
Hari senin, semuanya sibuk. Yang bersekolah dan ke kantor untuk bekerja. Daud tengah mempersiapkan pembukaan rumah sakitnya secara resmi. Sebenarnya rumah sakitnya sudah buka dari delapan bulan lalu dan juga telah beroperasi secara rutin. Remaja itu juga telah menjadi dokter jantung termuda saat ini.
"Ma, Pa ... Daud pergi dulu ya. Ada meeting soal operasi jantung Tuan Sanjaya hari ini!" ujarnya pamit.
"Iya Baby, hati-hati ya," sahut Terra.
Daud mengecup kening ibu dan ayahnya. Lagi-lagi Haidar sedih melihat salah satu putra kembarnya itu sudah besar.
Netranya menatap punggung lebar Daud Narandra Hovert Pratama. Terra melihat kesedihan suaminya, ia pun mendekat.
"Papa kenapa?" tanyanya.
"Dia sudah besar, Ma ... putra kita sudah besar," jawabnya dengan suara serak.
"Besar badannya Pa, tapi tidak tingkahnya. Daud masih kecil dan belum dewasa di bidang tertentu," jawab Terra, "terutama di bidang asmara."
"Suatu saat ia bertemu dengan gadis yang membuatnya dewasa. Mama lupa kalau Azizah sudah membuat semua putra kita tidak polos lagi?" sahut Haidar.
"Apa lagi Satrio, anak itu sangat siap menjadi seorang suami, sama dengan Kean, Calvin, Sean dan Al!" lanjutnya dan membuat Terra cemberut.
"Pesona Azizah memang keterlaluan, sayang. Gadis itu dewasa sebelum waktunya," sahutnya.
"Dia perpaduan kamu dan bunda, sayang," ucap Haidar.
"Kenapa bisa bilang begitu?" tanya Terra.
"Yah kau bisa menilainya sendiri sayang," jawab Haidar.
Rion duduk dan langsung memakan sarapannya. Arion dan Arraya sudah selesai, kini mereka menunggu saudara-saudaranya datang. Tak lama, Lidya datang bersama suami dan dua anaknya. Gio datang dengan tangan kosong.
"Mana Baby?" tanya Haidar.
"Aini hari ini tidak bekerja Tuan. Jadi dia tidak ikut," jawab Gio.
"Kenapa nggak dibawa aja sih!" sahut pria itu kesal.
"Kurang ramai kalo nggak ada penggosip satu itu!' lanjutnya mendumal.
Gio hanya terkekeh mendengarnya. Tak lama Jac datang bersama istri dan putrinya. Putri kini juga sedang mengandung anak kedua. Haidar tersenyum lebar, ia akan membayangkan para perusuh yang baru bermunculan.
Tak butuh waktu lama, rumah Terra sudah penuh anak-anak, tanpa Arsyad. Aaima sedikit sedih tak ada kawan sepantaran.
"Janan syedih Baby," ujar Bariana menenangkan adiknya itu.
Lalu matanya melirik adiknya yang lain. Fathiyya tampak masih penasaran dengan rumah pohon yang ada di dekat kolam renang. Bayi cantik itu mendongak ke atas dan melihat batang pohon besar.
Fathiyya memegang batang pohon dan mengangkat kakinya. Baru saja ia melaju satu langkah ke atas, sebuah tangan besar mengangkatnya.
"Baby mau ngapain?" tanya David.
__ADS_1
"Papi ... puluntan atuh!" pekiknya.
Rupanya David melihat pergerakan anak perempuan dari adiknya itu. Secara perlahan ia mendekat agar tak membuat kaget Fathiyya.
"Kamu mau ngapain Baby, nanti Baba kamu marah loh!"
"Atuh bawu nait te situ!" tunjuk bayi pemberani tersebut.
David sepertinya harus mengambil alat untuk menaiki rumah tersebut, karena tangga tali yang dulu menggantung harus dicopot setelah Rion bayi berhasil memanjatnya dan nyaris jatuh.
"Reza ambilkan tangga tolong!" pintanya.
Reza langsung mengambil tangga dekat gudang dan meletakkan di bawah rumah pohon.
Mereka memang sedang ada di rumah Darren. Terra dan Haidar ingin bernostalgia di sana.
Kini rasa penasaran Fathiyya terobati. Tetapi gara-gara itu semua bayi mau naik.
