SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENCOBA MERACUNI


__ADS_3

Affhan, Dimas dan Maisya ada di ruangannya masing-masing. Tiga remaja yang sebentar lagi menginjak delapan belas tahun ini tengah sibuk dengan semua laporan yang ada di meja kerja mereka.


"Tuan, ada pemimpin dari Holstein Corp. Nona Jeanny Holstein," lapor sekretaris remaja itu.


Dimas berdiri dan membenahi jasnya, sekretaris mendekat hendak membantunya.


"Kakak ngapain?" tanyanya polos.


Sosok cantik itu sempat menjulur tangannya mematung sejenak. Sandra lupa jika atasannya seorang bocah yang masih begitu polos.


"Saya hanya menjalankan tugas Tuan. Seorang sekretaris harus memastikan jika penampilan atasannya rapi," jawabnya dengan senyum penuh rencana.


"Aku bisa sendiri!" tolak Dimas tegas dan menjauhkan tubuhnya dari jangkauan gadis cantik itu.


Rando masuk ke dalam, pria itu menjadi tangan kanan Dimas. Ia membungkuk hormat.


"Tuan," ujarnya.


"Ayo," ujar Dimas lalu berjalan.


Sandra mengambil berkas-berkas yang diperlukan. Dimas berjalan menuju lift bersama Rando dan Sandra. Arfhan dan Maisya masih berada di ruangannya.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya!" sapa Dimas dengan senyum ramah.


Sebagai perusahaan yang bergerak di jasa pelayanan. Dimas tentu harus ramah dan murah senyum pada klien yang datang ke perusahaannya.


"Halo Tuan Triatmodjo, saya Jeanny Holstein," ujar seorang gadis cantik dengan busana formal yang berkelas.


Dimas meyambut ukuran tangan Jeanny. Netra kelam berhadapan dengan iris mata yang menggunakan kontak lensa ungu. Dimas sampai berkerut melihatnya.


Dimas duduk, sejurus kemudian perwakilan perusahaan yang bermasalah pun menjabarkan apa yang menjadi kendala mereka. Tak lama Maisya dan Arfhan datang. Keduanya harus ikut rapat, Maisya menatap laporan keuangan itu.


"Astaga ... apa ini?" tanyanya sambil berdecak kesal.


"Susunan angka lotre?" desisnya mencibir.


"Jangan sembarangan. Pembukuan saya itu ditangani oleh profesional!" seru Jeanny tak terima.


"Jika memang begitu, perusahaan anda tak sampai diaudit Bank, Nona Holstein," tukas Dimas tentu membuat Jeanny bungkam.


"Memang tulisannya rapi. Tapi angka-angka ini?" Maisya menggeleng.


Gadis itu berdiri dan meminta pereview duduk. Maisya mulai membuat banyak garis dan membuat kotak-kotak. Ia menyalin semua angka yang ada di laporan tanpa melihat sama sekali. Jeanny ternganga, tak ada yang salah sama sekali.


"Katakan Nona Holstein. Apa ini disebut pembukuan?"' tanya Maisya.

__ADS_1


Affhan menahan tawa, ia geli sendiri dengan susunan angka yang ada di papan putih itu. Sedang Dimas hanya tersenyum sinis pada gadis yang menatap papan putih dengan mulut menganga.


Usai merevisi semua angka-angka. Bank akhirnya memberikan keringanan untuk perusahaan Holstein membayar semua utang yang jatuh tempo saja. Jeanny menyanggupi, gadis itu terpaksa menjual beberapa aset miliknya agar perusahaan yang dibangun oleh ayahnya itu selamat dari audit bank.


"Terima kasih, saya ingin sekali mengajak anda untuk makan malam Tuan," undang Jeanny pada Dimas.


'Heei ... enak saja, Tuan Triatmodjo itu milikku!' umpat Sandra dalam hati.


"Maaf Nona, saya menolak. Ibu saya masak di rumah," tolak Dimas.


"Lagi pula bukan saya yang membenahi semua angka-angka tadi, tetapi saudari saya Maisya," lanjutnya.


Jeanny tak bisa berkutik. Dimas begitu polos dan gamblang. Remaja itu tak bisa diberikan suguhan nikmat dunia.


Jeanny akhirnya pergi, Sandra tentu bersorak kegirangan. Jika ingin bersaing, tentu ia akan kalah telak dengan gadis pemilik perusahaan itu.


"Tuan, anda terlihat lelah," ujarnya perhatian pada Dimas.


"Tidak, kan sudah biasa," jawab remaja itu benar-benar mematahkan semua rencana Sandra.


