SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GOMESH 2


__ADS_3

Pagi menjelang, Frans datang bersama istrinya. Seperti kemarin janin yang ada di perut Lastri bergerak hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Gomesh dan Bastian mengelusnya, barulah janin dalam perut Lastri tenang.


“Ini Papa Gomesh Babies,” ujar Lastri memperkenalkan pria raksasa itu pada ajnin dalam perutnya.


“Sudah berapa bulan Nyonya?” tanya Gomesh.


“Sudah tujuh bulan,” jawab Lastri.


“Sama dengan Nyonya Nanaj?” Lastri mengangguk dengan senyum lebar.


Wanita berhijab itu sangat cantik, Gomesh memperkirakan jika janin yang dikandung istri dari tuannya itu adalah perempuan,


“Tapi tunggu dulu, tadi Nyonya bilang apa? Babies?” Lastri mengangguk lagi dengan senyum lebar.


Wanita itu sampai berkaca-kaca karena terharu bahagia. Tuhan masih mempercayakannya dengan dua bayi sekaligus. Najwa pun sama, ia mengusap lengan iparnya untuk menenangkan wanita itu. Sang suami juga tak kalah bahagiannya, di usianya yang sudah tua, mereka masih bisa menanam bibit unggul mereka.


Hati Gomesh menghangat, ia merasakan cinta besar dari keluarga yang baru saja bergabung. Bahkan ia yang merupakan orang luar menjadi bagian dari keluarga ini. Suasana haru mendadak pecah ketika ponsel pria raksasa itu berdering, Gomesh mengangkatnya.


“Halo ....”


“Anak sialan ... kenapa tak menghubungiku ketika sudah sampai!” teriak Bart di ujung sambungan telepon.


“Grandpa ....”


“Kau tau Maria istrimu tak bisa tidur semalaman karena cemas bodoh!” teriak pria gaek itu.


“Grandpa ... jangan bawa-bawa Maria!” teriak seseorang di sana tak terima.


Tentu semua orang mendengar suara itu, Gomesh mengaktifkan pengeras suara. Bastian langsung menyela.


“Mommy ... aku sudah sampai!”


“Iya sayang, jangan nakal dan buat Papa Gomesh susah ya,” ujar Widya dalam sambungan telepon.


‘Iya Mommy!”


“Baiklah, kalian sudah sampai dengan selamat. Aku lega mendengarnya,” sahut Bart diujung telepon.


“Iya Grandpa, maaf, saya tidak langsung memberi kabar,” sesal Gomesh.


“Anak nakal, nantikan hukumanmu pas pulang!” ancam Bart.


"Dad, kau tak menanyakan kabarku?” teriak Frans.


“Kau sudah ada yang mengurus. Aku yakin kau baik-baik saja. Sekarang bagaimana kondisi menantuku, apa dia baik-baik saja?”


“Daddy ... Mas Frans kemarin nggak mau ngasih aku mangga,” rengek Lastri.

__ADS_1


“Frans!” teriak Bart.


“Daddy, bagaimana aku nggak mau kasih, ia menyuruhku mencuri mangga di mall!” sahut Frans.


“Lastri ... kenapa ngidammu aneh-aneh?” keluh Bart.


Lastri hanya cemberut. Gomesh menatap mereka yang saling berteriak di telepon. Sambunganpun berakhir. Kali ini pria tinggi besar itu pamit dan ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan keluarga.


“Sayang, aku ikut dengan Gomesh ya,” ujar Leon.


Najwa mengangguk. Wanita itu malah senang jika sang suami tak ada di rumah. Ia akan bebas bergerak seharian dan tak melayani napsu besar Leon, walau Najwa juga suka melayaninya di ranjang dengan panas.


“Biar Baby Bastian ikut juga,” suruh Najwa.


“Makasih Nini,” ujar remaja tanggung itu senang.


Mereka bertiga berangkat bersama supir dengan mobil sedan mewah keluaran terbaru. Leon menambah koleksi mobilnya. Gomesh tentu masih ingat di mana kedua orang tuanya tinggal. Sebuah distrik elite dan penuh dengan hunian megah.


“Kau anak orang kaya juga?” kekeh Leon.


Gomesh hanya tersenyum. Sebuah rumah berlantai dua, dengan cat merah jambu, warna kesukaan sang ibu. Rumah yang dulu penuh dengan ketakutan dan kelaparan delapan anak yang tak tau apa-apa menjadi korban orang tua.


Pagar terbuka, ada empat mobil minivan. Sepertinya mereka tengah berkumpul, pikir Gomesh.


