SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BARAKALLAH FII UMRIK AZIZAH


__ADS_3

Azizah datang dengan balutan dress lengan sepotong berwarna shock pink yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Semua terpana melihatnya. Aminah langsung berlari ke arah kakaknya begitu juga Ahmad, Alim, Amran, Ajis dan Adiba.


"Kakak cantik sekali!" puji Alim pada kakaknya.


"Makasih dik,"


Herman dan Khasya juga sangat terpukau. Keduanya tak keberatan jika Satrio menjadi mendampingi gadis itu suatu saat. Virgou juga sama. Ia berharap salah satu putranya akan berjodoh dengan Azizah, begitu juga Haidar.


"Barakallah fii umrik kakak!" sahut Satrio, Sean, Al, Daud yang membawa buket bunga mawar nan cantik.


Azizah tersenyum lebar dan menerima semua bunga itu. Para perusuh ribut di sisi kiri. Mereka mau kakaknya itu juga memperhatikan.


"Ata' pesimi!" titah Harun dengan wajah galak.


Azizah mendekat. Wangi parfum begitu lembut. Dinar langsung memeluk gadis itu gemas. Lidya juga ingin memeluk Azizah.


"Bibu ... gantian!" pekiknya.


"Saf juga mau peluk!" ujar Saf tak mau kalah.


"Alun pulu!" teriak Harun geram.


"Bnenehenwjsudgbwwjsuhdjwksis!" ocehnya tak jelas.


Azizah menciumi semua bayi. Fathiyya ingin minta gendong. Ia menangis karena Virgou melarangnya.


"Baba ... daddy ... hiks ... hiks!" adunya.


Budiman hanya bisa pasrah dan diam. Ia tak mungkin memarahi ketuanya itu, bisa-bisa istrinya akan mengamuk. Virgou menggendong Fathiyya dan akhirnya bayi itu diam. Aaima juga tak mau kalah.


"Yaaah!" pekiknya memanggil Herman.


"hei ... bayi!" Herman kesal sekaligus gemas dengan bayi cantik satu itu.


Maryam dan Aisyah juga tak mau kalah. Kini keduanya dalam gendongan Budiman dan Jac. Sedan bayi laki-laki di gendong oleh para ibu dan nenek mereka.


"Selamat ulang tahun ....!"


Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan oleh Dimas, Affhan dan Maisya. Azizah terharu luar biasa. Sebuah kue cantik didorong oleh Kean, Sean dan Calvin.


"Tiup lilinnya kak!" pekik Alim.


"Make a wish dulu!" ujar Demian.


Azizah memejamkan mata berdoa. Ia meminta agar semua orang dalam keadaan sehat dan saling sayang menyayangi satu dan lainnya sepanjang masa. Lilin ditiup.


Dor! Al dan Daud menarik tuas yang menghamburkan kertas warna-warni ke udara. Anak-anak bersorak riang. Banyak foto hasil bidikan Kaila sangat cantik dan begitu pas dengan momennya.


Azizah memberikan kue pertama pada Virgou sebagai simbol ketua yang mau menerimanya di perusahaan Savelived. Dahlan sedang bertugas di tempat lain sesuai perintah pria dengan sejuta pesona itu.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang," ujar Virgou lalu membelai kepala gadis itu.


Kue kedua ia persembahkan untuk Herman, lalu untuk Haidar, Dav kemudian Darren. Lalu pada Terra, Puspita, Khasya, Kanya, Seruni, Lidya dan Saf. Tak lupa pada Putri, Aini juga suami keduanya.


Semua anak ikut makan kue wajah Azizah penuh dengan krim kue akibat ulah Satrio yang menempelkan kue ke muka gadis itu.


"Kenapa kau lakukan itu?" Herman tak menyukai dengan ulah putranya itu.


"Kan jadi jelek mukanya!" lanjutnya kesal.


"Biar Satrio bersihin, ayah,' ujar pemuda itu.


Satrio menjulurkan lidah hendak menjilati krim di wajah Azizah. Hal itu membuat Virgou marah dan langsung memberikan gadis itu tisu basah.


"Ah ... daddy ... gagal deh ciuman pertamaku!" sungut Satrio pelan.


"Apa katamu tadi?" desis Virgou mulai marah.


"Daddy ... udah ah jangan marah-marah!' Lidya memeluk pria itu dan langsung luluh.


Virgou kesal, Satrio berhasil melarikan diri. Sungguh tadi adalah perbuatan paling nekat yang pernah ia lakukan.


Di sana ia malah kena marah Dinar. Hingga membuatnya menangis dan meminta maaf pada Azizah.


