
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Nai diijinkan untuk pergi dinas, tapi Virgou dan Gomesh yang mengawal gadis cantik itu bersama tiga pengawalnya. Nai juga setuju.
"Nai, kamu udah siap pergi ke sana?" tanya Arimbi.
"Iya udah pada setuju," jawab gadis itu.
"Hati-hati, kita nggak tau loh kondisi kota itu gimana!" peringat Arimbi lagi.
"Iya tenang aja. Ada Daddy dan lainnya," ujar Nai tenang.
Akhirnya rumah Darren sepi, semua pulang ke rumah masing-masing. Pagi menjelang Nai sudah bersiap. Ia sudah mendapat ijin dari ayah dan ibunya setelah berdebat begitu panjang. Sebagai dokter umum, gadis itu memiliki tanggung jawab dalam mengabdikan dirinya untuk kesehatan masyarakat. Gadis itu akan memberi penyuluhan di sebuah puskesmas di pinggir kota. Kota M tengah bergejolak akibat ketimpangan sosial yang begitu berjarak. Monopoli pasar dikuasai oleh kalangan berduit di sana. Status dan kasta sangat terlihat. Keributan terjadi ketika seorang pria miskin tengah memungut sampah. Entah bagaimana, seorang yang mengaku atau terlihat kaya raya melempar sampah tepat ke muka pria miskin itu.
Virgou yang tak ingin putrinya celaka mengerahkan seribu anak buahnya ke kota itu. Gerakan dari bayangan BlackAngel langsung membuat satu kota hening seketika.
"Tuan, semua sudah dikendalikan!' lapor Dahlan.
Virgou mengangguk. Pria itu sudah memakai baju formal warna coklat tanah.
Puspita meminta suaminya berhati-hati begitu juga Gomesh dan lainnya.
"Jangan terlalu mencolok. Jagain Nai aja ya!" pintanya agar suami dan salah satu anak buahnya tak berbuat ulah.
"Iya sayang," sahut Virgou.
"Baik Nyonya," sahut Gomesh.
Kedua pria itu pun pergi ke rumah Terra menggunakan mobil sport warna merah menyala. Hanya butuh tujuh menit mereka sudah sampai di sana. Nai sudah membawa tas kecil berisi pakaiannya. Mereka akan menginap di sebuah hotel setempat.
"Sudah siap semua?" tanya Virgou ketika datang.
Semua masih tidur. Hari ini adalah hari minggu. Jadi mereka masih terlelap.
Nai menguap lebar ia memeluk Virgou dan memejamkan matanya. Pria sejuta pesona itu, mengelus punggung putri dari adik sepupunya itu.
"Hati-hati ya Kak di sana?" ujar Terra.
"Iya sayang," sahut Virgou.
__ADS_1
Akhirnya, Nai digendong Gomesh karena tertidur. Langit, Ricky dan Lucky menjadi pengawal gadis itu. butuh waktu satu jam setengah untuk sampai di Kota M. Kota yang mestinya bising dan padat, mendadak lengan, walau cuaca cukup panas di sana. Nai sudah bangun dan ia tengah menyandarkan kepalanya di dada salah satu ayahnya itu.
"Daddy," rengeknya.
"Bangun Baby, sebentar lagi sudah mau sampai," ujar Virgou.
Mereka masuk ke halaman sebuah hotel berbintang lima. Nai menelepon pihak puskesmas jika ia sudah datang dan akan memberikan penyuluhan sekitar dua jam akan datang. Gadis itu juga mengabarkan pada pihak kampus jika ia sudah ada di kota M dan tengah beristirahat sebentar di sebuah hotel.
"Baby jam berapa penyuluhannya?" tanya Virgou.
"Jam satu siang Daddy," jawab Nai.
Gadis itu memilih mengistirahatkan dirinya. Hari masih pukul 09.45 masih cukup waktu untuk kembali beristirahat. Virgou membaringkan tubuhnya di sebelah Nai, sedang Gomesh membaringkan diri di sofa yang cukup besar.
"Papa sini Papa!" panggil Nai menepuk kasur sebelahnya.
"Gom!" panggil Virgou.
Gomesh bangkit dari sofa dan membaringkan dirinya di sisi sebelah kiri gadis itu, sedang para pengawal ada di kamar sebelahnya.
Waktu berlalu, kini Nai sudah berada di puskesmas bersama dua ayahnya. Gadis itu tengah menyalakan proyektornya. Ia melihat keberadaan pria-pria berpakaian serba hitam di sekitar puskesmas.
