Gio bersama sang putra Arsyad.
"Papa!" rengek Arsh mengantuk.
"Baby," Gio memangkunya dan tak lama Arsh tidur.
Arsyad juga menyandar pada bahu kekar ayahnya. Gabe mengambil putra dari pengawalnya itu dan memangkunya.
Jam memang baru pukul 11.00. masjid sudah penuh. Terra yakin jika nasi kotak kurang untuk semua jamaah.
"Kita panggil tukang bakso dan tukang makanan lainnya aja Kak!' saran Seruni.
"Boleh deh!" angguk Terra setuju.
Sepuluh pedagang langsung dipanggil Terra dan memborong semua makanan yang dijual.
"Jadi diborong semua?" tanya pedagang ketoprak.
"Iya Pak. Saya borong semuanya!" jawab Terra.
"Bapak mangkal di sini aja ya," suruh wanita itu menunjuk tempat.
"Saya sholat dulu boleh kan Bu?" tanya salah satu pedagang.
"Oh boleh Pak!' jawab Terra lagi.
"Kak, aku udah koordinasi sama anak-anak. Mereka mau ngatur para jemaah!" lapor Seruni.
Terra mengucap terima kasih. Lalu panggilan pertama sholat jumat berkumandang. Terra membawa adik iparnya masuk ke dalam villa.
"Mommy, tot pita eundat syolat sumat?" tanya Arraya pada Widya.
"Perempuan tidak diwajibkan sholat jumat sayang," jawab Widya.
"Tapi boleh jika mau. Hanya saja, di sana banyak laki-laki jadi perempuan susah mendapat shafnya," lanjut wanita itu.
"Sholat di rumah Baby," suruh Terra.
Semua anak perempuan telah memakai mukena. Kecuali Bariana dan Angel. Keduanya sedih. Bariana tau jika dirinya tidak berhak memakai pakaian untuk ibadah orang Islam.
__ADS_1
Maria meminta anak-anaknya tidak mengganggu semua saudaranya yang sedang ibadah.
"Mommy kenapa kita nggak jadi satu? Biar ibadah kita bareng?" tanya Bomesh sendu.
Maria mengelus kepala putranya. Ia sangat yakin jika sang putra berkata demikian karena tidak memiliki teman lain. Bahkan di sekolah minggunya, Domesh, Bomesh dan Bariana sangat sulit beradaptasi dengan teman-teman seagamanya.
"Mom," Layla memeluk Maria.
Wanita berhijab itu sangat sayang dengan Maria. Ia begitu salut dengan kesabaran dan kelapangan hati wanita itu.
'Mommy hebat!' pujinya sungguh-sungguh.
"Sayang,"
"Bener Mommy, aku mau belajar bagaimana Mommy begitu teguh dengan keimanan Mommy. Padahal di sini nyaris seluruhnya beragama Islam," lanjutnya kagum.
"Saya tidak melakukan apapun sayang," jawab Maria tersenyum.
"Mungkin saya berpikir semua agama itu sama. Sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama memiliki Tuhan yang satu. Hanya saja kami berbeda cara menyembahnya," jelas wanita itu bijak.
Layla mengecup pipi Maria. Ia senang menikah dengan Juno, ia banyak belajar tentang perbedaan.
"Maria!' panggil Kanya.
"Iya Ma," sahut wanita itu.
"Apa kau sudah periksa makanan yang akan dibagikan?" tanya Kanya.
"Sudah Ma, Terra bahkan sudah memborong sepuluh pedagang untuk mengantisipasi kekurangan," jawab Maria.
Kanya mengangguk, lalu ia melihat Layla yang memeluk Maria sedemikian rupa.
"Kenapa ibu hamil ini?" tanyanya meledek. "Apa dia mau menyusu?"
Maria terkekeh, ia mengecup sayang kening Layla. Perut wanita itu seketika bergerak.
"Uuuh!" keluhnya.
"Sayang?" Kanya dan Maria khawatir.
"Minta dielus baby-nya!" rengek Layla.
Kedua wanita itu terkekeh lalu mengelus perut Layla yang tiba-tiba kencang. Gisel melihat hal itu tak mau ketinggalan.
"Mama, Oma ... perut Gisel juga!" pintanya bossy.
"Oh, apa ini adalah new Arsh?" tanya Kanya mengelus perut buncit Gisel.
"Iya Oma, aku mau dia sepintar dan seberani semua Baby!" jawab Gisel yakin.
"Oma, Mama Aini juga!"
"Iya mau juga Oma, Mama!"
Semua wanita hamil ingin dielus. Kandungan mereka sudah beranjak lima bulan. Azizah kini memeluk Seruni, ia juga manja pada semua ibu yang ada di sini.
"Baby Mai, Baby Ila!" panggil Khasya setengah berteriak.
Semua tentu kaget mendengar teriakan Khasya. Tetapi ketika melihat dua gadis yang dicari itu ada. Khasya mengelus dadanya.
"Masuk!" titahnya.
__ADS_1
"Bunda ... kita hanya main," rengek Kaila.
"Masuk!" Khasya mengulang perintahnya.
Kedua kakak beradik itu masuk. Sebenarnya Maisya yang meminta adiknya untuk bermain di luar. Gadis itu melihat sosok tampan menyatu dengan jemaah masjid.
"Mau ngapain di luar?" tanya Khasya gusar.
"Oh, Bunda ... mereka anak gadis. Mau kau sembunyikan bagaimana? Kau membiarkan mereka tidak bergaul!" protes Luisa.
"No! Mereka masih kecil!" sahut Khasya tak peduli.
"Lebih baik aku yang menegur dibanding ayah mereka!" lanjutnya tak merasa bersalah.
Terra adalah ibu super polos. Wanita itu tak pernah tau apa yang terjadi pada putrinya yang tengah puber.
"Kalian ngapain di luar tadi?" tanya Dewi.
Maisya sangat takut pada Dewi. Walau usia Dewi lebih muda satu setengah tahun dengannya. Tapi Dewi akan marah jika Maisya mengatakan jika ia sedang tertarik dengan lawan jenis.
"Cuma mau di luar Bu'lek," jawab Maisya tentu bohong.
"Jangan kegenitan!" ancam Dewi.
Maisya langsung mengangguk. Ia tahu, semua ingin menjaganya agar tidak ada yang menyakiti dirinya.
"Ata'Wewi ... tanjen pa'a?" tanya Maryam tiba-tiba.
"Bukan apa-apa Baby," jawab Dewi.
"Ata' ... janan polon banti beulbosa!" sahut Maryam yang membuat Dewi berdecak.
"Baby!' peringat Maria.
"Maaf Mommy," sahut Dewi langsung.
Anak perempuan semua sholat dhuhur setelah kutbah jumat. Nai dan Arimbi kembali libur. Keduanya sedang siklus.
"Huueek!" Luisa tiba-tiba mual ketika makan jeruk.
"Mom?" Nai dan Arimbi tentu panik.
"Udah deh Jeng. Jeng Luisa fix hamil!" ujar Terra yakin.
"Ih ... nggak ... aku nggak hamil!" elak wanita cantik itu.
"Nai periksa ya Ma," Luisa sedikit enggan, tapi akhirnya ia mengangguk.
Nai meraba nadi, keningnya berkerut. Ia menggeleng perlahan, lalu memeriksa ulang nadi ibu mertuanya.
"Ma ... Mama beneran hamil!" pekiknya senang luar biasa.
"Alhamdulillah!"
"Tidak!" teriak Luisa.
Bersambung.
Ah ... kan
maaf Readers hanya satu up ya
__ADS_1
next?