"Atuh judha bawu pihat!" teriak Harun cs.
Reza dan Cahyo para pengawal membantu para bayi naik ke atas. Harun, Azha, Arion, Arraya, Maryam, El dan Al Bara, Aisyah, Aaima dan Fatih berada di rumah pohon yang cukup besar.
"Lada jentela!" pekik Maryam.
"Baby jangan ke sana!" larang David.
"Banya pihat-pihat Papi!" sahut Maryam.
"Jaga di bawah situ!"
Beberapa bodyguard langsung mengambil tangga dan salah satu naik lalu membuka jendela rumah pohon itu. Maryam sudah di sana dengan senyum lebar.
"Eh ... Pom Podidal!"
"Nona Baby ...," sahut Reza.
Bayi itu menjulurkan tangannya, Reza menyambutnya. Rupanya Maryam ingin turun dari jendela.
"Hei ... pulun dali syini asyit pahu!" serunya.
Semua bayi menuju jendela. David sampai berteriak. Terra ada di bawah cemas, ingin sekali ia bongkar rumah pohon itu. Tapi banyak kenangan yang hadir di sana.
'Babies ... hati-hati!' pekiknya.
Para bodyguard sibuk saling membantu rekannya yang menurunkan para bayi.
"Om Podidal ... atuh lali!" pekik Fatih yang berlari dan melompat.
"Baby!'' teriak Daud.
__ADS_1
Virgou datang bersama Gomesh, ia ingin menjemput David yang membawa seluruh putra dan putrinya ke rumah ini.
Netranya membola melihat Fatih melompat dan membuat tangga bergoyang. Beruntung ada penjaga lain yang menahan tangga itu.
Fatih terkejut ketika tangga bergoyang, bukan menangis, ia malah tertawa, dengan sekuat tenaga ia kembali berulah dengan menggoyangkan tubuhnya.
"Baby!" teriak Virgou.
Mendengar suara keras kakeknya, langsung membuatnya takut. Di atas sana, David disibukan tiga bayi yang mau turun secara bersamaan. Al dan El Bara juga Fathiyya.
"Pita bawu tulun syamaan Papi!' Al Bara ngotot dengan mata mendelik lucu.
David benar-benar pusing. Itu baru anak sepupunya, bagaimana nanti Aliyah yang besar dan bayi-bayi baru yang bermunculan.
Akhirnya ketiga bayi itu turun bersamaan dari jendela. Fatih memeluk erat di gendongan Reza, bayi itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria tampan itu.
"Akan kubongkar rumah pohon itu!" seru Virgou.
Terra sedih, tapi demi keselamatan semua anak-anak, sepertinya membongkar rumah pohon adalah keputusan yang benar.
"Gomesh!"
"Baik Tuan!"
Semua bayi menangis ketika rumah pohon dibongkar. Darren telah diberitahu, pria itu menyerahkan semua pada salah satu ayahnya itu.
'Daddy ... lumahna ... hiks ... teunapa dibontal?" tanya Arraya sedih.
"Biar nggak ada yang celaka, Baby," jawab Virgou lalu mencium bayi cantik itu.
"Badahal lada pidadali syantit pindal bi syitu woh," sahut Arion.
"Apa?" tanya Virgou.
"Iya Daddy, lada sewet syantit pate paju tunin, bia bunya sayap," jawab Arion disertai anggukan Arraya.
Keputusan tepat Virgou membongkar rumah pohon itu. Sebuah ruangan tak terpakai, terlebih rumah itu lembab dan tak ada penerangan sama sekali kecuali jika pagi hari.
"Nggak apa-apa, biar dia pindah ke tempat lain!" ujar Virgou.
Rumah pohon sudah menghilang dari tempatnya. Para pekerja memang disuruh cepat membongkar bangunan terbuat dari kayu itu.
Virgou akhirnya lega, ia pun mengajak David untuk pergi dari sana. Seruni belum keluar kamar dari tadi dan tidur bersama bayinya. Jadi dia tak tau apa yang terjadi.
Ketika turun, David sudah berangkat. Bart juga baru turun dari kamarnya. Ia tadi sempat melihat kericuhan yang dibuat para bayi.
"Ah ... kalian memang perusuh!" omelnya pada para bayi.
bersambung.
__ADS_1
Biang kepo dan biang rusuh Benpa!
next?