SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Bab 25. Semua Dapat Di Hadapi Atas Izin Allah


__ADS_3

duduk di sampingnya, dan sepertinya dia menatap penuh kebencian terhadap Nia.


Dua orang laki – laki rupanya mungkin baru saja, menonton tayangan acara host Devi tersebut, Nia menguping dari jauh, apa yang sedang mereka bicarakan, rupanya sebagian orang sudah berpihak kepada Irfan dan Rianti, hal ini membuat Nia, menjadi emosi.


“Brakkkkk”


Nia menggebrak mejanya, dan kemudian dia menghampiri mereka berdua, menantang mereka berdua, dia tidak takut, walau laki – laki punya tubuh tegap.


“Kalian ngomong apa tadi”, ? tantang Lina.


“Kamu fansnya Irfan kan, kami sudah tahu masalah sebenarnya, tentang penulis novel Rianti itu, sama Irfan, yang salah adalah kalian semua, dan sekarang kami baru sadar, sebagai netizen kami hanya di tipu sama orang enggak punya harga diri, fans gila ketampanan artis, pengen nyosor dan gila obsesi, seperti kalian semua, dan gila harta, awas yah ini Negara hukum, kamu berani terhadap kami, kami juga berani anjingggg”, !!! bentak salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Lina.


“Prakkkk”


Satu tangan Lina menampar wajah salah satu laki – laki itu, hingga membuat gaduh suasana di Mall, namun akhirnya di hentikkan oleh satpam yang berjaga, sedangkan kedua orang tersebut, yang sebenarnya bermaksud membela Rianti dan Irfan, menjadi terbebas dengan apa yang ingin di lakukan oleh Lina kepadanya, Lina berjanji tidak akan membuat gaduh Mall tersebut, dan di tengah keributan, Nia baru saja tiba, lalu mendekat kepada Lina.


“Lina”, ! sentak Nia, dan dia kemudian menoleh ke arah Nia, dia langsung menarik tangan Lina, untuk mengajaknya berbicara di mana tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.


“netizen sudah mulai berpihak sama Rianti dan Irfan kita yang bisa hancur sekarang”, bisik Lina.


“Apalagi sekarang Mama Vinda sudah menjadikan Indah sebagai admin fans lovers yang baru, untuk menghancurkan semua apa yang kita lakukan selama ini, dan kalau begini ceritanya kedok Elin juga bisa terbongkar masalah sertifikat tersebut”, kata Nia dengan suara panik.


“Emang sudah ada kabar lagi dari Elin”, ? tanya Lina.


“Yah dia mengabarkan, kalau sertifikat, Rianti oleh Mira di titipkan oleh Elin, dan selama ini Mira yang bersembunyi di rumah Elin, dia sekarang bersembunyi di rumah Tania keluarga dari Mira”, jawab Nia.


Bab 7. Perebutan Harta.


Lina menatap ke arah kanan dan kiri, takut – takut kalau ada yang mendengar pembicaraan mereka, dan kemudian Lina membungkam sejenak Nia yang dari tadi terus mengoceh, dan mengajaknya bicara juga.


“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini lebih dulu, karena takut ada yang mata – matain kita di sini”, kata Nia kemudian.


Tanpa sadar, dua orang tadi justru merekam pembicaraan mereka, dan di kirim ke seseorang hatters yang sudah pegang oleh akui, dan Irfan, atas bantuan dari host Devi, dan di tempat yang berbeda dengan dua fans gila Irfan itu, Rianti dan Irfan sedang berada di Mall yang sama, Irfan dan Rianti, sengaja juga setelah selesai wawancara meminta tolong kepada Pengacara Rendy untuk mengirim mata – mata fans Irfan, dan semuanya juga, termasuk keluarga Rianti juga.


“Jadi masalahnya sertifikat itu sudah berpindah – pindah tangan”, kataku sambil menyuap makanan ke dalam mulut, tapi dia sedang merasa galau.