"Ah ... hanya pengawal tambahan Baby," jawab pria itu santai.
Nai mengangguk tanda mengerti. Para warga mulai berkumpul, semua melalui pemeriksaan dari tiga pengawal yang dibawa Virgou dan bekerjasama dengan pihak kepolisian setempat.
Seorang perawat pria menjadi moderator dan ada dari pihak dinas kesehatan setempat hadir sebagai narasumber. Nai ditugaskan sebagai narasumber utama di penyuluhan tersebut.
Kursi-kursi sudah terisi. Ada anak-anak kecil ikut dan dipangku oleh ibu mereka. Nai juga mengadakan pengobatan gratis setelah penyuluhan selesai.
"Selamat siang ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya!'' sapa moderator.
"Siang!"
Makanan ringan juga makanan berat dibagikan. Ini adalah inisiatif dari Virgou yang telah menyiapkan semuanya sejak kemarin.
"Baik, kita beralih pada narasumber dari pihak dinas kesehatan, silahkan Pak!"
__ADS_1
"Terima kasih. Selamat siang semuanya, kita mulai dari kasus yang sering kita jumpai yakni gizi buruk dan juga penyakit kulit!"
Dinas terkait menjelaskan kenapa dua penyakit tersebut menjadi kasus paling banyak dijumpai karena gaya hidup masyarakat selain faktor ekonomi yang memang timpang sebelah.
"Kebersihan adalah kunci utama bagi kesehatan semua anak. Saya kira para bapak-bapak bisa mulai membersihkan parit-parit depan rumah kalian!" ujar kepala dinas kesehatan.
"Nah sekarang, waktunya Dokter Naisya Putri Hovert Pratama untuk melakukan reviewnya.
"Sebelumnya, saya ingin mendengar keluhan para warga sekitar!" ujarnya.
Salah satu menunjuk tangan. Pria itu menyuarakan kegelisahannya. Selain tak adanya lapangan pekerjaan, ia juga seperti mati kutu dengan semua usaha yang ada.
"Kami mulai bingung menghidupi keluarga kami Dokter!" ujarnya dengan mata basah.
"Bahkan sampah saja direbut sama orang-orang kaya itu!' lanjutnya frustrasi.
Banyak pengusaha-pengusaha besar merambah pada pengusaha kecil seperti rumah makan Padang dilibas dengan restauran Padang. Lalu warteg dilibas dengan restauran sederhana. Monopoli pasar yang sangat terlihat. Bahkan jika ada rumah warga yang membangun ruko di depan rumahnya maka sekeliling rumah itu akan dibangun toko-toko besar menenggelamkan usaha mandiri warga.
"Memang ini bukan kewenangan saya. Ini pasti ada campur tangan pihak pemberian ijin usaha. Mungkin saya bisa bantu melaporkan semua ini ke dinas perindustrian dan perijinan usaha pusat!" janji Nai.
Virgou tercerahkan. Pria itu menelepon Rion dan Satrio. Meminta dua anak itu menekan para dinas terkait untuk merubah perijinan dan menghukum siapapun yang terlibat kasus monopoli usaha ini.
Nai mulai reviewnya. Banyak ibu-ibu sangat senang dengan apa yang dijelaskan oleh gadis itu. Bahkan Nai memberi solusi pada ibu-ibu bagaimana membuat makanan sehat tanpa keluar uang banyak.
"Ada halaman sedikit. Tanami sayur-sayuran, singkong atau ubi. Ibu-ibu bisa berswadaya dengan ibu-ibu lainnya agar tercipta lingkungan sehat.
"Makasih Dok atas pencerahannya. Di tempat kami ada lahan sekitar lima ratus meter. Itu bisa kami tanam apa yang Dokter sarankan tadi," ujar kepala desa yang juga ikut di sana.
"Sama-sama, senang bisa membantu bapak dan ibu sekalian," ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.
Semua aman-aman saja hingga tiba-tiba terdengar suara deru sepuluh motor bising datang dan melempari tempat itu dengan bom molotov. Semua lari tunggang langgang. Pria-pria berbaju hitam mengeluarkan menembak para pemotor itu dengan senjata peredam suara.
Sepuluh motor bergulingan. Polisi panik dan tak sadar jika sepuluh pemotor hilang dari tempatnya.
bersambung.
wah ... hilang sekejap perusuh abal-abal!
__ADS_1
next?