
Dini hari Virgou dan lainnya telah sampai di bandara milik Bart. Leon menjemput mereka.
"Kita ke kastil!" sahut Bart yang juga ikut dengan rombongan.
Empat mobil bergerak. Arimbi membawa tiga teman yang juga menjadi korban. Kedatangan mereka sangat dirahasiakan.
Satu jam mereka sampai di kastil milik Bart. Azizah dan tiga teman Arimbi menganga melihat rumah tinggal yang seperti istana itu.
"Ayo masuk, sudah jangan dilihatin tempatnya!" ajak Virgou.
Widya menyambut mereka. Semua dibawa ke ruang makan.
"Ayo makan dulu," ajaknya.
"Maaf Nyonya, kami sedikit pusing," keluh salah satunya menolak.
"Makan dulu, kalian ada lima jam belum makan," titah Bart tak dapat dibantah.
Arimbi menarik Azizah dan lainnya untuk duduk dan makan bubur. Perut mereka hangat dan nyaman. Usai makan mereka mengucap terima kasih..
"Kalian siapa namanya?" tanya Gabe pada tiga teman Arimbi.
"Nama saya Tika, ini Diah dan satu lagi Anti, Tuan," jawab Tika.
"Salam kenal Tika, Diah dan Anti!" salam Gabe pada tiga gadis malang itu.
Kini mereka masuk dalam kamar masing-masing. Tadinya mereka ingin tidur satu kamar.
"Kalian kan pasti punya privasi masing-masing, jadi tidak masalah kok," ujar Widya.
Azizah juga di tempatkan sendiri begitu juga Arimbi. Widya mengecup gadis itu dengan lembut.
"Mommy," rengek gadis itu.
"Kau pasti bisa melewatinya sayang," ujar Widya.
"Kak Izah yang lebih parah dari kita berempat Mom. Sudah dilecehkan dia juga diserang," sahut Arimbi.
"Iya sayang. Mommy tau, kalian luar biasa bisa melewati ini semua. Makanya perusahaan dari Dougher Young Company mendukung penuh suara kalian!" sahut wanita itu.
"Makasih Mom, Dad!" ujar Arimbi.
Gabe memeluk anak perempuan dari Herman itu. Ia sangat menyayangi gadis ini sama dengan putrinya sendiri.
"Istirahat lah sayang, besok kalian mesti mempersiapkan presentasimu kan?" Arimbi mengangguk.
Gadis itu ditinggal sendirian di kamarnya. Gabe mengecup keningnya begitu juga Widya. Bart masuk bersama Virgou dan Leon.
"Baby," panggil Virgou.
__ADS_1
"Daddy ... Arimbi takut," cicit gadis itu.
"Jangan takut Baby, seorang Triatmodjo tak boleh takut!" tegas Bart.
"Benar Baby, kau harus kuat demi teman-temanmu yang lain. Kasihan Azizah jika ia berjuang sendirian," timpal Leon.
"Apa perlu Daddy temani tidurmu?" tawar Virgou.
Arimbi langsung mengangguk cepat. Ia takut jika nanti bermimpi buruk. Setiap mengingat kejadian itu, Arimbi selalu mimpi buruk. Lidya sampai memberinya penanganan khusus.
"Baiklah, Grandpa tinggal ya,"
"Daddy juga, besok Bunda Lastri dan Mama Nanaj akan datang," ujar Leon.
Dua pria yang beda usia itu keluar kamar. Arimbi langsung memeluk Virgou di sana. Tubuh gadis itu gemetaran, pria dengan sejuta pesona itu sampai sedih. Padahal pelakunya sudah dihukum panjang.
"Tenang sayang, ada Daddy di sini," ucapnya lirih.
Virgou mengingat Lidya ketika masih terbungkus dengan traumanya. Wanita itu kini sudah lepas dari semua ketakutannya ketika sudah menikah. Demian benar-benar menghapus ingatan buruk itu dengan cintanya.
'Apa Arimbi tidak akan trauma lagi jika menikah?' tanyanya dalam hati.
'Astaga ... dia masih bayi ... Ayah bisa membunuhku jika Arimbi cepat menikah!' lanjutnya lalu menggeleng pelan.
Hari telah terang. Semua tidur dengan nyaman, bahkan Azizah sampai bangun sedikit siang. Gadis itu malu bukan main.
"Sudah Kak, Rimbi juga bangun siang," sahut Arimbi.
"Ayo, makan yang banyak sayang," ujar Lastri pada Diah.
"Makasih Nyonya, ini sudah cukup!" tolak gadis itu.