“Pada dasarnya, semuanya emang enggak menghargai perasaan aku, dan enggak ngerti apa yang aku rasain, makanya jadi seperti ini semuanya, dan aku tahu hal itu juga di rasain kamu sama fans kamu kan, di luar masalah aku, makanya yahhh dari awal, seharusnya, itu dari kamu sendiri Irfan, aku emang baru kenal kamu thn 2019, aku enggak tahu ceritanya awal persis kamu bisa punya fans lovers orang semacam itu, apakah karena kamu dulunya pernah sempat cerita umbar pribadi kamu, dan berpikir orang itu akan kasihan dan bela kamu, tapi justru sebaliknya memanfaatkan kamu, dari ini Fan, terus – terang, dari awal, kalau aku koreksi, jangan pernah kita minta di kasihani oleh orang lain, atas apa yang kita hadapi Fan, karena belum tentu semua itu bisa singkron dengan keinginan kita, manusia enggak ada yang bisa di harapkan kecuali Allah Fan, kamu yang pernah bilang itu sendiri, dan seharusnya kamu juga paham dengan apa yang harus kamu jalani sendiri, kamu menyebarkan ke orang lain tentang karma manusia, aku tahu kenapa karena merasakan karma hidup yang kamu jalani sendiri dengan apa yang pernah terjadi dalam diri kamu, dan itu terjadi dalam pemikiran kamu sendiri, kamu bilang sejak kenal aku juga, kamu jadi berubah pemikiran hidup kamu, menjadi lebih tegas untuk menyampaikan sesuatu, tapi menurut aku sebaiknya kamu berubah jangan karena orang lain, jadilah diri kamu sendiri Irfan”, ! kataku tegas.


“Aku ingat semua kata – kata kamu waktu awal kita ketemu dulu, dan semua ini karena kamu dulu sebelum kenal aku orang yang mudah percaya dengan orang lain, hanya karena kamu mau di manja dengan orang lain, jadilah orang yang tegar Fan, mampu punya prinsip hidup sendiri, mampu bersikap tegas dan jangan cengeng sebagai laki – laki, aku tahu kamu dulu begitu, karena aku tahu di rumah kamu agak di manja dengan mama Vinda, tapi sebenarnya mama Vinda juga keras sama kamu kan, Fan, jadi orang yang kuat, tegar, punya prinsip sendiri, tanpa goyah kanan dan kiri, dan enggak mudah curhat dengan orang lain, karena enggak semua orang yang menampung curhatan kamu, bisa seperti apa yang kamu pikirkan waspada aja dengan orang lain di luar sana, tapi bukan maksud seudzon, enggak ada yang tahu hati orang, yang terlihat baik belum tentu baik”, kataku panjang lebar.


“Dan kamu emang yang menuntun aku untuk jadi orang yang berubah”, kata Irfan kemudian.


“Kamu benar Ri…, aku emang orang dulu tuh manja, enggak tegar, cengeng, makanya jadi begini, dan mungkin aku juga penyebabnya juga, mudah percaya sama orang lain, tapi sejak ketemu aku, jadi berubah, aku minta maaf yah Ri, kalau ada salah sama kamu, emang manusia enggak ada yang sempurna”, kata Irfan.


“jangan tergantung dengan mama Vinda terus, atau papa kamu, karena kalau begitu, kamu enggak akan tahu hidup yang sebenarnya, umur orang tua, juga enggak slamanya, dan yang muda bisa juga sama, dan untung saja, mama Vinda enggak terlalu manjain kamu, makanya, tiap ada masalah yang hubungannya dengan netizen, apa yang mereka bilang, enggak sepenuhnya menyalahkan, tapi mencari tahu apa masalahnya, ada sebab dan akibat, mereka bukan orang gila yang begitu saja, bisa ngomong gitu, kalau bukan karena ada penyebabnya, dan penyebabnya, adalah fans kamu, orang yang suka gossip, bikin berita hoaks tentang kamu, gila harta, dan gila obsesi sampai enggak punya otak begitu”, kataku dengan suara kesal dengan keadaan.


“Kita berkaca saja dari situ Fan”, kataku lagi singkat.


Irfan meneteskan air mata, dan kemudian memeluk aku, aku pun juga sama, melihat apa yang aku alami juga, sekarang ini, begitu sangat menyakitkan, bagiku, dan kemudian aku melepaskan pelukkan Irfan, aku mengusap air matanya, dia pun juga sama.


Pandangan mataku, menerawang ke arah di sekitar Mall, dan kemudian aku mulai berdiri dari kursi yang seharian aku dudukki, Irfan juga ikut berdiri dari kursi tersebut.


“Kita cari es krim yuk”, ajakku.


Aku dan Irfan berjalan – jalan di sekitar food court Mall, dan kemudian berdiri depan Baskin Robins, dan di sana aku yang memesan lebih dulu pada pegawai yang berada di depan kami berdua.