"Tidak masalah Tuan," ujarnya ingin membantu Dimas membuka jasnya.


"Saya bisa sendiri Sandra," tolak Dimas.


"Makasih," ujar Dimas lalu duduk.


Sandra tersenyum, gadis itu tentu ingin mengajari tuan polosnya itu sebuah hal dewasa.


"Apa Tuan mau saya buatkan kopi?" tawaran dengan suara merdu.


Rando masuk, pria itu menatap sosok cantik yang sepertinya ingin memanfaatkan kepolosan tuannya. Pria itu diberi mandat penuh oleh Khasya menjaga Dimas dari semua godaan.


"Sandra, coba gandakan semua berkas yang tadi lalu susun dan buat laporannya!" titah Pria itu tegas.


"Saya hanya menuruti perintah Tuan Dimas!" elak Sandra.


"Kau lupa jika aku memiliki kekuasaan penuh memecatmu?" tekan Rando pada Sandra.


"Om ...."


"Tuan muda, apa perlu saya laporkan pada Nyonya Khasya?" tekan Rando lagi pada Dimas.


Dimas tentu diam, ia memang diberitahu sang ibu jika Rando memiliki kekuasaan penuh jika itu menyangkut dirinya dan perusahaan.


"Anda sudah besar Tuan. Terlebih anda adalah pewaris dari perusahaan. Apa semua harus menuruti kata-katanya?" tanya Sandra mulai memprovokasi.

__ADS_1


"Mestinya anda punya kewenangan penuh, anda harus mengatakan pada ibu anda jika ingin kekuasaan penuh di tangan anda!" lanjutnya.


"Apa mesti begitu?" tanya Dimas.


"Tentu saja, anda adalah yang berkuasa di sini. Ibu anda seperti kurang percaya jika anda memegang penuh kekuasaan," jawab Sandra berapi-api.


"Halo Assalamualaikum, Nyonya Khasya. Bisa Nyonya kemari?" ujar Rando, pria itu langsung menghubungi Khasya..


Dimas membelalak, padahal ia tadi hanya memancing Sandra mengatakan pikirannya. Ia sendiri akan memutuskan apa yang harus dia lakukan ke depan.


Rando hanya menatap datar, baik pada sang atasan dan Sandra. Gadis itu menganga tak percaya jika secepat itu Rando mengadu pada pemilik dari perusahaan. Gadis itu menelan saliva kasar.


Tak butuh waktu lama, Sandra harus membereskan mejanya. Ia dipecat oleh Khasya langsung karena berusaha meracuni pikiran Dimas.


"Anda keterlaluan Tuan!" desisnya pada Rando penuh dendam.


"Aku? Kau pikir aku tidak tau rencanamu Sandra?" kekeh sinis Rando pada mantan sekretaris atasannya itu.


"Dengan perkataanmu tadi. Kau ingin sekali menguasai Tuan Dimas yang polos untuk kau jadikan bonekamu. Kau ingin merusak pikirannya dengan video-video mesum milikmu kan?" lanjutnya langsung menuduh.


"Jangan menuduh tanpa bukti!" sentak Sandra tentu mengelak.


"Sandra ... Sandra. Kau tau, kelakuanmu itu sudah aku pantau dari awal kau bekerja di sini!" ujar Rando lagi sampai berdesis.


Pria itu melempar beberapa flashdisk pada Sandra. Ingin sekali Rando melempar gadis itu hingga keluar gedung setelah melihat isi file dalam flashdisk yang ia temukan di laci kerja Dimas.


"Murahan!" hinanya.


Sandra terdiam. Flashdisk yang berisi potongan video panasnya bermasturbasi dengan mainan alat reproduksi pria tersimpan di sana.


"Pergi sebelum aku meludahimu Sandra. Sungguh aku jijik melihatmu!" tekan Rando.


Sandra pun melangkah dengan kepala tertunduk. Hancur sudah reputasinya di depan Rando, ia memang sengaja memasukkan flashdisk ke laci Dimas. Berharap remaja polos itu melihat dan menontonnya.


Sementara itu Dimas sudah menjelaskan pada sang ibu. Jika ia memang akan memberhentikan sekretarisnya itu.


"Jangan buat Bunda kecewa sayang," pinta Khasya pada Dimas.


"Iya Bunda. Jangan khawatir. Bunda adalah segalanya," tekan Dimas menenangkan ibunya.


Bersambung.


Idih ... Sandra ... 😤😡🤮


next?

__ADS_1


__ADS_2