"Nggak gitu-gitu lagi baby?" peringat gadis itu.


Satrio mengangguk, remaja itu kapok dan tak akan berbuat hal mesum itu lagi.


"Kenapa kamu nangis? Di apain sama bibu?" tanya Kean penasaran.


"Kata bibu perbuatan ku tadi termasuk dalam dosa zina, karena Kak Azizah bukan mahramku," jawabnya lirih.


"Ah ... hampir saja tak jadi," ujar lainnya lega.


Para perusuh kini naik ke panggung. Mereka ingin mempersembahkan sebuah lagu.


"Syululup tetiwil ... syululup tetiwil ...!"


Harun memulai musik akapelanya. Azizah nyaris tersedak. Terra memberinya minum agar gadis itu tak terbatuk.


"Entau yan syantit ... entau yan banis ... entau yan bait ... (syululup)!"


Azha dan Arion menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri. Entah bagaimana, tapi semua seusai komposisi yang benar walau begitu lucu dan menggemaskan.


"Pulan peulpina seulilin penyummu yan mendoda ... (tetiwil) ... Oh ... Pajijah .. atuh binta ladamu ... (syululup tetiwil)!"


Lagu selesai. Semua bertepuk tangan meriah dengan wajah kaku dan perut kram. Azizah juga duduk di sana dengan perut yang sakit akibat menahan tertawa.


"Ata' Pajijah!" Arion berdeklamasi kembali.

__ADS_1


Azizah menyerah. Ia tertawa mendengarnya. Suara tawa khas yang menyentuh sanubari seseorang yang menatapnya penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang saat menatap setiap lekuk wajah cantik gadis itu.


"Tawa itu lepas sekali!" gemuruh dadanya berdesir seiring gumaman dalam hati.


"Ata' Pajijah!" suara deklamasi Arion membuyarkan lamunannya.


Ia kembali fokus pada panggung yang menampilkan perusuh di atas panggung dan berusaha mencari perhatian gadis itu.


"Janan entau ladutan pintatu ladamu!"


Arion mengakhiri deklamasinya. Azizah bertepuk tangan meriah dengan berdiri. Lalu ke enam adiknya mempersembahkan lagu untuk kakak tercinta.


"Terima kasihku padamu kakak ku ... engkaulah matahari yang menerangi jalanku ... engkau juga bumi tempat kami berdiri, engkau pelita hati di kala gelap melanda ...!"


Azizah terharu. Ia sangat tahu lagu itu. Apah dan Amak dulu menyanyikan lagu itu mengajari semua adik-adiknya.


"Wahai permata hati apah dan amak ... teruslah bersinar hingga kami berani menentukan langkah, engkaulah danau di Padang tandus di mana semua harapan berkumpul ... kau lah kakak kami Azizah ...!"


"Ba bowu Tata!" seru Aminah di akhir lagu.


Azizah langsung menghampiri ke enam adiknya. Memeluk semuanya dan menangis bersama. Semua menitikkan air mata haru. Ketujuh kakak beradik itu semuanya adalah yatim piatu. Mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Lana, Leno dan Lino ikut masuk dan minta peluk gadis itu.


"Kakak ... kau ya jadi kakak kami?' pinta Lana memohon.


Azizah langsung mengangguk. Ia menciumi ketiga anak yatim piatu itu. Lalu muncullah semua anak panti yang baru bergabung. Azizah memeluk mereka satu persatu.


Terra mendekatinya dan mengusap wajah basah gadis itu lalu menerbitkan kecupan hangat di kening Azizah.


"Selamat ulang tahun sayang ... barakallah fii umrik," ujarnya.


"Terima kasih ... Mama ... terima kasih," Terra tersenyum mendengar panggilan itu.


Khasya juga memeluk gadis itu dan mengucap selamat ulang tahun. Azizah juga memanggilnya bunda. Wanita itu senang sekali.


Kanya dan Bram begitu bangga dipertemukan gadis luar biasa itu. Mereka menciumi wajah sang gadis dengan kehangatan dan penuh kasih sayang. Hal itu membuat semua perusuh ingin dicium.


"Hai ... selamat ya!" ujar Rion memberi selamat pada salah satu karyawan terbaik ibunya itu.


"Terima kasih tuan baby!" ujar gadis itu yang membuat decak kesal dari Rion.


"Aku bukan bayi ... bahkan jika boleh, aku sudah bisa buat bayi!" gerutunya pelan.


"Apa baby?" tanya Virgou gusar.


"Nggak ada Daddy ... nggak ada!" sahut pemuda itu cemberut.


bersambung.


ah ... siapa tuh yang berdesir ...?

__ADS_1


next?


__ADS_2