“Silahkan mau yang mana”, ? tanya pegawai tersebut.

__ADS_1


“Saya es krim cokelat aja deh”, jawabku dan mataku beralih kepada Irfan, dia pun juga langsung ikut memesan.


“Saya es krim strawberry aja”, sahut Irfan.


Pegawai itu, langsung mengambil sesuai apa yang aku dan Irfan pesan, dan ketika sudah di berikan kepada aku dan Irfan, aku langsung mengambil uang di dalam dompet, dan memberikan kepadanya, dalam waktu bersamaan Irfan mendapat telepon dari pengacara Rendy.


“Halo asalamualaikum”, sapa Irfan mengangkat telepon.


“Walaikumsalam”, balas Irfan.


“Kita bisa ketemu sekarang di Mall Kelapa Gading di food court yah”, ? tanya pengacara Rendy.


“Dari penyelidikan saya baru menemukan bukti baru yang saya mau jelaskan, sama Rianti dan kamu juga”, kata pengacara Rendy kemudian.


“Oke kita ke sana yah”, ! seru Irfan mengakhiri pembicaraan di telepon.


Aku yang mendengar pembicaraan antara Irfan dan Pengacara Rendy, rasanya, aku juga entah kenapa, tiba – tiba saja, terpikir olehku, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada Irfan, mataku yang memandang ke depan, di keramaian orang, tiba – tiba saja, aku terbayang obrolanku dulu, dengan Irfan.


“Yah aku tahu, dan sekarang baru aku sadari juga, kalau emang ada hujatan dari netizen, bukanlah aku bermanja dengan orang di sekitarku, bisa saja, justru yang menerkam itu mereka, bukan netizen, netizen hanya orang yang enggak tahu apa – apa, tapi kata – kata mereka, enggak mungkin enggak beralasan, pasti beralasan, dan ada sebabnya, kita boleh membela seseorang, tapi bukan membela, dengan cara membabi buta, dan enggak mau dengerin orang lain bicara, kata – kata kasar mereka, pasti ada seseorang yang memancing emosi mereka, seseorang itu enggak mungkin ada reaksi apapun kalau bukan ada yang memancingnya, dan aku tahu hal itu di lakukan oleh fansku sendiri”, kata Irfan.


Aku ingat pada saat dia berkata begitu, ketika kami berdua duduk di pelataran studio, dan aku memberikan nasehat kepadanya, pada waktu sebelum kejadian seperti saat ini yang terjadi.


“Irfan semua itu karena kamu juga yang salah, kamu curhat dengan fans kamu yang belum tentu mereka bisa di pegang omongannya, hanya karena kamu berpikir, kamu minta belas kasih dari orang lain, dan kamu itu jangan cengeng Fan, sikap lemah kamu bisa di manfaatkan orang lain hanya karena kamu lemah, kamu harus kuat, dan karena pola berpikir kamu, minta belas kasih, kamu jadi lupa satu hal dalam hidup, seseorang yang tulus dalam hidup seperti apa, orang yang terlihat baik di depan belum tentu baik di belakang, dan hati manusia enggak ada yang pernah tahu, aku perlu koreksi juga dalam diri kamu sendiri, Fan kamu jangan terlalu manja dengan dunia yang keras ini, hanya karena ingin di berikan perhatian seperti apa yang kamu mau, berharap itu sama Allah bukan manusia”, kataku.


“Kamu sendiri yang bilang begitu, dan seharusnya apa yang kamu bilang ke orang lain, itu kamu tunjukkan ke orang lain”, kataku kemudian.


“Yah aku emang salah di situ, tapi aku akan merubahnya”, lirih Irfan kemudian.


“Berubahlah kalau begitu, menjadi yang lebih baik, semua manusia, itu enggak luput dari kesalahan, namun dari kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan, kita harus menjadi lebih baik, tapi bukan untuk orang lain melainkan diri sendiri, dan aku juga mau bilang sama Mama Vinda, agar tiap kali ada hujatan dari netizen, bukan langsung di tanggapi dengan emosi yang sama, tetapi di cari tahu masalahnya, karena enggak mungkin ada sebab, dan akibat, bahkan enggak mungkin juga ada awal kalau bukan ada orang yang mengawalinya”, kataku kemudian.