Mereka pun turun, Gomesh dan Leon menggandeng Bastian yang ada di tengah mereka. Pintu yang terbuka lebar membuat semua yang di dalam melihat siapa yang datang. Geomenino langsung berlari dan memeluk Gomesh.


Tenggorokan Gomesh terasa kering, mulutnya kaku seketika, isakan adik bungsu yang tak pernah ia lihat kelahirannya membuat hatinya teriris.


“Nino, bawa Kakak yang lainnya masuk,” suruh Geomitha dengan mata berkaca-kaca.


Semua saudara dan ipar berkumpul. Ketampanan Leon dan Bastian menjadi pusat perhatian. Suami dari Georgina dan Geomitha tentu mengenali sosok Leon di sana. Wajah pria itu selalu hadir di semua acara meet and greet para pebisnis.


Tujuh belas bayi tampak mengelilingi Gomesh dengan tatapan takjub. Usia mereka semua berkisar satu hingga empat tahun.


“You so big?!” ujar salah satu bayi lucu mirip dengan Bariana.


“Giant ...,” sahut lainnya lagi memandangi Gomesh tanpa takut.


“Mommy ... wuwis this?” tanya bayi yang memakai baju kodok warna putih.


Bayi laki-laki itu mengemut empengnya.


“He is your uncle Baby,” jawab seorang wanita.


“Dia Natalie, usia tiga belas bulan, putriku,” ujar Gometrio memperkenalkan putrinya.


“Baby, ayo sapa Paman kalian ini Paman Gomesh,”

__ADS_1


“Hi uncle Somash!” sambut semua bayi tentu salah menyebut namanya.


Gomesh tertawa, ia mengingat semua anaknya. Hanya dalam hitungan detik tujuh belas bayi sudah bermain bersama Bastian dan Leon. Gomesh diajak Nino dan Georgina ke atas. Melihat kondisi ayah dan ibunya.


“Mereka nggak mau tidur di tempat lain kecuali di kamar Kakak,” jelas Geomenino.


Gomesh melihat keadaan dua orang tuannya menutup mulut. Baik Diablo dan Anneth tidur di ranjang kecil dan tipis itu sambil berpelukan. Selimut tipis menutupi tubuh keduanya. Ruangan kecil itu begitu dingin dan buruk untuk kesehatan keduanya.


“Mami ... Papi,” panggil Geomenino dudk di sisi kasur tipis.


Georgina mengajak duduk kakaknya, Gomesh tak tahan, ia ikut merebahkan diri di sisi ayahnya lalu memeluknya. Pria tua itu membuka mata. Menoleh ke belakangnya, menatap sosok yang mirip salah satu putranya.


“Papi ... aku Gomesh,”


Diablo terdiam, Anneth terbangun karena mencium aroma tubuh lain di sana. Netranya terbuka ia menatap pria besar di belakang suaminya.


“Gomesh ... Gomesh ... itu kau Nak?”


Tubuh Anneth dan Diablo begitu kurus, kantung mata keduanya menghitam dan bengkak. Entah berapa banyak air mata penyesalan tumpah setiap malamnya. Gomesh mengecup pipi sang ayah yang dingin, lalu beranjak mengecup pipi ibunya. Hilang semua kemarahan di hati pria besar itu.


“Sayang ... Gomesh kembali?”


“Iya sayang, putra kita kembali,” ujar Anneth.


Mereka pun menangis sambil berpelukan. Diablo berkali-kali meminta maaf pada putranya yang mendapat sasaran kemarahan dan pukulan darinya.


“Hukum aku Nak ... Papi rela,” pinta pria itu terus mengusap wajah tampan putranya.


“Iya Son! Hukum Mami juga!” pinta Anneth.


Gomesh menggeleng, ia tak mungkin menghukum keduanya. Kepergiannya selama dua puluh tahun lebih, sudah menjadi hukuman bagi mereka. Gomesh tentu tak tau apa yang terjadi setelah kepergiannya waktu itu.


Leon dan Bastian diperkenalkan pada kedua orang tua Gomesh. Pria raksasa itu juga melakukan panggilan video call dengan istrinya. Para perusuh tentu antusias melihat semua saudaranya yang lain.


“Dua bulan lagi kami akan ke Eropa, untuk menggelar resepsi pernikahan salah satu putra kami,” ujar Bart.


“Kami akan menunggu,” ujar Diablo.


Bersambung


Ah ... alhamdulillah Papa Gomesh akhirnya bisa melewatinya dengan maaf.


othor nangis ...


readers maaf ya beberapa hari ini othor cuma satu up nya ... hanya biar mengkhayati kisah Gomesh ini ... soalnya othornya nangis terus pas buat kisahnya.


Ba bowu readers ❤️❤️

__ADS_1


Next?


__ADS_2