Lastri dan Najwa telah mengandung empat bulan. Perut keduanya telah terlihat, Arimbi mencium perut yang sudah sedikit membuncit itu.
"Belum ketahuan cewe sama cowo Nini?" tanyanya.
"Belum Baby," sahut Lastri gemas.
Usai makan, mereka bercengkrama. Widya juga tengah menggendong putra bungsunya.
Ella, Bastian, Billy dan Martha sedang sekolah. Putra bungsu Gabe bernama Arshaka Putra Dougher Young.
"Baby Arsh!" panggil Virgou.
Bayi delapan bulan itu sudah bisa merambah ke semua tempat yang ia mau. Pria beriris biru itu mengambil alih bayi itu.
"Daddy!" panggilnya.
Sedang di ruang keluarga. Arimbi mengatur kembali semua berkasnya. Tiga teman gadis itu sedikit takut dengan esok.
__ADS_1
"Mbi, besok kita nggak perlu pake bahasa Inggris kan?" cicit Diah.
"Nggak, aku udah bikin catatannya untuk bicara kamu. Tenang saja, pihak PBB meminta kalian menggunakan masker untuk keamanan pribadi!" sahut Arimbi.
"Apa kau juga pakai?" tanya Tika.
"Iya, hanya Kak Azizah yang tidak. Karena wajahnya terpampang di semua media sosial!" ujar Arimbi.
"Kak ... kakak nggak takut?" tanya tiga gadis malang itu.
"Jujur, Kakak takut. Tapi demi keadilan. Tidak masalah," jawab Azizah.
Jantung semuanya berdetak kencang. Semua rasa menjadi satu di sana. Azizah yang akan mengambil alih presentasi buatan Arimbi. Gadis itu akan menjadi saksi sama dengan tiga temannya.
Hari begitu cepat berlalu. Pagi pun datang. Kini kelima perempuan yang memiliki nasib yang sama tengah bersiap. Mereka semua memakai baju formal dengan setelan kemeja dan celana panjang berbahan kain yang ringan.
"Mommy dan Nini, Rimbi berangkat dulu ya. Minta doanya!" pamit gadis itu.
"Hati-hati Baby jangan lupa berdoa. Sebut asma Allah di setiap langkah kalian," ujar Najwa.
Leon dan Frans tidak ikut, begitu juga Gabe. Hanya Bart dan Virgou yang menjadi sponsor utama acara ini.
"Tuan, ada beberapa media sudah menunggu di luar!" lapor Reno.
"Jangan sampai mereka mengganggu!" titah Bart.
"Baik Tuan!"
Reno, Hendro dan Rudi menuju dua ratus penjaga yang telah disiapkan. Perusahaan SavedLived milik Virgou yang ada di Eropa sangat pesat dan begitu terkenal.
Semua masuk ke mobil. Empat mobil di depan dan empat mobil di belakang bersama dua belas motor di sekeliling mobil. Tak ada yang tau di mana para saksi dan pembicara utama berada.
Gerbang terbuka. Seratus wartawan yang berkumpul ditahannya oleh para pengawal yang sudah bersiap. Mobil dan motor memacu kecepatan sedang ketika keluar halaman kastil.
"Tuan Dougher Young ... Tuan Dougher Young!" teriak para pemburu berita.
Mobil dan motor melaju dengan kecepatan tinggi ketika sudah keluar dari gerbang. Para wartawan ricuh. Mereka langsung menaiki kendaraan mereka masing-masing dan mengejar rombongan Dougher Young.
Sedang di benua lain, enam anak yang masih belia plus tiga anak lainnya tengah menengadahkan tangan ke udara. Air mata mereka tak berhenti mengalir.
Adiba meratap meminta pada Rabbnya, agar semua masalah kakaknya bisa diselesaikan dengan mudah dan tak ada hambatan
"Ya ... Allah ... kami meminta perlindungan dari semua perlindungan yang ada di dunia. Berikan kekuatan pada kami yang lemah ini Ya Rabb. Kembalikan harga diri kami yang tercoreng akibat pembuatan-perbuatan manusia-manusia yang tak memiliki hati. Ya Rabb ... hamba tau Kau tak akan mencoba suatu kaum melebihi batas kemampuannya. Tapi demi kesucian dan kemuliaan yang telah Engkau titipkan Ya Rabb ... tolong beri kekuatan dan kesabaran menjalaninya,"
Bersambung.
Aamiin.
Readers ... maaf ya othor hanya satu hari ini. mata othor lagi belekan ... besok insyaallah bisa dua atau tiga bab! Makasih ba bowu 😍
__ADS_1
Hidup Perempuan!
next?