“Rianti”, Irfan menyebut namaku, dan membangunkan aku dari lamunanku, dan aku langsung menanggapinya.


“Kesalahanku sendiri pada saat itu aku bukan berpikir mencari tahu penyebab dan memilah antara kata – kata dan sikap, bahkan bersyukur dengan semua yang sebenarnya masih ada baiknya, itu benar yang kamu bilang Cuma lisan”, kata Irfan lagi.


“Lisan itu, emang bisa menjatuhkan mental, tapi sekarang aku berpikir panjang lagi, lebih baik lisan, daripada menjatuhkan mental dengan kekerasan, yaitu dengan cara memaksa, aku di jadikan boneka oleh mereka, kata – kata kasar oleh orang lain, belum tentu orang itu, jahat, apa yang mereka ucapkan belum tentu sama dengan hatinya, dulu aku belum berpikir seperti itu, tapi sejak kenal kamu, aku jadi sadar untuk mengubah pikiranku juga tentang hal itu, makanya kita boleh membela orang lain, tapi bukan asal bela, kita harus tahu dulu masalahnya apa, dan mencari tahu masalahnya, bahkan menelusurinya dulu, siapa yang sebenarnya salah dan benar, enggak buru – buru menilai orang lain hanya karena lisan”, kata Irfan kemudian.


“Itu semua sudah masa lalu, tapi yang penting sekarang kita gimana caranya berjalan ke depan, yah udah itu Rendy sudah nunggu kita harus buru – buru kesana juga”, kataku dengan lembut sambil menepuk bahu Irfan.


Aku dan Irfan, meninggalkan mall di Jakarta Barat, dan menuju ke arah Mall Kelapa Gading dengan taksi biru, ketika berada di dalam taksi biru, Irfan kembali menelepon Rendy, aku mendengar percakapan mereka, karena duduk di sebelahnya.


“Halo asalamualaikum Ren…”, sapa Irfan.


“walaikumsalam”, balas Rendy.


“Jadi gimana, Rendy, apakah ada bukti baru tentang hal ini semua”, ? tanya Irfan kemudian.


“Saya sudah bertemu dengan Elin, teryata Elin juga enggak di rumah, dan kunci juga di rumahnya, entah dia bersembunyi atau apa, saya yakin ada orangnya, sekarang ini di rumahnya, sekarang saya lagi di depan rumahnya, tapi di sini saya bersama Indah, dan Indah teryata tahu tentang masa lalu kamu juga Irfan, mohon maaf sebelumnya, Indah cerita sedikit ke saya, katanya waktu awal kamu jadi artis kamu pernah cerita tentang masa lalu kamu ke fans kamu, dan curhat tentang netizen, kejadian itu emang sejak akhirnya mereka tahu keburukkan kamu, jadi fans kamu adalah orang yang terobsesi dengan paras kamu, dan orang yang cari untung, juga orang yang mata duitan, tapi memanfaatkan curhatan kamu tentang masa lalu kamu, kalau masalah masa lalu kamu, sebenarnya kamu tahu sendiri kan kalau saya ini siapa, saya teman kamu dari sebelum dan semuanya, dan saya tahu kamu seperti apa Irfan, yah dulu kamu manja dengan mama kamu, dan papa kamu, tapi sekarang kamu sudah berubah sejak tahu fans kamu seperti apa dan kenal dengan Rianti, saya paham hal itu”, kata Rendy panjang lebar.


Irfan, mendengarkan apa yang di katakan oleh Rendy, kali ini Rendy mengkoreksi juga dirinya, yah benar, Irfan memang bisa memberikan channel pengacara kepada Rianti, karena Rendy adalah teman lama Irfan, yang masih komunikasi baik dengan dia sampai, teman baik Irfan waktu masih kuliah dulu.


Ceritanya pada saat itu, Irfan kuliah di Beijing, dan tanpa sengaja, dia bertemu dengan Rendy, dan memang karena kelebihan yang di milikinya itu, atau Indigo, tidak teman satu pun yang menemani, di bully, walau hanya dengan lisan, tapi saat itu Irfan bukan orang yang seperti sekarang berani melawan, di mana dia merasa benar, bagi Irfan bullyan, walau hanya lisan namun bisa menjadi tekanan mental tetapi sebenarnya yang terjadi, lisan mereka juga bukan dengan kekerasan mental, hanya kata – kata merendahkan dan semua kembali ke diri masing – masing, yang merendahkan itu, adalah orang yang lebih rendah, dan bagaimana cara menunjukkan harga diri adalah keberanian selagi di jalan Allah, masalah bukan di ratapi tetapi di cari jalan keluarnya.


Itulah hidup, bukan menangis, karena cobaan, boleh menangis, namun berpikir, untuk berusaha mencari jalan keluar masalah, mencari penyebab dari masalah dan menyelesaikannya, yang lisan dengan kata – kata kasar, bukan di dengar dengan langsung menangis dan mental jatuh, harus berpikir lagi dengan memilah yang lebih baiknya, lisan tidak sebanding dengan kekerasan mental yang justru itulah baru bisa di sebut menjatuhkan mental, terkadang yang salah bukanlah orang lain, walau apa yang di lakukan orang lain itu salah, tetapi pola berpikir kita juga dengan menanggapi suatu masalah dengan orang lain, itulah Irfan dulu waktu belum kenal aku, karena terbiasa agak di manja dengan mama Vinda dan Papa Fandy, juga cici Putri, jika memang Irfan mengadu tentang orang lain carilah tahu masalah itu, sebabnya dan awal dari semua itu, tidak ada orang di dunia ini yang bisa terpancing emosinya kalau bukan ada yang memancing emosinya, dan itu yang di kerjakan fans Irfan rupanya, ketika di selidiki seluk beluk masalahnya, namun teryata kesalahan yang walau sempat hanya sebentar di lakukan, menjadi durasi yang lama bagi hidup Irfan.


Irfan menaruh Hp di dalam tas selempang kecil warna cokelat miliknya, dan memejamkan mata, membayangkan kembali apa yang terjadi, yang membuat irfan, begitu sayang dengan mama Vinda, namun mama Vinda, dulunya juga sebenarnya, agak salah, memperlakukan Irfan, niatnya untuk memperbaiki kesalahan, namun justru mencuat ke masalah yang tidak terbayangkan, karena itu mama Vinda dan Irfan pada akhirnya sama – sama berpikir panjang harus apa yang di lakukan ketika tahu fanslah penyebab dari semua orang yang menghujat Irfan selama ini, hingga mama Vinda tidak asal untuk membalas begitu saja ciutan kasar mereka di media sosial.


Pada waktu itu, Irfan ingin pergi ke rumahnya, dan kejadiannya pada saat Irfan baru selesai kuliah, dan belum melangkah keluar rumah, mama Vinda menasehati dirinya.

__ADS_1


“Kamu mau apa sih kerjaannya kok kalau malam, cuma ngeluyur aja, ke rumah teman kamu, mau ngapain sihhh”, ? tanya mama Vinda.


“udah gitu, teman kamu itu enggak jelas, ngajakkin kamu macam – macam gitu, emang teman kamu siapa sih”, ? kata – kata mama Vinda di tanggapi oleh Irfan justru dengan keras.


“Enggak jelas apa sih, yah maaaaa, teman aku itu rumahnya di Jakarta Selatan tahu enggak”, !! bentakkan Irfan membuat mama Vinda mengelus dadanya.


“Eh mama itu cuma kasih tahu kamu jangan asal memilih teman, kita berteman sama orang yang baik – baik, mengajak kamu ke jalan yang benar, bukan ngajak ke enggak jelas ke dugem”, balas mama Vinda dengan suara marah terhadap Irfan.


“Dan kamu berani bentak mama yah anak durhaka nanti tahu akibatnya gimana”, ocehan mama Vinda tidak di dengar oleh Irfan, dengan santai dia pergi keluar rumah, namun Irfan pada akhirnya, Irfan sadar ketika dia ingin bertemu dengan temannya itu, justru mendapati temannya sedang di tangkap polisi karena sedang mengadakan pesta shabu – shabu di rumahnya.


Bayangan itu sekejap menghilang, dan karena itu yang membuat Irfan sekarang teramat sayang dengan orang tuanya, dan mereka membalas yang sama, karena Irfan sudah berubah, namun apa yang di lakukannya justru sedikit kesalahan juga dari mama Vinda yang memanjakan tanpa membiarkannya juga menjadi seorang yang berpikir lebih dewasa, berpikir tentang hidup yang sebenarnya harus seperti apa.


Kata – kata Rendy tersebut di telepon, rupanya, di rekam oleh Irfan dan di kirimnya ke mama Vinda, tidak lama kemudian, mama Vinda, menelepon Irfan dia nampak terisak di sana, ketika mendengar semua kata – kata dari Rendy tersebut.


“Yang Rendy omongin itu benar, mama juga salah sama kamu dulu, sebelum kita sekeluarga kenal dengan Rianti, dan hanya Rianti yang membuka pikiran kita yang selama ini tertutup”, kata mama Vinda.


“Yah ma, dan Rendy bilang, dan teryata mereka juga punya alasan kenapa mereka seperti itu, karena mereka yang tahu masa laluku, ingin menghancurkan aku itu yang di bilang Indah, dan mama dengar sendiri tadi, salahnya kita sempat dulu percaya banget fans”, kata Irfan kemudian.


“Dan mereka lakuin hal itu, terobsesi dan sok dengerin curhatan, karena punya maksud tujuan begitu juga, ma….”, Irfan meneruskan kata – katanya.


“Yah sudah sekarang jadi masalahnya”, ? tanya mama Vinda.


“Rendy masih penyelidikan, nanti aku kabarin lagi”, jawab Irfan, dan kemudian mengakhiri pembicaraan dengan Irfan, tepat saat itu kami akhirnya tiba di tujuan.


Aku dan Irfan, melangkah ke arah lantai dasar mall dan kemudian, aku menuju ke arah escalator dan kemudian menuju ke arah food court dari kejauhan, aku sudah melihat Rendy ada di sana, dan sedang membawa tumpukan berkas yang lebih banyak.


“Orang kami sudah ke rumah Elin, dan Elin kunci pintu rumahnya, entah dia ada di dalam rumah, atau gimana, tapi pada saat polisi mendobrak pintunya, Elin enggak ada di rumah, dan rumahnya kosong, sertifikat juga enggak ada di sana, tapi dari penyelidikan, ini sudah pasti semua fans Irfan yang lain ikut kerjasama, karena adminnya Mira, dan mereka pengikut Mira, sedangkan Indah yang baru saja memulai jadi admin baru dan mencari pengikut baru dia cerita kalau dia di ancam, juga oleh Mira, keluarganya akan di hancurkan, bahkan Indah juga nanti akan di fitnah sebagai dirinya yang menjelekkan Irfan selain kamu Rianti”, Rendy menjelaskan panjang lebar.


“Saya yakin Om Hasan sedang bersembunyi juga, dan saya yakin, mereka semua sudah saling kompak kerjasama termasuk Tania, ini namanya mereka akan menyerang kita nantinya, dan sudah keadaan akan semakin enggak aman, sementara sertifikat Tangerang Selatan sudah enggak jelas keberadaannya, namun di BPN masih nama mama kamu Rianti”, Rendy meneruskan kata – katanya.


“Untuk Irfan, kalau kamu mau, menjauh dulu saja dari publik, untuk sementara waktu, karena mereka punya uang untuk bayar wartawan nakal, masalahnya Indah bilang, ada yang namanya Novi, itu sempat tahu masa lalu kamu, dari cerita mama Vinda waktu ke rumah kamu dulu, apakah dulu emang sering fans datang ke rumah”, ? tanya Rendy.


“Yah emang Novi itu pernah ke rumah”, Irfan menganggukan.


“Mas Rendy, saya siap kapan saja bertemu dengan mas, demi mempertahankan hak saya massssss, hak itu adalah amanah dari Allah yang harus di jaga, walau rezeki itu juga datang dari Allah, saya sudah pasrahkan semuanya dari Allah, karena harta hanya milik Allah, tapi mas tolong beri pelajaran buat mereka semua yang sudah dzolimin hidup saya hanya karena harta”, tiba – tiba saja aku ingin berteriak agak keras sambil menangis.


“Aku sudah enggak tahan kalau di teror terus begini mas, dan saya khawatir mereka nantinya akan tahu, keberadaan saya sekarang ada di mana, kalau emang mata – mata dari mereka masih berkeliaran, tolong saya mas, cari sertifikat juga sampai dapat, Insya Allah, kalau harta itu masih milik kita dia akan kembali”, kataku dengan air mata menetes.


“Saya coba selidiki ke Desi kalau begitu, karena saya juga curiga dengan sepupu kamu juga yang namanya Desi”, kata Rendy.


Aku menganggukan kepala, dan kemudian, sambil meneruskan obrolan, aku menyuap makanan, yang dari tadi, hanya terpajang saja di atas meja, waktu menunjukkan jam 8 malam, dan akhirnya aku dan Irfan meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke rumah.


Ketika tiba di rumah, aku masuk ke dalam kamarku, sambil menyandarkan kepala di balik daun pintu, aku duduk dan menangis, rasanya hati sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi, tiba – tiba saja ketika itu, aku mendapat notifikasi dari Instragram, rupanya ada DM yang masuk, aku langsung membukanya, dan mataku terbelalak membacanya.


Ini aku Tania, asal kamu tahu aja yah kakk, kalian itu keluarga sombong, apakah menurut kalian, selama ini cerita tentang aku mereka dengerin, enggak, pikiran kalian aja yang begok, semuanya itu justru malah menertawakanmu cerita, tentang Irfan Santoso, dan hubungan kalian berdua, gimana, kamu udah berani yah enggak mau nurut lagi juga sama aku, sekarang, kamu tuh di atur sama keluarga harusnya nurut dongggggg, aku tahu pikiran mama kamu, sangat mendukung kamu berteman, dengan Irfan, dan aku memang menghalangi kamu, karena apa, karena sekalinya kamu dekat dengan orang lain, kami enggak bisa mendapatkan apa yang kami mau dari kamu, mana kunci rumah Jakarta Selatan, sini aku mau tempati sama mama aku, karena selama ini aku enggak punya rumah sendiri, mamaku masih tinggal di rumah orang tuaku, yah kebeneran banget, tinggal minta kunci dari kamu bisa aku tinggal di sana sama mama kamu, rupanya kamu sudah tahu apa tentang apa yang aku omongin tentang artis itu bohong dan sebenarnya semuanya akulah pelakunya, aku sengaja menjelekkan mereka semua, agar aku bisa terkenal, tapi semua itu hancur, rencanaku, gara – gara si Indigo itu, Irfan, dan dia dekat sama kamu, juga, kalian harus di pisahkan apapun caranya, agar aku bisa mendapatkan apa yang aku mau dari kamu.


Tania.



Emosi mulai meledak di hatiku, membaca itu semua, dan rasanya dalam bayangan mataku, aku ingin menampar Tania sekali lagi, kalau aku blokir Instragram Tania untuk kesekian kalinya sama aja, aku menghindar, aku tetap menghadapi, kalau perlu menantang orang yang semacam ini, bukan menghindar, dan kalau perlu orang lain, tahu aku bersembunyi, bukan karena takut pada teror, melainkan hanya karena ingin merasa tenang dulu, tapi aku pasti hadapi mereka semua yang menyakiti aku selama ini, aku langsung membalas, dengan hati yang panas kiriman Dm Instragram Tania tersebut.


Justru suatu saat nanti, kamu yang akan menggali lubangnya sendiri, lihat saja Tania, karma itu enggak lama lagi, dengan apa yang kamu sudah perbuat selama ini, mungkin kamu bisa puas, dengan apa yang kamu lakukan tapi nanti kamu akan menyesal di kemudian hari, aku sudah menjamin hal itu, dan aku sebenarnya sudah bisa menebak di mana sertifikat itu, ada siapa saja orang di belakang kamu, aku enggak takut seberapa banyak pengikut kamu Tania, aku hanya takut sama Allah, Desi apalagi, Anwar suaminya, juga enggak takut, enggak perlu juga selama ini berpura – pura baik di depan kenyataannya, hati yang kotor tetap akan terlihat juga nanti, dan mulai sekarang kamu enggak perlu lagi panggil aku Kak, aku sudah bukan keluargamu lagi, kita putus hubungan saja, dan aku lebih damai, walau tanpa keluarga, lebih happy, walau tanpa siapapun, namun bukan berdampingan dengan orang gila seperti kalian semua, anjing, seperti kalian semua.


Balasanku, yang begitu memohok dan tajam, sepertinya Tania, sedang berpikir dengan apa yang harus di lakukannya lagi, karena dia menghilang, tapi terlihat sedang mengintai aku via media sosial, aku tidak takut, kalau suatu saat akan datang ke rumah kontrakan ini dan kalau memang pada akhirnya mereka semua tahu di mana aku berada dengan mama dan papaku.


Perasaanku, yang sedang tidak tenang, membawaku ingin menelepon Irfan, siapa tahu dia belum tidur malam – malam begini.

__ADS_1


__ADS_2